
Semenjak Fella melarikan diri dari bandara saat pernikahan Dylan, orang tua angkat Fella merasakan kehilangan yang menggerogoti hati mereka. Meski tidak pernah mengungkapkannya pada sang istri, tetapi ayah Dylan itu terus memikirkan sang putri angkat.
Rasa bersalah semakin menyerang ke dalam ulu hati Papa Ferdinand. Laki-laki itu semakin gelisah memikirkan keadaan sang putri yang sudah berbulan-bulan pergi tanpa kabar.
“Kamu di mana, Fel?” gumam Papa Ferdinand sembari menatap ke luar jendela. Dia sedang berada di kamar Fella saat ini dan menyendiri di kamar itu.
Mama Larissa masuk menghampiri Papa Ferdinand yang sedang galau memikirkan Fella.
“Pa,” panggil Mama Larissa. Wanita itu ikut duduk di sebelah Papa Ferdinand dan menyandarkan kepala di pundak sang suami.
“Fella bukan anak kandung kita, tapi kehilangan dia membuat papa merasa sangat terluka, Ma,” ungkap Papa Ferdinand dengan jujur.
“Mama juga, Pa. Apa nggak ada jejak sama sekali yang ditinggalkan Fella, Pa?”
__ADS_1
Papa Ferdinan menghela napas kasar. Berat baginya mencari Fella. Informasi terakhir yang diperoleh, Fella pergi ke luar negeri yang mana sebenarnya itu adalah informasi palsu yang sengaja Daffi sampaikan.
Ya, untuk melindungi Fella dari keluarganya, Daffi memerintahkan sepupunya untuk membuat skenario seolah-olah Fella pergi ke luar negeri. Padahal, wanita itu masih ada di negara ini dan tinggal di kota lain bersama Daffi.
“Terakhir, orang kita melaporkan kalau Fella pergi ke Australia, Ma. Hanya itu saja informasi yang kita terima. Papa juga sudah menyewa detektif di sana tapi sampai sekarang hasilnya nihil dan terpaksa kita menghentikan pencarian tentang Fella.”
Keluarga itu memang sengaja tidak melapor pada pihak berwajib atau pun pada media karena mereka tidak mau hubungan Fella dan Dylan terungkap ke publik. Yang orang-orang tahu, Fella anak mereka sedang melanjutkan pendidikan di luar negeri setelah kakaknya menikah.
Penyesalan yang saat ini dirasakan oleh pasangan paruh baya itu sudah tidak ada gunanya lagi. Semua sudah terjadi dan pada akhirnya mereka kehilangan Fella yang mereka anggap sebagai putri sendiri.
“Papa tahu, Ma. Hanya saja, waktu itu papa pikir kasihan Fella jika dia tahu bahwa dia bukan anak kandung kita. Papa takut dia tertekan apalagi saat itu Fella masih terlalu muda waktu kita tahu perasaan Dylan pada Fella. Papa nggak ingin kehilangan Fella apalagi kalau dia tahu dia hanya anak pembantu kita yang meninggal.”
Rupanya, percakapan mama dan papa Dylan itu didengar oleh Deliska yang sudah datang sejak lama dan menguping pembicaraan mertuanya itu.
__ADS_1
“Sayang, kamu ngapain? Mama sama Papa mana?” tanya Dylan yang membuat jantung Deliska terasa mau copot.
Wanita itu buru-buru menghampiri suaminya yang baru datang dari kantor. Keduanya memang sengaja datang tidak bersamaan karena berencana untuk menginap. Sayangnya, saat Deliska datang, kedua mertuanya itu sama sekali tidak terlihat, dan saat dirinya naik ke lantai dua untuk menuju kamar Dylan yang melewati kamar Fella, Deliska mendengar obrolan mertuanya itu.
“A-aku barusan sampai, Sayang. Terus aku dengar kayak suara Mama sama Papa makanya aku pastikan dulu, eh baru mau masuk kamu panggil aku,” jawab Deliska dengan berbohong.
Dia tidak mau mengaku pada Dylan bahwa dia mendengar apa yang mertuanya itu bicarakan, apalagi kalau sampai Dylan tahu bahwa Fella adiknya. Mungkin saja Dylan akan semakin gencar mencari adiknya itu.
“Aku nggak akan membiarkan Dylan tahu kalau Fella bukan adik kandungnya.”
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋
__ADS_1