
Arsyad yg kini tengah berada di apatermennya baim ,semenjak mengunjungi rumah atiqah ,arsyad langsung pergi menemui sahabatnya itu.
Arsyad sedang duduk termenung di kursi yg berada di balkon kamar baim.sudah dari satu jam yg lalu Arsyad seperti itu,tatapanya kosong entah apa yg Arsyad pikirkan sejak tadi.
Baim membuka pintu kamarnya terlihat Arsyad yg masih duduk di sana.baim yg sudah bosan melihat Arsyad seperti itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
Baim berjalan mendekat,lalu duduk di kursi kosong sebelah Arsyad.
" lo kenapa lagi sih gue udah bosen liat lo diem kaya gini terus..eh ngomong-ngomong lo makin tampan aja syad" ucap baim dengan jujurnya.
Arsyad langsung menatap tajam ke baim ,yg di tatap malah menyengir kuda dengan menampilkan deretan giginya yg rapi .
"gue udah ngomong sama Atiqah .tapi dia tetep mau lanjut buat nikah dengan pria itu" ucap Arsyad dengan tatapan lurus kedepan.
"Ya mau gimana lagi ,ini udah terlanjur sangat jauh bahkan udah sampai tahap pernikahan.buat mencegahnya saja kita udah terlambat".
"Apa mereka memang di taqdirkan untuk bersama?"
" ya bisa jadi"
" pokoknya ini ga boleh terjadi" tegas Arsyad lurus kedepan.
hening tidak ada lagi yg berbicara.angin malam yg di iringi hujan deras sangat kencang membuat udara semakin terasa dingin.
" udah jam 11 lebih baik lo istirahat apalagi lo baru pulang dari amerika pasti capek"
baim menatap Arsyad yg tidak terusik sedikitpun oleh udara yg dingin bahkan baim sendiri sudah sangat kedinginan.
"Im
"Aku sekarang harus bagaimana? Gue udah datang jauh-jauh kesini hanya untuk Atiqah.tapi aggggghhhhhh gue bingung banget,tapi gue juga ga rela dia jatuh ke pelukan orang lain" ucap Arsyad frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
Baim tidak langsung menjawab pertanyaan dari Arsyad ,ia berpikir untuk menyusun rencana.baim mendapatkan rencana lalu tersenyum menyerigai sambil mengangguk-nganggukan kepalanya .
" hanya ada satu cara agar Atiqah dan ustaz mirza tidak jadi menikah" ucap baim dengan seriusnya.
Arsyad menatap baim penuh tanya.rencana seperti apa yg tengah baim pikirkan untuknya? .
Arsyad akui kalau urusan beginian baim orang yg sangat pintar.
" lo tenang aja,hanya tunggu tanggal main nya ,untuk kita bergerak" ucap baim
Arsyad pun hanya mengangguk saja walaupun ia belum mengerti akan rencana apa yg dilakukan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Rencana ku sangat sedikit kasar,tapi maaf kan aku ustadz mirza ini semua demi sahabatku Arsyad.gue tau Arsyad tidak akan menyetujuinya.tapi mau bagaimana lagi kesedihan harus di bayar dengan kesedihan juga kan bukankah,itu sangat adil?" batin baim
***
Arsyad baru saja terbangun dari tidurnya ,sekarang ini dirinya tidak sekamar dengan baim.percayalah sepanjang malam Arsyad kesusahan untuk tidur bagaimana tidak,saat tidur tubuh baim selalu saja berguling-guling kesana kemari,kadang tangan dan kakinya menghantam tubuh dan wajah Arsyad dan yg paling parahnya lagi baim itu ileran sampai bantalnya basah.
Arsyad mendudukan dirinya di sisi tubuh baim yg masih terlelap dalam tidurnya ,Arsyad melihat mulut baim yg terbuka membuat air liurnya keluar membasahi bantal
" menjijikan" batin Arsyad
seketika adzan subuh sudah berkumandang .Arsyad beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka sekalian berwudhu untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat islam.
Arsyad menggelar sajadah untuk melaksanakan shalat subuh .tidak lupa dirinya memakai sarung dan peci milik baim.selesai melaksanakan shalat subuh,Arsyad merapikan kembali sajadah serta sarung dan peci milik baim.
Arsyad menggelengkan kepalanya saat melihat sahabat nya itu masih tertidur pulas.
