Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
EP-AR 17


__ADS_3

Katakanlah bahwa Azka jenuh dengan semua ini. Hubungan yang selama ini terjadi ternyata tak menjadi sebuah kepastian bahwa hati tak lagi terbagi. Hati tak bisa terpaksa. Meski di coba sekuat apapun, nyatanya tetap tak bisa. Dulu, cinta, sayang, semua bisa dirasakan. Namun kini semua terasa berkurang.


Hari itu Rasya sungguh terluka. Bukan, bukan hanya Rasya, tapi Azka juga terluka dengan keputusannya. Azka dan Rasya selama ini bersikap seperti terikat janji untuk saling menghampiri. Tapi nyatanya, LDR yang mereka jalani cukup membuat ikatan janji itu sedikit mengendur.


Katakanlah bahwa jarak membuat keduanya membutuhkan sosok lain yang hadir. Rasya menjalin kedekatan dengan seorang gadis yang Ia temui saat KKN. Sedangkan Azka, Ia juga tengah dekat dengan seseorang yang Ia temui di suatu organisasi. Selain itu, seperti biasa Azka sungguh disibukkan dengan segala aktivitasnya dalam organisasi dan mengajar. Hal ini membuat keduanya menjadi tidak punya waktu untuk berkomunikasi, ketika berkomunikasi pun, rasanya sudah tak sama dengan dulu.


“Kak, aku mau ngomong” Azka memulai percakapan saat sambungan telpon itu diterima.


“Ngomong apa?” jawab Rasya santai.


“Kak, gimana kalo ternyata sekarang aku gabisa lagi berhubungan sama kamu?” tanya Azka to the point.


"maksud kamu?"


"Aku-- mm.. Kamu ngerasa gak sih Kakhubungan kita semakin hambar. Semakin gak ada rasanya sejak setahun ini. Kita kayak cuma formalitas gitu saling kirim kabar sesempatnya, ketemu juga enggak. Kamu ngerasa jenuh gak sih Kak?" Azka bergetar mengatakannya. "Jadi, bukannya bagus kalo kita mulai dunia baru dengan orang-orang baru?"


“Kenapa? Kamu mau pergi sekali lagi dari aku Dek?”


“Emmmh—” Azka menggigit bibirnya, mencoba mengatur nada suaranya yang bergetar.


“Kenapa?”


“Aku mau seriusin kerjaan aku disini, aku juga mau seriusin hubungan aku sama seseorang di sini” jawab Azka sedikit takut.


“Siapa?”


"Aku juga belum tau siapa, tapi aku emang lagi deket sama temen aku yang aku ceritain sama kamu. hemmm, saking sakitnya hubungan kita, aku sampe bisa cerita tentang orang yang akan masuk jadi orang baru diantara kita" Azka terkekeh. "Meskipun kamu gak cerita tentang temen KKN kamu, tapi nyatanya aku sepertinya tau kamu nyaman sama dia" Azka mendengar napas tak beraturan mulai muncul di seberang telepon.


"Aku mau coba untuk serius dengan dia Kak, meskipun aku belum tau akhirnya akan seperti apa" Azka memberanikan diri.


"Siapa??"


“Nanti kamu juga tau Kak” Jawab Azka singkat

__ADS_1


“Kenapa gak bisa serius sama aku yang udah lebih dulu serius sama kamu?” tanya Rasya masih dengan suaranya yang tenang. Meski ada ribuan udara yang berebut ingin keluar dan masuk secara tak beraturan ke dalam rongga dadanya.


“Aku juga gak tau kenapa Kak. Maaf kalo aku gak bisa ngatasin rasa jenuh aku. Aku gak niat untuk nyakitin kamu. Tapi, meskipun kita keliatan manis-manis aja selama ini. Nyatanya kita gak bisa lagi ngerasa kalau itu manis kan? Aku yakin, kita akan dapat kehidupan yang lebih baik setelah ini” Ia menjeda kalimatnya "Aku berharap kamu bisa berakhir bahagia dengan Nadin" Rasya terkejut ketika Azka menyebutkan nama itu.


"Kak, kamu harus tau satu hal. Aku selalu sayang sama kamu. Tapi aku merasa bahwa ini memang saat dimana aku harus berhenti. Aku yakin kamu bakal bahagia meski gak sama aku"


“Kamu serius Dek?”


Lama Azka terdiam, Ia mengatur perasaannya sebelum berucap “Aku gak pernah lebih serius dari ini”


Mereka pun saling memutus sambungan telepon. Menyesapi segala perasaan yang tengah menghampiri keduanya. Azka tidak bisa memungkiri, sepertinya Ia terlalu menyayangi pemuda itu, sehingga air mata terus saja membasahi pipinya. Tapi ini adalah pilihan yang ingin Ia pilih.


Di tempat lain, Rasya sudah bersandar di punggung kursi dengan lemah. Ia bertanya-tanya apakah selama ini Ia salah telah merasa nyaman berdekatan dengan Nadin? Seseorang yang Ia temui saat mereka berada dalam satu kelompok KKN. Rasya merasa Ia harus meyakinkan dirinya. Apakah memang Ia bisa melepaskan Azka begitu saja sesuai permintaan gadis itu? Berkali-kali Ia coba menghubungi Azka. namun hasilnya tetap sama. Ditolak.


Berkali-kali juga Azka membiarkan ponselnya mati. Atau Ia tinggalkan di kosan begitu saja. Ia tidak menyangka bahwa mengambil keputusan ini, bisa membuat hatinya bergetar hebat. Seperti ada sesuatu yang dipaksa lepas saat Ia sudah menancapkan akarnya di dalam sana. Ia bahkan sering kedapatan oleh Saga, rekannya di BEM, tengah menangis tersedu di salah satu ujung ruangan.


