
keesokan harinya keadaan Atiqah semakin membaik.dokter yg menangani Atiqah telah tiba dan saat ini persiapan untuk membuka perban di kedua mata atiqah.
bisa di rasakan bagaimana Arsyad begitu erat menggenggam tangan istrinya,ada keringat dingin yg menjalar di sana.
bukan hanya ada Arsyad dan Atiqah yg ada si ruangan ini melainkan ada umi bilqis,kiayi hasan,ifah dan rizky.yg ingin menyaksikan dan ikut menjadi orang pertama saat Atiqah kembali membuka mata,tepat nya di saat tatapan pertama mata mirza berada pada Atiqah.
umi bilqis berulang kali menarik nafas,kiayi hasan juga akhirnya mendampingi hingga akhirnya dokter melepas semua perban yg menghalangi penglihatan Atiqah .
"coba matanya buka pelan-pelan "suara dokter mengintrupsi membuat atiqah perlahan mengikutinya.
awalnya semua buram membentuk bayangan,setelah beberapa kali kedipan semuanya normal.
pertama kali yg atiqah lihat bukan suaminya ,melainkan umi bilqis dan kiayi hasan yg tersenyum lebar ke arahnya.
tanpa sadar Atiqah mengamati keduanya ,netranya belum ingin pindah menatap sekitar.rasanya begitu nyaman membuat ingatan Atiqah kembali berputar.
"mas titip semua orang-orang yg mas sayang" kalimat ini tiba-tiba terngiang di kepalanya,namun atiqah tidak tau siapa yg mengucapkan ya.
Atiqah kembali memejamkan mata dan menundukan kepalanya saat terasa pusing itu kembali hadir.
"ada masalah?" tanya dokter langsung cepat tanggap.
Atiqah menggeleng.
"tidak dok,saya baik-baik saja!"
benar hanya sesaat,setelah itu rasa pusing nya hilang begitu saja.
Atiqah kembali mendongak ,kini ia menatap suami dan kakak ifarnya yg juga tersenyum bahagia.
"ada apa dengan semua orang ,mengapa senyuman merekan sangat sulit untuk di artikan?" beo Atiqah merasa ada yg janggal namun ia juga tidak ingin tertanya sekarang.
dokter pun tersenyum menapas lega,lalu menatap orang-orang yg ada di sini.
"alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar.jika kondisi pasien semakin membaik,mungkin akan segera pulang!" kata dokter memberikan kabar bahagia.
"terima kasih dok " ucap Arsyad.
sementara Atiqah kembali nge-lag entah apa yg iaa pikirkan.
senyum bahagia tersungging di bibir mereka ,saat mendapatkan hasil yg memuaskan.hasil di luar ekspetasi mereka,mereka merasa ini adalah mukjizat dari sang maha kuasa.
__ADS_1
****
dua minggu yg lalu Atiqah koma,dan di tengah-tengah kondisi atiqah seperti itu,tiba-tiba kondisi mirza yg di diagnosa terkena penyakit kanker darah stadium akhir itu semakin melemah dan tidak ada tanda-tanda menunjukan jika ia bisa di selamatkan.
sebagai dokter tentua ia mengusahakan .
lalu bagaimana bisa mata mirza di donorkan untuk Atiqah?
malam itu kiayi hasan bermimpi seperti nyata jika mirza ingin menyumbangkan hal yg sangat besar dalam hidupnya.
kiayi hasan mengira mobil kesayangan ya,
tetapi saat di tanya ternyata bukan.
mirza tidak menjelaskan secara terperinci karna pada saat itu kiayi hasan juga belum mengetahui jika atiqah membutuhkan donor mata .
tidak hanya datang di mimpi ki ayi hasan,mirza juga datang di mimpi umi nya mengatakan hal yg sama persis.
mirza mengatakan jika kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk bertahan hidup,ia lelah dan ingin segera beristirahat.
dengan mendonor kan mata mirza yakin bahwa kedua orang tuanya masih bisa merasakan kehadiran ke dua orang tuanya.
ketika bangun,pasangan suami istri itu terdiam dengan pikiran mencerna masing-masing kalimat dan permintaan aneh dari mirza.
