Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 40


__ADS_3

Seorang gadis berjalan disepanjang lorong koridor sebuah pusat perbelanjaan di kota Bandung. Sekedar melihat lihat sambil menunggu seseorang datang. Pusat perbelanjaan ini cukup besar dan terkenal. Konsep taman yang di tawarkan membuat banyak orang yang datang untuk bisa menikmati langit malam ditengah pepohonan dan taman yang indah. Toko-toko yang menyediakan pakaian, elektronik, mainan, dan kebutuhan rumah tangga ada di bagian gedung utama. Sedangkan kafe-kafe, tempat makan keluarga, dan kios-kios snack dibiarkan berjejer dengan rapi dibagian pinggir taman. Ada yang terletak di lantai dasar dan ada yg berada di daerah skywalk yang menambah kesan mewah.


Tap tap tap.


Suara langkah seseorang yang sepertinya sedang terburu-buru terdengar dari arah belakangnya. Azka, gadis itu, berusaha untuk menoleh melihat siapa yang berjalan, siapa tau seseorang yang sedang ditunggunya telah datang dan sekarang sedang menghampirinya. Saat Ia berbalik,


Bruukkkk


“Aww..” azka berteriak sambil meringis, karena ternyata orang itu tanpa sadar menabraknya sampai Ia terjungkal dan jatuh terduduk.


“Eh, maaf. Saya ga sengaja, tadi lagi lihat handphone, soalnya saya buru-bu...”  Azka seperti mengenali suara itu. Lalu Ia mendongak melihatnya. Belum sempat pemuda itu menyelesaikan kalimatnya, ia terkejut saat Azka mendongakkan kepala ke arahnya.


“Kak Rasya” sebut Azka lirih, namun masih dapat didengar olehnya. Seketika Azka dan Rasya terdiam, ada perasaan kaku dan dingin yang menjalar disekitar mereka.  Azka pun bangun, tidak mau menunggu Rasya mengulurkan tangan untuk membantu, karena itu mungkin tidak akan pernah terjadi. Lihatlah! dia saja masih mematung saat azka sudah berhasil bangkit dari jatuhnya.


“Maaf ya, D- Ka”.. Ucapannya terbata, sepertinya Rasya hampir refleks memanggil Azka dengan sebutan ‘Dek’, seperti panggilannya dulu kepada Azka.


“Ah, iya.. gapapa. Ga sakit kok. Lagian Kak Rasya gak sengaja”


“Gak nyangka bisa ketemu di sini. Lagi liburan ya Kak?” lanjutnya mencoba berbasa basi


Rasya mengangguk. Dia masih saja canggung, padahal Azka sudah berusaha mencairkan suasana. Azka bersikap seolah tidak mengingat kenangan mereka dulu yang sedari tadi sebenarnya sudah berputar di benaknya seperti roll film yg sedang diputar.


“Eh, iya.. katanya Kak Rasya buru-buru kan.. silahkan Kak, maaf jadi bikin lama disini. Hehe” katanya melanjutkan. Rasya diam, tapi kemudian dia berjalan melewatinya. Azka memerhatikannya, sejenak ada rasa sedih dan bersalah. Entah karena apa, mungkin Ia sedih, karena setelah 2 tahun tidak berkomunikasi, dan sudah kurang lebih 3 tahun tidak bertemu, ternyata Rasya masih bersikap seperti itu. Apakah dia sesakit itu?


Belum lima langkah Rasya berjalan melewatinya, tiba-tiba dia berbalik. “Seneng bisa ketemu kamu, Azka”  Azka tersenyum, tapi Ia tak bisa-tak mau- menanggapinya. Rasanya Ia ingin menghambur ke tubuh pemuda itu dan mengucapkan maaf berkali-kali, kalau saja Rasya tidak segera berbalik dan meninggalkannya. Rasya berlalu begitu saja. Azka memerhatikan punggungnya, sampai akhirnya tak terlihat setelah Ia berbelok ke arah pintu keluar menuju ke tempat mobil-mobil taksi yang berjejer.


“Kamu di sini Kak? Kenapa doa selalu cepat terkabul kalo itu tentang kamu?” gumam Azka yang masih terpaku dengan kehadiran seseorang yang ingin sekali Ia temui.


“Ka, kamu ngapain ngelamun disini? Ngeliatin siapa sih?” Tanya Eci, orang yang Azka tunggu dari tadi.


“Eh, enggak. Tadi kayak ngeliat orang yang dikenal. Tapi udah lah. Yuk” ajak Azka pada temannya itu.


---


“Cha, Gue jadi dateng. Ini lagi mau otw dari Bandung. Besok acara jam berapa?” tanya Azka yang sudah duduk di bis yang akan membawanya pulang ke kota asalnya.


“Besok mulai jam sebelas Ka. Di GSG yah” ucap Ocha di seberang telpon.


