Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
EP-AR 9


__ADS_3

Kalau kamu menemukan seseorang yang siap menemanimu bahkan untuk urusan yang sepele. Memberikan waktunya untuk kamu sebagai prioritas. Maka dia adalah orang yang istimewa dan pantas diperjuangkan.


Azka masih duduk di atas kursi di dalam mobil Rasya yang berhenti. Mereka selesai mengedarkan lembar survey tugas Azka ke beberapa sekolah. Karena waktu sudah dekat dengan jam masuk kelas Rasya, keduanya memutuskan berhenti. Dan sisanya akan dilanjutkan oleh Rasya.


"Dek, mau ikut apa gak?" Tanya Rasya lagi karena pertanyaannya belum di jawab.


"Gak tau. Ikut aja gitu? Aku takut sendirian di parkiran" ucap Azka sedikit berpikir.


"Yaudah, ayo" Rasya baru akan membuka pintu mobilnya saat Azka menahan lengannya. Ia pun menoleh ke arah gadis itu. "Kenapa lagi?" tanya nya dengan nada lembut seperti biasa.


"Aku beneran gak apa-apa ikut? Aku malu" cicit Azka dari tempatnya.


"Gak apa-apa. Gak akan digodain. Kalo digodain nanti aku kepret semuanya" ucap Rasya menenangkan. Ia melepaskan cekalan di lengannya dengan lembut, lalu menepuk-nepuk pelan punggung tangan itu.


"Iya deh" Azka membebaskan tangannya. Lalu membuka pintu mobil bersamaan dengan Rasya yang melakukan hal yang sama.


---


"Woi Sya, sapa tuh?" Satu sapaan nyeleneh dari seorang teman dengan rambut sepanjang bahu. Padahal dia laki-laki, apa semua anak tehnik itu selalu begitu? Entahlah Azka tidak tahu.


"Diem aja gausah banyak bacot!" tanggap Rasya sambil menarik Azka mendekat.


"Sya, jadi ini? ciiee" satu lagi sapaan yang membuat Azka menunduk malu. Ia sudah tahu bahwa hal seperti ini akan selalu terjadi. Apalagi ini pertama kalinya Azka bertemu dengan mereka.


"Sya, buru halalin lah. Gue mau kondangan. abis beli mekap baru nih" celetuk salah satu cewek di depan ruang kelas itu.


"Banyak bacot. Diem gak Lo pada?" ancam Rasya sambil mengacungkan telunjuknya.


"Aw dedek takut Yay" Kiyay, itu adalah panggilan khas bagi seorang kakak di daerah itu.


"Kiay, Ay nya kenalin ke kita dong" teriak mereka lagi.


Rasya hanya terus menggiring Azka menuju ujung lorong. Tempat seseorang tengah duduk di kursi panjang yang ada di sana.


"Andri!! Ya ampuuun, aku ketemu kamu. Oiya, kamu satu jurusan ya sama Kak Rasya. Aku lupa" pekik Azka spontan saat dirinya melihat Andri di sana. Rasa gugup yang dirasanya tadi menguap begitu saja.


"Hei Ka.. lagi apa di sini? kok bisa ikut Rasya ke kampus?"


"Aku lagi sebar survey ke sekolah-sekolah Ndri. Biasa tugas kampus. Trus mau pulang bareng sama Kak Rasya. Daripada nunggu di kosannya, enak aku ikut kesini" cerocos Azka panjang lebar.


"Ooh, yaudah. Nanti tunggu di sini aja. Tenang aja, gak akan ada yang goda kok"


"Tadi sebelum kesini juga Kak Rasya bilang gitu. Nyatanyaa"


"Hahaha, kamu digoda Ka? gausah didengerin, anak-anak tehnik suka bercanda" ucap Andri sambil terkekeh.


"Duduk dong. Gak cape apa?" tanya Andri menepuk bangku di sebelahnya. Segera saja Azka menyambar duduk di sana.

__ADS_1


"Makasih Ndri"


"Dek, aku masuk kelas dulu ya. Aku mau nyerahin tugas kelompok" ijin Rasya pada Azka. Pemuda itu mengusak sekilas puncak kepala Azka sebelum berlalu meninggalkan Azka dan Andri.


"Ndri, gimana kuliahnya? seru ya di Teknik elektro?"


"Seru apaan Ka. Pusing yang ada!" Sembur Andri. "Tapi Aku kan suka tantangan, jadi merasa tertantang gitu" tambahnya.


"Kak Rasya deket sama siapa di kampus?" Azka mencoba mengorek informasi. Azka memang penasaran apakah pemuda itu mulai mencoba mendekati gadis di kampusnya atau tidak.


"Hahaha, kamu ini aneh Ka. Rasya itu kan pacar kamu. Kok nanya dia deket sama siapa?"


"Eh? Enggak kok. Kita gak pacaran Kanda" ucap Azka menirukan nada bicara pemeran teater yang dulu mereka lakoni saat di SMA.


"Wah? masih inget aja panggilan itu" Andri sedikit terkejut, tapi lalu pemuda itu tertawa. "Tenang Ka, Rasya gak deket sama siapa-siapa kok"


"Masa?" Azka memasang wajah tidak percaya.


"Kalo kamu gak percaya Rasya, kamu bisa percaya saya" ucapnya mengakhiri percakapan.


"Ka, saya ke dalem ya. Udah mau masuk" Pamit Andri akhirnya yang di balas anggukan oleh Azka.


Rasya tidak keluar lagi, apalagi setelah dosen mata kuliah itu masuk ke ruangan mereka. Azka memperhatikan saat pria paruh baya masuk ke ruangan itu dan Azka pikir pria itu adalah dosennya. Azka menunggu dalam diam. Ia sibuk mengotak-atik ponselnya. Membuka beberapa aplikasi media sosialnya, menscroll beberapa menit lalu menutupnya. Azka mulai bosan, ketika waktu menunjukkan dirinya sudah 30 menit berada di sana.


