Asmara Terlarang

Asmara Terlarang
Asmara Terlarang ● Bab 33


__ADS_3

Sudah satu bulan Fella dan Daffi menikah. Meski telah menjadi seorang kepala rumah tangga, Daffi tidak pernah membatasi kegiatan Fella. Dia masih membebaskan istrinya itu untuk bekerja seperti biasa.


Sore ini, Fella pulang lebih kerja lebih awal dan Daffi secara kebetulan juga sudah datang menjemputnya.


Wanita itu mengerutkan kening saat melihat suaminya turun dari motor tepat di depan restauran.


“Kenapa dia ada di sini? Padahal, aku tidak bilang kalau pulang lebih awal!” batin Fella terus bertanya-tanya.


Hari ini, manajer di restauran itu memang menyuruhnya pulang lebih awal. Akan tetapi, Fella tidak bertanya lebih rinci mengenai alasannya. Baginya, yang penting dia tidak melakukan kesalahan, dan pulang awal artinya bisa beristirahat lebih lama.


Sekarang, di hadapannya sudah ada Daffi yang baru saja melepas helm dan turun dari motor. Entah dari mana laki-laki itu tahu kalau Fella pulang di jam ini.


“Kamu mau makan di sini?” tanya Fella saat sudah berdiri di hadapan Daffi.


“Enggak kok, aku mau jemput kamu. Kamu udah pulang, 'kan?”


Fella semakin bingung. Memang, selama menikah dia tidak pernah menanyakan tentang pekerjaan Daffi karena berpikir bahwa laki-laki itu mungkin mengurus bisnis keluarga yang katanya bergerak di bidang perhotelan.


Daffi memasangkan helm di kepala sang istri saat melihat wanita itu melamun. “Kamu lupa, aku yang bawa kamu kerja di sini, jadi aku bisa tahu kapan kamu pulang, Fella!” ungkap Daffi usai menyadari sesuatu yang membuat istrinya kebingungan.

__ADS_1


Alis Fella bertaut usai mendengar pengakuan Daffi itu. Memang, saat awal perkenalan mereka, Daffilah yang mencarikan pekerjaan untuk Fella.


“Oh iya, pantesan aja kamu tiba-tiba muncul. Aku sempat melupakan kenyataan itu,” timpal Fella yang kemudian mengalihkan pandangan dari sang suami.


“Kita nggak langsung pulang ya, aku mau ajak kamu ke suatu tempat!” kata Daffi kemudian.


Mau tak mau, rasa penasaran memaksa Fella kembali menatap laki-laki tampan yang telah menjadi suaminya itu. “Ke mana?”


Daffi tidak langsung menjawab, dia malah menyuruh Fella untuk naik ke boncengan dan berkata akan menjelaskannya nanti. Rupanya, Daffi membawa Fella ke sebuah klinik untuk memeriksakan kehamilannya.


“Aku ingin melihat keadaannya,” kata Daffi yang terlihat sangat bahagia karena sebentar lagi akan melihat bayi yang sudah dia klaim sebagai anaknya itu.


Setelah mengantre beberapa waktu, akhirnya nama Fella pun dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Daffi paling antusias dan banyak bertanya pada dokter kandungan Fella.


“Perkembangannya sangat bagus, Bapak Ibu. Jangan khawatir ya, semuanya normal dan sehat. Sepertinya karena mamanya tidak mengalami morning sickness jadi semua nutrisinya terpenuhi ya,” ungkap dokter wanita itu setelah selesai melakukan pemeriksaan lewat USG.


Daffi mengukir senyum lebar. Dia sangat bersyukur karena anak dalam kandungan Fella baik-baik saja. Sementara Fella juga merasa lega karena kekhawatirannya selama ini ternyata tidak terjadi. Anaknya tumbuh dengan sehat di dalam rahimnya.


“Terima kasih, Dok. Saya akan menjaga istri dan anak saya dengan sebaik-baiknya,” kata Daffi sebelum berpamitan meninggalkan ruangan dokter itu.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan menebus vitamin untuk Fella, tiba-tiba saja Daffi mendapat telepon penting dari seseorang.


“Ya, aku akan ke sana sekarang!” kata Daffi sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.


“Ada apa?” tanya Fella khawatir. Pasalnya, Daffi terlihat sangat serius saat ini.


Daffi menyimpan ponselnya di saku jaket dan menatap Fella dengan senyumnya yang menawan.


“Ada masalah sedikit di tampat usaha aku. Kalau aku ajak kamu mampir ke sana sebentar, apa kamu keberatan?” tanya Daffi tidak yakin. Pasti Fella akan lebih memilih pulang sendirian ke rumah kontrakan mereka yang baru, daripada menemaninya kembali ke tempat kerja.


“Boleh!”


Sebuah jawaban yang keluar dari mulut Fella itu rupanya di luar perkiraan Daffi. Tentu saja Daffi sangat bahagia mendengarnya. Akhirnya, mereka meninggalkan klinik dan kembali ke tempat usaha Daffi yang selama ini juga dijadikan kantornya.


Saat sampai di restauran besar milik Daffi, mata Fella tidak bisa beralih dari tulisan yang tertera jelas di sekeliling restauran. “Kenapa namanya sama kayak restoran tempat aku kerja? Tapi, yang ini jauh lebih besar, apa jangan-jangan ....”


***


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋

__ADS_1


__ADS_2