Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 19


__ADS_3

“Azka, nanti ke lab duluan. Aku mau latihan nasyid dulu” ucap Alfan dari mushola, yang Azka jawab dengan acungan jempol.  Azka berjalan sendiri menuju lab komputer. Hari ini Ocha tidak ikut kumpul SC komputer, karena Ia disuruh pulang lebih cepat oleh Ibu nya. Suasana hening dalam lab membuat Azka urung untuk masuk kesana.


“Males banget cuma sendiri gini. Kak Andre belum dateng, Mas Alfan masih nasyid, Ocha gak ada. Harisa mana sih??” Ia bergumam. Lalu memutuskan untuk ke kantin Pak De yang masih belum tutup tetapi sudah sepi pembeli.


“Pak De, masih ada apa buat dimakan?”


“Ada soto, mau?”


“Gorengan gak ada?” tanyanya lagi


“Baru  goreng, tapi tinggal sedikit lagi”


“Nunggu gorengan deh Pak De”


“Iya  boleh”


Azka menunggu sambil memainkan ponselnya, mengecek apakah Rasya menghubunginya atau tidak. Ternyata tidak ada pesan apapun, membuat Ia akhirnya meletakkan ponselnya di meja. Dari kejauhan terdengar suara gaduh, yang diantara suara itu Azka mengenali suara Alfan.


“Eh, kamu disini toh Ka. Kok gak ke lab?”


“Males sendirian Mas. Kak Andre juga belum dateng”


“Oh iya, aku lupa yah gak kasih tau kamu, hari ini kita latihan sendiri, hehe Kak Andre gak bisa dateng”


“Kenapa gak bilang sih Mas, tau gitu udah aja kita gausah SC komputer” rengek Azka ketika Alfan dan empat orang lainnya masuk ke kantin


“Sorry Ka. Kan aku pikir kita masih bisa latihan pake soal yang udah aku cari”


“Deuh berdua doang gak seru lah” ucap Azka manyun


“Nah, karena itu kita gak berdua, ini ditemenin mereka” jawab Alfan sambil menunjuk cowok-cowok yang dibawanya tadi. Kelihatannya anak-anak kelas sepuluh yang katanya satu tim nasyid bareng Alfan


“Ooooh”


“Gak mau kenalan?” tanya Alfan lagi


“Emang harus Mas?” Azka balik bertanya


“Ya terserah sih”


“Paling mereka udah tau aku”


“Dih, PD amat! Hehehe” Alfan terkekeh. “Yaudah, aku aja yang ngenalin. Hei anak-anak! Kenalin sini. ini Azka, orang paling bawel se-jagad pertemanan saya” Azka memukul lengan Alfan karena sudah mengatainya


“Duh, sakit. Hehe becanda.. Ini Azka temen sekelas saya. Azka, ini Juan, ini Nando, ini Tama, ini Riki” ucap mas Alfan sambil menunjuk satu persatu dari mereka


“Hai mba”


“Hei Ki, hehe. Dia mah adik kelas Gue SMP” Azka menjawab sapaan Riki, lalu megedarkan pandangan kepada yang lain.


‘Eh, bukannya ini si anak kelas X itu?’ batin Azka ketika mengenali orang yang disebut sebagai Juan.


Azka mengingat percakapan antara dirinya dan teman-temannya di depan kelas saat masa orientasi. Ia dan teman-temannya menunjuk beberapa adik kelas laki-laki yang mereka nilai cukup menawan. Dan, Juan adalah pilihan Azka saat itu.


‘Oh, namanya Juan’ pikir Azka lagi


“Woy, Ka. Ngelamun aja” seketika lamunan Azka buyar


“Eh, apa? Enggak”


“Ini yang mau gorengan udah mateng, Pak De taruh disini ya” ucap Pak De ke arah mereka berenam, lebih tepatnya kepada Azka yang tadi memang memesan gorengan.


“Iya Pak De, makasih” ucap Azka mengalihkan pandangan ke arah gorengan dengan asap yang masih mengepul


Azka beranjak dari kursi, mengambil mangkok dan mengisinya dengan cuka. Mengambil beberapa gorengan lalu kembali ke meja.

__ADS_1


“Mau?” tawarnya pada mereka yang masih bergeming


“Makasih Mbak.” Ucap salah satu yang jika Azka tidak salah ingat namanya Tama


“Bang, jadi ke Lab gak? Ngegame yo” ajak salah satu dari mereka ke Alfan.


‘Bang? Dih, dipanggil abang dia. Abang-abang? Abang tukang bakso?’ Azka tersenyum sendiri


“Ka, kalo udah selesai aku tunggu di lab ya” Alfan berkata padanya sambil bangkit dari tempat duduk. Kini Alfan beralih pada empat orang yang tadi Ia bawa. “Ayok, nanti biar Azka nyusul ke lab”


Azka menikmati gorengan yang tadi Ia ambil, Ia menoleh sekilas ketika kelima cowok itu beranjak dari kantin menuju ke lab. Sejenak pandangannya bertemu dengan pandangan Juan. Azka menyunggingkan senyum, begitu pula dengan Juan.


‘Gilaa, senyum miring gitu aja dia keren’ ucapnya dalam hati. Hari itu Azka dan Alfan latihan seperti biasanya. Seperti yang dibilang Alfan, dia sudah menyiapkan soal-soal yang harus mereka kerjakan. Tapi hari ini Azka merasa sangat malas, sehingga Ia lebih banyak bertanya dan melihat Alfan menyelesaikannya.


“Ka, coba kerjain yang ini”


“Males Mas. Aku gak bisa mikir”


“Lah, nanti kalo lolos ke Propinsi kamu mau males kayak gini juga?”


