
Masa Orientasi Sekolah sudah berakhir. Anak-anak kelas X SMA Negeri 45 sudah belajar seperti kakak-kakak kelasnya yang lain. Mereka juga membaur dengan masing-masing teman di kelasnya. Ada juga yang sudah mulai tebar pesona dengan kakak kelas, atau sekedar PDKT cari dekengan. Sejak berjalan dari gerbang menuju ke kelas, sudah berkali-kali Azka mengulas senyum palsu hanya sekedar untuk menjawab basa basi atau sapaan dari Adik kelas yang Ia lewati.
‘Repot juga tiap hari begini’ batinnya sembari terus berjalan menjauh dari deretan kelas X yang harus Ia lewati tiap hari ketika menuju ke kelas XI IPA 1. Sesekali Ia melihat layar ponselnya, untuk memeriksa apakah ada pesan masuk atau tidak. Selain itu, hal itu juga Ia lakukan agar tidak kehabisan tingkah ketika harus mendapat sapaan dari setiap Adik kelas yang sedang duduk di depan kelas mereka.
“Gila, lama-lama pegel juga Gue senyam senyum gak jelas gini tiap hari” ucapnya sambil mendudukkan tubuh di atas kursi. Tangannya Ia ulurkan ke atas meja lalu Ia menumpuk kepalanya disana.
“Lagian ngapain Lo ladenin sih Ka” ucap Ocha yang juga sudah duduk di kursi nya
“Gatau Gue jugak”
“Lah, si Oyong!”
“Oyang oyong oyang oyong. Gue manusia Cha, bukan sayuran!” ucap Azka kesal
“Hehehe. Eh, katanya guru Biologi kita kelas sebelas ini guru baru itu loh”
“Oh iya? Pak Edo?”
“Katanya sih ngeri”
“Ngeri gimana Cha? Woles ah kayaknya Bapaknya”
“Liat aja nanti”
“Selamat pagi semuanya” sapa Pak Edo yang tadi pagi baru mereka bicarakan
“Pagi Pak”
“Ini kelas XI IPA 1 ya. Yang katanya kelas pilihan.” Pak Edo terkekeh.
“Pada kenal saya kan? Kalau tidak salah saya sudah pernah berkenalan dengan beberapa orang disini” Pak Edo melanjutkan.
“Kamu, dulu di X.3 kan?” tanya Pak Edo menunjuk Azka dan Ocha di sebelahnya
“I..Iya Pak” jawab Azka terkejut karena tiba-tiba ditunjuk begitu
“Siapa namanya, Azkania!!” teriak nya karena berhasil mengingat nama siswanya dengan benar
“Hehe, bapak masih inget aja” Azka ikut terkekeh
“Itu, yang seperti orang arab, kelas X. 4 ya dulu? Emmmm… Al..fan?” Pak Edo mengeja nama Alfan sambil berpikir. Alfan hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Ini pasti, Berta dan Eka, dan Ega. Ah yaa, kamu Iren, dari X.4” lanjut Pak Edo mencoba mengingat wajah-wajah yang pernah Ia temui sebelumnya.
“Baik, sudah-sudah. Sudah cukup saya mengingat kalian. Nanti juga saya akan ingat seiring berjalannya waktu” katanya lagi “Hari ini, seperti yang sudah dijadwalkan. Kita akan belajar Biologi selama 2 jam pelajaran kedepan. Karena ini adalah pertemuan pertama kita di kelas ini, ada baiknya kita membuat kontrak belajar terlebih dahulu”
“Kontrak belajar apaan?” seru Azka terkejut yang membuat seisi kelas terkejut begitupun dengan dirinya sendiri ‘yaelah, pake keceplosan segala Ka’ batinnya.
“Iya, kontrak belajar. Yang akan sama-sama kita sepakati. Supaya belajar kita lebih menyenangkan, dan lebih kondusif. Percayalah, kontrak belajar ini tidak akan menyusahkan apalagi merugikan kalian” jelas Pak Edo panjang lebar.
Bel istirahat berbunyi, membuat semua siswa berhamburan seperti anak ayam kabur dari kandangnya. Tak terkecuali 4 orang cewek dan 2 orang cowok yang saat ini sedang berjalan menuju mushola.
“Gila yak, baru pertama masuk kelas udah ngebul” ucap Fabel sambil mengusap-usap kepala nya
“Lo aja kali Bel. Gue biasa aja. Liat tuh Azka, dia malah senyum-senyum”
“Eh, gue kenapa?” Ocha baru saja menyebut namanya.
