
Dilema
Sesungguhnya ku ingin dirimu
Tuk cairkan hatiku yang beku
Tapi aku belum siap, aku jadi dilema
Aku tak mau menyakitimu
Karena hati ini masih ragu
Tapi aku, butuh cinta. Aku jadi dilema
Kutakut rindu bila tak lagi bertemu
Haruskah ku terima, Cinta yang dilema
Setelah kejadian makan bareng yang berujung drama Olive Popeye, Azka dan Rasya tidak lagi terlibat percakapan baik secara tidak langsung (chat) atau secara langsung. Ada perasaan yang mengganjal dalam hati Azka. Hadiah Olive-Popeye yang diberikan pada Rasya membuat dirinya seperti terjebak dalam perasaan bersalah. Dirinya merasakan kenyamanan lain bersama Rasya, hanya saja Akal dan logika nya masih bertahan pada perasaan tak terbalas pada Agil. Hal itu membuat Azka memutuskan untuk tidak menghubungi Rasya sementara waktu. Demikian juga Rasya, dirinya merasa cukup untuk menjadi Popeye dalam imajinasinya, dibandingkan menuntut hal itu pada Azka.
---
“Azka selamat pagi” Sambut Ocha dan Nadia dari dalam kelas saat Azka baru saja sampai.
“Pagii, ada apaan nih?” tanya Azka curiga. Tak biasanya mereka menyambut dengan gaya bermanja-manja seperti itu kalau bukan ada modus dibalik itu semua.
“Enggak ada apa-apa kok” jawab mereka kompak sambil tetap tersenyum manis. Senyuman paling manis yang pernah Azka terima tapi beracun baginya. ‘Pasti ada maunya nih’ pikir Azka yakin.
“Serius? Yakin nggak ada apa-apa? Kok senyum-senyum?” tanyanya masih menyelidik
“Lo mah, dibaikin judes, gak dibaikin ngambek” akhirnya wajah normal Ocha kembali
“Fiuuh, Gue suka wajah kalian apa adanya, gausah sok manis” jawab Azka sambil terus menuju bangku meninggalkan mereka di depan pintu.
“Ka, katanya Agil lagi patah hati, gak diterima Dinda” Ocha memberitahu kabar terbaru Agil yang membuat dirinya terkejut seketika.
“Serius? Jadi kalian seseneng itu karena kabar ini?” tanya Azka sambil melihat wajah kedua sahabatnya bergantian
“Ya bukan seneng Ka. Tapi kabar dari ipit, katanya Agil bakal nembak Lo beneran. Bukan gosip kayak kemarin” informasi dari Nadia itu tiba-tiba membuat Azka semakin terkejut bak disambar petir.
“Serius???” pertanyaan itu lepas begitu saja dari bibirnya. “Eh, maksud Gue, dia beneran mau nembak Gue setelah baru aja ditolak? Sialan!!” rutuknya sambil menggerakkan tangan secara kasar mengeluarkan buku-buku untuk jam pelajaran pertama.
“Dia kira Gue apaan? Cuma jadi pelarian doang karena dia abis patah hati?”
Ocha dan Nadia hanya mengedikkan bahu tanda tak mengetahui apa motif Agil sebenarnya. Mereka hanya mendengar kabar dari Ipit. Mungkin menurut mereka kabar itu seperti hal bagus untuk Azka. Tapi mengetahui kejadian sebelumnya adalah dia ditolak oleh Dinda, hal itu membuat Azka ragu. ‘Bisa-bisa nya dia manfaatin rasa suka Gue yang dipendem dari 2 tahun lalu cuma untuk pelarian doang’ batin Azka meringis. ‘tapi, memangnya Agil tau perasaan Gue sebenernya selama ini?’ pertanyaan-pertanyaan serupa memenuhi pikirannya sampai rasanya kepalanya sangat sesak.
Bel berbunyi tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Pak Su masuk dan memberikan beberapa penjelasan tentang gaya antar molekul yang diperhatikan dengan seksama oleh seluruh siswa dikelas. Sesekali Pak Su memberikan contoh soal dan latihan yang harus dikerjakan siswa di depan kelas. Beberapa siswa maju untuk mengerjakan soal latihan di papan tulis. Penjelasan dari Pak Su seperti samar-samar dalam pendengaran Azka. Azka merasa fokusnya tidak maksimal saat ini. Beberapa penjelasan seperti terlewat begitu saja saat pikirannya kembali mengingat kata-kata Ocha dan Nadia pagi ini.
“Eh, jadi gimana sih itu, coba jelasin ulang Cha” pintanya sambil mendekat ke meja Ocha.
“Tumben Lo gak ngerti, biasanya pelajaran Pak Su paling bikin melek?” tanya Ocha keheranan
“Gak tau, gak konsen” jawabnya asal, lalu menarik buku catatan Ocha ke arah dirinya.