“Kok kejauhan sih Mas mikirnya. Aku tuh cuma males hari ini karena gak ada temen”


Terdengar tawa dan celoteh ramai dari ruangan sebelah depan, “Tuh, banyak temen kok” ucap Alfan menunjuk arah suara dengan bibirnya


“Temen-temen kamu” kata Azka kesal. Azka cemberut, dan menumpukan dagunya di atas tumpukan buku di atas meja


“Jangan cemberut, jelek” ucap Alfan yang melihat tingkah Azka


“Pulang aja yuk Mas” ajaknya


“Huuft, yaudah ayok. Daripada gak bener gini latihannya” ucap Alfan sambil membereskan kertas-kertas soal. Beberapa menit kemudian Alfan sudah siap dengan jaket yang terpasang pada tubuhnya, juga tas yang tersampir di punggungnya.


“Ini anak, ngajakin pulang tapi malah diem aja. Mau jadi pulang nggak?” Azka mengerjap sebentar, menoleh ke arah Alfan yang sudah siap


“Eh, udah siap mau pulang?” Alfan mengangguk


“Ayo” ajak Azka sambil menarik ujung jaket Alfan


Sampai di ruangan depan, Azka menoleh ke arah anak-anak yang masih asik bermain komputer di ujung ruangan. Alfan menghampiri mereka, menyuruh mereka berhenti dan dengan telaten mematikan semua komputer yang masih menyala. Azka bergegas keluar, menggunakan sepatu dan menunggu di kursi yang ada di depan lab komputer. Tidak berselang lama Juan keluar.


“Mbak unyil permisi, mau ambil sepatu”


“Eh, Gue?” Azka menunjuk dirinya sendiri. Juan hanya mengangguk. Azka bergeser sedikit, lalu Juan duduk di tempatnya tadi. Juan memasang sepatu dalam diam. Azka hanya memperhatikannya. Tak lama setelah itu Tama, Riki, dan Nando keluar diikuti Alfan.


“Mau bareng gak Ka? apa mau pulang sendiri?” tanya Alfan sembari mengunci pintu lab dan menggembok teralis besi nya.


“Sendiri aja deh Mas, mau tidur diangkot”


“Awas kelewatan. Rumah kamu kan gak sejauh itu untuk tidur dulu di angkot. Lagian bahaya Ka” ucap Alfan mendekatinya. Tangannya masuk ke saku jaketnya menyimpan kunci pintu dengan suara bergemerincing.


“Gak apa-apa, aku sendiri aja Mas. Males naik motor vespa” jawabnya


“Yaudah aku pulang ya Mas. Semuanya, duluan” Azka berpamitan dan berjalan menjauh dari kelima


cowok di depan lab.


---


Azka hanya menghabiskan sore ini di kamar. Rasa malas yang sudah hinggap saat di sekolah tadi membuatnya enggan untuk beranjak dari kasur. Ia hanya mengutak atik ponsel tanpa benar-benar melihat apa yang Ia buka. Tiba-tiba suara nada dering dari ponselnya berbunyi.


“Astaghfirullah, Allahu Akbar. Kaget Gue! Siapa nih yang nelpon?” Azka setengah menjerit karena terkejut. Hampir saja ponselnya Ia lempar karena berbunyi tiba-tiba. Ia lihat layar ponselnya tertera nama –Ocha-


“Halo”


“Ka, tadi ngapain SC komputer?”

__ADS_1


“Gak ada Lo gak rame Cha!”


“Emang siapa aja tadi yang dateng?”


“Berdua doang”


“Kak Andre?”


“Gak ada, kata Mas Alfan dia ada urusan”


“Oooh, ngapain aja tadi?”


“Males-malesan. Mana Mas Alfan bawa-bawa anak kelas sepuluh”


“Ngapain?”


“Mereka abis latihan nasyid, trus pada main di lab”


“Ooooh”


“Kamu udah beres urusannya?”


“Udah, hehe. Yaudah Ka. Sampe jumpa besok” Ocha mengakhiri sambungan telpon. Azka kembali melempar ponsel dengan acuh. Nada dering kembali terdengar. Azka meraih ponselnya dan menerima telpon tanpa melihat siapa yang menelpon.


“Kenapa lagi Cha?”


“Cha?” tanya suara di seberang telpon.


Azka terkesiap mendengar suara yang muncul bukan suara Ocha, tetapi..


“Kak Rasya?” tanyanya sedikit berteriak


“Heem, lagi apa? Abis telponan sama Ocha yah?” tanya Rasya beruntun


“Hehe, iya. Kenapa kak?”


“Gak apa-apa. Pertanyaan aku belum dijawab”


“Eh, yang mana?”


“Lagi apa dek?”


“Oooh, hehehe, lagi rebahan”


“Rebahan mulu, gak ada kerjaan lain apa?”


“Rebahan is my passion kak. Hahahaha”


“Bisa aja kamu. Bukannya nugas passion kamu tuh?”


“Besok jadi ambil buku-buku kemarin?” lanjutnya lagi


“Insya Allah, kalo gak mager. Hehehe”


“Loh, yang kemarin semangat banget mau ngajarin siapa ya?”


“Iya, iyaaa. Kangen tah? Maksa banget nyuruh ambil buku kesana”


“Siapa? Ih, jangan ke Ge-eR an”


“Huuuu yaudah”


“Yaudah, udah sore ah, mandi sana. Pasti abis pulang sore dari sekolah. Kan jadwal SC”


“Tau ajaa. Yaudah udah dulu ya Kak. Bye. Sampe jumpa besok, Insyaa Allah!”

__ADS_1


“Iya, makasih ya, Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam”


__ADS_2