Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 15


__ADS_3

Berita


Akhir minggu ini dilalui Azka dengan rutinitas yang berbeda dari biasanya. Azka hanya rebahan sepanjang hari karena memang Mama meminta Azka untuk istirahat lebih banyak. Dua hari lalu Azka haid, dan seperti biasanya Azka akan sedikit merasakan sakit pada perutnya. Tapi kali ini berbeda, rasa sakit haid yang memang sudah sangat mengganggu diperparah dengan sakit lainnya. sudah dua hari ini Azka demam tinggi. Badannya selalu menggigil ketika malam datang, tetapi badannya juga dipenuhi keringat hingga pakaiannya basah. Sudah dua hari juga, Mba Ratna pulang untuk menemani Azka.


“Dek, Mbak mau beli cemilan. Mau nitip?”


“Emmm, masih pagi juga udah jajan”


“Mau nitip gakk??” ucap Mbak Ratna tidak sabar.


“Emang boleh?”


“Kalo gak boleh ngapain Mbak nawarin!” Mbak Ratna menghampiri Azka yang sedari tadi hanya rebahan di atas kasur sambil memainkan ponsel


“Ua kirain disuruh nitip sekalian sama duitnya. Hehehe Emmm, nyamnyam, sama yuppi?” pinta  Azka seperti anak kecil.


“Cemilan itu yang ganjel dikit. Nyamnyam sama yuppi apa kenyangnya!” ucap Mbak Ratna lagi


“Yaudah sama beliin roti coklat keju. Berat tuuuh roti, bikin kenyang” katanya sambil tersenyum


“Yaudah, Mbak pergi dulu sama Azura”


“Loh, Azura dibawa? Sendirian dong Adek?” tanya Azka bangkit dari posisinya


“Ya gak apa-apa, cuma ke Alf* depan kok. Masa Azka yang paling berani jadi cemen?” ejek Mbak Ratna


“Yaudah gausah lama-lama” ucapnya. “Eh iya, satu lagi. Azura jangan dibawa ke depan kasirnya. Nanti minta K*nderJoy!” katanya setengah berteriak


Azka membuka ponselnya, mengecek apakah ada pesan masuk atau tidak. Ternyata tidak ada. Baru saja Ia akan meletakkan ponselnya ke kasur, ponsel itu berdering


“Halo”


“Halo dek” 


“Kenapa Kak?”


"Gak papa. Gimana udah mendingan?” 


“Udah. Lumayan lah. Paling senin masuk”


“Bagus deh. Besok jangan main dulu walaupun masih hari minggu” 


“Iyaa”


"Mmm, lagi apa?” 


“Lagi tiduran aja. Pegel sebenernya disuruh tiduran mulu. Tapi lama-lama berdiri suka pusing” ucap Azka mulai mengeluarkan keluhan pada Rasya


"Gak boleh ngeluh. Baru sakit sedikit udah ngeluh. Makanya jangan bandel kalo disuruh makan” 


“Loh, emang ini karena aku gak makan? Bukan loh!”


"Kata siapa bukan? Kamu ini ngeyel!” 


“Hehehhee, iya iya maaf”


"Ada siapa dirumah?” 


“Ada Mbak sama Zura”


“Loh, Mama Papa kemana?” 


“Undangan. Trus ke tempat Emak”


“Oooh, yaudah udah dulu ya” 


“Iya”


“Cepet sembuh sayang”


“Idih, sayang-sayang!”


"Emang gak boleh? Kan emang beneran sayang”


“Udah tutup, katanya udah” jawab Azka ketus


“Ada ya orang yang disayang malah ngambek, hehehe” 


“Jadi gak udah nya?”


"Iya iya, bawell. Yaudah Assalamu’alaikum” 


“Wa’alaikumsalam”


Rasya mengakhiri sambungan telpon. Tak lama setelah Azka kembali merebahkan tubuhnya, terdengar suara sepeda motor memasuki rumah yang menandakan Mbak Ratna dan Azura sudah tiba. Azka bangkit untuk duduk dipinggiran kasur. Lalu berjalan perlahan menuju ruang keluarga.


“Mana nyam nyam Adek?” tanyanya saat Mbak Ratna memasuki pintu tengah


“Nyam nyam aja, cepet. Langsung sehat tuh kayaknya”


“Ehehehe, bosen Mbak, di kasur terus. Udah kayak orang abis ngelahirin”

__ADS_1


“Emang udah pernah ngelahirin?”