“Gak konsen gara-gara kabar Agil mau nembak?”
“Sssst, diem Cha. Gue lagi belajar. mending jelasin nih yang ini ke Gue” jawab Azka agak sewot.
“Sini-sini. Ribet deh kalo Azkania udah begini” Ocha kemudian menarik bukunya kembali dan menjelaskan materi yang tadi Azka tunjuk di bukunya. Azka mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
“Makasih Cha, hehe” ucapnya setelah Ocha selesai menjelaskan.
“Sama-sama”
---
Sepulang sekolah, Azka dan Ocha memutuskan untuk diam sebentar di mushola sekolah. Mushola menjadi tempat yang paling enak untuk berdiam diri, terutama setiap jum’at sepulang sekolah. Hari jum’at mereka dipulangkan sebelum adzan dzuhur berkumandang. Tidak ada agenda Shalat jumat bersama di sekolah membuat sekolah ini menjadi sepi meskipun waktu baru menunjukkan pukul 11.30. Tidak banyak orang di sekolah membuat mushola yang memang pada dasarnya selalu bikin nyaman, menjadi sangat nyaman. Dua sejoli itu tidur-tiduran di lantai beralaskan sajadah sambil menunggu adzan dzuhur.
“Cha, emang beneran ya Agil bakal ngelakuin itu?”
__ADS_1
“Ngelakuin apaan?” Ocha masih belum nyambung dengan apa yang Azka maksudkan.
“Yang kata kalian tadi pagi” ucapan Azka disambut dengan anggukan kepala Ocha yang mengerti arah pembicaraannya.
“Ya gak tau juga. Tunggu aja nanti malem”
“Gitu yah?”
“Heem”
“Trus Gue harus gimana dong?”
“Ya terserah Lo Ka, Gue gak tau harus kasih saran gimana sama Lo”
Azka menghela nafas kasar, berbalik lalu duduk bersender pada dinding.
“Lo juga belum cerita lagi sama Gue gimana perasaan Lo yang sekarang”
Ocha benar, Azka belum mengatakan bagaimana kondisi perasaannya yang sekarang. Bukan karena tidak mau, tapi karena Ia pun masih bingung dengan perasaannya yang sebenarnya.
“Gue juga bingung”
“Lo sama Rasya gimana?”
“Gak gimana-gimana. Gue kemarin kasih boneka itu ke Kak Rasya”
“Boneka?”
“Yang Gue beli di central” Ocha ber oh ria sambil menganggukkan kepalanya. “Emang boneka apaan?”
“Olive”
“Bwahahahahahahaa”. “kocak lo Ka. Bwahahahahaa”
“Apanya yang lucu sih?”
“Pasangan tuh sama popeyenya?” tanya Ocha sambil menahan tawa.
“Lah, itu palsu gak?” Azka mengedikkan bahu dan kemudian menyenderkan kepala ke dinding lalu memejamkan mata. Hening.
“Gue nyaman sih sama Kak Rasya, tapi pikiran Gue masih dipenuhi dengan rasa penasaran Gue tentang perasaan yang udah Gue tanem dari 2 tahun lalu. Gue masih terus berpikir bahwa Gue emang harus nunggu Agil. Mungkin kalo Agil nembak malem ini, Gue gak akan terima dia. Bukan sekarang, karena mungkin dia ngelakuin itu hanya sekedar pelarian karena dia ditolak sama Dinda. Tapi nanti ketika dia emang bener punya perasaan yang sama” Azka mengucapkan itu tanpa jeda. Ocha menganggukkan kepala, dia pasti mengerti apa yang Azka rasakan.
---
Malam ini Azka seperti biasa mengerjakan tugas meskipun besok adalah hari sabtu. Nugas is her passion lah pokoknya. Azka tak berhenti menuliskan jawaban-jawaban dari soal-soal yang ada di lembar kerja. Sesekali Ia melirik ke arah ponsel yang sedari tadi tak bergeming dipinggir bantal.
“Dih, udah dibikin baper parah ternyata cuma wacana” Ia bergumam. ‘kok gue jadi ngarep beneran di tembak ya?’ Azka menggaruk kepala yang tak gatal lalu berusaha fokus kembali pada lembar kerjanya. Tiba-tiba suara notifikasi di ponsel membuat Ia terkejut. Perlahan tapi pasti Azka mengambil ponselnya dengan sangat hati-hati. Jantungnya tiba-tiba bertalu-bertalu. ‘udah kayak buronan rentenir aja Gue’
-Rasya-
Dek?
Ada sedikit rasa kecewa ketika yang mengirim pesan ternyata bukan Agil. Tapi kemudian Ia tetap membalas juga pesan Rasya yang sudah Ia buka.
-Azka-
Iya?