“Oke. Ntar Gue kabarin kalo udah sampe sana. Kayaknya sih besok jam tujuh Gue udah sampe.”


“Cukup lah Ka, buat mandi sama dandan dulu, hahaha” ucap Ocha senang.


“Yoi, Gue mau cantik dong dateng reunian. Ahahaha”


“Oke deh, Gue percaya sih Lo selalu cantik. See u yaaa”


Azka mematikan sambungan telepon dan memilih untuk tidur menikmati malam supaya terasa cepat sampai.


Pukul tujuh lebih tiga puluh menit Azka sampai di rumah.


“Assalamu’alaikum!!!” Azka langsung nyelonong masuk ke rumah.


“Wa’alaikumsalam… Adek!!! Kok gak bilang-bilang kalo pulang???”


“Hehe, Hari ini ada reuni SMA Mam, jadi Ade pulang. Sekalian kangen sama Mama Papa” Azka mencium pipi kanan dan kiri Mama.


“Pa, liat ini siapa yang dateng?”


“Adek? Kok gak bilang mau pulang? Kan bisa Papa jemput” ucap Papa yang terkejut melihat kedatangan Azka. Azka menghampiri Papa dan kemudian mencium punggung tangan Papanya.


“Gak apa-apa. Kan surprise!” jawab Azka sambil memeluk Papa.


“Yaudah sana mandi-mandi dulu, bersih-bersih trus makan”


“Iya Pa, mau langsung siap-siap, nanti jam sebelas acara reuninya” Azka membawa tasnya masuk ke dalam kamar


“Ya, nanti Papa anter”


“Siap Bos. Makasih ya Pa”


Selesai makan, bercerita, dan melepas kangen dengan Mama, Papa, dan Azura, Azka bersiap berangkat ke SMA negeri 45. Ia memoles sedikit wajahnya dengan make up natural yang menambah kesan cantik nan anggun pada wajahnya. Papa juga bersiap, entah karena Azka baru pulang atau memang jiwa ke protektifan papa yang semakin menjadi. Papa bahkan sudah siap lebih dulu sebelum Azka keluar dari kamar. Setelah selesai, Azka melihat sebentar ponselnya lalu bergegas keluar dan berangkat menuju sekolahnya dengan diantar Papa.


“Azkaaaaa” teriak Ocha histeris melihat Azka sudah sampai di depan gerbang sekolah diantar oleh Papa


“Hai”


“Gila gila sih, awas banyak yang suka Lo dandan kayak gini”


“Apaan? Gue gak dandan”


“Ini, ini, ini apa lagi” ucap Ocha menunjuk pipi Azka yang memerah karena sapuan blush on, berpindah pada bibirnya yang diusap lipstik berwarna peach, dan yang lebih membuat Ocha terperangah adalah Azka menggunakan maskara dan eyeliner.

__ADS_1


“Iiih, Gue biasa kayak gini di sono”


“Pantes udah ada yang kecantol lagi di sana”


“Banyak sih yang kecantol, ahahaha”


“Dih najis Gue dengernya”


“Ayok ah, ke sana. Udah ada siapa aja?” tanya Azka sambil menggamit lengan Ocha.


“Udah banyak, udah ada Risa, Alfan, Fabel, Agil juga dateng”


“Serius???”


“Ka, inget Lo udah ada gebetan disana”


“Kan sebelum janur kuning melengkung mah gak apa-apa kali Cha. Siapa tau kisah cinta Gue yang tragis jaman dulu bisa berakhir bahagia lewat reuni ini”


“Anak sialan!” Ocha menoyor kepala Azka gemas. “Masih juga ternyata Lo ya, cinta amat sama si Agil siiih”


“Emmm- Terlalu cinta Cha! hehe, Gue masih penasaran aja” Azka terkekeh. Ocha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu mereka berjalan menuju GSG yang sudah mulai ramai.


Acara sudah dimulai. Diawali dengan sambutan dari perwakilan guru, perwakilan teman-teman mereka, dan terakhir adalah pemutaran Video dokumenter.


“Halo semua, terimakasih udah pada dateng di acara reuni angkatan kita. Hari ini, kita semua kumpul untuk sama sama mengenang masa SMA kita ya. Kita dari panitia sudah nyiapin video dokumenter dari kumpulan kisah-kisah yang terjadi diantara kita semua selama tiga tahun di sekolah. Semoga kalian berkenan. Oiya, jangan ada yang baper sama mantan. Apalagi kalo udah ada gebetan” Ucap Uni yang bertindak sebagai MC di acara ini.


