Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 32


__ADS_3

Masalah dengan Alfan belum selesai sepenuhnya, sekarang Azka juga harus memenuhi kepalanya dengan hubungan antara dirinya dan Rasya yang semakin rumit. Pasalnya, setelah hari itu, Rasya bukan berusaha untuk mendekat justru semakin diam dan seolah menikmati istirahatnya. Azka bohong jika Ia mengatakan senang dengan usulan perpisahan ini, karena nyatanya Ia kalang kabut sendiri dengan perasaan yang ada saat ini. Bermacam spekulasi muncul di kepalanya. Dari mulai Rasya yang berbahagia dengan keputusan ini, Rasya akan kembali pada Nadia, sampai dengan bayangan Rasya akan siap bunuh diri karena depresi. Semua itu sungguh membuat Azka tak tahan. Meski Ia tau benar bahwa kesemuanya hanya spekulasi yang Ia buat sendiri. Sejak saat itu, Ia lebih memilih untuk lebih cepat pulang kerumah dari pada membuat agenda-agenda tak berfaedah selepas sekolah. Terlebih ujian akhir semester sudah di depan mata.


“Ka, Gue mau ngomong” Anda, teman sekelas Azka saat kelas sepuluh dan sekarang Ia di kelas XI IPA 2.


“Apaan Nda?” ucap Azka yang sedang sibuk merapihkan buku-bukunya.


“Ke mushola aja, Gue mau ngomong serius”


“Di sini ajalah, ngapain ke mushola segala. Di sana malah banyak orang”  ucap Azka menutup tasnya.


“Lo beneran udahan sama Rasya?”


“Eh?”


“Lo gak kasian sama Rasya? dia sayang banget sama Lo Ka”


“Tau dari mana? Sotoy Lu Nda” Azka mulai tidak suka dengan arah pembicaraan ini.


“Gue tau lah, Dia murung banget. Gue liat Lo udah cuek banget sama dia. Lo mau buat anak orang mati depresi Ka?”


“Astaghfirullah, ya nggak lah. Ngomong jangan ngaco gitu sih Nda” Azka ngeri sendiri membayangkan ucapan Anda tadi.


“Trus kenapa Lo tiba-tiba cuek gitu. Kata Agil Lo sama Rasya udahan”


“Istirahat, cape. Tapi kalo menurut Kak Rasya kita udahan ya oke. Gue udahan sama dia. Sampein sama dia ya” Azka tidak suka dengan pernyataan yang menyebutkan dirinya dan Rasya sudah berakhir begitu saja.


“Ya nggak bisa gitu lah Ka”


“Nggak bisa gimana? Lo maunya apa sih Nda? Gue yang udahan sama dia kenapa Lo yang sewot?” Azka mulai kesal.


“Karena Gue peduli Ka. Rasya gak bisa kalo gak ada Lo. Trus, Lo malah sekarang deket sama anak-anak kelas sepuluh itu. Sekarang Gue yang nanya. Mau Lo apa Ka?”

__ADS_1


“Loh, kok Lo yang nyolot sih Nda? Dia aja gak pernah bilang gitu. Dia gak pernah bilang dia gak bisa tanpa Gue. Lo gak usah sok tau deh Nda. Oiya Gue deket sama anak-anak karena sering denger mereka nasyid doang. Trus mereka anaknya asik. Temen ngobrol aja, lagian Gue masih sama temen-temen Gue kok” Azka nyerocos panjang lebar.


“Ka, Nda? Ngapain?” Ocha dan Risa mendekat karena mendengar obrolan Azka dan Anda di dalam kelas yang terdengar sampai keluar


“Tau nih”


“Nda? Kenapa?” Risa beralih ke Anda


“Gue cuma mau konfirmasi aja, beneran apa nggak Azka sama Rasya udahan. Gue gak mau aja temen Gue kayak orang depresi gara-gara ditinggalin sama ini anak”


“What???? Lo sama Rasya udahan Ka?” Ocha dan Risa justru terkejut dengan penjelasan Anda


“Gue cuma minta break, tapi nih hasilnya. Malah mereka bilang udahan. Emang Kak Rasya maunya udahan aja kali” Azka jadi kesal sendiri.


“Emang siapa Nda yang bilang gitu?”


“Agil, dari Rasya” Anda mulai tak enak hati karena merasa dipojokkan.


“Nggak usah, Nda. Tolong ya bilangin sama Kak Rasya. Gue sih yes! udahan aja, daripada gak jelas” ucapnya menahan sesak dalam dada


“Lo beneran Ka?” Ocha dan Risa tak percaya


“Heem” jawab Azka sudah tak mampu bersuara lebih.