“Belum, ehehehe”


“Sok tau” Lalu mereka bertiga duduk menikmati makanan ringan yang tadi dibeli oleh Mbak Ratna


“Dih, beneran aja dia beli kind*r Joy!!”


“Byarin Sih, uuuu” ucap Azura dengan suara cempreng khas anak kecilnya


“Bagi-bagi berarti. Sini minta” ucap Azka seraya mencoba merebut bungkus coklat berbentuk oval seperti telur itu


“Enak aja. Huu beli ndiri dong. Ini punya Zura” ucap Adik kecilnya yang belum genap 5 tahun


“Iiiish, pelit. Huuu” ucap Azka meledek


“Byarin weee” Azura ikut meledek


“Hahahaha, tuh, Adekmu! Sama kelakuannya” ucap Mbak Ratna yang disusul tawa mereka bertiga.


---


Sejak telpon kemarin, Rasya tidak menghubungi Azka lagi. Sampai tadi pagi, Ia berkali-kali mencoba menelpon Rasya. Entah kenapa perasaannya tak enak. Ada perasaan yang membuat Ia ingin sekali berbincang dengan Rasya. Berkali-kali juga Ia mencoba mengirimi Rasya pesan, tetapi tidak dibalas, bahkan tidak sampai. Azka semakin gelisah.


“Dek, kenapa sih?”


“Kak Rasya, gak bisa dihubungin” ucap Azka pada Mbak Ratna yang sedang bersiap akan kembali ke kostan nya di tengah kota. Mbak Ratna tahu hubungan Adiknya itu dengan Rasya. Bahkan Mbak Ratna adalah orang yang pertama kali akan tau apapun yang terjadi pada Azka, apalagi berkaitan dengan hati.


“Udah coba telpon?”


“Udah Mbak, tapi gak aktif”


“Sejak kapan?”


“Tadi pagi. Tapi semalam juga gak chat sih. Terakhir Adek telponan pas Mbak sm Azura ke Alf*” ucapnya masih menggenggam ponsel dengan erat.


“Besok kan sekolah, ketemu nanti”


“Tapi perasaan Adek gak enak loh. Gak biasanya Kak Rasya gak bisa dihubungi. Kalopun gak ada paket, hape nya gak pernah mati. Biasanya juga pake hape Mamanya”


“Yaudah, hubungin Mamanya”


“Ih, gak mau. Kan biasanya Kak Rasya yang ngehubungin duluan kalo pake hape Mamanya”


“Ya gak papa, bilang aja hape dia gak aktif”


“Gak ah, malu”


“Iya” kata Azka sambil merapihkan kembali anak-anak rambut yang berantakan.


“Yok, anter ke luar. Papa udah nunggu”  Azka mengikuti Mbak Ratna keluar. Di halaman belakang Papa sudah siap di atas motor.


“Ayok Neng” ajak Papa kepada Mbak Ratna.


Setelah mencium tangan Mama untuk berpamitan, Mbak Ratna pun naik ke atas motor. Motor melaju menjauh mengantarkan Mbak Ratna ke po bis.


“Adek kenapa?”


“Enggak apa-apa Ma”


“Jangan bohong, Mama tau kalo anak Mama lagi gak tenang” kata Mama menarik Azka untuk duduk di ruang keluarga


“Enggak apa-apa Mah, cuma lagi khawatir”


“Khawatir sama siapa?” Mama bertanya penasaran, saat itu Azura datang dan melendot ke tangan Mama.


“Kak Rasya Ma, dari tadi gak bisa dihubungin. Terakhir telpon kemarin siang. Nomornya juga gak aktif” Azka menjelaskan.


“Mati kali hapenya. Trus dia lagi pergi, lupa bawa charger”


“Iya kali ya Ma”


“Udah, jangan berpikir negatif, nanti malah pusing sendiri. Inget, belum sehat bener. Katanya besok mau sekolah? harus sehat dong” ucap Mama menenangkan.


“Iya Ma” jawab Azka pasrah


“Besok di sekolah kan ketemu, tahan dulu kangennya” Mama mengedipkan sebelah matanya jail


“Bukan kangen Mamaaa” Azka bangkit menuju kamarnya karena malu


---


“Udah malem masa iya belum pulang sih?” Azka terus bergumam, masih dengan usaha menelpon dan mengirim pesan ke nomor kontak Rasya  “Kamu kemana sih kak??” Azka mulai semakin gusar. Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 tapi masih belum ada berita apapun dari Rasya, atau siapapun.