Video pun terputar dengan diiringi sorak sorai setiap orang yang wajahnya terpampang di layar. Kilas balik kehidupan per SMA an yang dilalui selama tiga tahun pun ikut berputar di kepala Azka. Ia mengenang satu-satu kenangan yang tak diputar di layar. Mengenangnya untuk diri sendiri. Selesai video diputar, acara dilanjutkan dengan acara bebas. Azka yang duduk di satu meja dengan Ocha, Alfan, Risa, Fabel, dan Iren pun mulai saling mengobrol. Beberapa orang yang disewa sebagai pelayan berkeliling mengantar minum dan cemilan pada meja-meja yang dikelilingi beberapa orang tersebut. Saat pelayan menghampiri meja mereka dan memberi minuman pada keenam orang dimeja itu tiba-tiba satu gelas tertumpah ke baju Azka


“Aw, aduh”


“Maaf Mbak, maaf saya nggak sengaja. Tadi saya kesenggol yang lewat di belakang” ucap pelayan laki-laki itu merasa bersalah dan takut.


“Udah gak apa-apa Mas. Gak usah dipikirin” Azka berdiri untuk menghilangkan tumpahan air yang mengenai bajunya.


“Beneran kamu gak apa-apa Ka?” tanya Alfan ikut berdiri.


“Nggak kok Mas. Baju doang yang kena” ucap Azka sambil membersihkan air yang tumpah pada baju di bagian pahanya.


“Lain kali hati-hati ya Mas” ucap Alfan pada Mas-Mas pelayan yang kemudian mengangguk lesu dan pergi menjauh.


“Udah lah Mas, gak apa-apa. Haha”


“Kita  keluar aja yuk” ajak Ocha karena melihat acara sudah di dominasi oleh anak-anak yang dulunya berada di jurusan IPS. Mereka bernyanyi dan juga berjoget kesana kemari.


“Gak kerasa ya guys, udah lima tahun kita keluar dari sekolah ini” Iren membuka suara setelah lama keheningan menyergap mereka.


“Iya, gak kerasa sebagian dari kita udah ada yang nikah, udah ada yang sukses sama kerjaannya” Saut Azka sambil memandang lurus ke depan.


“Makasih ya, kalian masih selalu ada buat Gue. Sebagus atau sejelek apapun Gue dulu sampe sekarang” Ocha mulai berkaca-kaca.


“Guys, apa sih yang paling Lo inget tentang SMA?” tanya Risa pada kelima sahabatnya, “Kalo Gue, Gue paling inget sama kelakuan absurd kita kelas sebelas” ucap Risa lagi sambil terkekeh.


“Pacaran tiga tahun” ucap Iren sambil tersenyum.


Ocha mengingat kenangannya, “emm.. Ngarep terus tapi gak dapet-dapet” ucap nya memberi jawaban.


“Jadi artis pas pentas seni kelas 12” ucap Azka.


“Asli Ka, Lo mikirin itu? Itu yang kita pentas pake drama kita kelas 11 kan?” saut Iren. Azka mengangguk menyetujui.


“Iya, itu kita ditonton sama banyak orang dari seluruh kota ya, hehe. Bangga juga Gue inget itu” ucap Ocha terkekeh.


“Mas, apa yang kamu inget tentang SMA?” tanya Azka beralih ke Alfan yang berdiri di sampingnya.


“Yang aku inget, kalian” ucap Alfan mantap.


“So sweet banget siiih” ucap Ocha senang mendengar ucapan Alfan.


“Kalo kamu Bel?” tanya Alfan setelah tersenyum ke arah Ocha.


“Masuk kelas yang isinya nak anak keren semua tapi ternyata gila semua” ucap Fabel tertawa.


“Sebelas IPA satu yak? Ahahahhaa” mereka semua tertawa.


“Gue juga mau nanya, apa yang paling Lo inget tentang cinta di SMA?” tanya Iren menjeda tawa mereka yang membahana


“Jadian sama temen main sendiri” ucap Fabel menjadi orang pertama yang menjawab.


“Itaaaaaa” jerit keempat cewek itu bersamaan.


“Eh, Ita kemana yah? Gak dateng dia” ucap Azka yang baru sadar temannya itu tak terlihat sepanjang acara.

__ADS_1


“Dia ke kampung Mamanya katanya” Ocha menyaut,


“Fan, Lo inget tentang apa?” tanya Fabel menyenggol lengan sahabat disebelahnya.


“Dilabrak” ucap Alfan singkat.


“Hahaha, kampr*t! Lo kok ingetnya yang itu sih!” ucap Risa mengingat kejadian labrak melabrak antara mereka dengan Tria.


“Gue gue” ucap Azka kemudian “cinta di SMA? Ninggalin padahal lagi sayang-sayangnya” ucap Azka sambil tersenyum kecut.


“Ninggalin!! woy! Bukan ditinggalin yak. Anak setan emang nih anak” ucap Fabel menepuk kepala Azka dari belakang.


“Hehehe, anti mainstream” ucap Azka terkekeh


“Kalo Gue, Gue gak ada kisah cinta di SMA!” Ocha kesal mengingat Ia tidak punya kisah cinta sama sekali di sepanjang SMA.


