
Semua siswa kelas X SMA Negeri 45 sedang disibukkan dengan tugas awetan kering hewan pada mata pelajaran Biologi. Begitu juga dengan seluruh siswa di kelas X.3 dan X.4. Pasalnya setiap kelas, diminta oleh Bu Aida untuk membuat satu awetan kelas dan satu awetan kelompok yang membuat mereka pusing dan juga heboh. Ada yang mengawetkan biawak, ayam, burung dara, ular, dan yang paling menghebohkan adalah kelompok Azka dan teman temannya yang mendapat hewan asing. Setelah diamati, hewan yang dibeli oleh Achin dan Nadia adalah Kukang, hewan yang cukup dilindungi yang habitatnya banyak ditemukan di Kalimantan. Kukang ini adalah hewan nocturnal, atau yang beraktivitas di malam hari. Menyadari hal itu, Azka sebagai ketua kelompok merasa ragu untuk menjadikannya awetan.
“Chin, beneran nih kita pake hewan ini?” tanya Azka pada Achin yang sudah duduk diam di bangku sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.
“Ya gimana lagi Ka? yang lain itu yah, udh di ambil semua sama anak-anak. Trus kan kita gak boleh sama hewannya sama yang dipake di kelas” jawabnya sedikit frustasi karena sudah menjelaskan itu berkali-kali setiap kali Azka menanyakan hal yang sama.
“Yaudah gini aja deh” Ocha menjeda “Ka, Lo ke Bu Aida sono.. tanyain kira-kira apa-apa atau gak apa-apa kalo kita pake ini. bilang aja, ini dijual sama emang-emang yang gak tau gimana ngurusnya. Dari pada mati gak ada faedah? Mending kita buat awetan buat belajar”
“Ogah ah, ketemu Bu Aida lagi! Trus nanya beginian lagi, cari mati kali Gue” Azka menolak
“Gue temenin deh Ka” tawar Nadia agar Azka mau menyetujui usulan Ocha. “Nanti Gue bantu ngomong deh” Nadia menaikkan alisnya dua kali. “Huuft” Azka mendengus sedikit kesal. “Ayo deh"
“Gimana-gimana?” tanya Ocha bersemangat
“Sempet dimarahin kita, pas Gue nunjukin foto hewannya” ucap Nadia
“Trus?” ucap Achin dan Ocha bersamaan
“Gapapa kok, kata Ibu harus hati-hati. Dia akan agresif malam hari. Dan kalo siang waktunya tidur diganggu akan bisa agresif juga” jelas Azka sambil mengambil tempat di samping Ocha
“Huuuftt”mereka lega
“Jangan seneng dulu, ini susah ngurus nih hewan tau” ucap Azka lagi
“Kita berarti harus bikin awetannya dalam dua hari ini yah. Kan mau bikin awetan kelas juga” Ucap Nadia
“Heemh” jawab Azka
Siang hari sepulang sekolah, mereka kerumah Nadia untuk membuat awetan si kukang yang malang. Hewan itu terlihat sangat pulas di kandang kucing milik Nadia yang mereka pinjam sementara untuk meletakkan hewan tak berdosa itu. “Ih, sedih. Masa mau dimatiin sih”
Mereka menyiapkan peralatan yang dibutuhkan, sarung tangan, suntikan, alat bedah, benang, kapas, dan formalin. Ternyata melumpuhkan hewan yang satu ini agak sulit. Lehernya sangat pendek dan tertutup rambut-rambut yang lumayan lebat. Lehernya bergerak cepat menghindar dari jeratan gadis-gadis itu. Berkali-kali ia berkelit sambil membuntal dan bergelinding. “Gilaaaaa. Udah dua jam, ngebiusnya aja belum!” ucap Azka sedikit frustasi
“Sabaaar.. Bu” ucap Ocha sambil menyeka keringat yang mulai turun di pelipisnya.
“Bius banyak-banyak aja yok! Pusing Gue” usul Nadia
“Terserah deh terseraaah. Yang penting bisa digorok itu leher. Kasian kalo dibunuh perlahan-lahan mah. Biar langsung koit aja gitu” ucap Azka
“Iya, sedih juga ngeliat dia berkelit2 gak mau dibunuh yak. Duh di akhirat Gue bakal digituin gak ya sama ni hewan” ucap Achin sambil bergidik ngeri
“Sial. Diingetin akhirat lagi! Tambah ngeri Gue” ucap Azka lagi
Akhirnya mereka berhasil melumpuhkan si hewan malang ini setelah setengah jam bergelut memegang, digigit, mengikat, menyuntik, dan berbagai perlakuan kejam lainnya.