“Lo jahat Ka. Padahal Lo yang lebih tau gimana butuhnya Rasya sama Lo. Cuma gara-gara anak kelas sepuluh, siapa? Juan?” Anda menghakimi Azka tanpa ampun.


“Nda, gak usah bawa-bawa orang lain dalam masalah ini yah. Juan gak tau apa-apa. Lagian Gue gak cuma deket sama Juan. Gue deket sama semua anak nasyid! Jangan seolah-olah Gue yang pengen udahan sama Kak Rasya dengan statement Lo itu ya” Azka sudah tak bisa menahan amarahnya.


“Gue masih berharap Lo sama Rasya baik-baik aja Ka. Kasian Rasya. Dia butuh Lo. Setidaknya, Lo pake hati nurani Lo. Kasian sedikit sama seseorang yang naruh harapannya cuma sama Lo” Anda melanjutkan


“Nggak adil rasanya kalo Gue disuruh bertahan hanya karena rasa kasian. Kalo Lo tau, ngelepasin lebih butuh banyak energi dan keberanian daripada mempertahankan. Kalo sebenernya Kak Rasya udah gak nyaman sama Gue, Gue juga udah ngerasa hambar sama hubungan Gue, mending Gue lepasin aja. Dari pada Gue harus cari pelarian saat Gue dan dia masih saling mempertahankan? Itu lebih sakit. Bukan malah nyembuhin, tapi malah ngancurin. Iya kan?” Azka menghembus nafas pelan. Sepertinya memang harus seperti ini akhirnya.  Ocha dan Risa segera memeluk Azka dari sisi kanan dan kiri. Mereka tau bahwa Azka sebenarnya hancur saat ini. Ia sudah banyak berjuang mempertahankan rasanya. Tapi mereka berdua tau bahwa selama ini, terlebih setelah Rasya kecelakaan, Azka seringkali diragukan oleh pemuda itu. Dan entah ada masalah apa lagi, mereka tak tau hingga akhirnya Azka memutuskan seperti ini.

__ADS_1


Anda akhirnya keluar karena tidak bisa membalas apa yang Azka ucapkan. Ia jadi berpikir keras. Azka benar. Mempertahankan dengan berpura-pura memang bukan solusinya. Dia yang tidak terlalu tau apa yang terjadi sebaiknya mengambil sikap netral untuk hubungan temannya itu.


“Ka, sebenernya kenapa sih?” Ocha sudah tidak tahan untuk tidak bertanya.


“Panjang”


“Apanya?” Ocha semakin penasaran.


“Ceritanya, panjang. Yakin mau dengerin?” tanya Azka. Kedua temannya mengangguk. Azka menceritakan kejadian saat di toko buku Rasya bertemu dengan Nadia.


“Wah, dia nggak bilang kalo ketemu Nadia?” tanya Risa buka suara saat Azka sudah selesai bercerita


“Akhirnya bilang, ya walaupun kan sebenernya Gue juga tau dia ketemu Nadia” ucap Azka dengan suara yang lebih tenang. Kehadiran dua sahabatnya ini sungguh obat baginya.


“Tapi kan Lo gak tau apa yang mereka obrolin pas ketemu”


“Mereka tukeran nomor hape. Trus ntar liburan Nadia mau ke rumah neneknya yang disini”


“Gercep amat!” Ocha merubah posisi duduknya menjadi menghadap Azka, “Sabar ya Ka” ucapnya lagi.


“Eh, Kak Rasya gak sepenuhnya salah sih. Bisa jadi dia ngerasa gak enak kalo ngomong sama Gue. Ya kan? Tapi kan ujungnya dia jujur juga. Yaudah lah. Gue gak mau kita jadi musuh gitu aja. Gak bisa dipungkiri, Gue sama dia saling sayang ya kan?” Azka meminta dukungan.


“Iyeee. Sekarang, jangan terlarut sama perasaan sedih. Move on. Kalo-kalo Lo dapet yang lain Ka” Ledek Risa


“Gak dulu ah, kalo bisa sih enggak” ucap Azka berharap.


“Jadi mau sendiri aja setelah selesai sama Rasya?” Ocha menyenggol lengan Azka.


“Gak janji, hehehe”


Mereka bertiga akhirnya pulang saat sekolah sudah terasa sangat sepi. Bagaimana tidak? Semua siswa sudah pulang hampir satu jam yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2