“Kalo Gue, diselingkuhin” Iren berdecak sebal. Ia memang berpacaran selama tiga tahun dengan Tyo. Namun akhirnya harus kandas karena Tyo selingkuh dengan teman mereka sendiri.


“Sabar ya Ren” tepuk Ocha disebelahnya. “Gue jadi bersyukur gak punya kisah cinta. Yang penting gak diselingkuhin” tambahnya


“Kalo Gue, Miko. Gue inget Miko kalo tentang cinta SMA”


“Kandas semua ya kisah cinta kita di SMA” ucap Fabel tergelak.


“Kalo Lo semua dikasih kesempatan untuk minta sesuatu. Apa yang paling Lo pengen saat ini?” Ocha kemudian ikut bertanya seperti yang Iren dan Risa lakukan.


“Kalo Gue, Gue mau ketemu sama orang yang sayang dan siap jaga Gue sampai akhir” ucap Risa.


“Pengen Gue tetep sehat biar bisa kerja rodi di rumah sakit” ucap Iren.


“Lo jadi Romusha di RS Ren? Hihihi” Risa tertawa


“Sial Lo. Yang penting Gue ketemu pangeran di sono” ucap Iren.


“Iyee iyeee”


“Kalo Gue, pengen ke Paris bareng kalian” kata Ocha.


“Aamiin” ucap semuanya bersamaan.


“Kalo Gue… emm-- pertanyaannya untuk saat ini yak?” Azka memperjelas pertanyaan Ocha. Ocha lalu mengangguk memandang gadis disebelahnya itu.


“Gue pengen, ketemu Kak Rasya dan minta maaf” ucap Azka yang langsung mendapat tatapan Iba dari semua sahabatnya.


“Ka, serius?” ucap Ocha


“Iya, Gue cuma pengen ketemu dia sekarang. Pengen minta maaf dan ngilangin dendam di hati dia. Gue cuma mau ngomong kalo saat itu Gue hanya tau Gue harus berhenti. Berhenti ngebohongin diri Gue sendiri dan nyakitin orang lain. Gue gak benci sama dia. Gue justru ngerasa Gue udah jadi orang yang terlalu sayang sama dia. Dan gue gak mau ngebohongin dia kalo Gue menemukan orang lain” Azka menunduk, cairan bening sudah tergenang di pelupuk matanya.


“Kaa” Ocha memeluk Azka yang sudah hampir terisak. Iren dan Risa mendekat seraya mengelus pundak sahabatnya itu.


“Sampe sekarangpun Gue masih sayang sama dia” isak Azka di dalam pelukan Ocha. Alfan dan Fabel hanya menatap keempat sahabatnya itu dengan tatapan sayu. Alfan lalu mendekat saat Risa dan Iren sudah kembali ke tempatnya tadi berdiri. Ia menepuk kepala Azka dengan lembut tiga kali.


“Gak perlu nangis, karena gak ada Rasya disini” ucap Alfan sambil menepuk-nepuk bahu Azka.


“Kata siapa bro, gak ada Rasya! itu Rasya baru dateng” Fabel menepuk-nepuk lengan Alfan tak percaya.


Azka segera menengok ke arah Rasya, Ia pun tersenyum lalu menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya.


---


Setiap orang pasti punya kenangan, apapun dan bagaimanapun kenangan itu, pasti akan selalu terkenang di hati. Meski dalam porsinya masing-masing.


Sekali lagi. Doa itu cepat sekali terkabul, Jika itu tentangmu. -Azka-


Seseorang tak akan bisa membenci jika ia tidak mencintai sepenuh hati. Dan aku mencintaimu sepenuh hati. -Rasya-


Kadang cinta itu ada meskipun harus beriringan dengan luka. -Risa-


Kalo takdir sudah berkata tidak, waktu selama apapun untuk menjalin hubungan, itu akan sia-sia. -Iren-


Aku gak pernah tau gimana jadi peran utama dalam kisah cinta, tapi dari sisi lainpun Aku bisa mengerti. -Ocha-


Terkadang, bukan kita yang mengakhiri semua ini. Kita hanya mengikuti takdir yang membuat kita tidak bisa bersama lagi. -Alfan-


Ikuti saja alurnya, cepat atau lambat kamu akan sampai di muara. -Fabel-


Terkadang kita nggak sadar, telah menghentikan sebuah kisah bahkan sebelum kisah itu dimulai. -Agil-


Sesingkat apapun kehadiranmu, kamu tetap memberi peran dalam sebuah kisah.–Nadia-


Semuanya akan kembali. Yang mencintai akan dicintai, begitu juga yang melukai akan terlukai pada waktunya.– Ita-

__ADS_1


--- TAMAT ---


__ADS_2