“Ya Allah, kemana sih ini anak. Bikin khawatir aja. Siapapuuuun yang tau Kak Rasya lagi dimana, tolong kabarin” Azka mendengus kasar. Ia sudah mulai frustasi, kepalanya juga mulai merasa pusing. Ia memutuskan merebahkan tubuhnya di kasur, masih dengan terus mencoba menelpon dan mengirim pesan. Entah sudah berapa banyak pesan yang Ia kirimkan, tapi tak kunjung terkirim. Sampai akhirnya karena kelelahan Azka terlelap.


---


“Kak, kamu kemana sih?”


“Aku gak kemana-mana”

__ADS_1


“Trus kenapa kamu gak bisa dihubungin?”


“Hape aku hancur, sama kayak tubuh aku sekarang”  Azka seketika terkejut ketika menyadari tubuh Rasya yang jauh dari kata baik-baik saja. Tubuhnya penuh luka, bercak darah terlihat dimana-mana. Kemudian Azka tersentak melihat kondisi motor Rasya yang sudah sangat rusak.


“Hmmmmh, beruntung aku masih bisa lihat kamu Kak. Lihat motor kamu, hancur begitu. Aku sangat bersyukur masih bisa ngeliat kamu” Azka mulai terisak, lalu Ia berjalan mendekat. Alih-alih mendekat, Rasya justru mundur perlahan menjauhi Azka


“Apa kamu bener-bener masih bersyukur melihat kondisi aku?”


“Apa?” Azka terkejut


“Mungkin aku gak bisa jadi Rasya yang dulu dengan tubuh aku yang hancur seperti sekarang” Rasya berbalik dan pergi, begitu saja. Azka memanggil, tapi Rasya tak bergeming dan terus melanjutkan langkahnya, hingga tubuhnya hampir tak terlihat…


“Astaghfirullah!!!” Azka terjaga dari tidurnya. Bayangan mimpi itu masih terus berputar di kepala nya. Tanpa sadar air mata menetes dari ujung matanya.


Sejak terjaga dari tidurnya, Azka merasa demamnya sudah sedikit membaik, meskipun suhu tubuhnya masih 37,7 derajat Celcius. Masih demam, tapi tak separah sebelumnya. Entah karena Ia terlalu memikirkan Rasya hingga tubuhnya terasa baik-baik saja, atau memang Ia sudah baik-baik saja?. Rasanya mimpi yang Ia alami begitu nyata, membuat Ia semakin gelisah dan ingin segera sampai ke sekolah. Azka memilih untuk mengecek tas sekolahnya. Buku-buku sudah tertata rapih, tugas juga sudah Ia kerjakan. Hanya tinggal menghitung mundur 2 jam kedepan, maka Ia akan berangkat ke sekolah, lebih awal. Ia mengambil wudhu, shalat malam lalu mengaji menunggu waktu subuh. Azka tidak begitu khusyuk mengaji, sesekali Ia berhenti dan mengecek kembali ponselnya. Rasanya sudah hampir setengah gila tidak mendapat kabar jelas dari Rasya.


Setelah adzan subuh berkumandang, Azka mengantar Papa ke pintu depan untuk berangkat ke masjid. Lalu Ia menutup pintu dan kembali ke kamarnya setelah mengambil air wudhu. Ia shalat. Ia berdoa cukup lama, meminta keselamatan untuk Rasya, bayangan mimpi itu benar-benar menguasai pikirannya.


Pukul 06.00 Azka sudah siap. Ia memakai dua lapis jaket diluar baju seragam sekolahnya. Azka berpamitan dengan Mama dan Papa.


“Ma, Pa, Ade berangkat ya”


“Kok pagi sekali Dek?” tanya Papa


“Gak apa-apa Pa, kan hari senin” jawabnya sambil tersenyum


“Hati-hati ya Dek” ucap Mama.


“Yaudah Adek berangkat, Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam”  Namun ternyata Mama mengikuti hingga pintu depan.


