
"Happy birthday" seru suara di seberang telepon. Azka mengerjap, menyipitkan matanya untuk beberapa lama sebelum membuka matanya utuh. Ia terbangun oleh dering telepon di ponselnya. Dan kini Ia juga terkejut oleh suara yang mengucapkan selamat ulang tahun di seberang sana.
"Hei Dek! Kamu masih tidur? atau tidur lagi? Ayo bangun" Suara itu terdengar begitu ceria. Apakah Ia pikir ini sudah pagi? Azka menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Mengintip sebentar penunjuk waktu di layar itu.
00.02 // Sept, 13
Azka melebarkan matanya. Ia raih cahaya banyak-banyak agar dapat mengecek dengan jelas waktu yang ditunjuk disana.
"Halo Dek?" suara itu kembali terdengar. Mengingatkan Azka pada telepon yang masih tersambung.
"Eh, iya Kak" jeda, Azka melirik lagi ke arah layar. Benar kan yang meneleponnya adalah Rasya?
"Kamu gila ya Kak?"
"Iya aku tergila-gila" Rasya terkekeh
"Gombal!!" Rasanya Azka ingin memukul lengan pemuda itu jika Ia ada di sebelahnya.
"Kalo aku ada di sana lengan aku udah sakit nih" Rasya tertawa. Sementara Azka mendengus kesal.
"Kak, aku ngantuk ih"
"Dek, make a wish" pinta Rasya.
"Aku mau kamu ada di sini"
"HAHAHAHAHAA" Rasya tergelak di tempatnya. Azka sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Astaga, kuping aku!!"
"Kamu tuh, jauh Dek kalo aku harus ada di sana sekarang" suara Rasya mulai normal.
"Yaudah gausah nyuruh make a wish!" Azka bersungut-sungut. "Kak aku mau tidur. Besok kuliah"
"Yaudah yaudah.. selamat tidur" Rasya mengucapkan tanpa menutup telponnya.
Bukannya tidur, Azka justru menjadi terjaga. Ia coba menutup matanya tapi tak juga kunjung memasuki alam mimpinya yang tadi terjeda.
"Kak?"
"Iya Dek?"
"Kenapa belum tidur?" Azka membalik tubuhnya menjadi tengkurap di atas kasur
"Mau nunggu kamu sampe kamu tidur"
"Dih, kurang kerjaan!" Azka berdecih geli. "Emang besok gak kuliah?"
"Enggak. Besok aku mau bolos. Soalnya pacar aku ulang tahun"
"Siapa yaa??" Azka meledek
"Kamu"
"Sejak kapan pacaran? enggak ah!" Azka terkikik geli
"Sekali-sekali Iyain kenapa sih Dek?" Rasya mengiba
__ADS_1
"Enggak mau"
"Kamu kenapa gak jadi tidur?"
"Karena kamu ga jadi tidur"
dan sepanjang malam akhirnya mereka habiskan untuk saling bertukar cerita. Mengobrol ngalor ngidul hingga pagi tiba.
---
Sejak kapan dunia itu berjalan seperti cerita di novel-novel? yang pemeran utama selalu bisa bersenang-senang bersama pasangannya, berjalan bersama, menghabiskan waktu bersama, saling memberi surprise. Yang meski berjarak sangat jauh, Ia akan sempat saja menyambangi orang terkasih.
Azka memang selalu tergila dengan novel-novel bergenre romantis. Namun Ia tidak akan terlalu mengharap bahwa Rasya akan tiba-tiba hadir di sana menjemputnya. Mengatakan bahwa demi ulang tahunnya Ia rela melakukan perjalanan berbelas jam untuk bertemu dengan Azka. Itu tidak mungkin.
Tapi sebuah kalimat di balik chat yang tersampaikan pada ponsel Azka merubah segalanya.
-Rasya-
Dek, aku di depan kosan kamu.
Kamu dimana?
Dengan secepat kilat Azka segera berlari dari kampusnya agar Ia bisa sampai di kosannya dengan cepat. Tidak menghiraukan kakinya yang pegal, atau tasnya yang berat. Peluh membasahi dahinya. Ia tertatih ketika harus melalui jalan menanjak menuju kosannya.
Ia membuka pagar, dalam posisi menunduk Ia terengah-engah. Ia mencari keberadaan Rasya. Tidak ada mobil Rasya di sana. Tidak juga ada tas yang teronggok di sana. Ia merogoh tasnya yang penuh. mencari keberadaan ponselnya yang tadi Ia letakkan secara asal.
Ia menekan tombol power. Layarnya menampilkan beberapa notifikasi. Salah satunya adalah notifikasi panggilan tak terjawab sebanyak 11 kali. Ia segera menelpon kembali nomor yang tertera. Dan detik selanjutnya nama Rasya tertulis di layar.
"Halo Kak!" suara Azka sudah nyaris hilang akibat kelelahan
"Huhuhuhuhuhu" Azka tersedu di tempatnya.
"Dek? kamu nangis?"