“Enggak, gak apa-apa” jawab mereka sambil terkekeh.
“Iiih, gitu nih. Temen bukan sih?” tanya Azka masih penasaran
“Bukan, weeee” jawab Risa
“Sebeeel” katanya.
Seusai shalat, mereka duduk di kantin pak De seperti biasa.
“Ka, semenjak kepala Lo kena bola itu, Lo gak mengalami hal-hal aneh kan?”
“Enggak, gak ada yang aneh kok. Nambah cantik aja” jawab Azka penuh percaya diri. Ocha yang bertanya hanya memutar matanya jengah
“Najis Ka!” ucap Fabel
Beberapa lama kemudian, mereka sudah duduk duduk menghadap makanannya masing-masing
“Eh, itu adek kelas yang kemarin nabrak Gue bukan sih?” tanya Azka menunjuk seseorang di ujung kantin yang sedang makan bersama teman-temannya
“Oh, iya yang kemarin” ucap Risa mengingat kejadian sepulang sekolah kemarin.
“Emang lo ditabrak Ka?” ucap Ocha penasaran
“Heemh, gak sengaja kali. Tapi kayaknya Gue pernah ketemu juga sebelumnya sama anak itu, Pas… mmmm”
“Kelamaan mikir Lo mah” Ucap Risa lagi. Iren masih fokus pada makanannya.
“Oh, Gue tau Ka. Kayaknya waktu kita ke mushola abis Lo kena bola. Dia juga di mushola” ucap Iren santai
“Ooooh, iya kali. Lupa Gue”
“Eh Cha, Lo udah dapet belum sih?” tanya Azka pada Ocha dengan berbisik.
__ADS_1
“Belum, tapi kayaknya mau. Kenapa emangnya?” tanya Ocha ikut berbisik.
“Gue gak enak perut. Kali aja mau dapet. Kan kita suka barengan” jawabnya.
“Coba tanya Risa. Biasanya Lo lebih deketan sm haidnya Risa daripada Gue” ucap Ocha sambil menunjuk Risa.
Risa yang merasa sedang menjadi objek pembicaraan Azka dengan Ocha jadi mengangkat alis, seolah mengatakan ‘kenapa?’
Lalu Azka mengetikkan sesuatu di ponselnya
-Azka-
Sa, lo udah dapet?– Azka menunjuk ponsel yang Ia pegang memberi tanda agar Risa membuka ponselnya. Risa mengerti,
-Risa-
Belum. Kalo jadwal mah mungkin 5harian lagi.
Kenapa?
-Azka-
Gapapa. Gue gak enak perut. Takut dapet
Gak bawa ‘roti’ Gue
Risa hanya membalas dengan ber oh ria sambil manggut-manggut tanpa membalas pesan Azka. Ocha mengintip ponselnya, lalu ikut mengangguk.
“Kalian ngapain sih, bisik-bisik, ngangguk-ngangguk, kode-kode” ucap Iren penasaran
“Biasaa urusan wanita” ucap Azka asal
“Elaah, Lo kira Gue bukan wanita woy!” Iren mencoba menoyor kepala Azka tapi tidak kena.
“Ehahahhaa, sorry-sorry. Gak maksud gitu kali Ren” kata Azka ketika sadar ucapannya keliru.
“Apaan seeeh urusan wanita, biasanya juga Lo pada mah dapet juga bilang-bilang ke kita. Ya gak Fan?” ucap Fabel sewot. Alfan hanya mengangguk saja, merasa tak perlu menanggapi teman-temannya.
“Gue ampe hapal tau gak siklus Lo kapan Sa. Trus ni anak dua suka bareng lagi sama ini anak.”ucap Fabel sambil menunjuk-nunjuk Azka, Ocha, dan Risa
“Gue juga suka bareng kok” Iren gak mau kalah
“Iyeee, serah Lu dah” ucap Fabel
“Heh, harusnya Lo bangga punya temen kayak kita, itu tandanya kita udah sehati tak akan terpisahkan. Ngerti gak?” ucap Risa
“Aku ke mushola lagi ya. Kak Ajo manggil” Alfan pamit saat makanan di piringnya tandas. Lalu bergegas bangkit dan pergi menuju mushola.
---
“Ka, Lo dipanggil pak Edo” ucap seorang teman sekelas Azka
“Oh, iya”
“Di ruang guru ya” terangnya
“Oke”
Azka membereskan buku-buku dan peralatan tulisnya. Lalu Ia bergegas ke ruang guru yang ada di sebrang lapangan basket.