"umi kenapa?" tanya kiayai hasan.
umi bilqis ikut memutar lehernya menatap ki ayi hasan dengan wajah tegang,dan nafas yg masih memburu.
"abi ,umi mimpi buruk!"
ki ayi hasan menyengirtkan dahi.
"mimpi buruk apa umi?" tanya ki ayi hasan ,tadinya ia ingin bercerita perihal mimpi yg ia alami.
umi bilqis bercerita dengan tatapan nanar ,ia begitu terlihat sedih dan terpukul.tidak nyangka ternyata mimpi umi bilqis bisa sama seperti suaminya.
ki ayi hasan menunduk menahan air mata yg sepertinya sudah menggenag di pelupuk matanya.
"mi pertanda apa ini?" lirih ki ayi hasan.
"umi berharap masih ada kesempatan untuk anak kita menjalani hidup normal bi!" timpal umi bilqis
__ADS_1
selama enam tahun mirza berjuang melawan penyakitnya sendirian ,dulu memang tidak terlalu parah.
Penyakit? Ya ,mirza punya penyakit yg sudah lama ia derita sendiri bahkan tidak ada satu orang pun yg tahu tentang kondisi sebenarnya bagaimana. Mirza itu menderita penyakit kanker darah atau di sebut Leukimia. kedua orang tuanya tak habis pikir bagaimana mirza bisa menahan penyakit seganas itu sendirian .bukankah itu menyakitkan ? Tapi lihatlah selama ini,sungguh sangat luar biasa selama ini mirza bisa menahan rasa sakit itu dan menutupinya dengan baik.
ternyata sang pencipta masih menyayangi putranya .mirza sudah tidak merasa sakit .ki ayi hasan dan umi bilqis turut ikhlas atas kepergian dan apa yg mirza beri.
untuk sementara waktu ,menunggu hingga kondisi Atiqah pulih .mungkin keluarga baru akan mengatakan jika mata yg saat ini Atiqah pakai adalah mata mirza.
****
pagi hari yg begitu cerah ini ,Arsyad mengajak Atiqah untuk menghirup udara segar .
Arsyad membawa Atiqah pergi ketaman rumah sakit .
nara hanya diam dengan tatapan kosong ,entah apa yg ia pikirkan.
"sayang?" panggil Arsyad
"iya mas?"
"sebenarnya apa yg sedang kamu pikirkan hmm? jika ada sesuatu yg ingin kamu tanyakan,alangkah baiknya tanyakan pada mas dari pada istri mas yg cantik ini di pikirin sendiri"
Atiqah tertegun sendiri ,belum sempat ia mengeluarkan kata-kata matanya sudah lebih dulu menjadi berkaca-kaca yg siap untuk menurunkan hujan.
Atiqah juga tidak bisa menjelaskan kenapa dirinya seperti ini,dia hanya ingin sedang diam tanpa ingin berbicara.
banyak pertanyaan yg saat ini berkumpul di benak wanita itu,namun atiqah tidak tau mana dulu yg harus di tanyakan kepada suaminya.
"mas bagaimana keadaan ustadz mirza?" tanya Atiqah membuat Arsyad kaget .
"terakhir aku ketemu waktu di depan mesjid ,tapi aku belum sempat menanyakan kabar dan rasa terimakasih ku padanya."
dari sekian banyak pertanyaan Atiqah malah bertanya kondisi mengenai mirza yg membuat suaminya sedikit bingung mau menjawab apa.
Arsyad tersenyum menenangkan .
"alhamdulillah kabar ustadz mirza baik sayang,kapan-kapan kita silaturahmi ke umi bilqis dan keluarganya ya" ucap Arsyad
Atiqah mengangguk,meskipun dalam hati ia belum cukup puas dengan jawaban yg telah di berikan oleh suaminya.
"sayang jangan terlalu mikir keras ya,ingat kata dokter,kalau kamu itu tidak boleh banyak pikiran.nanti kondisi kamu semakin drop!"pesan Arsyad pada istrinya.
__ADS_1
"Atiqah mengangguk.
"iya mas"