"Kamu pasti bohong ya bilang di depan kosan aku?" Azka masih terisak kuat.
"Ya ampun Dek!! Kamu percaya?" nyaris saja Rasya tertawa. Tapi mengetahui gadis di seberang telepon terdengar masih terisak, Ia menahan tawanya sekuat tenaga.
"Aku cape" keluh Azka dengan isak yang masih terselip diantara kata-katanya.
"Kamu abis dari mana?"
"Aku lari Kak, dari kampus ke kosan! gara-gara kamu kirim pesan itu"
"Segitu kangennya Dek sama aku?" Rasya terkekeh.
"Kamu malah ketawa! Pegel tau! Aku sedih!" Azka sudah berada di kamarnya. merebahkan tubuhnya menghadap ke langit-langit kamar.
"Maaf Dek, Aku pikir kamu pinter gak akan ketipu. Aku mana tau kosan kamu dimana Dek?" Azka manyun, masih diam mendengarkan celotehan Rasya di balik telepon. "Kamu lupa aku belum pernah ke Bandung ke tempat kamu?"
"Aku terlalu terbawa emosi. Aku kira kamu bakal so sweet kayak di novel-novel itu. Kasih surprise, tiba-tiba muncul bawa cake" Azka mendengus pelan. "Aku lupa kalo itu hanya ada di novel" Azka mengakhiri kalimatnya.
"PAKEEET"
Suara pengantar paket dari depan pintu. Azka bangkit, setelah ijin pada Rasya untuk mengambil paket Ia meninggalkan ponselnya di kamar. Dengan telepon yang masih tersambung.
Azka sedikit bingung, rasa-rasanya Ia tidak membeli sesuatu. Pun Ia tidak dijanjikan dikirim sesuatu dari rumah. Ia tidak sedang menunggu paket apapun. Jadi, paket untuk siapa yang diantar ini?
__ADS_1
Pintu terbuka, Azka mengintip ke arah petugas paket yang sudah tersenyum.
"Permisi, paket untuk Azkania?" Ucap petugas itu.
"Iya saya?"
"Ini paketnya" Sang petugas menyerahkan satu kotak kecil dengan packing kayu. Disana tertera nama penerimanya. Itu benar namanya, lengkap dengan alamat dan nomor kontak yang juga tepat. Tapi siapa yang mengirimnya?
"Silahkan tanda tangani disini"
Setelah menandatangani nota penerimaan, Azka segera menuju kamarnya. Ia membawa paket itu ke depan layar ponselnya yang menampilkan nama Rasya yang masih tertera di sana.
Azka menekan tombol loudspeaker. Kemudian berbicara dari jarak yang cukup dekat.
"Kak?"
"Iya Dek" Rasya menyahut dengan cepat
"Aku dapet paket" Azka menimang-nimang paket yang cukup berat di tangannya.
"Buka dong. Dari siapa?" Tanyanya dengan nada suaranya yang lembut seperti biasa.
"Aku gak tau. Ini gimana buka nya ya?" Azka meneliti setiap celah di sana. Nampaknya paket itu sangat rapat dan susah untuk dibuka.
"Ya buka aja" Ucap Rasya santai.
"Di packing kayu Kak" Azka teringat sebuah peralatan bangunan di laci lemari kosan yang ditinggalinya.
Diseberang sana, Rasya sudah mengetuk kepalanya. Menyesal dengan packing kayu yang pasti membuat Azka kesulitan membukanya. Lama Azka tidak berkata apa-apa.
"Kebukaaa" teriak Azka dari seberang telepon.
"Kak???" Azka berteriak lagi. "Ini dari kamu???"
"Dek, gausah teriak-teriak" Rasya mencegah Azka berteriak lagi. Kalau tidak mungkin kupingnya akan sakit. "Gimana? suka gak?"
"Kamu ngapain beliin aku Handphone baru Kak?" Azka girang, tapi Ia juga ragu menerimanya.
"Kita kembar. Aku beli dua. Satu untuk kamu, satu untuk aku" Rasya enteng sekali menjawab. seolah Ponsel bukanlah barang mewah yang mahal untuk dijadikan sebagai hadiah ulang tahun.
"Serius Kak???"
"Dek... jangan teriak-teriak!!!" Rasya mengelus telinganya yang sudah sakit akibat suara Azka di seberang telepon.
"Maaf Kak.. hihi Aku seneng banget!!!" Azka tersenyum manis, tidak sadar bahwa Rasya tidak akan melihat itu.
"Jadi, surprisenya berhasil?"
"Ehem.. Aku seneng banget. Makasih Kak" Air mata Azka yang menitik tanpa aba-aba, membuat suaranya menjadi sedikit parau.
"Dek, kamu nangis?" Rasya menyadari perubahan suara Azka.
"Ternyata, hidup di dunia nyata itu lebih indah dari sekedar cerita novel yang cuma fiksi" ucap Azka sedikit bergetar.
"Terutama karena ada kamu di sini"
"Kalo gitu, tetep bareng-bareng sama aku. Jangan pergi kemana-mana"
__ADS_1