“Bapak panggil saya?” tanya Azka saat sudah berada di depan meja Pak Edo. Mejanya penuh dengan buku-buku tebal yang Ia kenali sebagai buku Campbel dengan jilid lengkap. Beberapa buku bacaan juga tertumpuk di salah satu sisi meja. Hal itu membuat pandangan pak Edo sedikit terhalangi, bahkan yang terlihat dari posisinya hanya ujung kepala Pak Edo yang sedang menunduk.
“Iya Azka”
“Ada apa Pak?”
“Silahkan duduk dulu” Pak Edo mendongak dan menunjuk kursi di depan mejanya. Azka duduk. Pandangan semakin tertutup. Mungkin memang itu tujuan pak Edo, agar mereka tidak temu pandang. Pak Edo memang terkenal sebagai seorang laki-laki yang menjaga dirinya. Tapi Azka tak tau jika beliau juga seperti ini di sekolah saat berinteraksi dengan siswanya.
“Jadi begini Azka. Minggu depan, hari Rabu saya tidak bisa masuk ke kelas” ucapan pak Edo terjeda beberapa saat. Mendengar itu, senyum Azka mengembang. ‘yes, jam kosong’ batinnya.
“Untuk itu, saya ingin memberi tugas untuk kelas kalian dan juga kelas XI IPA 2” lanjut pak Edo.
‘yaah, ada tugasnya! tapi gak papa deh’ batinnya kembali bicara.
“Kamu bisa saya percaya kan?” suara pak Edo terhenti, menunggu jawaban Azka
“Eh, iya. Gimana Pak maksudnya?” ucapnya gelagapan karena Ia terkejut Pak Edo mengucapkan hal itu.
“Iya, kamu bisa saya percaya kan untuk dititipkan tugasnya?” Pak Edo menjelaskan
“Eh, iya Pak. Bisa. Saya janji gak kasih tau siapa-siapa sebelum saatnya” ucap Azka meyakinkan.
“Ya, saya dengar kamu yang selalu dipercaya oleh Bu Aida untuk mengurus tugas Biologi di kelas sepuluh. jadi saya pikir, mungkin saya juga bisa meminta bantuan kamu”
“Baik Pak. Ada lagi Pak?” tanya Azka
“Tugasnya nanti saya berikan ketika pulang sekolah. Tolong disimpan dan kamu juga tidak boleh membukanya. Saat jam pelajaran saya di kelas XI IPA 2, saya sudah meminta ijin kepada Bu Maria untuk mengijinkanmu selama 30 menit berada di kelas XI IPA 2”
“Apa Pak???” Azka benar-benar terkejut. “Jadi, saya harus ke kelas XI IPA 2 buat ngasihin tugasnya Pak?” tanya Azka meminta penjelasan
“Iya. Tugasnya perlu dijelaskan terlebih dahulu. Setelah anak-anak mengerti, kamu bisa kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran Bu Maria” ucap Pak Edo
__ADS_1
“Gimana saya bisa ngejelasin kalo saya aja gak bisa ngeliat tugasnya apa Pak” keluh Azka.
“Saya akan jelaskan saat nanti pulang sekolah.”
“Baik pak. Nanti sepulang sekolah, saya menemui Bapak lagi. Kalo sudah selesai saya permisi Pak” ucap Azka seraya bangkit dari kursi
“Iya, terimakasih ya Azka”
“Sama-sama Pak. Permisi, Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
Azka kembali ke kelas saat tepat bel tanda masuk berbunyi.
“Kenapa Ka?” tanya Ocha
“Mau nitip tugas” jawabnya
“Wah, bakal gak masuk dong!” Ucap Ocha mulai kegirangan
“Heem” Mereka tidak melanjutkan obrolan karena Bu Ambar telah masuk untuk pelajaran berikutnya.
Sepulang sekolah, Azka bergegas kembali ke ruang guru. Langkahnya rapat dan sangat terlihat buru-buru.Tanpa Ia sadari ada seseorang yang memperhatikan gerakannya sejak keluar dari kelas. Ia memutuskan untuk mengikuti Azka dan menunggu di depan ruang guru.
---
Azka bergegas memasuki ruang guru dan masuk. Ia berjalan sambil sedikit menunduk. Setelah memasuki pintu ruang guru, Azka berbelok di barisan pertama. Meja nomor tiga, disana Ia menghentikan langkahnya. Azka menarik nafas terlebih dahulu sebelum
Tok tok tok
“Assalamu’alaikum Pak” Azka mengetuk meja Pak Edo sebelum mengucapkan salam.