-Rasya-
Aku boleh ngomong serius?
-Azka-
Emang selama ini gak serius kak?
-Rasya-
Ya bukan gitu
__ADS_1
Tak lama kemudian ponsel itu kembali bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Rasya. ‘Angkat jangan, angkat jangan?’ Azka menimbang-nimbang dalam hati. Ada sedikit kekhawatiran jika yang akan dibicarakan nanti adalah perihal Agil. ‘Ck, masih aja Gue mikirinnya si Agil’.
“Adeeee” Mama memanggil dari luar kamar.
“Iya Maaaa” jawabnya
“Makan sini, jangan nugas terus. Besok sabtu”. ‘Lah, terus kenapa emangnya kalo sabtu?’ Azka hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan mama.
-Azka-
“Kak, aku makan dulu ya” Azka mematikan ponselnya lalu bergegas keluar untuk ikut makan bersama mama dan papa.
Selesai makan, Azka membantu mama untuk mencuci piring yang sudah ditumpuk menjadi satu diatas wastafel. Ia mencuci tanpa suara sambil menahan rasa penasaran. Setelah selesai mencuci piring, Ia masuk kamar dengan terburu-buru. Ia ambil ponselnya yang dari tadi teronggok begitu saja di atas tumpukan tugas.
5 pesan diterima
‘Kak Rasya,Kak Rasya, Kak Rasya, Agil!!!’ Azka membaca nama pengirim pesan dalam hati dan langsung terkesiap ketika mengetahui 2 diantara 5 pesan yang masuk adalah pesan dari Agil. Untuk menenangkan diri Azka bergerak membuka pesan Rasya terlebih dahulu. Meskipun rasa penasaran ini sudah meluap-luap minta dipenuhi.
-Rasya-
Dek, tentang perasaan kamu selama ini, jangan sia-sia in kesempatan ini. Aku sahabat Agil, dan aku tau siapa dan bagaimana dia. Tapi kalo kamu ragu, jangan.
Satu hal yang harus kamu tau aku sayang sama kamu.
Tiga pesan yang Azka pikir akan bisa membuatnya sedikit tenang justru malah membuat Ia semakin gusar. Bisa-bisanya Rasya justru menyatakan perasaannya. Azka mengabaikan pesan dari Rasya dan bergerak membuka pesan Agil.
-Agil-
Masih nyimpen nomor gue gak? Ini gue Agil Ka.
Ka, gue tau lo selama ini deket sama Rasya. Tapi gue tau perasaan itu gak bisa kita paksakan kan? Gue suka sama Lo. Lo mau kan nerimanya?
Azka mencoba mengingat-ingat pesan Ocha tadi sore saat mengantarnya pulang. Apa yang harus Ia lakukan??? Tapi pikirannya sudah lebih kacau dengan lima pesan yang masuk secara beruntun dari Agil dan Rasya. Azka memberanikan diri untuk membalas pesan Agil terlebih dahulu.
-Azka-
Iya Gue tau ini nomor Lo. Kenapa tiba-tiba ngomong gitu? Memang apa yang Lo tau tentang perasaan Gue?--- Sent
Huuuft,
-Agil-
Lo gak percaya sama Gue Ka?
Agil masih dalam mode mengetik, lalu sebuah pesan masuk lagi ke kolom percakapan mereka.
Kalo Lo gak percaya karena gue ngomong
via chat, besok Gue ke rumah Lo ya Ka?.
‘Ini orang nekat amat mau kerumah Gue’ Azka membatin
-Azka-
Gak perlu Gil, gue bisa jawab sekarang
Azka membenarkan posisi duduknya agar lebih tegap. Ia tarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Lalu Ia mulai mengetik kembali
-Azka-
Sepertinya Gue ga bisa nerima Lo. Maaf. Tapi.. sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat. Lagi pula Gue gak mau cuma jadi pelampiasan Lo doang.
Azka mantap mengirimkan jawabannya kepada Agil. Lalu Ia menutup kolom chat mereka. Jantungnya masih berdetak tak karuan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyadarkan diri atas apa yang sudah benar-benar Ia lakukan.
“Perasaan 2 tahun itu, ternyata gak ngaruh apa-apa untuk hari ini” Azka bergumam sendiri, menahan sesak agar tak menyembul ke permukaan. Tapi ternyata Ia tak bisa, sesak memenuhi rongga dadanya, Azka menarik nafas panjang berkali-kali agar Ia tidak meneteskan air mata untuk setiap keputusan yang Ia ambil hari ini.
Azka beralih ke pesan dari Rasya yang sejak tadi Ia biarkan begitu saja. Azka menuliskan sedikit jawaban dan memilih untuk tidur.
-Azka-
__ADS_1
Aku udah kasih keputusan. Tapi aku gak tau apakah ini berpengaruh untuk kamu.