
Rasya memarkirkan motornya di parkiran atas sekolah. Ya, sudah satu minggu ini Rasya membawa motor matic pemberian Mamanya ke sekolah. Ia merasa sudah cukup percaya diri kembali membawa kendaraan berroda dua itu setelah kecelakaan yang menimpanya. Rasa trauma juga sudah hilang sedikit demi sedikit. Ia berjalan dengan tertatih dengan kaki palsunya di sebelah kanan. Meskipun sudah lebih baik, tetap saja Ia masih lupa bagaimana cara jalan secara normal. Kaki palsu itu membuatnya sedikit canggung, ada yang mengganjal setiap kali Ia mengangkat kakinya untuk melangkah.
Dari kejauhan Rasya melihat seorang gadis yang sangat Ia kenali. Tubuh mungil kecil, dengan seragam yang selalu rapih melekat di tubuhnya, tas selempang berwarna pink hitam, juga sepatu pantofel yang tak biasa digunakan anak seumuran mereka. Wajahnya cantik, dengan dagu lancip dan bulu mata yang lentik. Pipinya merona terkena sinar matahari yang terlalu pagi menampakkan diri. Bibir tipisnya yang berwarna merah muda alami selalu menyunggingkan senyum yang entah kenapa membuat perut ini geli. Seperti ada bunga-bunga bermekaran yang membuncah di dalam dada.
“Azka!” panggil Rasya dari jarak yang sudah tidak terlalu jauh.
“Eh, Kak Rasya?” lagi, senyum itu kembali terkembang, membuat Rasya enggan mengedipkan mata.
“Kok baru dateng?” tanya Rasya sambil berjalan mendekati Azka yang sudah menghentikan langkahnya.
“Iya, tadi di depan ngobrol dulu sama Juan dan Tama” ucap Azka biasa saja.
“Oh”
“Oh doang nih?” Azka tersenyum jail.
“Kamu jadi sering ngobrol sama mereka ya?” tanya Rasya.
“Iya, seru mereka tuh. Asik-asik. Hehe” jawab Azka sumringah.
Rasya mengangguk, tak ada obrolan lagi, mereka hanya melanjutkan langkah mereka menuju kelas masing-masing
---
“Kak, gak mau ikutan SC komputer lagi?” tanya Azka pada Rasya yang Ia hampiri sebelum pergi menuju lab komputer di sekolah
“Enggak, mau pulang aja. Lagian aku gak bakat-bakat amat”
“Yah, sepi dong” ucap Azka lesu
“Kan ada Alfan” jawab Rasya singkat, Ia terus fokus menatap ke arah pintu kelas
“Pengen pulang banget yah, ngeliatin pintu mulu. Gak akan lari pintu nya Kak” ucap Azka yang memperhatikan pandangan Rasya sejak tadi.
“Iya, pintu mah gak akan lari. Gak kayak kamu”
“Udah tau aku bisa lari, tapi yang diliatin pintu, bukan aku” Azka terkekeh membalas ucapan Rasya.
Rasya seketika menatap gadis itu lama tanpa berkedip. Tatapannya membuat Azka salah tingkah dan memilih memainkan ponsel yang berada di tangan kirinya.
“Udah ah, yuk jalan ke atas. Kamu mau ke parkiran kan?” tanya Azka
“Iya, yuk” Rasya melangkah menuju pintu, melangkah santai dengan langkah lebarnya yang biasa. Azka yang menggunakan rok semata kaki tidak bisa mengimbanginya. Azka berlari kecil, melewati Rasya dan berhenti sedikit di depan menghadap pemuda itu. Saat Rasya hampir sejajar, Ia kembali berlari-lari kecil meninggalkannya dan berhenti lagi di depannya masih menghadap ke arah pemuda yang sudah tersenyum sangat manis. Begitu terus berulang-ulang.
“Dek, bisa gak sih kamu gak usah lari-lari gitu?”
“Hehehe” Azka hanya tersenyum, Ia berbalik hendak maju lagi karena Rasya sudah hampir sampai di tempatnya. Baru Ia mau melangkah, tangannya dicekal oleh Rasya sehingga membuat gadis itu tetap berada di tempat.
“Nah, gini. Jalan aja pelan-pelan, Bareng-bareng. Gak usah lari, kalo aku gak bisa ngejer, nanti kamu jadi jauh trus ngilang” Azka menatap wajah Rasya kemudian beralih ke tangannya yang digandeng secara bergantian. Lalu tersenyum.
Sesampainya di depan lab komputer, Azka melepas tangannya dari genggaman Rasya. Azka berbalik menghadap Rasya.
