
Seperti yang diketahui semua orang, bahwa cinta adalah satu kata yang akan mengikat dua orang yang berbeda. Bahkan ketika keduanya memiliki sifat yang saling bertolak belakang, maka cinta adalah satu hal yang akan melengkapi kesenjangan diantara keduanya. Maka seperti itulah yang saat ini dirasakan oleh Rasya dan Azka.
Saat Rasya merasa dunia tidak adil bagi dirinya, Azka datang untuk menemani dirinya menikmati ketidakadilan itu. Sampai akhirnya dirinya bisa adil terhadap diri sendiri. Saat Rasya merasa dirinya tak utuh, Azka datang dengan ketidak utuhan yang sama yang mengajarkan mereka bahwa tidak harus utuh untuk bisa melengkapi yang lain.
Seperti saat ini, tidak pernah terlintas dalam pikiran Rasya bahwa Azka lah yang akan menemaninya berkeliling kampus yang akan menjadi tempat dirinya melanjutkan perjuangan. Bukan kampus yang terlalu diinginkan, karena keinginan Rasya adalah bisa ikut kemanapun Azka pergi. Keinginan yang tidak pernah berubah. Keinginan yang Rasya pun lupa sejak kapan memiliki keinginan itu.
“Kak, daftar ulangnya dimana? Udah disiapin semua?” tanya Azka saat mereka menjejakkan kaki di tempat yang disebut kampus hijau itu.
“Di gedung teknik, Aku juga gak tau dimana”
“Loh! Kamu gak tau? Trus kita dari sini mau jalan keliling aja gitu? Kaki kamu kuat gak?” Azka mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ia mendapati hampir setiap sudut tempat itu dipenuhi oleh mahasiswa baru dengan tujuan yang sama dengan Rasya.
“Kuat kalo jalan sama kamu mah” Rasya nyengir. Mereka masih berdiri di tempat yang sama dengan pertama kali datang. Belum bergerak kemanapun karena Rasya tidak memiliki petunjuk harus kemana.
“Gombalnya gak ilang-ilang. Belajar darimana sih Kak?”
“Kok dibilang gombal? Aku tuh beneran. Gak percaya?” Rasya menggenggam tangan Azka, mengajaknya berjalan menuju satu gedung yang paling ramai. Disana terlihat banyak sekali manusia. Dari yang memakai almamater sampai yang membawa dagangan asongan. Mereka berhenti di ujung antrian. Dengan kernyitan yang jelas tercetak di dahi, Azka melirik ke arah Rasya.
“Kita ngapain antri disini?”
“Tuh!” tunjuk Rasya memperlihatkan papan besar bertulis tangan “REGISTRASI ULANG CALON MAHASISWA FAKULTAS TEHNIK”
Azka tersenyum, Dia kemudian mendampingi Rasya berdiri di jalur antrian. Rasya melepas satu tali tasnya dari bahu, meletakkan tas ransel itu di bagian depan badannya. Ia merogoh tasnya dengan susah payang dengan menggunakan satu tangan. Sedangkan tangan lainnnya tidak berniat melepaskan genggamannya dari tangan Azka.
“Kak, mau ambil apa?” Azka menyampingkan tubuhnya berusaha membantu. Ia mencoba melepas tangannya dari genggaman Rasya, tapi genggaman itu tertahan oleh Rasya “Kak, lepas dulu”
“Aku bisa kok. Ini ambil berkas doang” jawab Rasya tersenyum.
__ADS_1
“Ya tapi itu kesulitan, sini aku bantu. Lepas dulu tangan aku. Aku aja yang ambilin” ucap Azka bersikeras. Rasya melepaskan genggamannya, membiarkan Azka membantunya. Azka dengan mudah meraih map berisi berkas daftar ulang yang dimaksud.
Hampir dua jam mereka menunggu antrian dengan kondisi berdiri. Azka merasa lelah, tapi Ia berusaha untuk tak menunjukkannya. Karena Ia tahu, Rasya lebih lelah dari dirinya. Siapa yang akan kuat berdiri dengan kaki palsu selama dua jam tanpa henti? Azka melirik ke arah Rasya yang sudah sedikit pucat. Peluh membulir di ujung-ujung dahinya.
“Kak?” panggil Azka sedikit khawatir.
