
Akhir pekan kali ini menjadi akhir pekan yang sangat membosankan untuk Azka. Ia hanya menghabiskannya di kamar sambil membolak-balik buku Biologi yang sudah 2 hari ini selalu berada di atas kasur. Sesekali Azka keluar untuk membantu Mama mengerjakan pekerjaan rumah, makan, ke kamar mandi, dan mengambil wudhu. Semua aktivitas lain dilakukannya di dalam kamar. Sejak kejadian malam itu, Azka enggan untuk membuka ponsel. Iya masih belum bisa memulihkan perasaannya yang berkecamuk. Hanya sekali ia menatap layar ponselnya, terlihat ada 29 pesan yang masuk serta 18 panggilan tak terjawab yang berasal dari Ocha, Risa, dan Rasya. Agil? Entahlah, mungkin dia lebih memilih untuk menghilang setelah Ia mengutarakan perasaannya yang berujung penolakan.
---
“Ma, Ade berangkat. Assalamu’alaikum!” katanya sambil menggunakan sepatu dan berlari keluar rumah. Hari senin memang membuat Azka selalu bersemangat. Hari ini harus menjadi awal yang baik untuk memulai nya kembali. Cukup sudah dua hari kemarin Ia gunakan untuk mengurung diri. Dan kini saatnya Ia kembali muncul seperti biasanya. Sudah siap Azka?
Sesampainya di sekolah, Azka menyapa Bang Odin di gerbang dan menuju kelas dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
“Woy Ka, kenapa nih senyum-senyum?”
“Eh, Cha! Gak papa”
“Lo belum cerita kemarin gimana. Lagian Lo kemana aja sih? Susah banget dihubungin”
“Gue gak kemana-mana Cha. Cuma butuh menenangkan diri” jawabnya dengan suara penuh keyakinan.
“Bagus deh, jadi Lo terima gak?” Azka hanya menggelengkan kepala.
“Serius? Gak yakin sama perasaan Lo sendiri setelah dua tahun Lo menutup diri cuma buat dia?”
“Untuk saat ini Gue gak yakin. Gak tau nanti”
"Kesempatan gak dateng dua kali Ka, ah elah"
“Rasya gimana?” tanya Ocha lagi semakin penasaran. “Jangan bilang gara-gara dia”
“Enggak kok. Tapi Gue juga gak yakin”
“Trus?”
“Yaudah lah Cha, kita kan gak bisa ngatur perasaan orang lain Cha. Tinggal kita aja milih bersikap gimana” kata Azka bijak
“Tumben bener!” Ocha merangkul Azka dan mereka berjalan menuju kelas bersama-sama.
Tidak lama setelah mereka masuk ke dalam kelas, Bel berbunyi tanda upacara akan dimulai. Mereka bergegas keluar ruangan menuju lapangan upacara. Mereka mengobrol dan saling meledek selama perjalanan mereka menuju lapangan upacara. Diperjalanan Azka melihat Agil dan Rasya yang sepertinya terlihat baik-baik saja. Mereka masih terlihat akrab seperti biasanya. ‘Syukurlah, gak ada perang dunia’ batin Azka melantur.
__ADS_1
“Ka, Agil” tunjuk Ocha tepat searah dengan kemana pandangan mata Azka dari tadi tertuju.
“Heem. Dia biasa aja tuuh. Berarti bener dugaan Gue Cha”
"Apa?"
"Itu, dia gak bener-bener kemarin minta Gue nerima dia. Dia gak ada kecewa-kecewanya tuh" Azka mencebik. ada rasa kecewa mengetahui kenyataan itu. 'Ah entahlah' pikirnya. Ocha hanya mengangkat bahu tak mau tau.
Sepulang sekolah, Azka dan Ocha menuju lab komputer setelah ber-dadah-dadah kepada Risa, Nadia, Iren, dan Ita. Minggu ini mereka mulai latihan dengan jadwal yang lebih padat. Jadwal pertemuan dilipat gandakan menjadi 3x pertemuan dalam seminggu, yaitu senin, selasa, dan kamis. Sesampainya di Lab, Azka melihat Rasya yang juga baru saja sampai dan meletakkan sepatu di rak yang ada di samping pintu masuk. Dia sedikit melirik dan kemudian membalikkan tubuh menghadap ke arah dua gadis yang sudah semakin dekat dengan lab.