“Kak, sekarang udah mau OKI lagi, dan karena kamu gak mau lagi ambil bagian disini, aku ijin akan sangat sibuk mulai sekarang. Aku gak mau nanti kita berantem dan saling salah paham karena aku sibuk” Azka menjelaskan kondisinya. Ya, perwakilan dari sekolah saat ini tidak banyak. Beberapa teman mereka mundur, dan karena Kak Ajo dan Kak Adis sudah tidak bisa bertanding. SC komputer hanya diisi oleh Azka, Alfan, Ocha, dan dua orang kelas sepuluh yang baru mereka rekrut. Meskipun Adit, teman sekelas Azka seringkali bergabung bersama mereka saat latihan. Hal ini pasti akan membuat Azka sibuk karena Pak Alex akan selalu menyuruh berlatih dengan lebih giat.
“Iya, aku tau”
__ADS_1
“Janji gak akan mikir aneh-aneh?”
“Janji”
“Percaya sama aku?”
“Iya, percaya” Azka tersenyum, mengelus lengan Rasya sekilas. “Makasih” ucap Azka. Rasya membalasnya dengan anggukan.
“Woy berduaan mulu. Yang ketiga setan noh” ucap Ocha keluar dari Lab.
“Iya, setannya Lo!” jawab Azka.
Rasya meninggalkan Azka dan Ocha setelah mengelus puncak kepala Azka dengan lembut. Azka pun masuk ke dalam lab komputer saat Rasya sudah menghilang ke arah parkiran.
“Ngomongin apaan tadi?” tanya Ocha yang sudah lebih dulu berada di sana.
“Apa aja, hehehe! Cha? Sejak kapan Lo tadi disitu?” tanya Azka gugup
“Sejak tadi, cukup lama lah untuk liat adegan sok iyeh kalian berdua”
“Ck, bilang aja iri!” jawab Azka melengos pergi masuk ke dalam ruangan.
---
Kesibukan Azka, Ocha, dan Alfan berlanjut, hingga OKI tingkat kabupaten berhasil dilalui. Namun kesibukan itu tak berhenti disana. Terutama bagi Azka dan Alfan yang keduanya akan mewakili kabupaten bersama satu orang dari SMA Negeri Ibu Pertiwi ke jenjang propinsi. Jelas saja, kesibukan mereka membuat keduanya selalu bersama. Seolah-olah Azka selalu ada dimana Alfan ada. Begitupun Alfan, dia seolah selalu berada disekitaran Azka berada. Setiap hari mereka selalu berdua, sampai banyak yang mengira bahwa mereka merupakan sepasang kekasih yang sedang saling menikmati asmara.
Kasak kusuk dari sepenjuru antero sekolah mulai terdengar. Banyak yang mengatakan bahwa mereka berdua sangat cocok. Namun hal itu tidak digubris oleh mereka. Desas desus yang beredar tidak membuat mereka canggung. Alih-alih menjauh mereka justru terlihat sangat kompak. Mereka sering menghabiskan waktu istirahat di lab berdua, begitupun saat sepulang sekolah. Meskipun terkadang Ocha dan Risa ikut menemani. Hal ini dilakukan agar mereka tidak terus dihantui oleh gosip recehan yang sudah memenuhi indera pendengaran mereka.
Nampaknya yang paling heboh akan kedekatan mereka berdua justru bukan dari teman seangkatannya. Karena mereka pasti tau bagaimana hubungan Alfan dan Azka beserta empat temannya yang lain. Gosip ini justru berhembus kuat di antara siswa kelas sepuluh. Terutama di kelas sepuluh dua. Dimana Tria berada. Juan, Tama, Nando, dan Riki yang merupakan tim nasyid sekolah bersama Alfan juga sering menjadi sorotan. Mereka sering ditanyai oleh anak-anak kelas sepuluh tentang kedekatan antara Alfan dan Azka.
“Tau. Kenapa orang-orang kepo baru bermunculan sekarang sih. Bikin pusing aja” ucap Tama tak kalah kesal.
“Biarin ajalah, gausah dijawab. Biar aja mereka yang pusing sendiri dengan rasa penasaran mereka” ucap Nando yang bersikap bodo amat.
“Gue yakin cewek Bang Alfan mulai panas” ucap Riki yakin. “Apalagi ini anak-anak sewot banget. Aelaaah, kepo akut” ucapnya lagi.
OKI Propinsi segera dilaksanakan dua hari lagi. Alfan dan Azka terlihat semakin sibuk dengan persiapan olimpiade yang akan mereka hadapi bersama perwakilan lainnya. Pak Alex tak kalah sibuk. Sesekali mereka berdua diajak latihan diluar jadwal kesepakatan, tapi tak jarang juga mereka diajak makan bersama untuk menghilangkan stres yang ada. Pak Alex sangat bersyukur, memiliki Azka dan Alfan yang mau diajak bekerja keras untuk memajukan nama sekolah.
Seusai OKI propinsi, kesibukan itu sedikit mereda. Alfan dan Azka sesekali menghampiri Pak Alex menanyakan kabar pengumuman yang belum juga muncul. Ocha, Risa, Iren dan Fabel juga ikut serta. Mereka juga ingin tau bagaimana hasil perjuangan kedua sobatnya itu.
