Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 5


__ADS_3

Suatu hari aku bertanya, kapan semua ini bermula?


Hingga satu persatu kata teruntai dan berubah makna


Kamu pernah bilang,


Bersama orang yang tepat, impianku menjadi hebat


Aku menunggu, menunggu hebatnya menggapai impian itu


Hingga akhirnya aku tak perlu peduli untuk bertanya


Sejak kejadian itu, Rasya merasa perlu menjaga jarak pada Azka. Rasya mau memberikan kesempatan pada Agil yang sudah mengetahui semuanya. Kalo Azka bahagia, ia juga akan merasa bahagia. Begitu pikirnya.


“Hari ini balikin jaket Agil deh, udah di cuci ini.”


“Hemm, tumben si Kak Rasya gak nge-chat apa-apa. Udah tiga hari.”


“Eh, kenapa jadi mikirin itu. Ya biarin aja Kak Rasya mau ngechat apa gak!”


Hari ini sudah hampir setengah jam Azka mematut diri di kaca. Ada saja yang membuat Azka tidak puas dengan penampilannya. Akhirnya, ketika ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 06.30 akhirnya ia memaksakan diri untuk merasa cukup dan segera bersiap berangkat ke sekolah.


Seperti biasa Azka menjinjing tas selempang dan sepatu pantofel menuju ke bagian depan rumah. Ia masuk kembali ke dalam rumah mencari mama dan papa. Setelah berhasil ditemui, ia pamit sambil mencium tangan keduanya.


“Adek berangkat ya Ma, Pa, Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam,” jawab mama dan papa bersamaan.


Azka mengenakan sepatu dan berjalan keluar rumah. Jalannya sedikit lambat. Entah mengapa hari ini ia merasa kurang bersemangat. Sesampainya di depan gang rumah, Ia menyetop angkot yang lewat meskipun terlihat penuh.


“Ka, Azka, bengong aja Lo!” Seru Fabel dari ujung angkot yang membuat Azka terkesiap.


“Eh, Bel, naik angkot lagi ceritanya?” jawabnya sambil menyunggingkan senyum,


“Motor dipake kakak Gue Ka.”


Azka ber oh ria tanpa bersuara. Azka memalingkan kembali wajahnya menghadap ke luar. Azka duduk di bagian dalam angkot yang berhadapan dengan pintu.


“Ka, Lo udah ngerjain PR belum Ka?” tanya Fabel lagi sambil sedikit menaikkan volume suaranya.


“Bel, entar aja nanyanya. Berisik!!” jawabnya sambil menoleh ke kanan kiri memperhatikan orang-orang di dalam angkot yang mulai risih dengan kelakuan Fabel. Fabel pun diam sampai mereka turun dari angkot yang sebagian memang berisi siswa SMA dimana mereka bersekolah.


“Lo jadian sama si Agil Ka?”


“Hah???? Berita darimana? Enggak!” jawab Azka ketus, merasa kesal dengan gosip yang dikatakan Fabel.


“Ih, kata anak-anak pas di kolam renang,” lanjut Fabel tak menghiraukan ekspresi Azka yang mulai kesal.


“Enggak. Kemarin cuma dianter pulang doang. Gosip dari mana sih.”


“Takut Rasya cemburu yaaa?”


“Cih, kok jadi nyangkut-nyangkutin Kak Rasya sih?” Azka mulai sewot dan melangkahkan kakinya lebih cepat.


“Ka, tunggu ih, gausah marah kalo emang gak bener!”


“Au ah gelap!” kata Azka sambil memutar bola matanya dan bergegas sampai ke kelas.


“Dasar si Enur!” umpat Fabel dari belakang lalu mengikuti gadis itu masuk ke kelas.


Sesampainya di kelas, kelas sudah lumayan ramai. Nadia, Ocha, Risa, dan Iren sudah duduk saling berhadapan di bangku.