“Dek” panggil Mama. Ketika Azka menoleh, Mama memasang wajah khawatir


“Adek gak apa-apa kok Ma” jawabnya mengerti kekhawatiran Mama


“Yaudah, hati-hati. Obatnya jangan lupa dimakan. Makan jangan telat ya” ucap Mama sambil mengelus punggung anaknya lembut


“Makasih ya Ma” Azka kembali mencium tangan Mama dan kemudian berjalan menuju gang rumahnya


Angkot yang Azka tunggu seolah datang lebih lama dari biasanya, kepalanya mulai pusing. Azka memejamkan mata sejenak, mencoba menghilangkan pusing dikepalanya. Akhirnya angkot berwarna biru yang Ia tunggu datang, di dalamnya masih relatif sepi karena ini masih pukul 06.00 pagi. Azka menyetop angkot tersebut lalu naik. Kurang lebih 10 menit kemudian Ia sampai di sekolah. Ia memberhentikan angkot dan kemudian turun. Ia berjalan ke samping pintu depan angkot untuk membayar. Azka lama berdiri disana setelah angkot tersebut melaju kembali. Ia melihat kanan dan kiri, jalanan begitu lengang. Ia memutuskan untuk menyebrang ke sekolah. Memasuki gerbang sekolah, Bang Odin tidak ada di tempat, sepertinya sedang ada di pos gerbang atas. Azka melaju lurus ke kelas paling ujung dekat gedung serbaguna. Hari ini kelasnya harus move ke ruangan itu.


Ruangan masih sangat sepi. Hanya terlihat Desi yang sudah duduk disana. Memang rumahnya sangat jauh, jadi wajar saja dia sudah ada di kelas sepagi ini.


“Hei Azka, sudah sehat?” sapa nya ketika Azka melewati pintu kelas


“Udah lumayan Des, cuma masih pusing. Masih menggigil juga sih.”


“Kenapa gak ijin?” tanyanya lagi


“Enggak ah, hehe. Hari Senin”


“Memangnya kenapa kalo hari Senin? Hahaha, kamu itu ada ada aja, mana ada orang sakit bisa milih hari” ucapnya. Azka hanya membalasnya dengan tersenyum, lalu duduk di bangku paling depan.


Satu persatu teman sekelas Azka berdatangan. Azka sesekali mengintip ke arah luar. Mengamati apakah Rasya datang dari arah gerbang. Sampai akhirnya Ia memilih berjalan ke luar menunggu Rasya datang ke kelas yang berselang 3 ruangan dengan kelas nya sekarang. Azka tak sadar Alfan sudah berdiri di sebelahnya.


“Nyariin siapa Ka?”


“Eh, Mas.. aku nyariin orang”


“Orang? Siapa?”


“Siapa cobaa” Azka mencoba bercanda, namun tak ditanggapi


“Kamu masih sakit?” tanya Alfan lagi


“Masih pusing dan menggigil” jawabnya masih memperhatikan ke arah gerbang atas


“Udah pake 2 jaket masih menggigil?” kali ini ada nada khawatir dalam ucapan Alfan


“Gatau nih, tapi gak apa-apa kok Mas” jawabnya lagi


“Pake sweater aku aja ini. Nanti gausah upacara ya” ucap Alfan sambil menyerahkan sweaternya pada Azka. Azka berbalik menerima sweater dari Alfan, dan kemudian Ia pakai di luar seragam sekolahnya. Dengan dua jaket yang tadi Ia gunakan menutupinya.


“Makasih loh Mas”


“Iya, Ayo masuk, disini banyak Angin Ka”


“Iya” Azka pun mengikuti Alfan masuk ke dalam kelas.


Tak lama setelah itu, Ocha datang tiba-tiba menyeruak kerumunan anak-anak yang akan menuju ke lapangan upacara.


“Azka mana, Azka mana??” tanya Ocha panik. Azka terkejut mendengar namanya disebut dengan nada panik luar biasa. Dan Ocha, kenapa dia begitu kalang kabut?


“Ka, Rasya Ka! Lo udah denger belum kabarnya?”


Azka terkesiap, matanya membulat sempurna “Kak Rasya kenapa Cha?” tanyanya panik. Seketika rasa khawatir kembali menyelimuti pikirannya. Bayangan mimpi semalam kembali berputar dikepalanya.


“Rasya kecelakaan Ka, tadi pagi ada beritanya di TV”


“Trus Kak Rasya gimana Cha? Dia gak apa-apa kan Cha?” Azka sudah tidak bisa menahan air matanya yang seketika membanjiri pipi chubbynya. Wajahnya yang pucat akibat sakit semakin membeku. Ocha terdiam, lamat-lamat Ia tatap mata penuh harap sahabatnya. Ia mendesah,

__ADS_1


"Gue gak tau pasti, tapi.." Ocha menjeda kalimatnya, "Salah satu dari mereka meninggal Ka” Ocha menunduk.


__ADS_2