“Iya?” jawabnya masih menyunggingkan senyum.
“Kamu cape? Aku aja yang antri. Kamu duduk di sana” Azka menunjuk satu buah kursi yang tak jauh dari mereka.
“Enggak apa-apa. Aku emang harus antri di sini. Kan aku yang mau kuliah”
“Tapi kamu pucet” ucap Azka tidak sabar.
“Kamu aja sana yang duduk” perintah Rasya yang segera mendapat gelengan kepala sebagai jawaban.
“Kamu tunggu di sini, aku beli minum dulu ya”
“Aku cari dulu yang jualan. Aku gak ngerti disini dimana yang jual” Azka sudah berjalan meninggalkan Rasya. Ada raut tak rela, tapi mungkin memang harus begitu. Mereka belum menyentuh air sejak kedatangan mereka di sana.
Azka sungguh mengutuk kampus ini. Kenapa tidak ada kursi untuk antrian registrasi? Kenapa tidak ada lajur khusus untuk yang berkebutuhan khusus? Kenapa? Bahkan tidak ada penyedia air minum meski itu adalah pedagang asongan. Azka berputar putar di sekeliling gedung, tidak Ia temukan satupun penjual air minum.
Azka kembali setelah membeli dua botol air mineral di dekat jalan keluar kampus. Azka sudah hampir pingsan karena harus berjalan sangat jauh. Parah sekali penataan kampus ini, begitu pikir Azka. Ia berlari menuju gedung tempat Rasya registrasi. Ia melihat Rasya sedang menyerahkan berkas-berkas itu ke loket. Azka memilih menunggu di sebuah kursi yang entah mengapa tidak berpenghuni.
Rasya berjalan ke arahnya dengan senyum mengembang. Ia sudah selesai registrasi ulang dan membawa beberapa berkas yang harus Ia bawa pulang sebagai tanda bukti saat masuk kuliah pertama kali.
“Udah” ucapnya sumringah
__ADS_1
“Minum dulu” ucap Azka menyodorkan satu botol air mineral yang sudah Ia buka terlebih dahulu. Dirinya berdiri, mensejajari posisi Rasya di hadapannya. Rasya menerima botol air itu dan meneguk airnya dalam tiga tegukan besar.
“Kamu nyari minum sampe kemana?”
“Ke gedung fakultas managemen dan bisnis” jawab Azka menutup botol yang diserahkan Rasya padanya.
“Serius?” Rasya terbelalak, “Jauh dong?”
“Hehe, iya. Jauh banget. Kaki aku mau copot” jawab Azka asal
“Pantesan kamu sampe keringetan gini” Rasya mengangkat tangannya untuk mengusap peluh yang mengalir di wajahnya. Azka terlihat sedikit kacau dengan keringatnya yang banjir itu. Selesai mengusap keringat Azka, Rasya menarik Azka untuk duduk kembali.
“Kamu cape? Aku masih harus ke bank. Apa kamu tunggu sini aja?” tanya Rasya khawatir. Ia bertanya seolah dirinya tidak merasakan lelah yang ada. Padahal wajahnya begitu pucat.
“Enggak Kak. Kita ke sana sama-sama. Kalo kamu ke sana trus aku di sini—“
“Kita kan masih memandang langit yang sama Dek”
Plak!
“Idih, gombal. Bukan itu!” Azka gemas sekali dengan pemuda di depannya ini. “pokoknya kita kesana bareng-bareng. Selesai dari itu, kita pesen taksi ajalah. Aku gak tega liat kamu jalan sejauh ini” Azka sudah mulai bersungut.
“Bilang aja kamu yang cape” Rasya menyentil hidung mungil Azka dengan gemas.
“Enggak dih! Aku gak cape. Aku cuma kasian sama kamu”
“Kamu lupa, aku pernah bilang kalo Aku hidup gak perlu kasihani orang lain” ucapnya sombong.
“Dih sombong! Aku tinggal deh, kan gak butuh aku kasihani” Azka meleos bangkit dan pergi begitu saja.
__ADS_1
“Eh, Dek? Kok kabur?” Rasya ikut bangkit dan menyusul Azka. “Dek! Tungguin aku. Astaga.. anak ini gak bisa di ajak bercanda amat”