Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 39


__ADS_3

Hari demi hari telah berganti, kini Azka dan semua siswa kelas 12 telah dinyatakan lulus dari sekolah yang menjadi tempat mereka bersimbah peluh selama tiga tahun terakhir. Ternyata benar, hasil tak akan pernah mengkhianati proses. Kerja keras mereka selama beberapa bulan terakhir, terjawab sudah dengan pengumuman ini. Dari mulai les setiap hari, pemantapan di sekolah, konsultasi karir dan jurusan, serta kegiatan-kegiatan lainnya yang menguras waktu, tenaga, pikiran, dan masa muda mereka itu kini hanya akan menjadi kenangan dan pelajaran. Pelajaran bagi mereka dalam menjalani hidup kedepannya.


“Gue bakal kangen deh sama kalian” ucap Azka pada teman-temannya.


“Gue juga. Meski kita gak sekelas dari kelas sepuluh, tapi apa yang kita lewatin bareng-bareng selama ini berarti banget” saut Risa.


“Kalian jangan lupain Ncy yaa” Ncy sudah mulai menangis. Wede, teman yang menjadi gengnya di kelas XI IPA 1 dulu menepuk-nepuk bahunya pelan.


“Setelah ini gak ada lagi dua belas ipa satu yang katanya paling pinter, dua belas ipa empat yang katanya ips nya anak ipa” Ucap Uni, teman sekelas Azka dan Risa di dua belas IPA 4. “dan setelah ini, Gue bakal kangen banget sama kaliiiaaan dua belas ipa empat! yang udah jadi motivator Gue selama satu tahun ini” tambahnya dengan suara yang sudah bergetar.


“Ternyata waktu cepet banget berlalu ya. Terlalu banyak kejadian yang bikin Gue gak akan lupa sama masa SMA Gue” ucap Azka merangkul Risa dan Wede yang ada di kanan dan kirinya. Lalu semua teman-teman cewek sekelasnya di dua belas ipa empat itu melakukan hal yang sama.


“Ya Allah, apaan ini woy?” Jefri yang baru masuk dengan rombongan cowok-cowok dua belas ipa empat itu berhasil merusak suasana sedih dan haru yang ada.


“Ya elah Bang. Lagi sedih ini!” Uni sewot melemparkan spidol ke arah Jefri yang biasa dipanggil Abang itu


“Ya maaf, lagian peluk-pelukan gak ajak-ajak” Jefri tertawa pelan.


“Abaaaang!!!!!” teriak cewek-cewek itu.


Mereka pun akhirnya larut saling mengenang masa-masa SMA yang sudah mereka jalani. Terselip kata maaf dan harapan bahwa mereka akan berkumpul lagi suatu hari nanti. Dengan kondisi berbeda, dengan kesuksesan mereka masing-masing.


---


5 Tahun kemudian,


“What? Reunian? Serius?” ucap Azka di balik sambungan telponnya dengan Ocha


“Yoi Ka, dateng laah. Cuti-cuti” ajak Ocha bersemangat


“Iih mau banget. Siapa aja yang bakal dateng? Udah kangen sama kalian semua”


“Makanya cuti. Gue udah ngehubungin Risa dan Fabel. Mereka bakal dateng, Iren juga. Alfan gausah ditanya, bahkan dia yang ikut ngurusin ini” jelas Ocha panjang lebar


“Insya Allah.. mudah-mudahan Gue bisa dapet cuti” jawab Azka penuh harap “Kak Rasya bakal dateng nggak ya?” tanya Azka pada Ocha


“Dia gak akan dateng karena Lo dateng, hahahaha” Ocha tertawa riang sekali


“Kampr*t Lo Cha! Eh serius, dia bakal dateng nggak?” Azka sungguh penasaran


“Enggak kayaknya. Dia tuh ngilang banget loh dari peredaran. Padahal kan dia kuliah disini, gak kayak kalian yang nyebrang ke luar pulau. Tapi beneran deh, sejak Lo bilang kalo Lo berdua udah bener-bener pisah gitu, dia udah gak pernah nyaut apa-apa. Dia cuma sering ngobrol sama anak-anak yang satu jurusan sama dia” Ocha yang memang tinggal di satu kota dengan Rasya hampir tau banyak tentang perkembangan Rasya dan teman-temannya yang lain yang juga tinggal di kota yang sama.


