
“Thanks Kak, untuk hari ini dan untuk boneka besar itu” ucap Azka saat keduanya sudah berhenti di depan rumah Azka.
“Sama-sama Dek. Makasih buat hari ini. Makasih kamu udah mau bareng aku. Aku sayang sama kamu” ucap Rasya tanpa melepas pandangannya dari gadis cantik yang sudah terlihat lelah itu. Acara perpisahan sudah selesai sekitar dua puluh menit yang lalu. Saat ini sang waktu tengah menunjuk angka 22.10 sebagai penunjuknya.
“Hmm” Azka hanya mampu bergumam. Ia ingin membalas ucapan itu, tapi rasanya Azka tidak berani memberi harapan lebih pada pemuda di sebelahnya.
“Masuk rumah gih, udah malem” ucap Rasya menjentikkan jarinya di hidung mancung Azka.
“Apaan sih” Azka terkekeh. “Yaudah, aku pulang ya Kak?” Baru Azka hendak membuka pintu di sebelahnya, tubuhnya tertahan oleh cekalan di lengannya. Hal itu membuat Ia menoleh kembali ke arah satu-satunya manusia yang bisa melakukan itu, Rasya.
“Dek?” Panggil Rasya dengan tatapan yang lebih teduh dari sebelumnya. Azka yang bingung lebih memilih diam menunggu kalimat selanjutnya. “Aku boleh minta sesuatu?”
“Hm?” Azka mengangguk ragu.
“Sedikit aja, mumpung aku berani”
“Hah?” Azka semakin bingung. “Minta apasih Kak? Buruan ini malem, katanya tadi aku disuruh masuk ru—“
“Aku minta itu” ucap Rasya setelah berhasil mencium kening Azka sekilas. Azka masih mematung di tempatnya. Matanya mengerjap-ngerjap mencari pasokan cahaya yang seolah tiba-tiba lenyap.
“Kok?” lirih Azka setelah berhasil terjaga penuh dari keterkejutannya.
“Hahahaa, emang maunya apa?” Rasya menyentil kening Azka gemas.
“Aw! Sakit bege!” Azka mengumpat!
“Yaudah sana” ucap Rasya seolah mengusir.
“Ngusir? Dih! Yaudah Aku pulang, met malem” Azka buru-buru keluar. Sebenarnya Ia sudah tidak tahan berlama lama di sana. Rasa gugup itu masih bersarang dalam dirinya. Dan tentu, karena ini sudah terbilang larut malam, Azka tidak mau mengambil resiko apapun jika harus lebih lama berdua dengan Rasya di dalam mobil itu. Bisa jadi nanti ada tetangga yang melihat dan jadi gosip. Hah! Itu tidak akan Azka biarkan. Azka segera membuka gerbangnya, dan menoleh kembali saat Rasya kembali memanggilnya.
“Dek!” Ia menunggu sejenak, “Makasih. Tolong simpan itu untuk kamu aja. Gak perlu bagi-bagi sama yang lain”
“Situ ngerasa Chunky bar?” Ucap Azka lalu segera menutup pintu gerbang dan berlari masuk ke dalam rumah. Rasya masih diam di tempatnya. Ia menunggu sampai gadis itu masuk ke dalam rumah. Saat bayangannya sudah tertelan oleh pintu yang tertutup, barulah Rasya melajukan kembali mobilnya menuju rumah.
Rasya sungguh bahagia, hari ini begitu istimewa. Ini adalah harinya. Hari dimana Ia kembali memperoleh kesempatan memperjuangkan cinta. Entah nanti mereka memang akan selalu bersama atau malah berpisah di tengah jalan, Bagi Rasya, saat ini Azka adalah tujuannya.
__ADS_1
Rasya sadar betul bahwa hidup ini selamanya tidak bisa ditebak. Semua yang ada bisa datang dan pergi silih berganti secara tiba-tiba. Dulu Ia bersama Azka, lalu kemudian mereka berhenti di tengah jalan. Saat ini, mereka kembali dipersatukan, entah apa yang akan terjadi ke depan. Yang pasti Rasya selalu bertekad, bahwa apapun yang terjadi pilihannya hanya satu. Menjadi bagian yang tidak akan pergi secara tiba-tiba itu.
---
Cinta itu hanya butuh dua orang yang saling memiliki tujuan sama. Sama-sama berjuang, sama-sama bertahan, dan sama-sama mudah memaafkan. Mungkin besok, mungkin lusa, minggu depan, atau bahkan tahun depan, kita akan menemukan orang yang tepat lalu mulai berbahagia. Tapi sampai kapan kamu akan terus berharap waktu memberikan kesempatannya? Sampai kapan kamu terus memberi harapan pada diri sendiri bahwa kamu akan menemukan orang lain yang lebih baik dari yang membersamaimu saat ini.
Sesungguhnya apapun yang ada di genggaman kita saat ini, mungkin belum tentu di dapat oleh orang lain diluar sana. Kita, makhluk bernama manusia adalah yang paling sering menutup mata pada seribu satu kenikmatan yang ada, dan memilih mengejar satu kenikmatan yang belum tergapai.