“Pagi,” sapa Azka malas lalu duduk di bangku sebelah Ocha.

__ADS_1


“Lo beneran udah pacaran sama Agil?” Ocha mendekat sambil berbisik yang masih terdengar oleh teman-temannya.


“Enggak!” jawab Azka singkat.


“Tapi kata…”


“Azka!” Suara Agil memotong perkataan Ocha.  Azka menoleh ke arah suara. Agil berdiri di depan pintu bersama Rasya disampingnya. Rasya terlihat sedikit Acuh. Pandangannya dialihkan ke lapangan sepak bola di depan kelas Azka.


“Eh, Iya kenapa?” Azka menyahuti panggilan Agil.


Azka teringat akan mengembalikan jaket yang tempo lalu dipinjamkannya sepulang dari kolam renang.


“Eh iya, ini jaket kamu. Makasih ya.” ucapnya sambil menghampiri Agil.


“Sama-sama.” jawab Agil. Terdengar suara riuh sorak sorai dari belakang  mereka. Anak-anak di kelas X.3 sudah mulai meneriakkan godaan, bersiul dan ber cie cie.


“Gue cuma mau ambil jaket woy!” teriak Agil kemudian yang justru mendapat siulan dan cie lebih dari sebelumnya. Agil berjalan kembali ke kelas setelah melambaikan tangan sebelumnya.


Sedangkan Rasya? Dia hanya diam, acuh, tak mau melihat Azka. Azka kembali duduk di bangkunya dan melambaikan tangan tanda “udah deh diem aja!” ke arah anak-anak yang masih sibuk bersiul menggoda.


Lalu kembali menghadap Ocha yang ekspresinya mulai dibuat lebih serius. Ocha jadi mengerikan kalo sudah berekspresi seperti ini. Kayak macan tidur terus diganggu.


“Kenapa Ocha sayaang..?” tanya Azka dengan suara narik turun manja.


“Jawab, beneran gak itu gosip?”


“Enggak Ocha sayang.. kalo Gue beneran udah pacaran, Lo pasti tau,”… “Kalian pasti Gue kasih tau.” ralatnya ketika Nadia, Iren dan risa sudah ikut mendekat.



“Cha?” tanya Azka tanpa menoleh ke arah Ocha yang sedang mengerjakan tugas.


“Heem?” jawab Ocha dengan posisi yang masih sama.


“Kagak tau” jawab Ocha dengan posisi yang sama namun kali ini sambil mengedikkan bahunya.


“Gue udah gak terlalu ngarep-ngarep amat kok sama Agil, sumpah!” kata Azka lagi masih tanpa menoleh.


“Yaudah, trus?”


“Kak Rasya jadi cuek banget loh sama Gue,” ucapnya lebih seperti monolog, karena terdengar lebih lirih dari sebelumnya.


“Dan lo jadi lebih kepikiran Rasya sekarang Ka?” tanya Ocha, kali ini dia menggeser tubuhnya mendekat dan menghadap ke arah Azka. Azka jadi ikut berbalik karena gerakan tiba-tiba Ocha.


“Heeem.” katanya mengangguk sambil menatap manik mata Ocha yang mulai melebar.


“Mantepin hati Ka.” lanjutnya sambil kembali menghadap ke meja dan melanjutkan aktivitas


menulisnya. Azka hanya diam dan kemudian kembali melanjutkan juga aktivitasnya.


---


“Kak Rasya!” Azka memanggil saat Rasya baru saja keluar dari kelas. Rasya menoleh, menaikkan kedua alisnya memperlihatkan ekspresi seperti bilang “Kenapa?”  sedangkan Azka menghampirinya.


“SC Komputer kan?” tanya nya mencoba memecah keheningan.


“Hari ini enggak.” Jawab Rasya sambil terus berjalan menuju parkiran di bagian atas. Arahnya sama dengan letak lab komputer, jadi Azka mengikutinya.


