Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
EP-AR 10


__ADS_3

"Kak, udah gausah ke sini. Udah malem" Azka mengatakan itu dari balik sambungan telepon.


"Beneran gak usah? Aku gak perlu nganterin kamu pulang?"


"Kan nanti libur aku kesini lagi. Aku ke Balam lagi deh sebelum ke rumah. Biar bisa pulang bareng kamu" Azka merayu.


"Yaudah iya" Azka mematikan ponselnya saat sambungan telepon sudah dimatikan oleh Rasya. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul delapan malam. Harusnya perjalanannya sudah lebih jauh. Tapi bis yang Ia naiki mengalami masalah sehingga harus menunggu beberapa waktu sampai bis baru di datangkan ke tempat itu. Kini Azka duduk menghadap jendela. Masih bertahan di dalam bis karena di luar pasti dingin. Ia lupa meninggalkan jaketnya begitu saja di mobil Papa.


Azka menikmati pemandangan di luar jendela itu. Mobil dan motor berlalu lalang dengan kecepatan berbeda-beda. Kerlap-kerlip lampunya menari-nari di jalanan. Posisi Azka yang lebih tinggi dari kendaraan lain, membuatnya harus sedikit menunduk untuk memperhatikan gerak cepat kendaran berroda itu. Ia sedang berada di pertengahan Kota Balam, kota besar yang nyaris menjadi kota metropolitan. Malam-malam di sini nyaris tidak berbeda dengan Bandung atau Jakarta. Ramai.


Drrrt


Drrrrt


Ponsel Azka bergetar, Ia merogoh saku bajunya meraih benda pipih berukuran 4.5 inci yang menampilkan sebuah panggilan pada layarnya. Rasya?


"Halo" Azka menekan tombol hijau di layarnya.


"Lihat ke luar sebelah kiri" sahutan dari seberang telepon membuat Azka mengernyit. Apa maksud pemuda itu sih? tidak benar kan kalau dirinya berada di sini? Tanpa menjawab Azka menggerakkan kepalanya. Menoleh ke arah sisi kiri bis. Ia melongo, di sana sudah berdiri seorang pemuda dengan jaket abu dan kemeja maroon sebagai dalamannya. menenteng sebuah plastik berlogo minimarket yang tengah menjamur saat ini. Ia mengacungkan tangannya tinggi-tinggi, agar Azka bisa menangkap bayangannya. Azka tersenyum, entah mengapa hatinya menghangat. Pemuda ini, yang semakin hari selalu menambah rasa istimewa di hatinya.


Azka segera turun dari bis tanpa mematikan ponsel. Tas kecil yang tergantung di sisi tubuhnya bergerak ke depan dan belakang saat Ia berlari kecil mendekati pemuda itu.


Bugh!


"Kamu apa-apaan sih?" Azka memukul lengan Rasya pelan.


"Aku udah bilang mau anter kamu pulang" jawab Rasya santai.


"Kamu kapan sampe? Bukannya tadi masih anter aku ke bis?" Tanya Azka mematikan sambungan telepon pada ponsel yang tadi sudah Ia turunkan dari telinganya.


"Aku ikutin dong. Kan sekalian aku juga pulang ke kosan" Ia terkekeh. "Masih lama gak ini?" Tanya Rasya melirik ke arah bis.


"Enggak tau, coba tanya sama sopir atau keneknya" usul Azka. Rasya berjalan, mendekati seseorang dengan seragam yang sama tengah duduk sambil menyeruput kopi hangat dalam gelas plastik.


"Pak, ini masih lama? kira-kira berapa lama lagi ya?" tanya Rasya sopan.


"Bisnya lagi ke sini Dek. Kayaknya masih sekitar 45 menit lagi" Jawab salah satu diantaranya.

__ADS_1


"Boleh pergi sebentar? Nanti kalo bis nya udah mau sampe boleh hubungi saya ya Pak" pinta Rasya yang membuat Azka bengong. Loh, emang mau kemana?


"Oh, boleh. Nanti lima belas menit sebelum berangkat lagi kita cek penumpang kok" Rasya menyodorkan secarik kertas yang entah dari mana Ia dapatkan. Di sana tertulis deretan nomor yang Azka kenali.


"Yaudah permisi Pak. Nanti bisa hubungi ke nomor itu" Rasya pamit, dan menarik lengan Azka untuk ikut menjauh. Ia membawa Azka ke sisi mobilnya. Membuka pintu bagian penumpang lalu menyisih,


"Ayo masuk" Ajak Rasya.


"Emang mau kemana? nanti ketinggalan bis gimana?" Azka ragu


"Gak akan. Percaya sama aku. Aku udah kasih nomor sama Bapaknya. Nanti kita dihubungin" Ya, Azka melihat sendiri tadi. Pada akhirnya Ia mengikuti ucapan Rasya untuk masuk ke mobilnya. Pintu di tutup oleh Rasya. Ia kemudian berjalan mengitari mobil, bergerak ke sisi lainnya. Ia ikut masuk ke dalam mobil.


Ia mengulurkan tangannya untuk memasangkan setbelt untuk Azka. Namun gerakannya dihentikan oleh cekalan tangan Azka di lengannya. "Aku aja" Ucap gadis itu mengambil alih. Rasya melepas seatbelt dan menyerahkannya pada Azka sementara Ia memasang sendiri seatbelt untuknya.


"Kita mau kemana?" tanya Azka menoleh ke arah Rasya yang sudah memegang kemudi dengan dua tangannya.