“Ooooh, gitu yah. Yaudah deh.. semoga sikapnya bukan dendam ke Gue ya, hehehe” Azka tertawa. Tapi dalam hati dan pikirannya Ia sedang terbang ke sebuah kenangan. Dimana akhirnya Azka memutuskan untuk tidak lagi berhubungan lebih dari sekedar berteman dengan Rasya.


Hari itu Rasya sungguh terluka. Azka dan Rasya selama ini bersikap seperti terikat janji untuk saling menghampiri. Tapi nyatanya, LDR yang mereka jalani cukup membuat ikatan janji itu sedikit mengendur. Rasya menjalin kedekatan dengan seorang gadis yang Ia temui saat KKN. Sedangkan Azka, Ia juga tengah dekat dengan seseorang yang Ia temui di suatu organisasi. Selain itu, seperti biasa Azka sungguh disibukkan dengan segala aktivitasnya dalam organisasi dan mengajar. Hal ini membuat keduanya menjadi tidak punya waktu untuk berkomunikasi, ketika berkomunikasi pun, rasanya sudah tak sama dengan dulu.


“Kak, aku mau ngomong” Azka memulai percakapan saat sambungan telpon itu diterima.


“Ngomong apa?”jawab Rasya santai.


“Kak, gimana kalo ternyata sekarang aku gabisa lagi berhubungan sama kamu?” tanya Azka to the point


“Kenapa? Kamu mau pergi sekali lagi dari aku Dek?”


“Emmmh—” Azka menggigit bibirnya, mencoba mengatur nada suaranya yang bergetar.


“Kenapa?”


“Aku mau seriusin kerjaan aku disini, aku juga mau seriusin hubungan aku sama seseorang disini” jawab Azka sedikit takut.


“Siapa?”


“Nanti kamu juga tau Kak” Jawab Azka singkat


“Kenapa gak bisa serius sama aku yang udah lebih dulu serius sama kamu?” tanya Rasya masih dengan suara nya yang tenang

__ADS_1


“Aku juga gak tau kenapa Kak, tapi aku yakin, kita akan dapat kehidupan yang lebih baik setelah ini” Ia menjeda kalimatnya "Aku berharap kamu bisa berakhir bahagia dengan Nadin" Rasya terkejut ketika Azka menyebutkan nama itu.


"Kak, kamu harus tau satu hal. Aku selalu sayang sama kamu. Tapi aku merasa bahwa ini memang saat dimana aku harus berhenti. Aku yakin kamu bakal bahagia meski gak sama aku"


“Kamu serius Dek?”


Lama Azka terdiam, Ia mengatur perasaannya sebelum berucap “Aku gak pernah lebih serius dari ini”


Mereka pun saling memutus sambungan telepon. Menyesapi segala perasaan yang tengah menghampiri keduanya. Azka tidak bisa memungkiri, sepertinya Ia terlalu menyayangi pemuda itu, sehingga air mata terus saja membasahi pipinya. Tapi ini adalah pilihan yang ingin Ia pilih.


Di tempat lain, Rasya sudah bersandar di punggung kursi dengan lemah. Ia bertanya-tanya apakah selama ini Ia salah telah merasa nyaman berdekatan dengan Nadin? Seseorang yang Ia temui saat mereka berada dalam satu kelompok KKN. Rasya merasa Ia harus meyakinkan dirinya. Apakah memang Ia bisa melepaskan Azka begitu saja sesuai permintaan gadis itu?


