
Pertemuan singkatnya dengan Fella pada malam itu menjadi rahasia bagi Dylan maupun Deliska. Keduanya sama-sama diam, dan tidak ada yang bersikap jujur. Mereka menutupinya dengan rapi seolah tidak ada apa pun yang terjadi.
Karena pertemuan itu sangat mengejutkan, Dylan sampai ragu untuk menceritakannya kepada Mama Larissa dan Papa Ferdinand. Akhirnya, dia menyimpannya sendiri. Hingga beberapa hari kemudian, Mama Larissa jatuh sakit. Dia terlalu memikirkan Fella, dan tidak tenang sebelum bertemu dengan anaknya itu.
"Aku merindukan Fella. Aku ingin ketemu dia, dan memastikan bahwa dia baik-baik saja," ucap Mama Larissa ketika dia mulai jatuh sakit, dan sekarang sakitnya semakin akut hingga memerlukan perawatan intens di rumah sakit.
"Dylan, tolong kamu cari adikmu lebih keras lagi! Mamamu sakit begini, dia terus mencari Fella," kata Papa Ferdinand. Dia sangat pusing sekarang. Istrinya sakit dan merindukan Fella, tapi dirinya tidak tahu di mana putrinya itu.
"Aku akan mencarinya, Pa." Dengan sedikit gelagapan, Dylan menyanggupi perintah ayahnya. Namun meski begitu, dia belum juga berterus terang tentang pertemuannya pada malam itu.
Hari-hari berikutnya, Dylan terus berusaha mencari Fella. Berbekal ingatannya pada wajah Daffi, Dylan berhasil menemukan identitas dan alamat lelaki itu meski dengan susah payah. Namun, Dylan gagal menemuinya karena rumah Daffi selalu dijaga ketat oleh orang-orang suruhannya. Kedatangan Dylan selalu ditolak mentah-mentah oleh mereka.
"Ah, sial!" umpat Dylan ketika tiba di rumah. Dia membawa kekesalannya karena gagal menemui Fella.
Dylan mendaratkan tubuhnya dengan kasar, melempar asal tas kerja, dan juga menutup wajahnya dengan kedua tangan. Deliska keheranan melihat tingkah suaminya itu.
"Sayang, kenapa?" Deliska duduk di sebelah Dylan, dan mengusap lengannya dengan lembut.
Dylan mengembuskan napas berat. "Aku gagal menemukan Fella."
Mendengar jawaban Dylan, senyuman Deliska hilang seketika. Sangat muak dia mendengar nama itu. Hingga mencaci makinya dalam hati.
__ADS_1
"Mama terus mencarinya. Apa yang akan kukatakan padanya nanti kalau aku ke sana," lanjut Dylan, tidak sadar dengan raut muka Deliska yang berubah drastis.
"Yang penting udah usaha, bukan salahmu juga kalau dia nggak ketemu." Deliska menjawab sambil melengos, dan suaranya pun terdengar ketus.
Namun karena terlalu banyak beban pikiran, Dylan masih tidak sadar akan sikap sang istri. Lelaki itu malah bangkit dan menuju kamar mandi, meninggalkan Deliska yang masih emosi. Sekacau apa pun keadaan Dylan, dia harus segera mandi, lalu ke rumah sakit menemani Mama Larissa.
Tak menghabiskan waktu lama, Dylan sudah kembali rapi dan siap berangkat. Deliska juga sudah selesai karena bersiap sejak tadi. Mereka pun berangkat ke rumah sakit dengan ekspresi yang sama-sama datar. Dan alasan ekspresi itu kurang lebih sama, yaitu Fella.
Sesampainya di rumah sakit, Dylan kembali melihat kekecewaan di wajah Mama Larissa.
"Apakah dia nggak baik-baik saja? Kenapa sulit sekali mencarinya?" kata Mama Larissa dengan suara pelan.
Beban pikirannya sekarang semakin berat, bahkan semangatnya untuk sembuh semakin menyurut. Kerinduan dan kekhawatirannya terhadap Fella, hampir membuatnya putus asa.
Dylan terpaksa berjanji agar ibunya lebih tenang. Walau sebenarnya, dia juga belum tahu bagaimana cara menepati janji itu.
Setelah berbicara dengan Mama Larissa, Dylan keluar dan duduk di samping Deliska, yang sejak tadi menunggu di sana.
"Oh ya, Sayang, besok jadwalnya ketemu dokter. Kamu temani aku ke sana ya," ucap Deliska di saat Dylan masih pusing memikirkan ibu dan adiknya.
"Apa nggak bisa ditunda?"
__ADS_1
Mata Deliska melotot tajam ketika mendengar pertanyaan Dylan. "Jangan bercanda, ya. Jadwal dokter ini sangat sibuk. Kalau kita menundanya sekarang, nggak tahu kapan lagi bisa ada kesempatan. Aku mau cepet hamil. Nggak mau nunggu lama-lama lagi."
"Mama masih sakit," sahut Dylan dengan pelan. Sebisa mungkin tidak meninggikan suara agar Deliska mau memahami keadaannya.
"Tapi, jadwal ini udah diatur sejak jauh-jauh hari. Lagi pula, hanya sebentar doang kita, nggak sampai sehari semalam." Deliska meradang. Tak akan ia biarkan Dylan menunda jadwalnya. Deliska sudah bertekad, harus hamil sebelum Fella ditemukan.
"Iya, memang sebentar. Tapi, waktunya juga nggak ada. Besok aku kerja, belum lagi mencari Fella. Mikirin dua hal itu aja aku udah pusing. Apa nggak bisa yang ini kita tunda sampai kondisi Mama membaik dulu?" kata Dylan mencoba berdiskusi pelan-pelan.
"Nggak! Aku mau cepat-cepat hamil. Aku nggak akan mengalah apalagi demi Fella." Deliska menyahut cepat, sama sekali tidak peduli dengan kesulitan Dylan.
"Sayang!"
"Kamu nggak suka punya anak dari aku?" tuding Deliska, dan Dylan langsung menggeleng-geleng. Tak habis pikir dengan tingkah istrinya.
"Bukannya aku nggak suka. Cuma sekarang Mama lagi sakit," ucap Dylan kemudian.
"Aku nggak mau tahu, pokoknya aku mau cepat-cepat hamil. Besok aku akan datang menemui dokternya. Kamu ikut atau nggak, terserah!"
Mendengar itu, Dylan langsung mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Deliska sangat egois, sama sekali tidak mengerti dengan kondisinya saat ini.
***
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