"Serahin saja sama aku. Kamu cukup duduk manis dan jangan lupa tersenyum" Pemuda itu menyalakan mesin mobil kemudian menginjak pedal gas. Mobil pun melaju berbagi jalanan bersama kendaraan lain.


Mobil berbelok memasuki area parkir sebuah mall. Mall Central. Tulisan besar di atas gedung itu berkerlap-kerlip.


"Kenapa ke sini?" tanya Azka bingung.


"Aku gak mau ajak kamu kesini kok. Cuma numpang parkir" Rasya tertawa, disusul pukulan di lengannya oleh gadis yang duduk di sampingnya.


"Dasar!"


"Ayo turun. Biar kamu tau mau aku bawa kemana"


Keduanya berjalan beriringan di sepanjang jalan masuk kecil di samping mall itu. Jalanan itu hanya mampu di lalui oleh dua motor. Azka mulai tau arah tujuan kemana Rasya akan membawanya.


"Kak?" Azka menoleh, sementara Rasya mengangguk.


Keduanya memasuki sebuah kedai makan di ujung jalan. Tempat sederhana, seperti warung tegal dan warung padang yang banyak bertebaran di pinggir jalan. Namun kedai ini lebih mirip seperti kedai garasi. Lima meja panjang tersusun di garasi itu. Dengan dua buah meja kecil di sudut ruangan sebagai meja dapurnya. Azka dan Rasya mengambil duduk di salah satu kursi di meja panjang paling depan.


"Bu, nasi goreng seafoodnya satu. Es teh manisnya dua" pesan Rasya pada seorang Ibu di balik meja dapur.


"Eh, den Rasya sama non Azka. Udah lama gak kesini. Udah kuliah ya den, non?" Sapa Ibu itu ramah.

__ADS_1


"Iya Bu, saya sekarang sendirian di sini, ditinggal Azka. Jadi gapernah main kesini" jawab Rasya dengan santun.


"Non Azka kuliah dimana?"


"Di Bandung Bu" jawab Azka singkat. Ia menyunggingkan senyum pada wanita baya yang sedang meracik nasi goreng.


"Masih suka makan sepiring berdua nih? Gak mau nambah porsi?" tanya Ibu itu lagi sambil terkekeh. tangannya menari lincah di atas wajan sambil memegang sutil. Bunyi gesekan antara sutil dan wajan bagai alunan merdu untuk para cacing perut yang kelaparan.


"Sepiring berdua aja Bu. Cukup, biar lengket" ucap Rasya asal. Dan si Ibu hanya tertawa.


Kurang dari lima menit, nasi goreng itu sudah tersaji di depan mereka. Lengkap dengan dua buah sendok menemani di sisi piring kanan dan kiri. Juga dua gelas es teh manis yang sepertinya selalu terasa segar meski malam menawarkan dingin.


Mereka memakan dengan lahap nasi goreng di piring itu. Berkali-kali sendok keduanya beradu berebut butir nasi atau sesuir potongan udang. Ditemani dengan dendang dari pengamen jalanan yang masih berkutat meski malam sudah menjelang.


"Ini Pak" Azka menyodorkan lembaran uang sepuluh ribu pada si pengamen. Binar mata dari pengamen itu seketika muncul.


"Makasih mbak, makasih" ucapnya sambil menekan-nekan lembaran uang di dahinya. Ia merasa bersyukur. Mungkin setelah ini Ia akan pulang, membawa bekal bagi sang istri membeli nasi agar perut mereka tak kelaparan.


"Udah?" tanya Rasya setelah merapihkan meja di hadapannya. "Minum dulu tehnya" tambahnya.


"Iya" ucap Azka berbinar. "Kenapa kamu ajak aku kesini kak?" tanya Azka penasaran.


"Aku tau kamu belum makan. Trus untuk nebus janji aku kemarin. Karena aku harus kuliah, kita jadi gak sempet kesini" Rasya menjelaskan sembari merogoh saku celananya mengeluarkan dompet dari sana. Masih dompet yang sama. dengan dompet yang diberikan Azka pada ulang tahunnya yang keenam belas dua tahun lalu.


"Kamu masih pake dompet itu?" Azka sudah tidak fokus dengan jawaban Rasya. Ia menatap dompet yang sudah sedikit kusam itu.


"Oh ini? Iya dong. Hehe. Jam juga masih ini aja" Ucapnya. Ia menyelipkan uang pecahan lima puluh ribu di bawah kotak tisue. Nilai yang dua kali lipat lebih besar dari harga makanan dan minuman yang mereka pesan. "Belum ada yang kasih lagi" tambahnya. Ya, Azka lupa bahwa Ia tidak memberikan kado di ulang tahun Rasya tahun ini. Azka nyengir.


"Maaf belum kasih kamu kado tahun ini" ucap Azka tulus.


"Kamu kado terbaik buat aku dari Allah. Berlaku sampai waktu tak terhingga, anti rusak" ucapnya seraya mengusak puncak kepala Azka. Kebiasaan yang belum hilang entah sejak kapan.


"Ayo kita balik ke bis, nanti kalo telat trus ditinggal aku harus anter kamu sampe bandung Dek" ucapnya dengan nada bercanda. Azka pun mengangguk sambil tertawa.


"Bu kita pamit. Ini uangnya. Sisanya untuk Ibu aja. Assalamu'alaikum"


Kini mereka berjalan kembali di jalan kecil itu. Menikmati malam yang terasa lebih syahdu dari malam-malam lain. Menenggelamkan alam sadarnya masing-masing pada kenangan saat jalan itu menjadi saksi perjuangan mereka meraih bangku kuliah.

__ADS_1


__ADS_2