Suara dering telepon yang sudah entah berapa kali berbunyi membuat Azka mau tidak mau meraih ponselnya yang berada di seberang meja belajarnya. Di layar benda tipis itu sudah tertera nama ‘Kak Rasya’ yang membuat jantung Azka seketika menjadi tidak normal. Sudah tiga hari Ia menolak semua panggilan yang Rasya lakukan. Semata-mata hanya untuk meyakinkan dirinya dan tidak lagi kalah dengan perasaan bersalahnya. Tapi kemudian suara pesan masuk yang pesannya ter pop up di layar membuat Azka menghela nafasnya pelan.


-Rasya-


Angkat sekali ini aja. Aku harus ngomong sesuatu sama kamu. Sekali ini aja.


Suara dering telpon kembali berbunyi, memunculkan nama yang sudah berkali-kali tertulis di sana. Azka menggeser tombol hijau di layar yang membuat suara seseorang terdengar, Rasya.


“Halo”


“Dek” panggilnya lagi


“Ada apa Kak?”


“Aku mau bertanya sesuatu sama kamu, dan tolong jawab dengan jujur” Rasya segera mengutarakan apa yang ingin Ia ucapkan.


“Hem” Azka hanya berdehem malas.


“Dek, apa kamu yakin bener-bener mau selesai dengan ini semua?”


“Apa kamu yakin kalo pilihan kamu saat ini gak akan membuat kamu menyesal?” tambahnya lagi.


“Apa kamu akan baik-baik aja?” Rasya menanyakan hal lain, yang justru membuat Azka merasa Iba dengan dirinya sendiri. ‘Azka, kamu lihat? Dia justru menanyakan apakah kamu akan baik-baik saja alih-alih mengkhawatirkan perasaannya’ dan Azka meringis memikirkannya.


“Aku akan baik-baik aja, kamu gak perlu khawatir Kak” ucap Azka


“Apa aku masih bisa berharap sama kamu seperti ketika kita kelas sebelas dulu?” tanyanya dengan suara yang bergetar.


Azka diam sejenak, ‘Kak, apa kamu menangis?’ namun Azka hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.


“Kamu jangan lagi berharap dengan hubungan ini Kak. Aku yakin kamu akan bahagia dengan seseorang disana, meski kita gak akan pernah tau akhirnya seperti apa. Tolong untuk sekarang, aku mohon kita bisa saling melepaskan” ucap Azka mantap.


“Apa jika nanti kita berjodoh kamu akan menerima aku lagi?”


“Kak, sekarang aku gak mau berandai-andai. Tapi kalo ternyata kita berjodoh, dan harus bertemu lagi. Yang akan aku lakukan pertama kali adalah minta maaf sama kamu” Azka menghela nafas perlahan.


“Kalo kamu udah yakin dengan jawaban kamu, aku bisa apa? Hmhh, aku akan mencobanya juga. Tolong jangan lagi muncul, sampai aku merasa yakin aku udah baik-baik aja” Rasya memutus sambungan telponnya.


“Semoga kita baik-baik saja”


-Azka-


“Semoga aku akan baik-baik saja seperti katamu”


-Rasya-


“Halo, Ka, jadi gimana? Lo masih disana kan?” suara Ocha diseberang telepon terdengar membuat Azka tersadar dari lamunannya.


“Eh, iya gimana-gimana Cha?” jawab


“Sial Lo Ka. Sempet-sempetnya ngelamun. Gue masih di sini woy! Ini pulsa jalan kels” Ocha mulai sewot.


“Sorry-sorry, jadi gimana Cha?”

__ADS_1


“Ah Lo mah, yaudah nanti Gue kirim undangan reuninya ya. Line Lo masih yang lama kan?” 


“Whatsapp aja Cha. Nomor Gue gak ganti kok”


“Oke, bye. Sampai ketemu” ucap Ocha mengakhiri percakapan mereka.


“Bye” saut Azka lalu mematikan sambungan telponnya.


“Apa mungkin kita bisa bertemu lagi Kak?” Azka bergumam.