---
Hingga hari itu, berakhirlah mereka di bangku kantin Pak De setelah seharian sekolah seperti biasa.
“Haaaah, kelelahan ini akhirnya akan berakhir” ucap Azka setelah mengunjungi Pak Alex di ruangannya
“Kelelahan itu belum berakhir Ka, masih ada UTS, UAS. Lagian belum ada hasil OKI kemarin” ucap Fabel
“Apapun hasilnya lah, yang penting udah selesai sekarang. Tinggal belajar buat yang lain” ucap Azka senang.
“Kalo nanti kalian ke Nasional, keren dong yah” ucap Ocha bersemangat.
“Gue sih gak kayaknya. Gue pesimis. Ngerjain soal nya aja ngantuk” ucap Azka tak yakin.
“Alfan nih kayaknya ada harapan” ucap Risa menyenggol lengan sahabatnya yang sedari tadi hanya diam.
__ADS_1
“Harapan apaan? Tanya aja sama Azka gimana wajahku pas keluar ruangan kemarin”
“Dia lesu abis. Kayak abis kehilangan duit 5 M” jawab Azka sambil tertawa
“Emang Lo pernah pegang duit sebanyak itu?” tanya Iren.
“Enggak”
“Sotoy lu!” ucap Risa dan Ocha bersamaan sambil menjitak kepala Azka.
“Etdah, sakit beg*k. ngejitaknya kayak pake tenaga Emang becak” ucap Azka sambil meringis kesakitan
“Sorry, terlalu bersamangat” “Nggak sengaja Gue Ka” ucap Risa dan Ocha terkekeh
“Eh, liat. Itu Tria?” tunjuk Azka setelah menepuk bahu Alfan yang duduk di sebelahnya.
“Ehm? Oh Iya” jawab Alfan cuek setelah melirik sekilas.
“Wajahnya bete gitu Mas” ucap Azka sambil terus mengikuti gerakan Tria yang menjauh.
“Lo berantem Fan?” tanya Fabel
“Enggak. Gak ada berantem-beranteman. Cuma emang jarang chat karena kemarin fokus OKI” jawab Alfan lagi.
“Gak boleh gitu Lo Fan. Kasian dia, pasti dia sedih karena Lo nya cuek” ucap Risa
“Iya Mas, kalo kayak gitu kasian dia lah. Aku juga sibuk sama kayak kamu. Tapi aku masih sering telponan kok tiap malem sama Kak Rasya” jelas Azka panjang lebar.
“Gak nanya Ka” ucap Fabel membuat gadis itu bersingut.
“Gue kan cuma ngasih contoh sama Mas Alfan” gerutunya lagi.
“Cewe kalo udah cemburu serem yak” ucap Fabel tiba-tiba.
“Cemburu?”
“Iya, Gue rasa sih dia bukan cuma sedih karena Alfan gak sering ngechat. Tapi dia juga cemburu sama aktivitas Lo sama nih anak belakangan ini” ucap Fabel sambil menunjuk Azka dengan dagunya.
“Bisa jadi” ucap Azka, Ocha, Iren, dan Risa nyaris bersamaan.
“Iiiih, kita kompak banget! Suka” ucap Iren manja
“Kita gak mau dibawa-bawa ya Mas. Kalo kamu ada masalah sama Tria” ucap Azka mengingatkan tanpa menghiraukan ucapan iren barusan
“Iya Fan, segera deketin itu cewek Lo. Sebelum dia bener-bener salah paham” ucap Risa yang disetujui oleh Ocha dan Iren
“Iya, nanti kucoba ngomong. Oiya, jangan lupa nanti kita disuruh beberes lab fisika sama Pak Hendri” ucap Alfan mengalihkan pembicaraan.
“Sekelas Fan?” Fabel menanggapi
Alfan hanya mengangguk dan berdiri. “Aku duluan ya. Nanti langsung ke kelas aja. Aku nyusul” Kelima sahabatnya mengangguk.
Jam pelajaran terakhir yang kosong dimanfaatkan Pak Hendri untuk meminta siswa kelas XI IPA 1 membereskan lab Fisika. Katanya akan dipakai untuk acara rapat guru di akhir minggu ini. Segera saja anak-anak kelas IPA 1 menyambutnya dengan riang. Mereka suka jika disuruh beberes lab bersama. Karena itu akan menghindarkan mereka dari larangan berisik di kelas. Mereka beberes dengan membagi tugas. Ada yang membersihkan meja, mengelap kaca, membersihkan sawang, menempel beberapa figura bergambar, merapihkan taplak meja di meja depan, menyapu, dan mengepel.
Saat semuanya hampir selesai, dan Azka beserta beberapa temannya masih ada di lab Fisika. Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Sesaat kemudian mereka dikejutkan dengan hadirnya seseorang yang ---.
__ADS_1