“Azka!” panggil Ocha saat gadis itu berdiri di ambang pintu kamar Azka yang terbuka. “Lo kemana kemarin, ngilang mulu. Gue kira beneran Lo harus bareng Gue karena takut mati gaya! Nyatanya Lo kelayapan dah tuh ninggalin Gue sendirian” Omel Ocha pada Azka yang baru melepas earphone dari telinganya.
“Apaan sih?”
“Eh si Oyong! Lo gak dengerin omongan Gue? Kampr*t!!” Hardik Ocha.
“Kenapa sih?” tanya Azka sewot. Ocha begitu mengganggu hari liburnya. Ia membayangkan hari ini akan jadi hari paling nyaman sedunia. Perpisahan sudah selesai, dirinya sedang haid sehingga tidak harus shalat, dan dirinya bebas selonjoran bin rebahan di kamar tanpa gangguan. Eh ternyata si kutukupret bernama Ocha sudah muncul bahkan di waktu yang masih sangat pagi.
“Lo kemarin kemana aja?”
“Sorry Ka” Ocha masih terkekeh.
“Lo ngapain kesini? Kangen ama Gue?” tanya Azka turun dari ranjang lalu mengambil gelas berisi air di atas nakas. Ia meminumnya tanpa menawarkan pada Ocha.
“Kan Lo bentar lagi ke Bandung. Gue mau main dulu lah ke sini. Ntar Gue pasti kangen sama kamar Lo”
“Si Oyong! Kangennya sama kamar, bukan Gue!” Azka melempar tisu yang sudah Ia remat ke arah Ocha dan berhasil ditangkis oleh gadis tinggi itu.
“Jadi nganter si Rasya daftar ulang?” tanya Ocha mulai serius. Ia duduk di sisi ranjang dengan kaki terlipat.
“Yoi. Dua hari lagi. Trus pulang dari sana Gue siap-siap ke Bandung” jawab Azka sembari mendekat ke arah Ocha.
“Lo balik sama si Rasya? apa gimana sih? Heran Gue!” Ocha sudah mengambil salah satu buku yang terserak di atas kasur Azka. Membolak-baliknya tanpa keinginan untuk membaca.
“Enggak! Gue biasa aja. Hehehe. Gue sebenernya gak mau kayak dulu. Gue ngejalanin aja lah. Gue nyaman lanjut, gak nyaman bilang. Gitu aja sih. Gue gak mau jadi korban cinta monyet yang pas pacaran nempel kayak perangko giliran putus jadi kayak orang gak kenal!”
__ADS_1
“Awas Lo kemakan omongan Lo sendiri Ka”
“Dih amit-amit. Nyumpahin Lo?” Ocha tertawa.
“Eh, boneka baru? dari siapa?” tanya Ocha mendekati sebuah boneka beruang sebesar balita yang teronggok di atas meja. Bulunya halus, berwarna coklat pekat dengan sebuah pita melingkar di lehernya. Ocha menarik kertas yang tersemat di sana, mengintip sedikit deretan kalimat yang tertulis di sana. “Rasya?” tanya ocha melirik ke arah Azka. Azka mengangguk di tempatnya.
“Dalam rangka?” Ocha kembali bersuara.
“Gatau, tiba-tiba aja kemarin udah ada di rumah. Kayaknya dianter pas Gue keluar ama Lo” ucap Azka acuh.
“Dia masih sayang banget kek nya ke Lo Ka”
“Sama” jawab Azka tanpa berdosa. Dan jawabannya itu membuat Ocha terbengong,
“Lo masih sayang sama Rasya? ngapa Lo putus sih?” Ocha heboh,
“Ya sayang laah. Siapa yang ga sayang sama orang baik macem dia? Lagian Gue sama Kak Rasya gak pernah pacaran ya! Jadi gak ada kamus putus dalam hidup kita”
“Ceh, gaya lo! Soknya kagak ada putus. Awas aja sekalinya ntar misah, misahnya paling nyelekit, sampe bikin Lo gak bisa lupa ama dia! Baru tau rasa Lo!”
“Lo suka banget nyumpahin Gue ya Cha!” Azka bersungut kesal. “Eh Cha, semalem…”
“Hn?”
“Gak jadi deh” ucap Azka mengurungkan niatnya.
“Apaan? Gue KEPO nih. Tanggung jawab! Semalam apa?”
“Kak Rasya bilang dia mau balik kayak dulu”
“Serius?”
“Hmm, Gue... masih ragu"
“Gue seneng sih dengernya Ka. Gue cuma mau kasih wejangan aja sama Lo” Ocha menjeda kalimatnya. “Sedekat atau sejauh apapun nanti Lo melangkah sama Rasya, pasti akan ada ujian buat kalian. Ujian itu akan dateng dengan berbagai bentuk dan cara. Tugas Lo, sama Rasya hanya harus menguatkan hati dan otak di setiap problematika yang nanti akan Lo hadapi. Karena semuanya cuma masalah takdir dan garis takdir”
__ADS_1