Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 36


__ADS_3

Rumah tangga yang dijalani Dylan dan Deliska, rupanya tak seindah yang terlihat. Kekhawatiran Deliska mengenai Fella yang sampai detik ini belum ditemukan, membuat obsesinya untuk segera hamil semakin bertambah besar.


Sudah enam bulan mereka menikah dan kabar bahagia yang dinanti itu tak kunjung menghampiri. Sampai sekarang, Deliska belum juga hamil dan saat Dylan yang tiba-tiba menginginkan suatu makanan yang tak biasa layaknya orang ngidam, pikiran wanita itu jadi semakin dibuat gila. Dia terus membayangkan saat ini Fella sedang hamil anak dari suaminya walaupun dia tak berani mengungkapkan kecurigaan itu pada Dylan.


Sementara itu, saat ini Daffi begitu antusias mengantarkan Fella ke dokter kandungan. Setiap kali jadwal pemeriksaan tiba, dia selalu menemani Fella untuk memeriksa kandungan.


“Semuanya bagus. Dan kita sudah bisa melihat jenis kelaminnya, apa Bapak dan Ibu ingin mengetahuinya sekarang?” tanya sang dokter saat Fella sudah naik di atas ranjang dan sedang menjalani USG.


Fella menatap wajah Daffi yang berdiri tak jauh darinya. Rona bahagia terpancar jelas di wajahnya seolah tak sabar ingin mengetahui jenis kelamin dari anak yang dikandung istrinya itu.


“Tanya suami saya, Dok. Apa dia ingin tahu sekarang atau tidak?”


Daffi mendengar jelas perkataan Fella itu. Dia sampai menoleh untuk memastikan bahwa yang didengarnya barusan tidak salah.


“A-aku?” Daffi menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, mau lihat sekarang apa tunggu lahir aja biar surprise?” tanya Fella lagi.


Mendengar hal itu Daffi pun senyum-senyum girang seolah hatinya dipenuhi bunga-bunga.


“Bapaknya bahagia banget ya. Pasti nanti kalau lahir akan jadi anak kesayangan,” kata sang dokter yang ikut merasakan kebahagiaan Daffi saat ini.


Sementara Fella. Wanita itu juga turut bahagia dan merasa bersyukur karen takdir telah mempertemukannya dengan Daffi. Laki-laki yang jauh lebih baik daripada Dylan, ayah biologis bayinya.

__ADS_1


**


Sepulang dari rumah sakit, Daffi memborong banyak sekali buah untuk persediaan Fella. Sebenarnya, dia juga berharap jika Fella di rumah saja menjaga kehamilannya, tapi wanita itu bersikeras tak ingin mengandalkan Daffi meskipun mereka telah menjadi pasangan suami istri.


“Hari ini aku izin untuk libur. Kak Daffi mau dimasakin apa?”


Mendengar pertanyaan yang sangat langka itu, kening Daffi berkerut. Empat bulan mereka menikah, tapi baru sekarang Fella memiliki niat untuk memasakkannya. Ini benar-benar suatu kemajuan yang sangat berarti.


Bukannya menjawab pertanyaan Fella, Daffi malah balik bertanya, “Memangnya kamu bisa masak?”


Kedua sudut bibir Fella terangkat tinggi menanggapi pertanyaan suaminya yang pasti merasa keheranan. “Aku belajar dari koki restoran saat ada kesempatan. Beberapa kali, aku coba bantu dan kata kokinya masakanku enak,” jawab Fella dengan peecaya diri.


Ya, secara perlahan, wanita itu mulai bangkit dari keterpurukannya semenjak kehilangan Dylan dan keluarganya. Kehadiran Daffi seolah menjadi energi baik yang menjadi kekuatan Fella untuk kembali ceria seperti dulu.


Keduanya akhirnya ke dapur untuk memasak. Daffi membantu Fella dan mengawasi cara memasak istrinya itu.


Melihat kemampuan Fella, Daffi pun tercengang. Rupanya, Fella memang sudah bisa memasak walau di rumah orang tuanya dulu, dia bahkan tidak pernah menyalakan kompor.


“Wah, kayaknya enak nih, aku nggak sabar buat cobain!” kata Daffi mulai tak sabar.


Fella hanya terkekeh lalu memindahkan masakannya ke meja makan. Daffi pun segera mencuci tangan dan bersiap untuk menyantap makan siang buatan Fella.


Saat sesendok nasi telah masuk ke mulut Daffi, jantung Fella berdebar dengan keras seakan menanti detik-detik kelulusan sekolah.

__ADS_1


Daffi memejamkan mata untuk menikmati masakan yang sangat pas di mulutnya itu. Benar-benar nikmat rasanya.


“Gimana?” tanya Fella yang sudah sangat penasaran dengan hasil masakannya.


Daffi menelan makanannya dengan baik dan langsung mengacungkan dua jempol pada Fella. “Best banget. Nggak nyangka masakan kamu seenak ini, Fel. Enak banget beneran!” ungkap Daffi sambil bertepuk tangan.


Fella begitu bahagia mendengar pujian Daffi. Karena kebahagiaan itulah, bayi dalam kandungannya bergerak seolah ikut merasakan bahagia.


“Aduh!” Fella memegang perutnya yang baru saja mendapat tendangan sayang dari anaknya.


“Kenapa, Fel?” Raut wajah Daffi seketika berubah panik, takut Fella dan bayinya kenapa-kenapa apalagi tangan Fella terus memegangi perutnya.


“Dia nendang!” jawab Fella sambil berpegangan pada lengan Daffi.


Seketika itu, raut cemas di wajah Daffi berubah jadi raut bahagia. Meski sangat ingin menyentuh perut Fella, tapi laki-laki itu hanya berani mengusap tangan istrinya itu.


“Dia pasti bangga sama kamu,” kata Daffi kemudian.


Fella meraih tangan Daffi dan mengarahkannya ke perutnya yang buncit. “Coba kamu rasakan deh tendangannya, Kak.”


***


Kira kira Daffi bakalan seneng apa syok ya? Kembang kopinya jangan lupa 💋💋

__ADS_1


__ADS_2