Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 52


__ADS_3

Setelah meninggalkan Dylan, Deliska meminta sopir untuk mengantarkan ke rumah orang tuanya. Hatinya benar-benar sakit melihat tindakan Dylan barusan, rasanya hampir sama seperti waktu lalu, ketika melihat Dylan dan Fella melakukan hubungan terlarang.


"Aku kecewa banget sama kamu," batin Deliska sambil menutup wajah, menyembunyikan air mata yang menetes dengan sendirinya.


Kemudian Deliska berpaling ke samping, dan meminta sopir untuk mempercepat laju taksi.


Meski tidak tahu permasalahan apa yang dihadapi Deliska, sopir menurut dan menambah kecepatan. Hingga tak membutuhkan waktu lama untuk tiba di rumah orang tua Deliska.


Tanpa banyak basa-basi, Deliska bergegas turun ketika taksi sudah berhenti. Ia berjalan cepat memasuki rumah, sampai membuat heran beberapa pelayan yang menyambutnya. Sapaan dari mereka diabaikan begitu saja, sehingga tidak ada yang berani bersuara lagi, karena wajah Deliska sangat masam dan penuh kekesalan.


"Deliska! Kenapa, Sayang? Pulang-pulang kok wajahnya ditekuk begitu?" tanya ibu Deliska, terkejut melihat kepulangan anaknya yang mendadak, dan dalam keadaan kurang baik.


Deliska menggelengkan kepala. "Nggak apa-apa, Ma. Aku cuma mau istirahat aja."


Usai menjawab asal dan datar, Deliska melenggang pergi meninggalkan ibunya. Tujuannya adalah kamar miliknya, Deliska ingin menenangkan diri di sana.


Menyadari ada yang tidak beres dengan putri tunggalnya, ibu Deliska tidak tinggal diam. Dia mengikuti langkah Deliska, dan sesekali berteriak memanggil namanya.


"Ahhh!"


Ibu Deliska spontan berlari, khawatir dengan rintihan anaknya yang cukup keras.

__ADS_1


"Deliska! Kamu kenapa, Sayang?" Mata wanita paruh baya itu membulat tajam, kaget melihat anaknya bersandar di dinding sambil memegangi perut. Raut mukanya pun tampak kesakitan.


"Sakit, Ma." Deliska kembali merintih, dan kini diiringi air mata yang berderaian di pipi mulusnya.


"Astaga, Deliska!" teriak ibunya.


Dia semakin panik karena tiba-tiba ada darah segar yang mengalir di kedua kaki Deliska. Cukup banyak, bahkan sampai menggenang merah di lantai.


Ibu Deliska mejerit histeris, hingga pelayan berdatangan, dan ikut menolong. Tubuh Deliska yang sudah lemas dan kesakitan, dibopong dan dibawa ke dalam mobil. Dia akan dilarikan ke rumah sakit secepatnya.


"Bertahan, Sayang. Sebentar lagi dokter akan menolongmu," ucap ibu Deliska menenangkan anaknya.


Dengan kepala yang bersandar di pangkuan ibunya, Deliska meringkuk sambil memegangi perut. Rasanya sakit dan melilit perih, hingga dia hampir kehilangan kesadaran.


Sementara itu, ibunya terus berusaha menenangkan, sambil menghubungi suaminya yang saat itu sudah berangkat ke kantor, juga menghubungi Dylan yang ternyata sudah ada di rumah sakit. Dylan sedang menjaga ibunya di sana.


Setelah cukup lama berkendara dengan kecepatan tinggi, sopir menghentikan mobilnya di halaman rumah sakit. Ia pun segera keluar, dan memanggil perawat untuk menolong sang majikan.


"Tolong selamatkan anak saya, berikan penanganan yang terbaik untuknya!" ujar ibu Deliska, ketakutannya semakin besar karena saat ini mata Deliska mulai menutup, dan tidak ada lagi rintihan yang keluar dari mulutnya.


"Itu sudah menjadi tugas kami, Bu."

__ADS_1


Tak lama setelah itu, tubuh Deliska sudah tak terlihat lagi. Dia sudah dibawa masuk ke IGD. Kini tinggal ibunya yang menangis sesenggukan di depan ruangan.


"Ma, ada apa dengan anak kita? Apa yang terjadi padanya?" tanya ayah Deliska yang baru datang ke sana. Langkahnya tergesa-gesa, dan raut mukanya sangat tegang.


Sang istri pun menjelaskan rinci bagaimana keadaan Deliska tadi. Mulai dari kedatangannya yang tiba-tiba, sampai pendarahannya yang menakutkan.


Bersamaan dengan itu, Dylan datang dan menghampiri kedua mertuanya. Dia menanyakan bagaimana keadaan Deliska. Namun, bukannya mendapat jawaban yang memuaskan, Dylan malah mendapat amukan dari mereka.


"Mana tanggung jawabmu sebagai suami? Bisa-bisanya Deliska pulang dengan wajah kusut, lalu tiba-tiba pendarahan seperti itu? Apa yang sudah kamu lakukan terhadap dia?"


Bentakan ibu Deliska terdengar menggema di telinga Dylan, hingga lelaki itu hanya bisa diam dan menunduk. Mau bicara dan menjelaskan pun pasti salah, karena sekarang mertuanya masih panik, dan belum bisa berpikir jernih.


"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Deliska, aku akan membuat perhitungan denganmu!" sahut ayah Deliska, ikut murka pada menantunya.


Mendengar itu Dylan hanya mengembuskan napas panjang. Dia enggan ribut dan berbantahan dengan mertua, jadi cukup diam dan mendoakan yang terbaik untuk sang istri, karena saat ini dia juga panik dan khawatir. Apalagi jika mengingat kejadian tadi di depan rumah Daffi, Dylan semakin merasa bersalah pada istrinya itu.


"Semoga kamu baik-baik saja, Sayang," ucap Dylan dalam hatinya.


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2