Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 31


__ADS_3

Ucapan Ocha benar, ibarat Sayur, bumbu yang dimasukkan harus sesuai takaran. Garam, merica, gula, rempah-rempah, semuanya harus pas. Supaya rasanya enak, tidak keasinan, kemanisan, kepedesan, atau malah gak ada rasa. Begitu juga cinta, ternyata kebanyakan romantis tanpa ada berantem-berantem dikit, bisa buat kita jadi bosan. Tapi kalo berantem dan salah paham terus hampir tanpa jeda juga bikin kepala mumet cenat cenut. Itu lah yang sedang dirasa Azka belakangan ini. Hubungannya dengan Rasya sedang berada pada fase ‘gak enak’. Meski terlihat seolah baik-baik saja, tetap bertegur sapa, dan masih suka pulang bersama. Nyatanya yang dirasa keduanya berbeda.


Sejak pertemuan Rasya dengan Nadia  di toko buku itu, Azka merasa ada yang berbeda dengan Rasya, juga dirinya. Azka merasa tidak bisa terlalu lepas pada perasaannya. Ada rasa khawatir jika memang Nadia dan Rasya masih berada pada perasaan yang sama dengan tiga tahun lalu saat mereka masih bersama. Rasya-pun demikian, Ia merasakan ada yang salah dengan dirinya. Hampir setiap hari Ia selalu menyempatkan mengirim pesan atau membalas pesan yang dikirim Nadia lebih dulu. Ada rasa berbeda yang bergelanyar di dirinya setiap ada notifikasi pesan dari Nadia, yang juga Ia rasakan saat dulu Ia menerima pesan dari Azka. Meski demikian, akalnya masih menyerukan hal yang sama. Ia akan bertahan dengan Azka, meski entah mengapa rasa minder selalu sering kali lebih banyak mendominasi dan mendorongnya untuk menjauh dari Azka. Apakah ini hanya alasannya saja karena Ia masih berharap pada Nadia? Atau memang karena pesona Azka yang lebih besar sedang Ia merasa minder dengan kondisi dirinya saat ini? lalu kenapa Ia justru berharap pada Nadia yang mungkin sudah berbeda perasaannya?


---


“Kak, sibuk ngapain sih?”


“Main game”


“Gak bisa nanti yah main game nya?”


“Enggak ini lagi seru, biar naik lagi levelnya. Lumayan bisa dijual senjatanya”


“Oh” Azka menghela nafas kesal. Untuk apa dirinya di sana jika yang lebih mendapat perhatian justru game yang sedang dimainkannya


“Aku pulang aja deh ya” Azka bangkit, tapi sebelum Ia melangkah Rasya menarik tangannya untuk kembali duduk.


“Aku males disini, ngapain coba ngeliatin kamu main game doang”


“Temenin. Ntar kan kalo aku dapet duit jual senjata kita bisa main”


“Main aja sama game kamu Kak” Azka melipat tangannya di depan dada lalu bersender ke kursi yang Ia duduki.


“Sensi amat sih Dek, PMS ya?”


“Aku gak lagi sensi, gak lagi PMS juga. Cuma lagi bosen duduk disini merhatiin orang yang bahkan ngeliat aku aja nggak” ucap Azka ketus.


“Yesss!!! Naik level Dek, Widiiih senjata nya keren. Berapa ya kalo dijual. Promo dulu ah” Rasya masih sibuk dengan gamenya, tak menghiraukan Azka yang kekesalannya sudah naik sampai ke ubun-ubun. Baru saja Rasya meletakkan ponselnya,


Tring.


Ponsel Rasya berbunyi, tanda bahwa ada pesan masuk ke aplikasi chat nya. Rasya segera mengambil ponselnya, mengecek pesan yang baru saja masuk.


-Sakura-


Sya, lagi apa? Aku akhir semester mau liburan lho di rumah nenek


Pesan berisi kabar liburan Nadia membuat Rasya menyunggingkan senyum tanpa sadar. Rasya mengetikkan balasan dengan cepat, Ia tinggalkan aktivitas promosi senjata game nya yang tadi menjadi fokusnya sampai Ia membuat Azka kesal.


-Rasya-


Oh, bagus kalo gitu


See u


Hanya itu yang diketiknya. Ia tak tau harus berekspresi seperti apa. Ada rasa senang, tapi Ia juga takut.


