
"Jadi, kamu mau ngomong apa?" Azka membuka pembicaraan dengan gadis di depannya.
"Aku mau bertanya sesuatu sama Mbak" Jawab Nadin.
"Tentang?"
"Mbak sama Kak Rasya" Azka mengangguk tanda mengerti.
"Apa itu?"
"Kenapa Mbak sama Kak Rasya bisa pisah?"
Azka tersenyum, Ia bingung harus menjawab apa. Apa Ia harus berkata bahwa gadis itu juga menjadi salah satu sebabnya? atau Ia harus mengatakan bahwa dirinya dan Rasya sama-sama merasa jenuh?
"Kami pisah karena memang harus pisah" Akhirnya kalimat itu yang dipilih Azka untuk menjawab pertanyaan Nadin.
"Apa Mbak udah gak sayang lagi?" Ia mengeratkan tautan jemarinya, "Karena saya tau Kak Rasya sangat sayang sama Mbak" Ia menunduk.
"Hhh, lucu kalo aku bilang aku gak sayang sama Kak Rasya Nad" Azka terkekeh, "Untuk apa aku jauh-jauh dateng kesini hanya karena dia masuk rumah sakit kalo bukan karena aku masih sayang" Azka menjeda kalimatnya, agak ragu untuk melanjutkan. "Mungkin malah aku udah terlalu sayang sama Kak Rasya" tapi tetap Ia lanjutkan juga.
"Trus kenapa harus pisah?"
"Hahaha. Apa ini penting banget buat kamu?"
Azka tertawa kecil.
"Penting, aku harus tau kenapa Mbak sama Kak Rasya pisah. Aku harus pastiin bahwa alasannya gak akan terjadi sama hubungan aku nantinya"
"Kamu sayang banget ya sama dia?" bukan menjawab, Azka justru melemparkan kalimat bernada ledekan itu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jadi? apa alasannya?" tanyanya lagi.
"Kadang kita berakhir bukan karena memang kita merencanakan untuk berpisah. Bukan juga karena salah satu diantara kita melakukan kesalahan. Kadang kita cuma ngikutin takdir yang mengharuskan kita berpisah" Azka tersenyum.
Nadin tertegun, Ia terpaku pada senyum tulus yang diberikan Azka saat mengatakan kalimat panjangnya. Pantes aja Kak Rasya sayang banget. Dia.. cantik dan tulus!
"Jadi kalian masih saling sayang, tapi memilih berpisah?" Azka mengangguk.
"Kenapa?" nampaknya Nadin belum mengerti logika ini.
"Karena harus. Karena ada hal yang harus kami kejar dan perjuangkan di luar hubungan ini"
"Tapi kenapa Mbak sama Kak Rasya gak bareng-bareng lagi kalo masih sayang?"
"Aku tanya sekarang, dimana kamu akan berada kalo aku sama Kak Rasya bareng lagi?" Nadin terkejut, "Apa memang kamu siap untuk itu?" Nadin menggeleng samar, tapi gerakannya masih bisa ditangkap oleh mata Azka.
"Apa bener kata Kak Rasya, karena Mbak deket dengan Saga?"
"Karena kami sama-sama sayang"
"Good!" Sambar Azka. Nadin terkesiap, "Ini jadi lebih mudah. Aku gak akan khawatir lagi karena memang benar sudah ada kamu di sisi Kak Rasya. Aku tinggal mengkhawatirkan masa depan aku aja yang belum jelas jalannya"
"Mbak.."
"Tugas aku selesai. Bahkan jauh melampaui apa yang harus aku selesaikan. Kak Rasya sudah kembali tumbuh menjadi dirinya sendiri. Bahkan dia sudah bisa nemuin seseorang yang dia pilih sebagai pendampingnya. Itu bagus sekali. Aku pikir awalnya Dia akan terus terjebak dengan perasaan itu sama aku selama-lamanya, bahkan Aku udah bersiap untuk itu. Tapi memang Yang Di Atas selalu punya cara untuk menggagalkan rencana hamba-Nya dan menggantinya dengan skenario sempurna"
"Jadi Mbak sebenernya gak pernah merasa.."
"Bukan begitu, udah aku katakan bahwa aku udah terlalu sayang sama Kak Rasya. Andai dia memilih aku ketika dia udab menemukan lagi dirinya secara utuh, Aku akan senang hati ada di sampingnya. Tapi ketika dia menemukan seseorang yang lain, sesuatu dalam diri ini mengatakan untuk berhenti. Berhenti membuat Kak Rasya hanya terpaku dengan satu orang yang seolah dia gak punya pilihan lain. Berhenti untuk membuat kepercayaan dirinya ternoda dengan mengatakan bahwa hanya sama Aku dia akan bisa melewati semuanya. Karena aku sayang, maka aku akan mendorongnya untuk bisa hidup lebih merdeka. Meski dorongan itu harus diawali dengan kesakitan karena jatuh terlebih dahulu"
__ADS_1
Tes..
Tes..
"Maaf" ucap Azka sudah tidak bisa menyembunyikan getaran pada suaranya. Ia menyambar cepat tisue di depannya. Menyusut air mata yang jatuh tanpa Ia duga.
Ya, demi memerdekakan perasaan Rasya yang kini tertaut pada gadis di sebelahnya, Azka memang rela terjatuh dan merasa sakit seperti sekarang. Ia juga rela Rasya merasakan sakitnya dorongan itu. Hanya agar Ia bisa memilih jalan hidupnya. Karena hidup itu memang pilihan. Tapi untuk masalah pada siapa hati kita berlabuh, sayangnya kita tak bisa memilih. Dan Rasya sudah memilih Nadin, begitu juga dengan dirinya. Telah memilih untuk kembali menapaki jalan terjal yang baru.
"Aku baru sekali ini ketemu dengan seseorang yang berpikir seperti ini" Nadin menunduk, "Aku gak akan nyia-nyiain ini Mbak. Demi apapun, aku gak akan rela melepas dia"
"Untuk itu saya berhenti. Tolong.. buat dia bahagia. Untuk kamu, untuk keluarga kalian nantinya"
"Aku harus apa kalo ternyata hal yang Mbak alami terjadi sama aku?" ada raut ketakutan dari wajahnya.
"Kamu harus bertahan" Nadin mendongak, mencari sesuatu dari netra yang ada di depan matanya.
"Nadin, kita mungkin ada di hidup satu orang yang sama. Aku di masa lalunya, tapi kamu ada disaat sekarang dan masa depannya. Aku mohon jangan ada orang lain lagi selain kita" Nadin terisak kecil, napasnya terdengar memburu. Ia terlihat sangat terbawa emosi yang tercipta di sekeliling mereka. "Selesaikan ini. Jangan kasih celah untuk orang lain mengisi kehidupannya" tambah Azka.
---
Azka kembali pulang ke tanah perantauan, dengan hati yang hancur namun siap menjadi hati yang baru. Memulai kembali segalanya dari awal. Perjuangan hidup nyatanya belum selesai. Dan Azka hanya harus kuat.
Tring!
-081 xxx xxx xx9-
Makasih Mbak. Aku janji akan buat Kak Rasya bahagia dengan aku. Sampai dia lupa pernah merasakan bahagia yang sama ketika dia sama Mbak.
Ehm bukan, aku akan buat dia jauh lebih bahagia ketika bersama aku, dari pada ketika dia selama sama Mbak.
__ADS_1
Azka tersenyum. Jadi, aku benar kan?