Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 22


__ADS_3

Ujian sudah selesai seminggu yang lalu. Hari ini adalah hari pertama Rasya akan kembali bersekolah. Kedatangan Rasya dengan menggunakan kursi roda ke sekolah membuat satu sekolah menjadi ramai. Pagi itu Rasya yang dianter dengan menggunakan mobil hingga masuk menyeruak dilapangan sepak bola sudah cukup membuat orang-orang memperhatikan mereka. Belum lagi ketika Rasya diturunkan dari mobil bersamaan dengan kursi roda. Namun kehebohan tidak hanya sampai disana, kehadiran Azka dengan senyum yang mengembang di wajahnya, bergerak dengan gerakan santai yang terlihat seakan-akan sedang dalam gerakan slow motion ditengah lapangan sepak bola yang sepi itu menjadi satu-satunya pusat perhatian dari seantero siswa SMA Negeri 45 pagi itu.


---


“Welcome!” Ucap Azka menyambut Rasya yang hari ini mulai masuk sekolah setelah melewati hampir 3 bulan belajar mandiri di rumah.


“Makasih” ucap Rasya seraya membalas senyuman di wajah Azka.


“Makasih Om, Kak Rasya biar Azka aja yang anter ke kelas” ucapnya pada om sopir yang mengantar Rasya.


“Makasih ya Dek Azka” ucap om sopir itu


Azka bergegas berdiri di belakang kursi roda, mendorongnya menuju tepi lapangan yang lebih rata. Ia dorong perlahan kursi roda itu. Sesekali Azka harus menahan kursi roda dari guncangan bebatuan kecil yang ada. Sebisa mungkin Ia menggerakkannya dengan lembut, seolah-olah tubuh Rasya adalah kaca yang dengan sedikit gerakan kasar akan membuatnya pecah begitu saja.


“Nggak apa-apa kamu yang dorong kursi rodanya sampe kelas?” tanya Rasya ditengah perjalanan mereka “Nggak apa-apa, emang kenapa?” Azka bertanya sambil menunduk menatap Rasya dari atas


“Itu diliatin sama orang-orang” ucapnya seraya menunjuk kerumunan orang disetiap kelas lalu mendongak melihat wajah Azka dari kursi rodanya


“Biarin aja, biar semua orang tau, dan kamu juga tau, kamu gak sendirian. Kamu masih punya aku sebagai kaki kanan kamu” ucap Azka serius


“Nggak malu emangnya jalan sama cowok kayak aku?”


“Ngapain malu? Kalo jalan sama cowok gak pake baju, baru aku boleh malu” Azka terkekeh


“Bisa aja kamu”


Azka terus berjalan mendorong kursi roda Rasya. Beberapa kali mereka disela oleh teman-teman mereka yang lewat dengan jalan yang lebih cepat. Sesampainya mereka diperbatasan lapangan basket dan kelas IPA 1, Agil menghampiri mereka berdua.


“Bro, selamat datang di sekolah” ucap Agil merentangkan tangannya seolah meminta pelukan.


“Apaan sih Gil” ucap Rasya memukul perut Agil pelan


“Gue nyambut Lo Bro” Agil terkekeh. Dia bergerak ke arah Azka, melepaskan tangan gadis mungil itu dari pegangan kursi roda.


“Eh?”


“Biar Gue yang gantiin. Udah cukup Lo berdua jadi pusat perhatian satu sekolah. Gak sudi Gue!” ucap Agil sambil menunjukkan cengiran khasnya


“Oh, oke deh” jawab Azka. Mereka jalan bertiga dengan Azka berjalan sejajar dengan Agil.  Semua penghuni kelas IPA 1 dan kelas IPA 2 menyembul keluar, Fabel, Doni, Salim, Adit, Wira, dan Rahmat keluar dari kelas menghampiri dan menyapa Rasya dengan hangat. Tak jauh berbeda dengan gaya Agil tadi. Beberapa cowok dari kelas XI IPA 2 juga mendekat. Anda, Andri, Risky, dan beberapa orang lain.


“Deuuuh, Dek, gercep amat nyusulin ke lapangan” ucap Ncy teman sekelas Azka. Pita, Ana, Melisa, dan Wede ikut terkikik geli. Azka hanya nyengir ke arah mereka.


“Kak, aku ke kelas yah. Gapapa sama Agil aja ke kelasnya?” ucapnya mendekatkan kepala ke arah telinga Rasya


“Iya, gak apa-apa”


Azka pun berbelok menuju kelasnya.


