
Mendapatkan (lagi?)
Sesampainya di rumah Ocha, Azka, Ocha, Risa, Iren masuk terlebih dulu. Seperti biasa, mereka menuju ruangan paling pewe di lantai dua. Beberapa menit kemudian Fabel dan Alfan menyusul masuk. Mereka mengambil tempat masing-masing. Duduk hampir melingkar meski pada sudut-sudut yang tak beraturan.
“Jadi..” Ocha menggantungkan kalimatnya memulai pembicaraan dengan suasana yang sungguh serius.
“Siapa yang lebih dulu mau ngomong?” lanjut Ocha ketika kelima temannya tak ada yang bersuara
“Gue” Azka akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.
“Yaudah, Lo mau ngomong apa Ka?” Ocha sudah seperti moderator acara talkshow.
“Gue mau bilang, Gue kesel sama Lo Mas!” Azka melempat pulpen yang ada di sakunya ke arah Alfan, Alfan menghindar lalu menatap Azka.
“Tapi Gue minta maaf ya Mas, sumpah yang tadi itu bukan Gue yang mau” ucap Azka menunduk “Gue aja kaget Achin panggil Gue ke IPS tiga!” ucap Azka sambil memilin ujung roknya masih menunduk.
“Udah lah, aku males bahas itu” Alfan akhirnya buka suara.
“Gue gak mau persahabatan kita ambyaaar cuma gara-gara masalah kayak gini. Gak banget tau gak?” Azka melihat sahabatnya satu persatu.
“Setuju Gue” timpal Risa.
“Iya, kita udah gak apa-apa sekarang. Aku harusnya memilih sikap dengan cepat dari masalah pertama . tapi aku masih bingung.”
“Lo gak harus mutusin dia kok Mas. Kita juga gak mau sih ngehalangin Lo sayang sama orang” ucap Azka.
“Iya, sebenernya kita gak masalah loh mau sama siapa aja Lo pacaran Fan, toh kita juga gak pernah saling larang selama dia baik” timpal Risa lagi.
“Jujur Gue ngerasa gak enak sih, maksudnya kalo Lo akhirnya putus sama dia, kesannya kita kayak orang egois banget. Tapi jujur Gue ga suka sama sikap dia. Sampe sekarang aja Gue bingung kenapa dia segitu bencinya sama kita. Bahkan akhirnya sikap dia sendiri yang justru ngebangunin rasa benci kita-eh Gue, jadi lebih besar dari benci dia ke Gue. Padahal sebelumnya Gue gak pernah benci sama dia” Risa menambahkan panjang lebar
“Tapi aku memang akan lebih milih kalian sih kalo memang harus disuruh milih” ucap Alfan yang membuat mereka semua mendongak ke arahnya
“Mas Alfan”; “Faaan” mereka semua menggumamkan nama Alfan. Fabel lebih dulu menepuk bahu Alfan dan merangkulnya. Azka, Risa, Ocha, dan Iren saling mendekat, mereka berangkulan.
“Gue mau kita terus kayak gini sampe kakek nenek guys” ucap Iren yang sudah sangat terharu. Semuanya menganggukkan kepala. Setelah beberapa saat mereka melepas rangkulan satu sama lain.
“Mas, tangan kamu gimana?”
“Lah emang tangan si Alfan kenapa?” Fabel langsung menelisik tangan sahabatnya itu, melihat apa ada yang aneh.
