
Fella pikir setelah melarikan diri dari keluarga dan semua teman-temannya, kehidupan yang akan dia jalani berubah lebih baik. Nyatanya, masih banyak jalan terjal dan kerikil-kerikil tajam yang siap menantinya. Hidup ini tidak semudah yang Fella bayangkan.
“Kamu kenal Mbak Fella?” tanya seseorang yang bersama kakak tingkat Fella itu.
“Ya kenal dong, Bu. Dia 'kan yang suka sama kakak kandungnya sendiri sampai menjebak kakaknya sendiri untuk tidur dengannya. Dia dikeluarkan dari kampus, dan aku nggak nyangka kalau dia juga diusir dari rumahnya. Karena nggak mungkin orang sekaya Fella ini mau tinggal di tempat kecil seperti ini!”
Tanpa mau berdebat atau meluruskan tuduhan yang dilayangkan padanya, Fella langsung Kembali ke tempat tinggalnya. Dia meninggalkan kakak tingkatnya itu dengan pertanyaan yang sama sekali tidak terjawab.
Fella menutup pintu sambil menangis terisak. Bisa-bisanya saat dia sudah menjauh dari semuanya, tapi takdir mempertemukannya dengan orang yang terhubung dengan lukanya.
Wanita itu mereemas kuat kresek obat yang dia bawa. Hidupnya harus tetap berjalan meskipun orang-orang di sini akan membencinya. Lalu, Dia teringat dengan alat tes kehamilan yang sempat dibeli tadi.
“Jika aku benar hamil, maka hukuman Tuhan untukku sangatlah kejam. Bagaimana aku bisa membesarkan anak seorang diri? Aku sudah pergi dari mereka, aku tidak mungkin kembali walaupun aku hamil.”
__ADS_1
Fella terus menangis sambil menatap alat tes kehamilan yang masih terbungkus rapi. Cukup lama dia berperang dengan dirinya sendiri, sampai akhirnya Fella pun mencoba tes kehamilan itu.
Dua garis merah muncul di sana, dan tangis Fella pun kembali pecah. Antara bingung dan belum siap berkumpul jadi satu membuat Fella semakin merasa hancur.
Di sela tangis itu, tiba-tiba wanita itu mendapat sebuah pemikiran. Mungkin saja anak di kandungannya itu adalah kiriman Tuhan untuk menemaninya yang kini sebatang kara.
Secara perlahan, Fella mengusap perutnya yang datar. “Apa kamu ada di perutku? Apa kamu datang untuk menjadi bagian dari keluargaku? Tuhan pasti kasihan sama aku yang nggak punya siapa-siapa, makanya Dia kirim kamu di perut aku.”
Akhirnya Fella pun mulai bisa menerima keadaannya yang sedang mengandung. Namun, sepertinya hidup Fella belum bisa tenang sepenuhnya. Seseorang sedang menggedor pintu kamarnya saat ini.
“A-ada apa, Bu?” tanya Fella dengan suara bergetar. Seingatnya dia sudah membayar sewa, lalu untuk apa wanita itu datang?
“Saya barusan dengar cerita tentang kamu dari Melani, apa benar kamu berhubungan dengan kakak kandungmu sendiri?” Wanita itu tiba-tiba masuk untuk menggeledah kamar Fella.
__ADS_1
“Ibu mau cari apa? Saya sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan mereka. Mereka bukan keluarga saya,” ucap Fella untuk mencegah wanita itu menggeledah kamarnya.
Wanita yang merupakan pemilik rumah itu tetap melanjutkan kegiatannya. Dia sangat penasaran dengan Fella yang selama satu bulan ini tinggal di rumahnya.
Sementara itu, Fella semakin panik. Dia belum menyembunyikan alat tes kehamilan yang tadi dilempar ke atas kasur saat buru-buru membuka pintu.
Sialnya, wanita pemilik rumah itu menemukan benda pipih yang menunjukkan dua garis berwarna merah.
“Apa ini? Ini pasti milikmu, 'kan? Kamu hamil dengan kakakmu sendiri?” Tatapan wanita tua itu begitu tajam, tepat menghunus di jantungFella.
“Tolong jangan seperti ini, Bu. Saya bisa jelaskan semuanya dengan baik-baik!” Fella berusaha merebut alat tes kehamilan miliknya. Dia tidak tahu harus pergi ke mana lagi jika wanita itu mengusirnya.
“Jujur Fella, apa kamu hamil anak kakakmu sendiri?” tanya wanita yang sudah diselimuti amarah itu. “Akibat dari hubungan sedarah itu pasti akan membuat anakmu cacat!”
__ADS_1
***
kembang Kopinya jangan lupa sekalian vote ya guys💋💋💋