
LIBURAN
“Jadi yang gak berangkat cuma kalian bertiga yah?” ucap Achin memastikan ketiga teman sekelas mereka tidak akan ikut dalam acara liburan bersama.
Mereka berencana akan liburan ke sebuah pantai awal bulan ini. Pantai yang mereka tuju tidak begitu jauh, hanya berjarak tiga jam dari kota tempat mereka tinggal. Mereka merencanakannya saat ini, bukan saat liburan panjang tiba. Alasannya adalah agar mereka tidak perlu berebut dengan orang-orang yang juga ingin berlibur saat libur semester.
Azka yang memang ditunjuk sebagai salah satu panitia acara itu ikut mengurus berbagai persiapan. Mulai dari memastikan jadwal, agenda ketika berlibur, menentukan jadwal keberangkatan, dan tidak lupa ikut membantu menghubungi bus yang akan mereka gunakan.
Hari liburan tiba.
Mereka memilih hari sabtu pagi pukul 06.00 sebagai jadwal keberangkatan mereka. Liburan kali ini hanya kelas mereka saja. Meskipun sebenarnya kelas X.4 juga mengadakan liburan pada tanggal yang sama. Tapi mereka tidak terlalu mengetahui bagaimana jadwal dan tujuan kelas tetangganya itu. Jadi untuk liburan kali ini, Azka, Ocha, Nadia, Fabel akan berlibur tanpa Iren, Risa, Ita, dan Alfan.
“Udah siap semua? Coba di cek teman sebangku kalian masing-masing ya.” Ucap Achin mengingatkan.
“Udah siap semua?”
“Siap!” seru mereka bersamaan menjawab seruan Achin yang berada di bagian depan bis.
Bis pun melaju, Azka duduk bersama Ocha. Sedangkan Nadia duduk bersama Dara. Teman duduk di bis memang disesuaikan dengan teman duduk di kelas. Ponsel Azka berbunyi, tanda notifikasi pesan masuk.
- Rasya-
Udah berangkat? Jadi tujuannya kemana aja?
Azka cepat mengetikkan balasan.
-Azka-
Udah kak, ini udh di jalan. Ke pantai maroon, trus mau main di mall central sebelum pulang.
-Rasya-
Oh, oke. Bis ini juga udh mulai jalan. Sepertinya agak kecil kemungkinan ketemu di pantai.
-Azka-
Kenapa?
-Rasya-
Soalnya anak-anak maunya sore di pantai jadi kemungkinan baru siang menuju kesana
-Azka-
Yah, gak seru dong. Gak bisa ketemu Iren sm Risa.
-Rasya-
Ketemu aku nya enggak?
-Azka-
Enggak. Hahahha
Azka memasukkan hapenya ke dalam saku baju dan menoleh ke arah Ocha yang dari tadi mencuri pandang ke arahnya.
“Apaan sih Cha! Kaget Gue!”
“Ciee, udah baikan nih sama si Rasya?” tanya Ocha sambil tersenyum jail.
“Udah, kan kemarin-kemarin Gue udah cerita.”
“Kayak orang pacaran ih kalian,”
“Masa?”
“Iya, tiap hari kalo gak istirahat, atau jam kosong bareng mulu sih. Trus kayaknya hape lo penuh sama chat dia doang.”
“Emang gitu yah kalo orang pacaran Cha?” tanya Azka sambil berlagak berpikir. “Emang Lo udah pernah Cha pacaran?”
__ADS_1
“Belum.”
“Abis Lo mah ngegebet mulu kerjaannya ya, jadian mah kagak!”
“Sial Lo Ka!” Ocha melempar bantal ke arah wajah Azka di sebelahnya.
“Aduh, ih. Kebiasaan!”
“Makanya jangan ngeledek,” timpal Ocha sambil bersungut-sungut.
Bis akhirnya memasuki area Pantai Maroon setelah berjalan selama 3 jam 15 menit. Pantai terlihat sepi, hanya ada beberapa kelompok orang yang sepertinya memanfaatkan libur akhir pekan seperti halnya mereka. Setelah bis terparkir, semua anak menyeruak keluar dari bus dengan sangat antusias. Tapi tidak begitu dengan Azka.
Azka terkenal sebagai seorang penikmat pantai, bukan untuk masuk dan bermain diantara debur ombak dan pasir. Azka hanya penikmat pinggiran. Menikmati ombak yang bergelung-gelung membasahi pasir yang kemudian berarak menjauh. Azka memilih tempat yang tak jauh dari teman-temannya yang sudah berhambur ke tengah pantai. Ia duduk, berkali-kali ia mengangguk mengiyakan permintaan teman-teman yang menitipkan tas dan tumpukan barangnya di dekat tempat ia duduk.
“Beneran Ka Lo gak mau main ke tengah?”
“Enggak Nad, Gue males ganti baju nya, males nyuci baju penuh pasir nya.”
“Oke, Gue sama Ocha ke sana dulu.”
“Jangan ngilang Ka,” Ocha memperingati.
Azka tersenyum melihat tingkah kedua temannya. Azka melanjutkan aktivitasnya memandangi hamparan pasir putih dan debur ombak yang berarak. Ya Allah, indah banget ciptaan Allah yang namanya pantai ini. Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau dustakan?
Teman-teman sekelas Azka berlarian menyusuri pinggiran pantai, membuat tumpukan-tumpukan pasir dengan berbagai bentuk. Ada yang sampai berguling-guling bercanda. Azka sedikit tertarik dan kemudian melangkahkan kakinya mendekati kerumunan teman-temannya.
“Barang aman Ka? Siapa yang jaga?”
“Ada Wahyu Pit, Gue gantian pengen ikutan bentar main disini.” Jawabnya.
“Oke deh, sini ayo basah-basahan!” ajak Ipit lagi.
“Enggak ah, males basah-basahan!”
“Bukan ke pantai kalo gak basah-basahan Ka,” timpal Ivan teman sekelasnya yang lain.
Azka hanya menjawab dengan senyum. Lalu berjalan di pinggir pantai yang cukup jauh dari batas ombak.
Ia geser tombol hijau yang ada di layar,
“Halo”
“Halo, lagi apa disana?”
“Lagi main di pasir,”
“Gak ikut main di lautnya?”
“Enggak ah, gak mau basah-basahan. Susah cuci nya kalo dari laut.” Jawabnya sambil menendang-nendang pasir di ujung kaki.
“Itu sama siapa?”
“Sendiri, yang lain pada berenang, aku kan gak bisa. Aku main jalan-jalan di pasir aja.”
“Aduh, bentar Kak, ada pasir masuk ke sepatu,” lanjutnya lagi sambil membungkuk mengeluarkan pasir dari sepatu dengan tangan kanan, sedangkan ponselnya Ia pindah ke tangan kiri.
“Kamu gak pake pantofel seperti biasa kan dek?”
“Hahahaha, ya enggak lah Kak. Emangnya mau upacara?” jawabnya sambil tertawa
“Yaudah lanjutin main pasir nya. Kita masih di mall central, tapi katanya bentar lagi mau meluncur ke pantai.”
“Ooh, oke. Kalo lancar berarti mungkin masih ketemu ya?”
“Mudah-mudahan. Yaudah udah dulu ya,”
“Oke.” Azka mematikan telpon. Memasukkannya lagi ke dalam saku dan berjalan balik arah ke arah kumpulan teman-temannya.
“Ka, ayo sini kita poto sambil lompat!!” teriak Ocha sambil melambai-lambaikan tangannya.
__ADS_1
“Tapi gamau yang ada ombaknya,” jawabnya sambil ikut menjerit.
Akhirnya teman-teman Azka sedikit ke tepi yang sedikit terkena ombak.
“Udah disini aja, yok!” Ajak Ocha lagi.
“Oke, Gue mau buka sepatu dulu,” Azka membuka sepatu lalu ikut bergabung, berpose, dan berteriak ketika mereka melompat untuk mendapatkan gaya yang mereka inginkan.
Tak terasa ternyata mereka semakin ketengah karena dari tadi berulang kali melompat untuk mendapatkan gambar yang terbaik.
“Aaaaaah, basah deh rok Gue!!” teriak Azka ketika terkena ombak yang tiba-tiba datang menerpa ujung-ujung kaki mereka sampai sebatas betis.
“Sukurin, sok gamau sih Lo!” Ejek Nadia sambil tertawa bersama yang lain.
“Sekalian aja Ka sini ikutan sampe basah seluruh baju.” ajak Achin kali ini.
“Ogah ah, udahan mau ke sana lagi yaa?”
Azka berjalan menuju tempat duduknya saat baru pertama kali sampai. Tiba-tiba...
“Aaaaaaaaa turunin, gamau dibawa ke tengah!!!”
“Ini saku gue ada hape be**k!”
“Gue amanin tenang,” ucap Dara yang sudah berhasil mengambil ponsel di saku rok Azka.
“Iiiih turunin, gamaaauuuu!!!”
Byur!!!
Basah sudah sekujur tubuhnya saat itu. Pasir bercampur air mulai turun ke bagian bawah tubuhnya setelah sebelumnya terangkat mengenai tubuh karena dentuman yang begitu kuat saat Ia dijatuhkan. Nadia, Ipit dan Achin tertawa puas karena berhasil menggotongnya hingga akhirnya basah sama seperti mereka.
“Hahahahahaha!”
“Sorry ya Ka, biar adil dong.”
“Ka, Lo bawa baju kan? Ahahaha.”
“Yah, gak ada Agil lagi yang anter pulang hahahha.”
Begitulah teman-teman sekelas nya sahut-sahutan sambil terus tertawa.
“Apes gue!”
Azka berlari menuju tasnya, dan membawa tas punggung itu ke area bilas dan ganti. Azka melepas sepatu dan kaos kaki dan menjatuhkannya di lantai. Ia bilas tubuhnya, lalu bergantian dengan pakaian dan sepatu yang juga kotor terkena pasir. Akhirnya Ia sudah kembali bersih. Gagal sudah niat untuk hanya sekedar menikmati pantai hari ini. diganti dengan sebenar-benarnya ‘menikmati’ pantai. Azka keluar dari bilik pembilasan berjalan ke arah tempat duduknya semula.
Terlihat dari kejauhan teman-temannya sudah bersiap memasukkan barang bawaan mereka ke bus, sebagian ada yang baru akan membilas tubuh. Azka ikut bergabung dengan mereka yang sudah bersiap di sekitar bis, dan menerima uluran ponsel dari Dara. Saat semua teman-temannya selesai membilas tubuh, mereka bergegas berkumpul di sekitar bus untuk pengecekan anggota dan melaju menuju Mall Central di tengah kota. Belum lama mereka meninggalkan area pantai, rombongan Iren dan Risa bersama anggota kelasnya memasuki area pantai.
Sesampainya mereka ke Mall Central, Azka dan Ocha juga Nadia segera menuju ke toko pernak pernik. Disana dijual beragam pernak-pernik seperti gantungan kunci, radar sinyal untuk hape, stiker-stiker lucu, dan ada bagian khusus yang menyediakan beragam jenis boneka. Ocha mengambil boneka berbentuk monkey yang lucu dengan ekor sangat panjang.
“Ka, lucu Gak?”
“Lucu, buat siapa Cha?
“Buat Gue lah, masa buat Lo!”
“Cha, Ka, kalo yang ini lucu gak siiih buat couple?” tanya Nadia sedikit berteriak karena dia sedang berada di lorong paling ujung.
Nadia menunjukkan sepasang boneka hamster perempuan dengan pita pink di telinga nya dan juga hamster laki-laki dengan menggunakan rompi dan pita kupu-kupu di leher.
“Lucu Nad, buat siapa? Deuuuuh couple-couple,” timpal Ocha sambil menghampiri Nadia.
Azka jadi terinspirasi untuk membeli juga boneka sepasang untuk nanti ia berikan salah satunya pada Rasya. Azka mengambil sepasang boneka di rak sisi kanannya, memperhatikan jahitannya, dan mengecek harga nya sekedar memastikan harganya tidak terlalu mahal. Azka segera membawa sepasang boneka itu ke kasir.
Azka tersenyum puas dengan apa yang ia beli. Ia tidak tertarik untuk mencari hal lain lagi. Akhirnya ia menunggu di kursi depan toko sambil menenggak minumannya. Tenggorokannya sedikit kering karena sepulangnya dari pantai ia belum minum sedikit pun. Tak lama kemudian Ocha dan Nadia datang.
“Beli apaan Ka?”
“Dih, dia beli boneka dong.. ga bilang-bilang lagi sama kita main ngeluyur keluar aja!” Ucap Ocha saat sampai di hadapan Azka dan menarik plastik belanjaannya. Mengintip apa yang Ia beli.
__ADS_1
“Apaan sih Cha, Gue udah bilang Gue tunggu di depan tadi pas di dalem.” Azka membela diri.
“Yaudah yuk, masuk bis lagi. Gue gak mau pulang kemaleman. Mudah-mudahan yang lain juga udah selesai belanjanya.” ajak Nadia sambil berlalu meninggalkan Azka dan Ocha.