" im bangun" ucap Arsyad dengan mengguncang-guncangkan tubuh baim
"hem"
"shalat subuh dulu"
"hem" gumam baim dengan matanya yg masih terpejam Arsyad memutar bola mata nya malas karna sudah kesal pada baim yg enggan beranjak dari tidurnya.
Arsyad menarik selimut dengan kencangnya.
Bruuggg..
" awww" pekik baim kesakitan
" shalat sana waktunya sudah mau habis " ucap Arsyad sambil melemparkan selimut ke atas kasur
" gue masih ngantuk" grutu baim
baim sekarang sudah bangun dengan memegangi badanyanya yg terasa sakit akibat terjatuh.baim memicingkan matanya pada Arsyad.
" menyebalkan sekali dia. pagi-pagi ke gini udah kena sial " batin baim.
baim pun langsung masuk kedalam kamar mandi ,dengan berjalan yg tertatih-tatih.Arsyad yg melihat itu hanya tersenyum.
lalu Arsyad keluar dari dalam kamar untuk membuat sarapan untuk dirinya sekalian untuk baim juga. Lalu ia pun akan membuat nasi goreng yg sering ia buat di amerika.
Arsyad mengambil bahan-bahan di kulkas ternyata ada banyak macam sayuran serta bumbu lainya.Arsyad pun segera bertempur dengan alat masaknya itu.
__ADS_1
Baim yg baru sampai di dapur langsung menatap kagum pada sahabatnya itu.
" wah dia tambah keren sekali kalau di dapur" batin baim.
baim pun berjalan mendekat ke arah dimana Arsyad sedang asik memotong sayuran.
" masak apa nih?" tanya baim
" lihat saja nanti" jawabnya acuh
Baim hanya mengangguk saja,ia lebih memilih mendudukan dirinya di kursi meja makan sambil memperhatikan Arsyad.sepuluh menit berlalu,kini nasi goreng buatan Arsyad sudah siap Arsyad sudah menata nasi goreng yg masih panas ke dalam piring untuk dirinya sendiri dan untuk baim juga.
"Makanlah" ucap Arsyad sambil meletakan nasi goreng di hadapan baim
" ini kelihatan ya enak,harum dan menggugah selera,apa yakin ini bisa di makan?" tanya baim ragu-ragu
" terserah"
lalu Arsyad sudah ikut duduk di hadapan baim,membaca doa sebelum makan seterlah berdoa Arsyad langsung memakan nasi goreng tanpa memperdulikan baim yg kini tengah menatap nasi goreng nya sendiri.
Lalu baim pun mulai memakan nasi goreng buatan Arsyad
"enak" ucap baim dengan berbinar-binar .
Arsyad yg mendengar hanya tersenyum kecil,melihat baim yg semakin lahap memakan nasi buatan ya.
"Tenang aja kali ga akan ada yg merebutnya"
" iya" ucap baim malu-malu atas ucapan Arsyad.lalu mereka makan bersama tanpa ada lagi yg berbicara.
***
Sementara itu dengan mirza yg tengah gelisah memikirkan soal kejadian kemarin membuat dirinya takut kehilangan Atiqah.dalam hatinya,mirza merasa kalau atiqaah memiliki perasaan yg tidak biasa pada Arsyad.
Mirza menatap keluar jendela. Terlihat para santri putra tengah berlalu lalang.di atas meja kerjanya terdapat beberapa tumpuk buku yg harus mirza periksa .
tidak lupa waktu istirahat mengajarnya ini mirza memesan teh manis ,terlihat jelas asapnya masih mengepul.mirza menyeruput teh manisnya sedikit demi sedikit ,terasa hangat dan segar. Mirza menatap sekeliling ruangan para mengajar. Hanya ada beberapa ustadz di sana ,mungkin mereka telah kembali mengajar karna bel sudah berbunyi kembali.pikirnya.
mirza menautkan jari-jari tanganya
Sendiri,tubuhnya selalu saja merasa dingin padahal udaranya sangat panas.mungkin efek dari penyakit yg dirinya derita .badanta yg semakin kurus,membuat orang-orang bertanya-tanya ,mirza yg menjawabnya selalu beralasan dirinya semakin sulit makan.
____________________________________
__ADS_1
maaf ya temen" baru sempat update ,karna aku bagi waktu sama jadwa pengajian di pesantren 🙏🙏
selamat membaca semoga kalian terhibur dan jangan lupa follow ig author ya @ masrifah_0312 🤗🤗