Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 42


__ADS_3

Setelah kondisinya pulih, Fella dan bayinya diizinkan pulang. Fella merasa lega ketika tiba di rumah, karena bisa beristirahat dan melakukan aktivitas lain dengan bebas. Tidak hanya berbaring di atas ranjang seperti kemarin-kemarin, sangat membosankan.


Sesuai dengan kesepakatan berdua, Fella dan Daffi memberikan nama Fidela untuk anaknya. Nama yang mereka cari bersama, dan tentunya tidak berhubungan dengan Dylan.


Daffi tak mau lagi membawa-bawa masa lalu Fella, karena dia sangat menyayangi Fidela seperti anak kandungnya sendiri. Dia tidak keberatan membantu Fella mengasuhnya, malah merasa bahagia seolah menemukan warna baru dalam hidupnya. Dan seharian ini dia sibuk menjadi sosok ayah yang siaga.


Hingga malam tiba, Daffi digeluti rasa resah dan gelisah. Dari rencana yang mereka sepakati, pernikahan akan selesai sampai anak Fella lahir. Saat ini pun, neneknya masih dalam keadaan sakit. Jadi tidak mungkin mengomel atau melarang mereka untuk bercerai. Namun, Daffi malah merasa enggan dan tidak rela.


"Udah nggak ada yang memaksa kami untuk tetap bersama, tapi aku sendiri yang nggak bisa melepas dia. Sepertinya, aku udah jatuh cinta sama Fella," batin Daffi ketika diam sendiri di kamarnya.


Tanpa sepengetahuan Daffi, ternyata Fella juga merasakan hal yang sama. Dia tidak rela bercerai karena sudah nyaman dengan Daffi. Perhatian yang selalu dicurahkan oleh suaminya itu membuat Fella merasakan getaran lain. Getaran yang menjadi tanda-tanda atas tumbuhnya benih cinta.


"Tapi, siapa aku? Hanya perempuan bodoh yang hamil dengan kakaknya sendiri. Mana sekarang nggak punya apa-apa, dan jauh dari keluarga. Apa aku pantas disandingkan dengan Kak Daffi? Dia nggak hanya muda dan tampan, tapi juga kaya raya. Dia terlalu istimewa untuk aku yang sekarang," ucap Fella sambil menunduk. Dia sedih karena merasa tak sebanding dengan Daffi.


Ketika Fella masih terpaku dalam perasaannya, tiba-tiba pintu diketuk dari luar, dan disertai panggilan pelan. Fella pun beranjak, lalu membuka pintu dengan lebar.


"Fidela udah tidur?" Satu pertanyaan yang pertama kali keluar dari mulut Daffi.

__ADS_1


"Udah, Kak, pulas banget."


Daffi salah tingkah saat melihat senyuman Fella, hingga tanpa sadar menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Kamu udah ngantuk belum?" tanyanya kemudian.


Fella menggeleng. "Belum kok. Kak Daffi masuk aja kalau mau lihat Fidela."


Daffi tersenyum, memang itu yang dia harapkan. Diizinkan masuk, dan bisa dekat-dekat dengan Fella. Makanya dia tak sungkan lagi ketika Fella sudah mengatakannya.


Awalnya Daffi hanya bicara tentang Fidela, membahas tingkah lucu dan menggemaskan dari anak itu. Barulah setelah duduk lama, Daffi mulai bicara serius.


Mendengar pertanyaan Daffi, Fella mendadak gugup. Di satu sisi ingin jujur bahwa dirinya keberatan bercerai, tetapi di sisi lain merasa malu karena tidak pantas untuk Daffi.


"Fella!" panggil Daffi karena istrinya itu hanya diam.


Fella semakin gugup, sampai-sampai lidahnya kelu dan tangannya ikut tremor. Apalagi ketika sadar jika saat itu Daffi sedang menatapnya, perasaan Fella semakin tak karuan.

__ADS_1


"Fel, boleh nggak aku jadi suami kamu sekaligus papa untuk Fidela, selamanya? Kita jalani pernikahan yang normal, dan nggak usah ada kata pisah," ucap Daffi dengan tatapan yang begitu intens, dan Fella pun langsung tersentak.


"Kak Daffi, serius?" tanya Fella dengan suara yang hanya tertahan di tenggorokan. Dia masih tak percaya dengan apa yang Daffi sampaikan.


"Tentu saja. Selama ini aku selalu kangen dan khawatir jika jauh dari kamu. Aku nggak rela kita pisah gitu aja. Aku ingin terus menjagamu, dan membahagiakan kamu dengan caraku," ungkap Daffi dengan sungguh-sungguh. Tatapan matanya juga lekat, seakan-akan mengharap jawaban yang sama.


"Aku bukan perempuan yang sempurna, Kak. Dibandingkan kamu, aku ini sangat rendah. Apa nanti kamu nggak menyesal, Kak?" tanya Fella sambil menunduk.


Apa pun jawaban Daffi nanti, dia akan berusaha menerima. Kalaupun jadi pisah, setidaknya itu lebih baik sebelum hubungan telanjur jauh.


Sesaat kemudian, terdengar embusan napas berat dari Daffi. Fella mencoba meliriknya, dan ternyata lelaki itu ikut menunduk.


"Jangan menilaiku setinggi itu, Fel. Aku juga bukan lelaki yang sempurna, bahkan bisa dibilang masa laluku lebih buruk dari kamu." Kali ini suara Daffi terdengar pelan, terlihat jelas jika bebannya tidak sederhana.


"Apa maksud Kak Daffi?" ucap Fella dalam hatinya. Dia tidak berani bertanya langsung, jadi sabar menunggu sampai Daffi bercerita dengan sendirinya.


***

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋


__ADS_2