“Pesan dari siapa Kak?” Azka penasaran


“Temen aku, katanya mau liburan disini, di tempat neneknya” Rasya keluar dari kolom pesannya. Ia menarik nafas berat. Ia tidak sepenuhnya berbohong, pikirnya. Toh Ia mengatakan yang sebenarnya, meskipun tak sanggup menyebutkan siapa yang dimaksud temannya itu.


“Oh, liburan semester ini? Asik dong bisa liburan bareng” ucap Azka senang karena Rasya tak lagi fokus pada gamenya


“Heem” jawab Rasya asal. Benarkah Ia akan berlibur bersama?


“Emang temen kamu yang mana kak? Temen SD?” tanya Azka yang penasaran. Ia satu SMP dengan Rasya, jadi jika itu teman SMPnya, pasti Azka kenal dan Rasya akan langsung menyebutkan siapa yang dimaksud teman itu.


“Emh? I-iya temen lama” jawab Rasya tak mau berbohong dengan menyebut Nadia sebagai teman SDnya.


“Cowok?” tanya Azka lagi.


“Bukan” kata ‘Bukan’ lebih dipilihnya sekedar menghindar untuk mengatakan bahwa yang menghubunginya adalah seorang cewek, dan itu adalah Nadia.


“Nadia?” tanya Azka tepat sasaran. Rasya terkejut, tapi Ia berhasil menghilangkan ekspresi terkejutnya hanya dalam beberapa detik. Ia menggerakkan kepalanya asal, ingin mengangguk tapi tak mau. Mau menggeleng pun Ia tak bisa.


Azka paham, jadi pertemuan di toko buku waktu itu telah menghantar mereka berdua kembali berkomunikasi. Ada sedikit perih di ulu hatinya. Tapi Ia menekan perasaan itu dalam-dalam dengan segenap usahanya.


“Aku pernah ketemu-eh melihat Nadia” ucap Azka memulai kembali bicaranya. Rasya menoleh seketika, ekspresi terkejut di wajahnya tak bisa lagi tertutupi.


“Dimana?” tanyanya berhasil mengeluarkan suara.


“Di toko yang waktu itu kita kunjungi pas aku minta anter kamu beli notebook” susah payah Azka menahan gejolak hatinya, membuat suaranya terdengar santai dan biasa saja.

__ADS_1


“Oh iya?”


Apa? Rasya hanya mengatakan itu?


‘Kamu mau nutupin itu rupanya kak’ batin Azka


“Iya, aku awalnya lupa saat pertama ngeliat wajahnya, tapi kayak kenal. Trus aku inget wallpaper hape kamu dulu itu, aku baru sadar kalo itu Nadia” ucap azka panjang lebar.


“Trus?”


“Trus apa? Ya udah gitu aja” ucap Azka tak tau harus berkata apa lagi.


“Aku juga ketemu dia disana” akhirnya Rasya memilih membuka suara, “Aku ketemu dia di sana” Rasya mengulangi. “sampai akhirnya aku sadar aku udah lama gak sama kamu. Aku cari kamu, taunya kamu makan eskrim. Padahal aku udah khawatir”


“Kamu khawatir?” tanya Azka sangsi


“Lain kali, jangan kayak gitu lagi ya. Aku gak suka”


“Aku gak akan—kita ga akan gitu lagi kalo kamu gak suka” jawab Azka.


“Kita? kok jadi gitu ngomongnya?” Rasya meninggikan suaranya.


“Katanya kamu gak suka?”ulang Azka


“Aku gak suka kamu main pergi ninggalin aku gitu aja. Aku udah pernah bilang, kalo kamu mau pergi dari aku, kamu bilang dulu. Supaya aku gak usah nyari kamu”


“Aku bilang atau gak, gak usah cari aku kalo gitu. Itu cuma bikin kamu repot” Azka memelankan suaranya, tapi intonasinya terdengar Ia tak mau kalah.


“Kenapa kamu jadi gini sih Dek?”


“Kamu yang kenapa? Kenapa kamu gak bilang kalo kamu ketemu Nadia disana? Dan kalian berdua bertukar nomor? Eh?” Rasya terdiam,


“Aku gak suka kita ribut kayak gini terus Kak. Udah hampir satu tahun ini kita jadi sering ribut. Aku gak ngerti kenapa” Azka akhirnya berbicara dengan nada lemah mengeluarkan isi hatinya, “Aku pengen kita kayak dulu” tambahnya.