“Oh, Azka. Sudah selesai kelasnya?” tanyanya yang Azka tau itu hanya basa basi. Gak mungkin juga Ia ada disini kalo kelas belum usai. Lagipula, bel pulang akan terdengar lebih nyaring disini dari pada di kelas Azka.
“Sudah Pak”
“Duduk Ka” ucap Pak Edo seraya menyiapkan beberapa tumpuk berkas yang sejak tadi dipilahnya. “Jadi begini tugas nya” Pak Edo mengawali. Pak Edo menjelaskan bagaimana cara mengerjakan tugasnya. Ternyata mereka diminta untuk membuat mind mapping tapi dengan aturan yang menurut Azka sedikit berbeda. Namun Pak Edo menyebutkan bahwa ini tugas membuat Peta Konsep.
“Peta Konsep Azka” Pak Edo menegaskan.
Ada beberapa penjelasan yang saat ini berputar di kepalanya. Kata-kata harus tersambung bermakna. Antara kata dengan kata harus menjadi kalimat utuh. Ada istilah crosslink, kata sambung tidak boleh membuat miskonsepsi, dan lain sebagainya. ‘Aaah, aku pusing’ batin Azka menjerit.
“… Nah, kamu bisa mencoba membuat peta konsepnya mulai besok. Silahkan kumpulkan terlebih dahulu peta konsep yang Azka buat. Kita akan diskusikan sehingga kamu mengerti” Azka mengerjapkan mata setelah mendengar kalimat terakhir yang disampaikan Pak Edo.
“Saya buat duluan Pak?”
“iya, agar kamu mengerti lebih awal. Jangan lupa, kamu akan menjelaskan tugas ini di kelas XI IPA 2. Jangan sampai kamu tidak bisa menjawab pertanyaan mereka”
“Tapi kan saya hanya perlu menjelaskan tugas yang bapak berikan, bukan –-“
“30 Menit itu waktu yang lama Azka. Gunakan itu untuk mengajari teman-teman di kelas XI IPA 2” potong Pak Edo
“Tapi Pak, Saya gak bisa kalo harus sambil ngajarin. Lagian malu Pak, mereka temen saya” Azka memohon
“Yasudah. Terserah kamu akan melakukan apa dengan 30 menit yang saya minta dari Bu Maria. Tapi saya akan tetap meminta tugas kamu dikumpulkan terakhir hari Senin minggu depan. Agar saat hari Rabu, kamu tidak perlu mengerjakan lagi dan fokus memberikan tugas ini kepada teman-teman kamu” ucap pak Edo menyudahi penjelasannya
“Baik pak, Saya permisi dulu kalau begitu Pak”
“Ya, berkas tugasnya nanti tolong taruh di meja ini. disini” ucap pak Edo sambil menunjukkan tempat yang beliau maksud.
“Baik Pak. Saya permisi, Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
Azka keluar ruang guru dengan sedikit lemas. Penjelasan Pak Edo yang panjang membuatnya pusing, belum lagi tugas yang diberikan Pak Edo harus Ia kerjakan lebih awal. Itu tandanya akhir pekan ini akan Ia gunakan untuk mengerjakan tugas. ‘Aaaah, betapa melelahkan tugas seperti ini’ rutuknya dalam hati.
“Abis ketemu siapa sih? Kok lesu gitu?” ucap seseorang yang suaranya sangat Azka kenali.
“Kak Rasya??”— “Ngapain disini kak?” tanya nya lagi
“Nungguin kamu”
“Iiiih, ayo pergi dari sini, bisa berabe kalo ketauan sama—“
“Sama siapa?”
“Sama guru lah kak!”Azka beranjak pergi meninggalkan gedung itu ke arah gerbang. Lapangan basket, lapangan sepak bola, dan halaman sekolah sudah sangat sepi.
“Kok sepi banget”
“Yaiyalah, kamu di dalam ada kali 45 menitan. Ketemu siapa sih?”
“Pak Edo”
“Oh, kamu gak mau pulang bareng?”
“Ini udah pulang bareng” jawabnya
“Kan aku bawa motor Dek” Azka menepuk jidat, menyadari bahwa Rasya tidak akan pulang bareng naik angkot.
“Ayok ke parkiran atas kalo mau bareng” Azka hanya mengikutinya jalan berbalik arah menuju parkiran atas.
__ADS_1