“Dek, emang Rasya gak akan pake kaki palsu?” tanya Ncy yang memang memanggil Azka dengan sebutan Dek.


“Katanya nanti, belum boleh sekarang. Kakinya juga lagi dipesan” jawab Azka sambil meletakkan tas di atas meja


“Gila, salut sih Gue ama Lo Ka” ucap Wede


“Gue gak bisa bayangin kalo Lo gak ngasih semangat sama dia. Kalo Gue jadi dia Gue mah pasti depresi lah” ucap Melisa membesar-besarkan


“Hehehe, kalian tuh. Kak Rasya gak cuma butuh semangat dari satu orang. Tapi dari kita


semua sebagai temannya” ucap Azka sok bijak


“Tapi gara-gara kecelakaan ini, jadi terpampang nyata yah, gimana hubungan inih anak” ucap Pita senyum-senyum


“Bilang aja Lo keki!” ucap Ncy sambil menoyor kepala Pita


“Biarin!” ucapnya sambil mengelus kepala yang tadi ditoyor oleh Ncy

__ADS_1


“Hahahaha” mereka tertawa.


“Ka, Rasya udah masuk?” tanya Risa dan Ocha bersamaan menghampiri kumpulan cewek-cewek yang sedang tertawa itu.


“Udah, itu dikelasnya” jawab Azka menghentikan tawanya


“Pake kursi roda?” tanya Ocha lagi


“Heem” jawabnya sambil tersenyum


“Wah, dia gak bisa kemana-mana dong kalo gak ada yang nemenin” ucap Risa


“Tenang, ada temen-temennya di kelas. Insya Allah pasti siap bantu kok” jawab Azka masih tenang


“Ada Lo juga ya?” goda Risa lagi


“Enggak, selama di sekolah kecuali dateng dan pulang, Gue gak akan ikut-ikut ngurusin dia kok. Biar dia tetep bisa berbaur sama temen-temennya. Kalo ada Gue pasti nanti jadinya Gue doang yang nemenin” jelasnya


“Bilang aja Lo gak mau cape ngurusin dia” ucap Ocha asal.


“Sembarangan!” Azka melotot ke arah Ocha


“Iya iya, sorry”


“Sukur Lo Cha, Azka ngamuk bahaya, hehehehe” ucap Pita. Pita, Melisa, Wede, Ana, dan Ncy akhirnya kembali ke bangku mereka meninggalkan Azka, Ocha, dan Risa bertiga.


---


Di luar kelas, nampak Alfan dan tim nasyidnya berjalan menuju kelas XI IPA 1. Mereka berhenti sejenak ketika melihat kerumunan yang berkumpul di sekitar kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2. Sekilas mereka melihat Azka berada tepat disamping seseorang yang sedang memegang kendali kursi roda. Di kursi roda terlihat seseorang yang tak asing bagi Alfan. Mereka sedang mengobrol seru. Seolah-olah mereka adalah teman lama yang sudah lama tak bertemu.


“Itu siapa Bang?” tanya Juan penasaran


“Oh, itu Rasya. kelas XI IPA 2” jawab Alfan singkat


“Oh, itu bukannya mbak Azka?” tunjuk Tama pada seorang cewek yang berdiri dibelakang kursi roda ditengah kerumunan


“Mbak Azka kayaknya deket ya sama itu, siapa? Kak Agil” ucap Tama mencoba mengingat-ingat nama cowok yang juga berdiri dibelakang kursi roda


“Iya, mereka cukup deket. Agil sahabatnya Rasya. Rasya deket sama Azka.” Jelas Alfan


“Mereka pacaran Bang?” tanya Juan cepat


“Entah tuh. Dari kelas sepuluh emang deket. Bahkan mereka katanya emang udah begitu dari jaman SMP” Alfan mengedikkan bahu tanda tak terlalu (mau) tau


“Masa Bang Alfan gak tau sih?” tanya Juan lagi


“Ya mereka deket, pacaran mungkin. Tapi Azka gak pernah cerita pernah bener-bener ditembak apa gak” Alfan mengingat-ingat setiap curhat Azka padanya


“Bang Alfan cemburu gak?” tanya Tama


“Hah?? Cemburu? Ya nggak lah. Saya sama Azka kan gak ada apa-apa”


“Ya kirain, kan Abang sama Mbak Azka deket banget”  Merekapun melesat menuju kerumunan, lalu berpisah saat Alfan masuk ke kelas, dan mereka  menjauh menuju ruang kelas mereka di sepuluh satu.