“Kamu pengen kita kayak dulu? Kamu mau balik lagi suka sama Agil?” Rasya sudah kehilangan sikap manisnya.


“Kak!!!”


“Apa???”


“Selamanya kita gak akan bisa kayak dulu Dek, aku udah berbeda sekarang! Kamu gak lihat? Aku udah beda sekarang, dan Ini gak akan bisa kembali kayak dulu lagi” Rasya menatap kaki palsunya dengan mata memerah, Ia marah. Tapi lebih kepada dirinya sendiri


“Kenapa kamu jadi bahas itu sih?” Azka jadi kehilangan kesabaran.


“Aku gak mau salah paham sama kamu tentang hubungan kamu dengan Nadia sekarang, aku juga gak mau kamu terus merendahkan diri kamu dan justru ragu sama aku. Apa kita butuh istirahat?” tanya Azka, namun lagi-lagi Rasya hanya diam.


“Sepertinya kita butuh istirahat. Sebentar aja” tambah Azka yang sudah siap meninggalkan Rasya.


“Dek”


“Ya?”


“Maksud kamu?”


“Kita istirahat dulu sama perasaan kita masing-masing kak. Mungkin kita sama-sama lelah. Atau mungkin kita butuh berpikir tentang perasaan ‘kita’” Azka menekankan kata ‘Kita’ diakhir kalimatnya.


“Aku pulang ya”


Azka meninggalkan Rasya begitu saja, Ia tidak tau apakah jika lebih lama di sana mata dan pikirannya akan tetap kuat mengkhianati rasa sedih yang ada di hatinya. Ia berlari kecil, menjauh dari rumah Rasya. menaiki angkot dan memilih kursi paling belakang. Ia terus menekan perasaannya kuat-kuat. Mencoba memikirkan hal-hal konyol mendorong otaknya untuk tak memerintahkan mata mengeluarkan cairan bening itu. Tapi nyatanya tanpa sadar pun matanya tak bisa berkhianat. Azka buru-buru menghapus butiran bening itu. Ia menarik nafas dalam-dalam mencoba menghentikan tangis tanpa suaranya.


Perjalanan yang seharusnya sebentar menjadi terasa sangat lama. Azka mencoba menenangkan diri, menghapus jejak air mata di pipinya meskipun itu tak mengurangi kekacauan pada wajahnya. Ia sadar betul siapapun yang melihatnya pasti akan tahu bahwa kondisinya tidak baik-baik saja. Azka terkejut ketika Ia sadar Ia melebihi batas. Seharusnya Ia turun di 2 persimpangan sebelum ini.


‘Pantes aja lama, gak sadar udah kelewatan’ batin Azka kesal


Ia memilih turun disana, mencari angkot jurusan rumahnya.


“Mbak Azka? Ngapain disini?” Suara yang sepertinya Azka kenal menyapanya.


“Eh--?Juan? kok Lo disini?” tanya Azka menutupi keterkejutannya.


“Mbak Azka abis nangis?” alih-alih menjawab pertanyaan Azka, Juan justru memperhatikan wajah Azka, matanya sembab, kentara sekali Ia habis menangis.


“Eh—enggak kok”

__ADS_1


“Gak mungkin kan Mbak Azka abis tidur. Masa tidur di angkot?” ucap Juan mencoba melucu, menebak alasan yang akan disampaikan Azka untuk menutupi bahwa dirinya memang habis menangis


“Ehehehe, emang Gue ketiduran, makanya kelewatan turunnya” bohong! “Eh, Lo kenapa disini?” Azka mengulangi pertanyaan yang belum Juan jawab, sekedar mengalihkan perhatian pemuda itu dari wajahnya


“Rumah saya deket sini Mbak. Itu, masuk gang itu” jawab Juan menunjuk salah satu gang di sebrang mereka.


“Oh” Azka mengangguk-anggukkan kepalanya


“Mbak mau pulang? Mau saya anter? Takut kelewatan lagi” tawarnya.


