
Bersama Daffi, Fella memasuki restoran dengan konsep yang tak jauh berbeda dengan tempatnya bekerja itu. Wanita itu masih belum tahu mengapa Daffi memiliki tempat usaha yang sebesar ini. Yang Fella tahu, Daffi sedang merintis usahanya di kota ini, tetapi dia sama sekali tidak pernah bertanya mengenai usaha suaminya itu.
Kehadiran Daffi rupanya disambut dengan hormat oleh beberapa karyawannya. Hal tersebut semakin membuat Fella bertanya-tanya mengenai posisi dan jabatan Daffi di restoran mewah itu.
“Aku ketemu klien sebentar ya, Fel. Kamu tunggu di sini saja nikmati makanannya dulu, nanti aku temui kamu lagi secepatnya,” pamit Daffi setelah mengantar Fella ke sebuah tempat VIP di restorannya itu. “Tolong layani dia dengan baik, dia istri saya!” ucap laki-laki itu pada salah seorang pegawainya.
“Baik, Pak Daffi. Kami akan melayani Ibu dengan baik,” balas sang pegawai dengan patuh.
Daffi pun meninggalkan Fella di meja makan yang khusus untuk tamu-tamu eksklusif. Wanita itu terlihat gugup karena tidak tahu jika Daffi adalah seorang bos di restoran yang sangat besar ini.
“Maaf, Ibu, mau makan apa, biar kami siapkan!” ucap pegawai yang ditugaskan untuk melayani Fella selama Daffi tinggal.
Fella hanya menyunggingkan senyum tipis lalu menatap pegawai itu dan berkata, “Saya minum teh hangat saja.”
__ADS_1
Dengan sigap, pegawai Daffi segera menyiapkan pesanan Fella yang sangat sederhana. Hingga akhirnya Daffi pun kembali setelah menyelesaikan urusannya.
“Aku lama ya?” Laki-laki itu menarik kursi dan duduk di hadapan Fella yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Ya, meski sudah satu bulan menikah dengan Daffi, tetapi wanita itu sama sekali tidak tahu menahu mengenai pekerjaan yang dilakukan suaminya. Yang Fella tahu, Daffi merintis usaha kecil-kecilan.
“Enggak kok. Sebenarnya ini restoran siapa?” tanya Fella yang tidak mampu menahan rasa penasarannya.
Daffi menelan ludah dengan kasar. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua pada Fella. “Sebenarnya, lima tahun yang lalu aku kabur dari rumah dan menempuh pendidikan di sini. Aku menguras semua tabunganku untuk merintis usaha ini dengan bantuan teman sampai akhirnya kami memiliki beberapa cabang salah satunya tempat kamu bekerja, dan pemilik restoran yang kamu tahu itu adalah temanku membangun bisnis ini,” jelas Daffi panjang lebar.
“Dan, soal pernikahan itu. Sebenarnya salah satu wasiat yang ditinggalkan Papa sebelum meninggal adalah, aku harus sudah memiliki pendamping untuk bisa mendapatkan hakku di perusahaan, sedangkan saudara-saudara Papa juga banyak yang mengincar perusahaan itu,” sambung laki-laki itu yang kemudian menundukkan kepala dengan sedih.
Mendengar penjelasan sang suami, Fella jadi mengerti dan mengambil kesimpulan bahwa sang nenek pasti memaksa Daffi agar bisa melindungi perusahaannya, sedangkan Daffi lebih suka mengelola bisnisnya sendiri.
__ADS_1
“Kamu nggak punya saudara?” tanya Fella coba memahami kisah hidup Daffi.
“Aku anak tunggal. Makanya banyak celah buat ngambil posisi dan hak aku di perusahaan,” jawab Daffi dengan jujur. “Makanya Nenek maksa aku buat cepet nikah karena alasan itu juga sebenarnya. Biar pun aku masih fokus sama usaha kecil-kecilan ini, tapi setidaknya perusahaan itu tetap jadi milikku.”
Obrolan mengenai kehidupan Daffi yang sebenarnya itu pun sukses menghangatkan hubungannya dengan Fella. Sepasang suami istri itu terlihat layaknya pasangan muda yang tengah menikmati waktu berdua di restoran.
“Kalau Nenek tahu soal hubungan aku, dan juga tentang anak ini gimana?” tanya Fella yang kembali dilanda keraguan.
Meski Daffi selalu meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, tetapi tetap saja dalam hati Fella selalu merasa takut dan waswas.
Daffi memberanikan diri untuk menggenggam tangan Fella. Dia ingin menyalurkan ketenangan pada wanita itu agar tidak berpikir negatif dan mungkin membahayakan kandungannya. “Soal itu, aku sudah pastikan bahwa tidak ada jejak yang tersisa lagi. Ya, mungkin beberapa teman kamu masih memiliki salinan rekamannya, tapi aku akan meyakinkan semua orang bahwa itu hanya kecelakaan, sama seperti hubungan kita yang menyebabkan kamu hamil. Sampai kapan pun, anak itu adalah anakku, bukan anak orang lain. Kamu bisa mensugesti diri untuk mempercayai itu kan?”
***
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