"Bete, mana haus lagi. Astaga, Gue gak bawa minum!" Azka bergumam sendiri.


---


Rasya melirik ke arah pintu, sudah empat puluh menit Ia meninggalkan Azka di luar. Ia merasa tidak fokus belajar. Ia mengacungkan tangan, membuat Pak Arman, dosennya, melirik ke arahnya.


"Pak, saya ijin keluar sebentar"


"Mau kemana Rasya?" tanya dosen itu dari balik kacamata lonjongnya.


"Mau ke--"


"Mau nengok pacarnya Pak! Takut digondol Mang Ipin!" Seru Pasha dari balik kursinya. Seruannya mendapat tanggapan seru dari mahasiswa lain.


"Bacot, Sha!!" Rasya geram.


"Mau ijin dulu beli minum ya Pak, kasian pacar saya di luar haus. Dia orang Bandung Pak, gatau kantin" jawab Rasya. Meski diledek tetap saja Ia mengatakan alasan jujur yang justru mendapat sorakan lebih heboh lagi.


"Petrooosss Sya!! Jangan kasih kendor!" Teriak Okta dari bangkunya.


"So Sweet amat sih Sya, dedek mau juga dong dibeliin minum. Haus niih" Icha yang sedang sibuk dengan make upnya tiba-tiba nyeletuk.


"Huuuuuuu" sorakan kembali meriuhkan keadaan.

__ADS_1


"Sudah-sudah. Rasya, silahkan keluar, waktu kamu sepuluh menit" ucap Pak Arman menengahi riuh rendah suara di dalam kelas.


"Siap Pak Bosss!!! Makasih Pak" Rasya segera bergegas keluar.


"Dek" panggilnya ketika Azka tengah memandang ke luar dari balik pinggiran balkon di depan ruang kelas Rasya.


"Eh, Kak Rasya udah selesai?" tanya Azka berbinar.


"Hehe, belum. Tadi aku minta ijin buat beli minum untuk kamu. Nih" Rasya menyodorkan sebotol air mineral dingin.


"Ya ampun. Emang diijinin?" Azka terkejut mendengar ucapan Rasya.


"Diijinin laah" ucapnya bangga. " Eh, mau tetep nunggu di sini apa ke mobil?" Tanya Rasya menawarkan pilihan.


"Aku mau ke mobil aja deh. Aku gabut di sini" ucap Azka.


"Yaudah, ke sana sendiri gak apa-apa? waktu aku cuma sepuluh menit Dek. Bentar lagi abis" Rasya melirik ke arah jam tangannya.


"Iya Gak apa-apa" Azka tersenyum, Ia memaklumi alasan itu. Rasya kan kuliah, masa ke mobil saja Azka mau minta ditemani?


"Nih kuncinya. Tunggu yah, nanti aku nyusul" Ucapnya lagi. Menyerahkan kunci mobil pada Azka, lalu berjalan mundur menuju pintu kelas. Ia melambai pada Azka dan dibalas hal yang sama oleh gadis itu.


Saat Rasya berbalik, Ia lupa kalau pintu kelas itu tertutup. Walhasil, Ia menabrak dengan keras pintu kaca di belakangnya dengan debam yang menarik perhatian mahasiswa satu kelas.


"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA"


"MAMPUSSH!!!"


"JANGAN MELENG KAKAK"


"SOSOR SYAAA"


seruan ramai terdengar sampai ke telinga Azka. Azka tertawa kecil membalas cengiran Rasya sebelum pemuda itu masuk kelas dengan ditemani riuh ledekan dari teman-temannya.


---


Rasya berdiri di samping mobil. Kondisi mobilnya terkunci. Azka tertidur di dalamnya. Berkali-kali Rasya mengetuk kaca mobil di sebelah Azka, namun gadis itu tidak bergeming. Raut wajahnya menunjukkan kelelahan. Wajar saja bukan? Selama 12 jam perjalanan Azka tidak tidur. Saat sampai Ia langsung beredar ke sekolah-sekolah tujuannya. Rasya merasa Iba. Dari pada membangunkan Azka, Ia memilih duduk di trotoar dekat mobilnya. Ia duduk sambil mengutak-atik ponsel di tangannya.


Setelah sekitar tiga puluh menit berlalu, Rasya kembali berdiri dan mengintip dari kaca di sebelah Azka. Ia mengetuk sebanyak tiga kali. Azka bergerak, Rasya mengetuk kembali kaca di depannya. Hal itu membuat Azka membuka mata. Hal pertama yang dilihat oleh Azka adalah senyum Rasya yang terhalang kaca mobil. Ia balas tersenyum, lalu sadar bahwa Rasya berada di luar sedangkan mobil dalam keadaan terkunci.


"Astaghfirullah!! sorry Kak, sorry" ucap Azka buru-buru membuka kunci. Azka membuka pintunya. membuat dirinya dan pemuda itu berhadapan dengan tidak berpenghalang apapun.


"Maafin Kak" cicit Azka "Lama ya?"


Rasya tersenyum, mengusak kepala Azka gemas, "Enggak kok. setengah jam doang" pemuda itu terkekeh.


"Ya ampuun, aselinya Kak.. maafin aku"

__ADS_1


"Iya, gak apa-apa. Yuk pulang" Azka mengangguk. Keduanya masuk kembali ke dalam mobil. Setelah memasang seatbelt, mobil melaju menuju kosan Rasya. Kemudian mobil itu kembali melenggang di jalanan guna mengantar keduanya pulang ke rumah.


__ADS_2