“Dia tadi ninju dinding di kelas IPS” jelas Azka
“Gila kaget Gue tadi, keras banget itu” ucap Ocha, “Mana Gue deket banget sama posisi dia lagi” tambahnya
“Coba sini liat tangannya” Azka menarik ujung seragam Alfan menyuruhnya mendekat
“Enggak, gak apa-apa kok. Sakit sih tapi” Alfan terkekeh memperlihatkan jari-jarinya yang sedikit memerah akibat tinjuannya pada dinding
“Lo sih sok-sok an Mas” ucap Azka meledek
“Lah siapa yang gak kesel ngeliat kalian saling berantem? “
“Udah udah, yang penting kita udah tau kan masalah kita itu ada dimana, dan kita udah saling memaafkan. Persahabatan kita akan seperti ini terus. Lain kali, kalo ada masalah, jangan dibiarin sampe berlarut-larut kayak gini yah. Sumpah Gue gak suka banget sama konyol-konyolan kayak gini” ucap Ocha yang sedari tadi larut dalam rasa lega, haru, dan bahagia.
“Iyaaa Cha, Iyaaa” Azka merangkul sahabatnya sambil menepuk-nepuk lengan Ocha dengan lembut.
“BTW, beli makanan laah, laper Gue” keluh Azka
“Tumben Lo laper Ka?” tanya Fabel
“Abis tenaga Gue Bel buat ngurusin hati” jawab Azka asal lalu mengambil ponselnya untuk dimainkan.
__ADS_1
Fabel bangkit, mengambil kunci motor yang tadi Ia letakkan sembarang dan pergi keluar untuk membeli makanan sesuai permintaan Azka.
“Tumben dia gercep” ucap keempat wanita di ruangan itu.
---
Sejak kejadian itu, kehidupan mereka sudah menjadi lebih normal. Tidak ada lagi yang namanya labrak melabrak. Sikap mereka juga sudah lebih terkendali, meskipun rasa benci dan kesal kadang seringkali masih mewarnai. Kehidupan percintaan mereka juga biasa-biasa saja. Risa masih bersama dengan Miko. Iren dengan Tyo masih seperti perangko, Fabel dan Ita juga sudah tidak malu-malu lagi jalan bersama. Ocha masih setia dengan gebetan masa lalunya, sedangkan Alfan kembali bersikap baik pada semua orang. Azka? Azka menjadi lebih sering bersama Alfan untuk ikut pemuda itu dan timnya berlatih nasyid. Perpisahan yang benar-benar terjadi antara dirinya dan Rasya sudah dirasa biasa saja. sedih dan kecewa mulai menguap begitu saja. Kedua nya masih sering bertegur sapa. Tekad Rasya untuk kembali pada Azka dan prinsip Azka yang tidak ingin menjadi musuh bagi mantan kekasihnya itu membuat hubungan keduanya baik-baik saja.
Azka yang sering mengikuti aktivitas Alfan latihan nasyid, justru membuatnya dekat dengan Juan. Terlepas dari Azka yang memang sempat terpesona dengan Juan, Juan adalah orang yang baik dan asik diajak bergaul. Juan orang yang santai tapi tegas, tidak neko-neko, apa adanya, dan sedikit lebih romantis dari Rasya. Sisi kejombloan Azka mulai sedikit terluluhkan dengan sikap Juan yang seolah mengistimewakan Azka.
“Minggu ada acara gak Nyil?” tanya juan saat mereka selesai dari latihan nasyid sepulang sekolah.
“Nggak ada, kenapa?” tanya Azka sambil memainkan ponselnya.
“Kita mau latihan sambil main di rumah Tama. Mau ikut?” ajak Juan.
“Dirumah Tama? Emang boleh ikut? aku cewek sendiri dong” ucap Azka.
Kedekatannya yang sudah beberapa bulan ini mengubah gaya bicara mereka berdua. Sapaan Gue-Lo yang biasa Azka gunakan sudah berubah menjadi aku-kamu.
“Ya boleh aja, ya nggak Bang?” tanya Juan pada Alfan yang masih duduk di salah satu kursi di ruang kelas yang mereka jadikan ruang latihan siang ini.
“Bebas. Kamu mau ikut Ka?” Alfan jadi balik bertanya pada gadis satu-satunya diantara mereka.