“Ouch, sakit gila, Gue digigit!!” ucap Nadia saat hewan itu berhasil mengenai tangannya.
Dalam kondisi yang sedikit lemas,tapi masih bisa sedikit bergerak menghindar, akhirnya mereka berhasil memotong urat di lehersi kukang yang membuat hewan itu terkulai tak berdaya. Mereka memulai pembuatan awetan itu dengan membedah tubuhnya, mengeluarkan isi setiap bagian yang mungkin akan membusuk, menyuntikkan formalin pada setiap bagian tubuh. Bagian tubuh yang sebelumnya sudah sempat disuntikkan formalin menjadi sedikit lebih keras dan sulit ditembus jarum suntikan. Alhasil sebagian formalin ada yang tertusuk ke ujung jari Azka yang saat itu sedang berusaha menembus kulit si Kukang.
“Elah, jari Gue yang kesuntik. Wah. Jadi kaku gak nih jari Gue nanti?”
“Syukur! Karma tuh dari si Kukang” ucap Ocha asal
“Sialan! Yang ngebunuh berempat, Masa iya cuma Gue yang ikutan kena formalin! Wah awet nih Gue!”ucap Azka
Bau alkohol dan formalin menguar dari dalam boks kaca yang mereka gunakan untuk meletakkan awetan tersebut.
“Gila, mabok Gue langsung” ucap Achin saat membuka penutup boks kaca
“Whahahhaa, ngapain Lo buka Chin!” ucap Azka sambil tertawa melihat Achin mengerjap-ngerjap karena mencium bau alkohol yang sangat menyengat
“Sumpah Gue mabok, aduh!”
“Lagian Lo aneh-aneh Chin. Minum dulu sono” ucap Nadia sambil menunjukkan botol air minum dengan 4 gelas yang sedari tadi dibiarkan begitu saja di atas meja
“Ih bener deh, Gue langsung haus. Baru nyadar gak minum-minum kita dari tadi” ucap Ocha menyerobot Azka dan Nadia, lalu bergerak menuju meja yang tadi ditunjuk Nadia.
Merekapun beristirahat sebentar sambil mengobrol. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak mengingat apa saja yang sudah mereka lakukan hari ini untuk melumpuhkan si hewan tak berdosa itu. Tapi sesekali juga mereka menyesali, bahkan merasa ngeri.
“Mudah-mudahan Allah ngerti ini semata-mata sumbangsih untuk pembelajaran. Jangan hukum kami serupa dengan kelakuan tadi ya Allah” Azka berdoa.
---
Keesokan hari nya, semua siswa kelas X.3 sepakat untuk mengerjakan awetan kelas di rumah Ipit. Mereka berbondong-bondong kerumahnya dan tanpa tau malu menyabotase dapur dan kulkas setelah dipersilahkan masuk sebelumnya. Hari ini rumah Ipit terlihat sepi, Ibu dan Ayahnya sedang tidak ada di rumah. Bertambahlah ketidak tahu maluan mereka.
“Pit, pinjem PS ya!” seru wahyu dan Ivan
“Pit, aku boleh masak aja gak? Lumayan buat kita makan, gausah beli diluar” ucap Berta yang sudah sigap mencari dan menggeledah isi dapur dan kulkas mengeluarkan apa saja yang bisa di masak
“Pit, ada makanan gak? Itu eskrim dalem freezer boleh dimakan?” tanya Fera sambil memasang wajah melas, tapi tanpa menunggu jawaban dari Ipit dia langsung mengambil, membuka, dan memakan eskrim tersebut. Ipit hanya geleng-geleng kepala.
“Eh Gila lo pada. Ini kita disini mau ngerjain tugas. Bukan mau ngacak rumah orang woy!” ucap Azka yang sudah pusing dengan kelakuan teman-temannya.