“Eh, gak usah. Entar ngerepotin, bentar lagi angkotnya lewat. Masih banyak kok jam segini mah” Azka menolak sehalus mungkin


“Gak apa-apa Mbak, nggak repot kok. Mau?” tawarnya lagi


“Lo mau nganter sambil jalan kaki?” tanya Azka yang melihat Juan tak membawa kendaraan apapun


“Kalo Mbak mau?” Juan tersenyum


“Ngaco! Jauh laah” Azka menepuk lengannya asal


“Saya ambil motor dulu, gak jauh kok. Mau ikut apa tunggu disini?”tanyanya


“Gue kan belum bilang iya”


“Pertanyaan Mbak tadi udah saya anggep iya” Juan berkata dengan percaya diri


“Jadi, mau ikut kesana dulu atau nunggu disini?” tambahnya


“Menurut Lo?” Azka malah balik bertanya


“Ikut aja yuk, nanti kalo ditinggal disini, saya ditinggal juga sama mbak naik angkot” Juan terkekeh lalu maju dan merentangkan tangan kanannya untuk memberi tanda pada pengemudi mobil dan motor di jalanan kalo Ia hendak menyeberang. Beberapa mobil dan motor berhenti memberi jalan.


“Ayo Mbak”


Karena tak mau membuat mobil-mobil dan motor itu menunggu Azka segera mengikuti Juan yang sudah melangkah lebih dulu. Mereka jalan beriringan sambil mengobrol. Beberapa kali Juan menundukkan kepala kepada tetangganya ketika Ia dan Azka melewati mereka.


“Mbak tunggu sini sebentar ya, saya ambil motor dulu. Gak lama kok” Juan masuk ke rumah yang ada di hadapan Azka. Azka mengangguk, lalu mengantar Juan yang berlari masuk dengan senyumannya.


‘Keluarga polisi, pantes aja dia juga perawakannya kayak polisi’ batin Azka ketika melihat gelar pada nama yang Azka duga adalah nama ayahnya Juan.


“Yok Mbak, naik” Azka kaget melihat Juan yang sudah di depannya sambil menepuk-nepuk jok di belakangnya.


“Beneran gak apa-apa nih?” tanya Azka ragu.


“Ayo naik, ini helm nya” Azka meraih helm yang diberikan Juan, lalu menaiki motor bebek berwarna biru dihadapannya.


“Mbak tunjukin jalannya ya, saya nggak tau rumah Mbak”


“Oke” jawab Azka senang.


Juan melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sesekali mengajak Azka mengobrol dengan sedikit berteriak.


“Masuk gang itu” tunjuk Azka pada gang di sebelah kiri jalan. Juan membelokkan motornya ke arah gang yang ditunjuk Azka. Berbelok ke kiri di jalan kedua sebelah kiri sesuai petunjuk Azka.


“Itu, yang warna merah bata rumahnya” tunjuk Azka. Juan menghentikan motornya pada rumah yang terlihat di hadapannya. Rumahnya terlihat asri dengan beberapa pohon di halaman yang menambah kesan hijau. Terlihat dua daun pintu dengan gaya modern yang memberi kesan mewah pada rumahnya. Azka segera turun, melepas helm yang Ia gunakan dan menyerahkan pada Juan.  “Makasih ya. Maaf jadi ngerepotin” ucap Azka saat Juan menerima uluran helm dari Azka


“Sama-sama Mbak, nggak repot kok. Seneng malah” ucapnya tulus.


“Yaudah Gue masuk ya”


“Mbak, jangan Gue –Lo dong manggilnya. Hehe” ucapan Juan menghentikan gerakan Azka yang hendak membuka pagar rumahnya.


“Eh? Kenapa emangnya?”


“Saya kamu aja”


“Idih, nggak mau ah, udah kayak si Mas Alfan!” tolak Azka.


“Aku kamu kalo gitu?” tawarnya.


“Gak biasa Gue” jawab Azka beralasan.


“Yaudah, saya aja yang ngebiasain” ucapnya akhirnya.

__ADS_1


“Ntar Gue coba deh” Azka jadi tidak enak.


“Oke, Gue masuk dulu. Sampe ketemu kapan-kapan di sekolah” Azka mengakhiri percakapan mereka lalu masuk melalui pagar rumahnya. Sedangkan Juan melajukan motornya menjauh.


__ADS_2