Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 49


__ADS_3

"Kenapa selama ini Mama menyembunyikannya dariku?"


Fella dan Mama Larissa menoleh seketika, keduanya terkejut mendengar suara seseorang yang tak lain adalah Dylan. Terlalu fokus dengan perbincangannya sendiri, mereka sampai tak sadar jika Dylan sudah masuk dan mendengar semuanya.


"Kenapa Mama menyembunyikannya dariku?" Dylan mengulangi pertanyaannya, bersamaan dengan langkah kaki yang semakin maju hingga berdiri tepat di samping Fella.


"Dylan, maafin Mama."


"Yang aku butuhkan bukan maaf, Ma, tapi penjelasan. Kenapa baru sekarang Mama ngomong, kenapa nggak dari dulu?"


Suara Dylan naik satu oktaf. Dia menatap wajah ibunya dengan penuh kecewa. Sebuah fakta besar yang menyangkut dirinya, malah dirahasiakan dalam waktu yang lama. Padahal, di masa lalu dia pernah mengharap kenyataan itu.


"Kenapa, Ma?" teriak Dylan, seakan lupa bahwa saat ini masih berada di rumah sakit.


Mama Larissa tak bisa menjawab apa-apa. Hanya bibirnya yang gemetaran, serta air mata yang mulai menetes keluar. Kekecewaan yang tampak jelas di wajah Dylan, membuat Mama Larissa menyesal dan merasa bersalah. Hingga tak tahu lagi bagaimana memperbaikinya.


Dulu dia pikir menyembunyikan adalah pilihan yang terbaik, tetapi ternyata tidak. Sampai akhirnya ia memilih berterus terang seperti sekarang.


"Aku nggak nyangka Mama akan setega ini. Mama masih menyembunyikan semuanya, padahal udah tahu apa yang terjadi di antara kami. Mama dan Papa egois. Hanya mementingkan nama baik, sampai lupa dengan perasaan anak sendiri. Mama tahu bagaimana frustasinya aku karena menganggap Fella adalah adik kandungku? Mama tahu betapa tidak adilnya kita saat itu? Kenapa, Ma? Kenapa Mama membiarkan semua itu terjadi? Kenapa Mama nggak jujur aja waktu itu?" Dylan kembali berteriak, bahkan suaranya lebih tinggi dari sebelumnya.


Mendengar itu, Fella memilih bangkit dan keluar dari ruangan. Sebelum Fidela kaget, dan nanti malah menangis. Lagi pula, sudah cukup dia tahu identitas aslinya. Tidak perlu mengingat lagi kejadian malam itu, yang kini diungkit lagi oleh Dylan.

__ADS_1


Sepeninggalan Fella, Mama Larissa mulai bicara. Dia meminta maaf, dan mengaku salah karena sudah menyembunyikan semuanya. Namun, belum juga meluluhkan hati Dylan.


"Aku kecewa sama Mama," ucap Dylan tanpa senyuman. Sesaat kemudian, dia justru pergi dan menyusul Fella.


"Dylan! Tunggu, Dylan! Mama belum selesai bicara, Dylan!"


Teriakan Mama Larissa hanya dianggap angin yang tidak perlu ditanggapi. Dylan terus saja pergi hingga tubuhnya tidak terlihat lagi. Akhirnya, Mama Larissa hanya bisa menatap kepergian anaknya itu dengan sendu. Kemudian, terdiam seorang diri sambil meratapi kesalahannya.


"Andai saja aku tahu dari awal kalau semua akan begini, aku pasti akan jujur sejak pertama kali membawa Fella ke rumah," batin Mama Larissa dengan mata yang memejam, berusaha menahan air mata agar berhenti menetes.


Sementara itu, di luar ruangan Fella menoleh ke sana kemari mencari keberadaan Daffi. Sesekali dia juga memanggil suaminya itu, tetapi tidak ada jawaban. Tidak tahu ke mana perginya Daffi.


"Fella!"


"Kita nggak ada hubungan darah," ucap Dylan dengan suara yang tertahan di tenggorokan.


Fella membuang pandangan ke samping, enggan menatap wajah Dylan yang masam.


"Nggak usah diperjelas lagi, aku udah paham kok. Tenang aja, aku sadar diri. Aku nggak akan minta warisan sedikit pun sama Mama dan Papa, karena aku cuma anak pembantu."


Jawaban Fella membuat Dylan semakin kesal. Dia sudah benci dengan kenyataan yang ada, dan masih ditambah dengan sikap Fella yang ia yakini hanya pura-pura bodoh saja.

__ADS_1


"Aku nggak ingin membahas warisan, tapi membahas anak yang kamu gendong sekarang!" Dylan menatap Fella lebih tajam, sampai-sampai wanita itu mundur dan mengambil jarak yang cukup lebar.


"Aku tanya sekali lagi, Fel, dan kamu harus jujur. Anak siapa ini?" sambung Dylan, menuntut jawaban yang lebih meyakinkan.


"Kejujuran apa lagi yang kamu mau, ini adalah anakku dengan Kak Daffi. Kamu bertanya berapa kali pun, jawabanku akan tetap sama. Karena anak ini, memang anakku dengan suami, nggak ada hubungannya dengan kamu!"


Dylan menggelengkan kepala. "Aku nggak percaya. Pertama kali melihatnya di rumah sakit kemarin, aku merasakan sesuatu yang beda darinya. Dan lagi, malam itu kita melakukannya tanpa pengaman. Sedangkan aku masih dalam pengaruh obat, jadi nggak mungkin membuangnya di luar, sudah pasti di dalam dan jadi dia. Iya, kan?"


"Memangnya kamu sehebat apa, hanya melakukan satu kali langsung jadi bayi?" sahut Daffi yang saat itu sudah berdiri di belakang Fella.


Dia baru saja menerima telepon, jadi tidak tahu kalau Dylan masuk ke ruangan, dan sekarang memaksa Fella untuk membeberkan identitas anaknya.


"Terserah apa katamu, tapi aku yakin dia adalah anakku!" Dylan tak mau mengalah.


Daffi tertawa renyah. "Ngaca dulu sana! Kamu itu siapa, beraninya mengaku kalau dia adalah anakmu? Dengar ya, dia adalah anakku, Fella hamil setelah menikah denganku!"


"Itu nggak mungkin!" jawab Dylan dengan cepat.


"Kamu memang nggak peduli sama dia, jadi mana tahu kapan dia menikah, dan kapan dia hamil. Tapi, satu yang pasti. Aku dan Fella sudah menikah sah secara agama dan hukum. Jadi, kalau ketidakpercayaanmu itu menganggu kami, aku bisa saja menuntutmu. Sebagai suami, aku nggak akan membiarkan siapa pun mengusik ketenangan anak dan istriku, termasuk kamu. Camkan itu!" ucap Daffi dengan sangat tegas.


Dia juga merangkul bahu Fella dengan erat, menunjukkan bahwa wanita itu adalah miliknya, dan tidak akan tersentuh oleh Dylan.

__ADS_1


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋


__ADS_2