“Ipit aja gak marah deh Ka. Lo mah sewot aja liat kebahagiaan kita” ucap Vidi
“Ipit tuh pasrah, bukan gak marah. Ini nanti jadi lama dong ngerjainnya”
“Itu tuh, kan ada mereka. Trus ada Lo juga Ka. Aman pokoknya” ucap Vidi lagi kemudian bergegas mengambil tempat diantara Ivan dan Wahyu.
“Sial Lo Vid! Yaudah ayok, kita kerjain”. Ajak Azka pada teman-temannya
Saat sedang menjahit awetan kelas,
__ADS_1
“Ouch” jerit Azka
“Kenapa Ka?” semua teman-teman Azka langsung terdiam dan menengok ke arahnya. Ocha langsung melebarkan matanya ketika melihat tetesan darah di bawah tangan Azka mulai menggenang.
“Ambilin air bersih tolong woy!! Ini luka dia!”
“Gue ambil p3k dulu” susul Ipit. Azka meringis nyeri. Karena kulit biawak yang tebal, dan Ia tak bergantian dengan siapapun sejak tadi. Tanpa sadar bagian ujung jari yang bersentuhan dengan jarum mengalami gesekan sehingga meradang dan terisi air. Ketika Azka tadi memaksa jarum untuk masuk ke dalam lapisan kulit biawak, rupanya tekanan itu membuat bengkak tersebut pecah dan melukai kulitnya hingga berdarah.
“Aw, sakit Cha” kata Azka ketika tangannya dimasukkan kedalam sebaskom air.
“Pelan-pelan kok. Sebentar dibersihin dulu. Tangan Lo dari tadi megang formalin dan biawak. Ntar infeksi. Mau?” kata Ocha sambil membersihkan tangan Azka. Azka hanya menggeleng.
“Sini Gue yang lanjutin” kata Ipit sambil memberi tanda agar Azka bergeser.
Akhirnya Azka memilih duduk di dekat Ivan dan Wahyu yang masih sibuk dengan pertandingan di PS nya. Sesekali mereka saling mengumpat, menoyor kepala, bahkan bergelut, tapi kemudian mereka saling tertawa.
“Tangan Lo gimana Ka?” tanya Ivan tiba-tiba
“Udah gak apa-apa. Nyeri sih tapi”
“Lumayan Ka. Biar awet. Jadi kan tangan Lo jadi awet muda” saut Vidi
“Wah iya ya, Gue mau deh wajah Gue di formalin. Biar ganteng nya awet” ucap Ivan sambil tertawa
“Si Beg*k!” umpat wahyu sambil menoyor kepala Ivan. Azka hanya tertawa melihat tingkah mereka.
Hari sudah hampir malam. Setelah shalat magrib semua anak berpamitan dengan Ipit. Satu persatu keluar dari rumah Ipit dan pulang menuju kediamannya masing-masing. Sedangkan Azka, Ocha, Nadia, Achin, dan Dara masih membereskan sedikit sisa pembantaian mereka. Sedikit lagi selesai, dan mereka bisa pulang kerumah.
“Ka, ada Rasya!!!” jerit Ipit dari depan pintu
“Hah???”
---
“Ngapain jemput sih kak? Udah malem ini” ucap Azka di antara deru motor yang sedang melaju
“Justru karena udah malem dek”
“Iya, tapi kan rumah aku sama Ipit deket” Azka masih memberi alasan
Ckiiit. Motor tiba-tiba berhenti.
“Kak? Mogok?” tanya Azka panik. Rasya menyentil dahi Azka pelan. “Mogok apanya. Ini aku yang berentiin” ucap Rasya yang sudah menengokkan kepalanya ke arah Azka.
“Ooh, trus kenapa tiba-tiba berenti?” tanyanya lagi masih penasaran
“Biar kamu berenti juga ngocehnya” Rasya terkekeh
“Yah elaah, udah bikin deg-deg an aja ini motor mogok” kata Azka sambil memukul punggung Rasya
“Bukan gak mau dijemput, tapi kan dari rumah kamu kesini itu lebih jauh dari rumah aku ke rumah Ipit bolak balik tau gak?”
“Oh, yaudah ayo kita balik lagi ke rumah Ipit. Trus aku pulang biar kamu bisa pulang sendiri”
“Ya ampuuun, itu mah konyol banget!”
.
.
.