“Kalo boleh?” Azka mendongak mengalihkan pandangannya dari ponsel dengan layar yang masih menyala.
“Tapi kita biasanya latihan di kamar. Kamu gak apa-apa?” tanya Alfan ragu untuk mengajak Azka
“Ya kalo gitu gausah” ucap Azka kembali menunduk menatap layar ponselnya.
“Kita kan bisa latian di luar bang” Juan masih bertahan dengan niatnya mengajak Azka.
“Ya boleh aja” Alfan masih bersikap biasa saja.
“Gausah Bang, ntar biar saya aja yang jemput Mbak Azka” ucap Juan yang langsung mendapat lirikan tajam dari Nando, Riki, dan Tama
“Apaan sih yaelah ngeliatinnya gitu amat” Juan yang merasa mendapat tatapan tajam dari teman-temannya jadi salah tingkah.
Hari minggu, Azka sudah bersiap untuk ke rumah Tama. Ia dijanjikan oleh Juan untuk dijemput pukul sepuluh. Azka menunggu di ruang tamu. Ia mengenakan baju garis-garis berwarna pink hitam selutut dan rok hitam polos. Tas main dan sendal juga sudah Ia siapkan. Azka menunggu sambil memainkan ponselnya.
“Mau kemana kamu Dek?” tanya Mbak Tika saat melihat adiknya sudah rapih dengan polesan bedak tipis yang membuat wajah Adiknya cantik alami.
“Mau main sama Mas Alfan sama anak nasyid” jawab Azka.
“Dijemput Alfan?” tanya Mbak Tika lagi sambil menengok ke arah luar melalui jendela. Bertepatan dengan itu juan sampai. “Kayaknya bukan Alfan” tambah Mbak Tika.
“Emang bukan, itu Juan mbak. Baik loh dia” Azka memakai sendalnya dan menyampirkan tas ke lengan kanannya.
“Ooooh, jadi move on ke sono?” Mbak Tika menyelidik
“Gak tau deh, liat nanti” jawab Azka sambil nyengir
“Mbak, Adek berangkat dulu ya, bye” Azka melambaikan tangannya setelah salim dengan Mbak Tika.
“Pulangnya bawa makanan!” teriak Mbak Tika dari dalam. Azka hanya mengangguk lalu bergegas menghampiri Juan yang sudah melepas helmnya.
“Yok, udah siap kan?” Azka mengangguk dan mengambil helm yang diserahkan oleh Juan. Keduanya melaju di atas dua roda yang membawa mereka ke rumah Tama. Sesampainya di rumah Tama, Azka tercengang dengan bangunan di depannya. Rumahnya tidak terlihat besar, tapi kesan mewah sungguh terpancar bahkan hanya dari ukiran di pagarnya. Cat putih yang menutupi dinding-dindingnya membuat kesan ‘rumah bangsawan’ hadir disana. Yang menarik perhatian adalah taman kecil yang terawat dan rapih. Di tengah-tengah taman itu ada jalan setapak yang dipenuhi batu-batu kecil dan deretan bunga-bunga menuju pintu utama, sedangkan di samping taman itu, ada jalanan yang cukup lebar untuk lewatnya sebuah mobil dan atau motor menuju pintu garasi.
Azka dan Juan berjalan beriringan di jalan setapak itu, tapi alih-alih masuk menuju pintu utama, Juan justru membuka pintu pagar di sebelah bangunan itu. Sebuah pagar putih dengan gerendel yang unik. Dibaliknya ada jalan menuju ruangan yang Azka tebak adalah bagian dapur atau bagian belakang rumah ini. Ketika sudah sampai di ujung, ternyata benar, tempat pertama yang mereka masuki adalah ruang makan dengan dapur kecil di sampingnya. Atapnya dibiarkan transparan memperlihatkan awan yang berarak. Sinar matahari menyinari langsung ke tengah ruangan dimana terdapat sebuah meja dengan 5 kursi berkeliling. Mereka menaiki 3 undakan menyerupai tangga menuju pintu kaca besar dengan tirai berwarna cream. Juan membukanya,
“Woy Ju! Lama amat dari mana?” sapa orang dari dalam ruangan yang tak lain tak bukan adalah Tama. Terdengar suara bising dari dalam sana, ternyata ruangan itu kedap suara. Azka ragu untuk ikut masuk. Ia menunggu dan duduk di undakan teratas.