“Kenapa?”


“Gak apa-apa.”


“Kak,” Panggil Azka sambil menghentikan langkah.

__ADS_1


“Hem?” jawab Rasya masih tetap berjalan tanpa menoleh.


“Gak apa-apa.”


“Ya.” hanya itu yang diucapkan oleh Rasya sambil terus berjalan meninggalkan Azka begitu saja.


Rasa sesak tiba-tiba seolah menghimpit dada, seperti ada balon yang ditiup memenuhi ruang dalam paru-paru di dada Azka. Tenggorokan ikut tercekat, Azka hanya bisa terdiam melihat perlakuan Rasya yang tiba-tiba berubah.


“Woy, ngapain disini? Diem aja. Lagi main pura-pura jadi patung ya?” Sapaan Ocha mengagetkannya.


Azka berbalik lalu memeluk Ocha dengan erat. Tanpa terasa air matanya jatuh.


“Woy, kenapa Ka?”


“Kenapa kenapa? Cerita sama Gue. Ayo kita ke lab aja dulu.” ajak Ocha setelah lama menunggu Azka yang hanya diam meresapi air mata yang turun.


Sesampainya di Lab komputer Azka didudukkan pada sebuah kursi yang letaknya agak di pojok.


“Lo kenapa Ka?”


“Gak tau Gue juga Cha,” jawabnya santai. Ia seka air mata terakhir yang turun.


“Gak mungkin gak kenapa-kenapa kalo Lo sampe nangis kayak gini.”


“Gue juga bingung.”


“Dengan?”


“Gue.. gak suka Kak Rasya jadi diemin Gue kayak gini.”


“Oyong!!! Gue kira apaan!!!” jawab Ocha sambil menoyor kepala sahabatnya itu.


“Ih, Cha, kok malah ngatain sih, solusi dong.” ucap Azka kesal karena Ocha bukannya bersimpati malah menoyor kepalanya sambil mengatainya seenak jidatnya.


“Lagian Elu! Gue kira nangis kenapa, taunya cuma gara-gara itu! Lebay.”


“Beneran Cha.. Gue gak suka. Pengen semuanya biasa aja kayak kemarin sebelum gosip gue sm Agil pacaran.”


 “Lo kayaknya udah ga sadar tujuan utama Lo deh Ka.”


“Maksudnya?”


“Lah, kan emang selama ini lo pengen deket sama Agil kan. Yang lo harap2 dari 3 tahun lalu.”


Azka hanya diam, tak tau harus berkata apa.


“Sekarang lo tujuan utamanya bukan itu lagi sih menurut Gue.” lanjut Ocha.


Azka masih terdiam.


“Kalo lo lebih nyaman sama Rasya, dan lo merasa Rasya lebih selalu ada buat lo. Gue dukung apapun keputusan lo.”


“Tapi jangan berdiri di dua kaki.” Lanjut Ocha mengingatkan kemudian masuk ke bagian dalam lab tempat Alfan dan anak-anak SC computer akan berlatih. Azka terpaku mendengar penuturan Ocha.


---


Di rumah, Rasya masih tidak punya motivasi untuk keluar kamar, dia masih merutuki dirinya karena telah berlaku kurang baik terhadap Azka.


“Kenapa Gue jadi kayak gini sih, Azka bakal jadi salah paham pasti.”


“Kenapa kemarin Gue cuma jawab sekenanya trus kabur gitu aja?”


“Aaaahhh, gue chat Azka gitu ya?”

__ADS_1


Rasya terus bermonolog di kamarnya. Hatinya rasanya tak tenang sejak beberapa hari ini dia mendiamkan Azka tanpa Azka tahu penyebabnya. Terlebih lagi kemarin, dia tega meninggalkan Azka begitu saja, padahal tidak seperti biasanya Azka mengajak Rasya untuk datang ke SC komputer bersama-sama.


__ADS_2