Azka merasa dirinya menjadi orang paling jahat sedunia. Namun lagi-lagi, Ia sudah menentukan pilihannya. Azka tidak ingin bertahan hanya karena dirinya merasa kasihan dan tak mau menyakiti. Karena hubungan tidak akan sehat jika hanya dilandasi oleh ketakutan. Bukankah setiap orang tidak akan selamanya sempurna untuk tidak menyakiti? Dan rasa takut untuk menyakiti yang terlalu besar, justru mengoyak semuanya dari dalam. Dari bagian yang tak pernah terlihat.


Suara dering telepon yang sudah entah berapa kali berbunyi membuat Azka mau tidak mau meraih ponselnya yang berada di seberang meja belajarnya. Di layar benda tipis itu sudah tertera nama ‘Kak Rasya’ yang membuat jantung Azka seketika menjadi tidak normal. Sudah tiga hari Ia menolak semua panggilan yang Rasya lakukan. Semata-mata hanya untuk meyakinkan dirinya dan tidak lagi kalah dengan perasaan bersalahnya. Tapi kemudian suara pesan masuk yang pesannya ter pop up di layar membuat Azka menghela napasnya pelan.


-Rasya-


Suara dering telpon kembali berbunyi, memunculkan nama yang sudah berkali-kali tertulis di sana. Azka menggeser tombol hijau di layar yang membuat suara seseorang terdengar, Rasya.


“Halo”


“Dek” panggilnya lagi


“Ada apa Kak?”


“Aku mau bertanya sesuatu sama kamu, dan tolong jawab dengan jujur” Rasya segera mengutarakan apa yang ingin Ia ucapkan.


“Hem” Azka hanya berdehem malas.

__ADS_1


“Dek, apa kamu yakin bener-bener mau selesai dengan ini semua?”


“Apa kamu yakin kalo pilihan kamu saat ini gak akan membuat kamu menyesal?” tambahnya lagi.


“Jawaban untuk itu semua adalah Ya, Kak. Aku yakin aku gak akan menyesal dengan semua pilihan aku Kak” jawab Azka lugas. Ada sedikit linu di dalam sana. Namun Ia tahan sekuat tenaga.


“Apa kamu akan baik-baik aja?” Rasya menanyakan hal lain, yang justru membuat Azka merasa Iba dengan dirinya sendiri. ‘Azka, kamu lihat? Dia justru menanyakan apakah kamu akan baik-baik saja alih-alih mengkhawatirkan perasaannya’ dan Azka meringis memikirkannya.


“Aku akan baik-baik aja, kamu gak perlu khawatir Kak” ucap Azka


“Apa aku masih bisa berharap sama kamu seperti ketika kita kelas sebelas dulu?” tanyanya dengan suara yang bergetar.


Azka diam sejenak, ‘Kak, apa kamu menangis?’ namun Azka hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.


“Kamu jangan lagi berharap dengan hubungan ini Kak. Aku yakin kamu akan bahagia dengan seseorang di sana, meski kita gak akan pernah tau akhirnya seperti apa. Tolong untuk sekarang, aku mohon kita bisa saling melepaskan” ucap Azka mantap. Susah payah dirinya mendorong getir di hati, ragu di dada.


“Apa jika nanti kita berjodoh kamu akan menerima aku lagi?”


“Kak, sekarang aku gak mau berandai-andai. Tapi kalo ternyata kita berjodoh dan harus bertemu lagi. Aku yakin kita gak akan sanggup untuk menolaknya. Masalah jodoh itu masalah Tuhan Kak. Hanya saja, kalo aku akan ketemu kamu lagi, yang akan aku lakukan pertama kali adalah minta maaf sama kamu” Azka menghela napas perlahan. "Maaf Kak. Maafin aku" Bahkam tanpa menungu bertemu pjn rasa bersalah itu kembali muncul ke permukaan. Kata maaf pun tak terelakkan.


"Kamu harus bahagia di sana Kak. Aku percaya kamu--" kalimat Azka tersendat.


“Kalo kamu udah yakin dengan jawaban kamu, aku bisa apa? Hmhh, aku akan mencobanya juga. Tolong jangan lagi muncul, sampai aku merasa yakin aku udah baik-baik aja” Rasya memutus sambungan telponnya. Sebelum mendengar tanggapan Azka.


"Kak?" Lirih Azka dengan ponsel masih menyala di sebelah telinganya. Sambungan telepon sudah berakhir. Dan kalimat terakhir Rasya membuat dirinya limbung seketika.


Apa Kak Rasya bahkan tidak ingin bertemu? Apa Kak Rasya bahkan akan mengakhiri semuanya tanpa sisa? Bahkan untuk sekedar menjadi teman? Tidak. jawabannya adalah TIDAK.


Rasya sudah mencoba memperbaiki semua, namun sudut-sudut hati mereka yang telah berubah tanpa disadari memaksanya untuk berbuat demikian. Rasya tidak akan lagi menemui gadis itu. Ia sudah selesai. Ia akan mengikuti apa yang Azka inginkan. Namun untuk itu semua, Ia tidak bisa jika harus masih menganggap Azka ada di sekitarnya. Ya, mulai sekarang Azka akan Ia anggap tidak ada.


“Semoga kita baik-baik saja”


-Azka-

__ADS_1


“Semoga aku akan baik-baik saja seperti katamu”


-Rasya-


__ADS_2