__ADS_1
“Ka, ayo masuk” Alfan mengintip dari balik pintu kaca
“Disini aja deh Mas, malu mau kesana” ucap Azka sambil mendongak ke arah wajah Alfan yang putih dan seolah bercahaya jika dilihat dari ruang makan yang dipenuhi sinar matahari itu.
“Masuk aja Mbak, Pintunya dibuka” ajak Tama setelah keluar dari pintu kamarnya. “Disini panas. Di dalem AC” tambahnya.
“Gue ambil minum dulu Bang, sama panggil Noura kalo dia ada di kamar, biar temenin Mbak Azka” Tama mengucapkannya sambil menuju ke arah pintu yang menghubungkan ruang makan dengan ruang keluarga.
“Ayok” ajak Alfan. Azka bangkit dan menuju kamar Tama.
“Pantesan kalian betah banget disini” Azka melihat-lihat setiap sisi kamar Tama yang juga didominasi warna putih. Kamar Tama sama seperti kamar laki-laki lainnya, simpel, tetapi karena mungkin Tama dibantu mengurus kamarnya oleh asisten rumah tangga, kamar ini menjadi sangat nyaman untuk ukuran kamar anak laki-laki.
Noura menyapa Azka ketika Tama membawa adik kecil itu ke kamarnya. Mereka akhirnya latihan di undakan depan kamar Tama, sedangkan Azka ditemani Noura yang masih kelas enam esde bercengkrama dengan sangat seru di dalam kamar Tama. Ternyata anak kecil itu sangat menyenangkan. Pengetahuannya luas, sehingga yang dibicarakan antara Azka dan dirinya tidak membosankan. Noura menceritakan penyanyi favoritnya, kegiatannya disekolah, cita-citanya, dan masih banyak lagi. Azka yang memang memiliki sifat supel sangat antusias mendengar celoteh Noura. Sampai akhirnya Noura bercerita bahwa Ia sangat ingin punya Kakak perempuan. Selama ini Ia tidak pernah bercerita seperti ini dengan siapapun.
“Kak, aku senang banget bisa cerita-cerita dengan kakak” Ucapnya setelah bercerita panjang lebar.
“Kakak juga senang mendengar cerita kamu. Kamu hebat, seperti nya cocok menjadi penulis” jawab Azka.
“Aku mau jadi dokter Kak, apa Noura bisa?” tanyanya dengan wajah penuh harap.
“Bisa dong. Apalagi untuk anak cerdas seperti kamu. Rajin belajar, banyak berdoa. Pasti impianmu akan terwujud” ucap Azka sambil mengusak puncak kepala Adik kecil itu.
“Makasih Kak” Ia berterimakasih dengan wajah berbinar.
“Sama-sama” ucap Azka tulus.
Mereka kembali mengobrol, sesekali Azka dan Noura tertawa, bercanda dengan bahagia. Dari balik pintu Juan memperhatikan kegiatan mereka.
“Cantik, menarik” ucapnya sambil tersenyum.
“Liat apaan Ju?” tanya Tama menepuk bahu sahabatnya itu. ”Akur mereka ya, bagus deh, Noura jadi berasa punya Mbak cewek” ucap Tama yang melihat Noura sedang tertawa bersama Azka.