“Kemarin kemana aja?” tanyanya kepada Azka
“Gak kemana-mana kok” Azka menjawab sambil melepas sepatu dan meletakkannya ke tempat yang sama dengan tumpukan sepatu lainnya
“Kamu gak kenapa-kenapa?”
“Enggak kok Kak” Azka menekankan kata ‘Kak’ pada kalimatnya agar terlihat bahwa Ia baik-baik saja dengan tetap memanggilnya dengan panggilan ‘Kak’.
“Yaudah ayo masuk. Nanti pulang bareng ya” ajaknya yang Azka tanggapi dengan senyuman. Ocha yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya bisa memutar bola matanya sambil menepuk pundak Azka dua kali.
“Ke warung itu dulu yah, pengen minum” ucap Rasya saat mengantar Azka pulang dan kemudian menepikan motornya dipinggir warung es campur dan baso
“Gak pa-pa, sekalian kalo kamu mau makan bakso dulu”
“Boleh?” tanya Azka antusias. Rasya hanya mengangguk sambil tersenyum. Warung bakso tersebut sedang sepi, nampak mangkok-mangkok bekas bakso yang ditumpuk menjadi satu di ujung meja tanda sebelumnya warung ini dipenuh sesakkan oleh pelanggan.
“Pembelinya tadi rame ya Bang?” tanya Azka kepada Abang bakso yang sedang mengaduk kuah bakso dalam panci yang berasap
“Alhamdulillah neng, ini juga mangkoknya belum sempet di cuci” jawab si Abang bakso sambil menunjuk tumpukan mangkok dengan ujung bibirnya.
“Mau pesen apa neng?” tanya Abang bakso lagi
“Bakso gak pake sayur pake mie putih aja satu. Kecap saos nya dipisah ya Bang.”
“Makan disini neng?” tanya Abangnya lagi
__ADS_1
“Iya”.
“Oh, kirain dibawa pulang, soalnya dipisah”
“Dipisah aja bang, soalnya saya takut gak bisa bedain mana yang tulus mana yang modus” katanya sambil cengengesan. Rasya yang sedang menenggak minuman botol seketika tersedak.
“Pelan-pelan Kak” kata Azka sambil menepuk-nepuk tengkuknya.
puk-puk
“Tuh, gara-gara gombalannya si eneng, Mas nya jadi batuk. Kesindir ya Mas?” timpal Abang bakso sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala.
“Emang iya Kak?” tanya Azka polos
“Enggak kok, kata siapa?” Rasya berkilah
“Ituu, kata Abang nya. Padahal aku gak lagi nyindir kok. Aku cuma abis baca kumpulan jokes receh tadi di sekolah” katanya menjelaskan dan mendapat gelengan kepala dari Rasya.
“Kak, gak kesindir?” Rasya menggeleng. “Yaaah, padahal kalo kesindir aku seneng” katanya lagi.
“Kenapa?”
“Biar kamu mikir, kayak Ayu Thinking” jawab Azka asal. Rasya tertawa mendengar jawaban Azka yang masih menggunakan mode bercanda itu. “Ayu Ting ting Dek, hahahahaha”
“Silahkan Neng, Mas nya gak sekalian?” tanya Abang bakso ditengah tawa Rasya yang masih terdengar.
“Enggak Bang, saya belum laper” Abang bakso menundukkan kepala dan bergegas ke bagian belakang warung.
Setelah bakso di mangkok Azka tandas, mereka memutuskan segera pulang karena hari sudah semakin sore. Rasya melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Azka duduk dengan posisi duduk menyamping, karena menggunakan rok panjang semata kaki. Lagipula, Ia tak pernah nyaman untuk duduk menghadap ke depan saat dibonceng laki-laki. Sesampainya di rumah,
“Makasih Kak”
“Sama-sama. Gih masuk, udah sore”
“Iya, ini juga mau masuk”
__ADS_1
“Oiya dek, buat masalah ucapan aku Jumat lalu, kamu gak usah pikirin ya. Yang penting kamu tau, itu udah lebih dari cukup” ucap Rasya sambil menatap Azka lekat
“Iya Kak. Aku pikir juga mengungkapkan pernyataan itu terkadang gak selalu penting” Azka menjawab dan menyunggingkan senyum. Rasya membalas senyumnya. Azka bergegas masuk ke dalam rumah. Sebelum menutup pintu pagar rumah Ia berbalik, “Yang penting itu justru sikap kita seperti apa” tambahnya lalu menutup pintu pagar dan berjalan menuju pintu utama.