“Sampai” kata Azka saat motor Rasya berhenti tepat di depan pagar rumahnya
“Yaudah sana masuk, nanti dimarah Mama loh, kalo lama-lama”
“Oke. Aku masuk ya. Bye” ucap Azka sambil masuk ke halaman, lalu mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum” Sayup-sayup terdengar suara motor Rasya dihidupkan dan beranjak pergi dari depan rumah.
Notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Azka yang tergeletak di atas kasur
-Rasya-
Dek, aku beneran nih mau nanya
-Azka-
Apaan? Emang biasanya nanyanya gak beneran?
-Rasya-
Kenapa kamu berpendapat kalo menyatakan perasaan itu kadang gak penting?
Azka termenung mendapat pertanyaan itu dari Rasya. Mau dibawa kemana nih arah pembicaraan?
-Azka-
Karena.. Yang penting itu kan sikapnya
-Rasya-
__ADS_1
Kalo sekarang aku nyatain lagi perasaan aku, kamu mau terima gak?
-Azka-
Hah????
.
.
Ia lihat layar ponselnya menyala, terdapat notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab. Ia meraih ponsel itu lalu membuka pesan-pesan yang masuk.
-Rasya-
Dek?
Halo? Kamu udah tidur?
Dek, kok jadi gitu?
Ya ampun, baru ditanya pake awalan ‘kalo’ aja begini reaksinya. Gimana kalo beneran ditembak?
Azka terkekeh membaca pesan Rasya. “Kelimpungan dia, hehe”. Azkapun menggerakkan ujung-ujung jarinya mengetikkan suatu balasan
-Azka-
Oh, jadi cuma bercanda.
Pesan balasan dari Rasya dengan cepat masuk kembali ke kolom percakapan mereka
-Rasya-
Siapa yang bilang bercanda?
-Azka-
Itu, kamu yang bilang
-Rasya-
Beneran dek, kamu mau gak kalo aku tembak? biar kalo ditanya sama anak-anak, jawabannya jelas. Aku pacar kamu atau bukan.
-Azka-
Emang siapa yang nanya-nanya?
-Rasya-
Kan kalo
Emang kamu gak mau banget ya Dek, jadi pacar aku?
Azka mendengus sekilas, Ia bingung harus menjawab apa. Ia memang merasa nyaman, tapi ketakutannya untuk hal-hal seperti putus jika berpacaran lebih mendominasi. Ia tak mau memberi banyak harapan seolah-olah Ia bisa memenuhinya. Karena Ia selalu percaya, harapan adalah hal yang paling membahayakan. Bisa membuat seseorang sangat bergairah, atau justru malah mati terbunuh oleh luka tak berdarah.
Azka tersadar dari lamunannya saat terdengar nada dering yang berasal dari ponsel yang Ia pegang
“Kak Rasya” gumamnya
“Halo”
“Halo, kamu kemana lagi? Kok gak dijawab?”tanya Rasya dengan suara lembutnya
“Eh, itu.. Aku tadi abis dari dapur, dipanggil mama. Hehe” Azka menjawab gelagapan
“Jadi gimana?” tanyanya kembali
“Gimana apanya?”
“Kamu mau terima gak?”
“Wah frontal banget nih nanyanya.” Azka mencelos karena tanpa sadar mengucapkan kalimat itu.
“Hahahahaha” terdengar suara tawa dari sebrang telpon.
“Kak, boleh gak sih, kalo kita tetep kayak gini aja. Gausah ada pacar-pacaran gitu deeh” usul Azka takut-takut
“Aku takut kalo pacar-pacaran disebutnya. Pacaran kan bisa putus.” Ucapnya lagi
“Yaudah, gini aja deh. Kita kayak biasa aja, nggak usah ada yang berubah”
“Heemh, trus?”
“Tapi kita harus saling jaga ya. Aku gak akan deketin cewek lain selain kamu”
“Beneran?”
“Tapi kamu juga jangan mau dideketin cowok lain”
Azka menyeringai senang, meski tau bahwa Rasya tak bisa melihat itu.
“Kamu boleh pergi dari aku, kalo nanti ternyata aku gak bisa jagain kamu. Kamu juga boleh pergi dari aku, kalo ternyata aku gak bisa bikin kamu seneng. Tapi bilang dulu kalo emang kamu mau pergi, supaya aku gak pusing mencari” Azka hanya terdiam mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Rasya.
__ADS_1
“Janji ya?” tanyanya lagi.
“Janji”