“Maksud Lo apa Tam? gak bisa gak bisa, Unyil sama Gue ah”
“Si beg*k! Gue gak suka sama Mbak Azka. Gue seneng Gue dan Noura jadi punya Mbak untuk diajak cerita. Kita semua disini saling memimpikan itu sih. Kalo Lo mau sama Mbak Azka ya berarti nti Lo jadi Abang Gue” ucap Tama menaik turunkan alisnya.
“Abang? Juan dipanggil Abang?” tanya Azka yang mendengar kata terakhir percakapan mereka.
“Eh--? Lu sih Tam!” Juan salah tingkah, takut kalo Azka mendengar semua percakapan mereka. Azka yang masih penasaran hanya menatap keduanya penuh tanya.
“Iya Mbak, panggil Juan Abang!” ucap Tama sambil tersenyum. Azka mengangguk-angguk, Noura keluar dari kamar Tama dan mendekat ke arah Abangnya
“Bang, aku suka sama Kakak Azka. Aku seneng banget, nanti sering ajak Kakak Azka kesini lagi ya” ucapnya sambil mendongak ke arah Abangnya yang sedang tersenyum. Tama berjongkok, mensejajari Adik bungsunya, “Iya, nanti Abang sering ajak Kakak Azka kesini. Tapi Noura bilang dulu sama Bang Juan” ucap Tama yang disambut dengan anggukan dari Noura.
“Bang Ju, Noura boleh ya ajak Kakak Azka kesini buat main dan cerita, Bang Ju ajakin Kakak Azka kesini. Nanti Bang Ju sama Abang main, Kakak Azka sama Noura juga main” ucap gadis kecil itu riang
“Kok bilangnya sama Bang Juan sih?” tanya Azka penasaran seraya ikut berjongkok menghadap Noura.
“Karena Bang Ju pacar Kakak Azka. Kakak Azka boleh kesini kalo Bang Ju anterin Kakak. Kalo Bang Tama yang ajak kakak, nanti Bang Ju marah” ucapnya polos.
Azka yang mendengar malah jadi salah tingkah dengan wajah yang sepertinya mulai memerah.
“Kakak bukan pacar siapa-siapa, nanti Kakak sering-sering dateng kesini, ya?” Azka tersenyum lalu membelai rambut gadis kecil itu lembut. Noura beranjak menuju kamarnya, katanya Ia masih punya pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Ia melambaikan tangannya ke arah Azka yang dibalas Azka dengan gerakan yang sama. Azka berbalik menghadap Tama dan Juan memberikan tatapan bertanya. Kedua nya malah saling tatap tak mengerti apa maksud tatapan Azka pada mereka.
“Lo bedua ngeracun apa sih sama Noura?” gertak Azka pada dua orang dihadapannya. Alfan, Nando, dan Riki yang baru bergabung karena membeli cemilan di depan rumah Tama hanya bengong. Tak mendapat jawaban, akhirnya Azka duduk, mengambil segelas air di meja makan lalu meminumnya.
“Mas, anter pulang yok” ajak Azka
“Ayok, aku anterin Nyil” Juan yang justru merespon. Alfan hanya mengangkat bahu dan mengangguk memberi tanda ‘pulang saja dengan Juan Ka’. Azka keluar lebih dulu setelah berpamitan dengan semua yang ada disana, melewati jalan yang tadi mereka gunakan saat pertama datang. Berjalan di depan Juan menuju motor yang terparkir di halaman.
“Nyil, maaf tadi soal Noura. Hehe. Suer aku gak ngomong macem-macem sama anak kecil Nyil” ucap Juan salah tingkah.
__ADS_1
“Heem, gak apa-apa” Azka memberi isyarat untuk segera membawa nya pulang karena Azka tidak ingin lebih lama di sana. Setelah dzuhur Azka harus sudah pulang. Begitu pesan Mbak Tika tadi. Sepanjang jalan mereka hanya saling diam. Azka menyempatkan membeli makanan untuk Mbak Tika sesuai dengan pesannya tadi sebelum Azka berangkat. Lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah.