Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
EP-AR 11


__ADS_3

Katakanlah apa yang membuatmu bahagia selain bisa mencapai impian yang telah lama diinginkan? Yaitu memiliki mereka yang selalu bisa membuat harimu yang biasa terasa selalu istimewa. Yang mau merelakan berjam-jam waktunya hanya untuk membuatmu merasa nyaman, dan tidak pernah ada sedikitpun kebohongan dari tingkahnya.


Karena ketika kamu memiliki mereka, bahkan hari terburukmu pun akan berubah menjadi lebih mudah untuk dilewati. Mereka adalah orang-orang yang tidak menjanjikan harimu selalu baik-baik saja. Tetapi orang yang selalu bisa menunjukkan cara bagaimana membuat setiap hari berubah menjadi baik, meski kita tengah dilanda masalah paling pelik.


Karena ketika memiliki mereka, kita tidak pernah diberi kesempatan untuk berbohong meskipun pada diri sendiri. Mereka adalah orang-orang yang ketika kita mengatakan "Aku baik-baik saja" dalam keadaan paling hancur, maka mereka akan mengatakan "Kamu bohong". Lalu Ia bersedia singgah sebentar hingga membuat kita benar-benar merasa baik-baik saja.


Hari itu libur semester kedua setelah hampir satu tahun penuh mereka melewati masa kuliah pertama. Azka kembali menyempatkan pulang ke tanah tinggalnya. Seperti biasa Ia mampir di Kota Balam, menghampiri Rasya yang setia menunggu untuk menjemputnya di terminal. Lalu kemudian ketika siang menjelang, atau siang sudah terlewatkan, mereka akan pulang bersama menuju rumah.


"Kak, kenapa wajahnya gitu?" tanya Azka saat dirinya menemui Rasya yang sudah berdiri di sisi mobilnya.


"Gak apa-apa" jawabnya santai.


"Aseli? emmmh, Aku gak percaya" tanggap Azka membawa sendiri ranselnya memasuki mobil yang pintunya sudah dibuka. Biasanya Rasya akan membawakan ransel itu, tapi kini biarlah Azka yang membawanya. Tidak akan menambahi beban yang mungkin saat ini terasa berat di pundak pemuda itu. Meski Azka belum tahu apa yang terjadi.


"Kamu gak mau cerita?" tanya Azka mencoba memancing.


"Enggak ada yang perlu di ceritain" Rasya menggeleng. Pemuda itu kemudian berjalan mengitari mobil. Membuka pintu mobil dan duduk di balik kemudi. Azka ikut masuk dan duduk di kursi sebelah Rasya.


"Oke deh. Langsung pulang?" tanya Azka lagi.


"Aku gak pulang" singkatnya.


"Eh?"


"Nanti aku anter kamu sampe rumah, aku balik lagi ke sini"


"Hah?? kamu gila!!! enggak, gak usah di anter. sekarang aja aku mau langsung pulang ke rumah" Azka sudah siap keluar dari mobil itu namun lengannya tertahan oleh suara Rasya yang terdengar memohon.


"Aku mau kamu di sini Dek, temenin aku" Azka menoleh, mendapati Rasya yang sudah menundukkan kepalanya. "Aku mohon. Aku butuh kamu hari ini"


Dan yang bisa dilakukan Azka adalah diam. Menuruti kemauan Rasya untuk tetap berada di sana. Rasya melajukan mobilnya entah kemana. Yang Azka tahu mereka hanya berputar-putar mengelilingi kota itu saja tanpa tahu tujuan yang jelas. Pemuda itu lupa, kalau gadis di sebelahnya baru saja sampai dari perjalanan dua belas jam yang melelahkan. Bahkan peluh masih melekat membentuk pola di dahinya.


Setelah hampir satu jam mereka berkeliling dalam diam, mobil akhirnya menepi. Di sisi jalan dekat dengan sebuah museum. Di seberangnya nampak kokoh bangunan-bangunan lain. Waktu menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Jalanan itu mulai ramai. Lapak-lapak penjual mulai dipenuhi oleh pembeli yang sepertinya mulai kelaparan karena tak sempat sarapan di rumah.

__ADS_1


"Mau makan apa?" Suara Rasya terdengar sudah lebih tenang.


"Apa aja Kak" Jawab Azka setelah melirik jajaran pelapak pagi itu.


"Tunggu di sini atau mau makan di sana?" Lagi, suara Rasya benar-benar sudah tenang. Azka melirik, memperhatikan air muka di wajah Rasya. Ia tersenyum.


"Menurut kamu nyaman makan di sana atau di sini?" tanya Azka sambil melepas seatbelt yang mengekangnya. Ia miringkan tubuhnya ke arah Rasya yang masih duduk dengan tenang menghadap ke depan. Merasa diperhatikan, Rasya akhirnya menoleh. Ia tidak bisa untuk tidak tersenyum ketika mendapati wajah mungil milik Azka tengah menatapnya dengan lamat.


"Asal sama kamu, dimana juga nyaman Dek"


HENING...


Azka masih terkejut dengan ucapan itu. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba mengembalikan sadarnya.


BUGH!!


"Kamu belajar gombal dari mana sih???" Azka segera berpaling dan membuka pintu di sampingnya. Melarikan diri sebelum rona di wajahnya tertangkap basah oleh si pelaku. Setelah tertawa sebentar, Rasya memilih mengikuti gadis yang saat ini sudah berdiri di salah satu pelapak. Ia menunduk, sepertinya sedang memesan sesuatu.


"Aku udah pesenin ketoprak dua. Kalo aku gak abis, Kamu abisin ya" ucap Azka saat dirinya sudah berdiri di depan Rasya. Rasya mengangguk, lalu menarik lengan Azka menuju dua buah kursi yang kosong di samping gerobak sang penjual.


"Mama kemarin ke kosan" Rasya memulai. Azka membenarkan duduknya agar bisa sedikit rileks saat mendengarkan. Tidak mendengar tanggapan, maka Rasya menganggap dirinya boleh melanjutkan. "Mama nanya hasil kuliah aku. Kayaknya Mama lagi jelek moodnya. Trus Mama marah besar lihat nilai aku yang ancur banget itu" Rasya menghela kembali napasnya.


"Mama sampe banding-bandingin aku sama Kak Naraya. Aku salah gak sih Dek kalo sakit hati?" Azka berdehem, belum berniat mengeluarkan pendapat apapun.


"Dan aku ngerasa gak berguna ketika Mama bilang Mama kecewa sama aku. Trus tadi pagi Mama pulang sendiri ke rumah. Padahal aku bilang, Aku juga mau pulang bareng kamu"


"Aku sedih udah bikin Mama kecewa. Emang gak ada yang bisa dibanggain dari aku. Hmmm"


Azka baru akan mengucapkan kalimatnya, saat penjual meletakkan dua piring ketoprak di hadapan mereka.


"Silahkan" ucap si penjual.


"Makasih Pak" Azka mengambil alih percakapan.

__ADS_1


"Makan dulu Kak. Ayo" Ajak Azka yang mendapat anggukan kepala dari pemuda di sebelahnya.


"Kamu gak perlu ngerasa gitu Kak. Aku tau kamu pasti sedih karena Mama kecewa. Tapi kamu juga tau bahwa sayang Mama ke kamu itu jauh lebih besar daripada marahnya kemarin" Azka mulai berbicara setelah selesai dengan makanan di hadapannya. Kini tangannya sudah beralih menggenggam segelas teh hangat. "Percaya sama aku, Mama gak pernah kecewa sama kamu hanya karena kamu nilainya jelek. Gak akan. Aku jamin" Azka meyakinkan.


"Kak, pulang yuk? Masa karena ini kamu jadi gamau pulang? Mama pasti sedih di rumah sendirian. Papa masih di luar kota kan? Pulang ya" Azka memohon dengan tangkupan tangan di depan dadanya. Persis seperti seorang anak yang sedang memohonkan sesuatu pada orang tuanya.


"Apa sih Dek" Rasya geli sendiri melihat tingkah Azka. Ia menangkup tmdua tangan Azka yang terkatup itu. Menahannya untuk Ia genggam beberapa lama. Ia pun mengangguk.


"Yeeee" Sorak Azka. "Kak pulang yuk"


"Iya.. bawel"


"Bukan, ayo pulang ke kosan kamu dulu. Aku mau numpang bersih-bersih. Ini lengket banget badan aku" Azka mengendus badannya sambil melonggarkan kain yang melekat di tubuhnya. Gerah!!


Rasya melakukan hal yang sama, Ia dekatkan kepalanya ke arah Azka, mengendus sebentar, "Pantes dari tadi ada yang asem-asem!"


Rasya tergelak di tempatnya.


"Enak aja!!! Aku tetep wangi tau" Azka tidak terima


"HAHAHAHAHA" Rasya terlihat puas sekali. Sementara Azka hanya mencebik kesal di tempatnya.


"Kak, kita adu nilai yuk dua semester ke depan" Ucap Azka menantang saat keduanya berada di dalam mobil menuju kosan Rasya.


"Ayo siapa takut" Rasya tak mau kalah "Kamu harus 4 IP nya"


"Kalo kamu?"


"Kalo 4 kejauhan Dek. Aku bakal naikin IP aku. Target dari kamu berapa?" Rasya menoleh.


"Tiga komaaaaa dua lima bisa?" tanya Azka sambil menatap pemuda yang fokus menyetir di sebelahnya.


"Bisa"

__ADS_1


"Oke, Nanti kita evaluasi semester depan ya"


"Siap Bosqu"


__ADS_2