
Dylan terpaku di tempatnya, menatap kepergian Fella dan Daffi yang semakin lama semakin jauh darinya. Untuk sekarang Dylan tak bisa berbuat apa-apa, kecuali diam dan mengalah, karena semua terjadi begitu cepat.
"Tapi, aku masih nggak percaya kalau dia anak suamimu, Fel. Perasaan yang aneh ini, nggak mungkin terjadi tanpa alasan. Pasti karena ada hubungan istimewa antara aku dengan dia. Aku nggak akan menyerah sampai kamu mengakui semuanya, Fel," batin Dylan.
Semakin ke sini dia semakin tidak percaya jika Fella hamil dengan suaminya. Sebuah keraguan yang akhirnya mendorong Dylan untuk mencari tahu kebenaran. Dan kebetulan, di saat ia sedang mencari informasi tentang kehidupan Fella selama pergi dari rumah, ia dipertemukan dengan Devina, teman dekat Fella sewaktu masih kuliah.
"Ngomong-ngomong, Fella udah pulang ya, Kak? Bagaimana kabar dia sekarang?" tanya Devina setelah berbasa-basi sebentar.
Beberapa waktu yang lalu, dia sempat mendapat kabar dari teman jika Fella hadir di acara ulang tahun perusahaan. Jadi Devina mengira Fella sudah pulang, dan berbaikan lagi dengan keluarganya.
"Memangnya kamu dan dia nggak pernah bertukar kabar?" Dylan balik bertanya. Dia mencoba memancing Devina agar bisa mengorek informasi tentang Fella.
Namun, jawaban Devina sama sekali tidak memuaskan. Wanita itu menggeleng dengan raut muka yang masam.
"Sejak Fella berhenti kuliah, aku nggak pernah berhubungan lagi sama dia. Terkahir kali cuma mendengar kabar kalau dia tinggal di kos-kosan. Itu pun aku tahunya dari teman."0
Dylan berpikir sejenak, lalu kembali bertanya. "Kabar apa lagi yang kamu tahu tentang dia saat itu?"
__ADS_1
Devina menatap Dylan cukup lama, ada keraguan untuk menjawab pertanyaannya kali ini.
Melihat ekspresi Devina yang tiba-tiba berubah, Dylan yakin ada sesuatu yang diketahui wanita itu. Dylan pun tak ragu mengulangi pertanyaannya. Tidak apa-apa meski disebut pemaksa, yang paling penting saat ini hanyalah informasi tentang Fella.
"Aku nggak tahu kabar ini benar atau nggak, Kak. Aku hanya mendengar dari teman, dan nggak ada bukti yang akurat. Katanya Fella pernah tinggal di kos-kosan, tapi nggak lama diusir karena hamil," ucap Devina sambil menunduk.
Dia takut jika penjelasannya membuat Dylan tersinggung, karena sekarang lelaki itu sudah menikah. Sedangkan informasi yang dia ungkapkan, seakan-akan membeberkan akibat perbuatan Dylan di malam itu.
"Hamil," gumam Dylan sangat pelan.
"Maaf, Kak, aku nggak bermaksud nuduh Fella yang macam-macam. Aku tadi cuma mengatakan apa yang aku dengar aja," kata Devina, meminta maaf karena menganggap Dylan marah padanya.
Dylan kemudian menanggapinya dengan anggukan pelan, dan senyum sekilas. Lalu bergegas pergi, dan meninggalkan Devina seorang diri.
"Aku harus cari tahu kebenaran ini," batin Dylan ketika sudah berada di dalam mobil.
Dengan tetap fokus memegang kemudi, Dylan mengambil ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya. Tak membutuhkan waktu lama, sambungan telepon pun terhubung. Seseorang di seberang sana menyapa Dylan dengan sopan.
__ADS_1
"Kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang Daffi. Cari tahu masa lalunya sebelum menikah dengan Fella!" perintah Dylan.
"Baik, Tuan." Orang suruhan Dylan langsung menyanggupi perintah tersebut. Dia sudah tahu siapa Daffi karena Dylan sudah pernah mengatakannya.
"Usahakan secepatnya! Aku tidak mau menunggu lama!"
"Baik, Tuan."
Embusan napas panjang pun keluar bersamaan dengan sambungan telepon yang berakhir. Kemudian, Dylan meletakkan ponselnya begitu saja, dan setelah itu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sama sekali tidak bisa tenang sebelum mendapatkan bukti yang akurat.
"Jika yang dikatakan Devina adalah benar, berarti anak itu memang anakku, dan Fella sengaja menutupinya. Tapi, kenapa? Apa salahnya jujur? Apa seburuk itu mengakui diriku sebagai ayah dari anaknya?"
Dylan terus saja bicara meski tahu bahwa saat itu hanya sendiri, jadi tidak mungkin mendapat jawaban apa pun. Namun, setidaknya dia merasa lega. Sedikit bebannya seakan berkurang bersamaan dengan kata demi kata yang dia ucapkan.
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋
__ADS_1