---


Rasya tengah membereskan barang-barangnya di kosan yang sebentar lagi akan Ia tinggalkan. Setelah Ia memutuskan untuk mencoba melamar pekerjaan baru di Depok, Ia harus pindah dari kosan itu, juga dari kotanya. Meskipun Ia belum menerima surat panggilan lagi sejak panggilan wawancara yang pertama. Saat Ia sedang membereskan laci mejanya, selembar kertas terjatuh di kakinya. Rasya melirik ke arah kertas itu, lalu memicingkan mata sambil menebak-nebak kertas apa itu.  Rasya mengambil selembar kertas itu, ketika Ia membaliknya Rasya sungguh terkejut. Itu adalah sebuah tiket perjalanan. Tiket perjalanan ke Bandung yang akan berakhir masanya sekitar dua bulan lagi.


“Apa sekarang Gue harus gunain tiket ini?” gumamnya


Ia meletakkan tiket itu pada tumpukan buku di atas kasur. Ia sedikit berpikir apakah saat ini adalah saat yang tepat untuk menuju ke kota itu. Apakah Ia akan bertemu gadis yang memberi tiket itu sesuai dengan rencana dua tahun lalu?


Ia meneruskan aktivitasnya, mencoba membuang bayangan kenangan yang tanpa permisi masuk ke ruang di kepalanya. Tapi kenangan itu begitu liar memutar setiap adegan seperti layar tancap di kepalanya.


“Kak, kalo aku bisa dapet IP 4 Kak Rasya mau kasih apa?” tanya gadis itu sumringah. Ia baru saja menjejakkan kaki di kotanya. Setelah dua belas jam perjalanan yang melelahkan.


“Apa aja yang kamu mau bisa aku kasih” jawab Rasya enteng sambil membawa tas ransel si gadis yang tidak terlalu berat.


“Serius? Apapun?” tanya nya lagi.


“Aku aja aku kasih kalo kamu minta Dek” jawab Rasya terkekeh.


“Dih, ngeselin” gadis itu memukul lengan Rasya pelan


“Ya apa lagi yang lebih besar dari pada ngasih diri sendiri sebagai hadiah?”


“Seberharga ituuu ya Kak, hahahhaa”


“Dasar kamu”


“Tapi kalo kamu gak dapet IP 4 berarti aku dong yang boleh minta sesuatu?” senyum jail tersungging dari bibir Rasya.


“Gak ah, gak boleh minta. Tapi aku mau kasih kamu tiket perjalanan ke Bandung. Biar kamu kesana aja nemuin aku"


“Serius???” tanya Rasya membolakan matanya


“Serius”


“Deal?”


“Deal!!” Keduanya berjalan beriringan menuju motor matic berwarna merah yang terparkir di antara banyak motor lainnya.


“Kak, aku IP nya turuuun” ucap gadis itu bersedih melalui sambungan telepon.


“Asik. Berarti aku dapet tiket nih”


“Kak!!!” gadis itu berteriak kesal


“Ehehehe, bercanda. Kok bisa seorang Azkania IP nya turun?”


“Gak tau, kayaknya aku gak fokus semester ini” ucapnya lesu.


“Makanya jangan mikirin aku terus” Rasya malah terus menggodanya.


“Kak Rasyaaaa!!!!” teriakan gadis itu menjeda percakapan mereka.


“Iya iyaaa. Jadi gimana dong? Sini cerita sama aku” ucapnya mengantar gadis yang bernama Azkania itu bercerita panjang lebar mengeluhkan IPnya.


Begitulah tiket itu kemudian dikirimkan setahun setelahnya. Hanya selang beberapa bulan sebelum akhirnya mereka berpisah. Entah untuk apa tiket itu saat pertama kali Rasya menerimanya. Karena Rasya sudah meminta untuk tidak lagi bertemu bahkan sebelum tiket itu digunakan. Tapi kali ini, apakah tiket itu benar-benar harus Ia gunakan sebelum habis masa berlakunya?

__ADS_1


__ADS_2