---


Saat pulang sekolah, Azka bergegas keluar kelas dan menghampiri Rasya yang sudah menunggu di depan kelasnya.


“Gimana hari pertama sekolah?” sapa Azka dengan senyuman yang terbingkai


“Ya begitulah”


“Ya begitulah gimana?” tanyanya lagi


“Ya gitu aja. Emang harus gimana?” Rasya balik bertanya

__ADS_1


“Seneng nggak? Apa malah gasuka udah boleh sekolah?” tanya Azka memperjelas


“Seneng” jawabnya sekilas


“Seneng kok gitu? Kamu gak apa-apa kan Kak?” tanya Azka serius. Wajahnya menampakkan kekhawatiran


“Nggak, cuma nggak enak aja jadi perhatian gitu. Nggak suka aku” ucapnya lalu menunduk


“Itu tandanya banyak yang sayang sama kamu” kata Azka lembut.


Dari jauh terlihat mobil jemputan Rasya memasuki gerbang sekolah. Azka menggeser kursi rodanya sedikit, mengikis jarak di atas teras kelas.


“Mereka begitu bukan karena sayang. Lebih karena kasian” ucapnya ketus


“Apa salahnya kalo mereka merasa kasian kak? Itu wajar. Itu juga tanda sayang menurut aku” Azka mencoba menenangkan


“Aku gak butuh dikasihani sama mereka. Aku mau dianggap seperti biasa. Bukan seperti orang cacat yang harus dikasihani”  Azka terdiam sejenak karena om sopir mulai membukakan pintu disamping kemudinya untuk Rasya. Azka membantu memegang  lengan Rasya sesaat sebelum masuk ke mobil, tapi gerakan tubuh Rasya seolah mengatakan ‘aku bisa sendiri’. Azkapun melepaskannya. Dia tertatih dipapah om sopir masuk ke dalam mobil. Azka tersenyum saat pintu sudah ditutup dan om sopir berpamitan kepadanya.


“Hati-hati ya” ucap Azka


Rasya hanya diam. Ia tidak menjawab apa-apa. Azka menipiskan bibirnya, menyembunyikan rasa sedih dan bingung yang Ia rasakan.


“Om, titip Kak Rasya ya. Salam buat Tante Atik dirumah” ucapnya pada om sopir, yang dibalas anggukan. Rasya tetap bergeming hingga mobil bergerak menjauh dari hadapannya.


“Aku salah ngomong?” Azka bergumam lalu kembali ke kelas.


Ternyata masih ada Alfan di kelas. Sejak menjelang bel pulang, Alfan keluar kelas untuk mengumpulkan tugas karena Bu Ambar tidak masuk. Ternyata Ia masih ada disini, atau mungkin dia tau apa yang barusan terjadi?


“Eh, Azka. Belum pulang?”


“Kamu sendiri kenapa belum pulang Mas?” Azka bertanya balik


“Tadi abis ngumpul tugas, ke mushola bentar, trus kesini buat ambil tas” jelasnya


“Tadii..“ baru Azka mau menyelesaikan kalimat, tapi Ia urungkan niatnya


“Tadi kenapa? Kamu mau nanya aku lihat kejadian tadi dan denger obrolanmu apa nggak?” tanya Alfan tepat sasaran.


Azka mengangguk “Maaf, bukan niat nguping atau memata-matai. Tapi emang tadi obrolanmu kedengeran, dan aku juga liat sikap kalian berdua selama ngobrol” ucap Alfan menjawab pertanyaan Azka yang tadi ditebak olehnya


“Aku salah ngomong ya Mas?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirnya. Azka mendudukkan diri di kursi dihadapan Alfan


“Menurutku kurang tepat. Bukan salah” Alfan menghentikan aktivitasya dan menatap gadis yang sudah berubah menjadi murung itu


“Kurang tepatnya?”


“Rasya baru lagi merasakan masuk sekolah. Kondisinya gak sama dengan kondisi dia sebelumnya. Dia pasti minder. Dan mendapat perlakuan yang seolah istimewa bukan membuat dia senang, tapi pasti dia justru merasa gak bisa apa-apa dan ngerasa gak berguna” Azka tertegun mendengar penjelasan Alfan.


“Lagipula, wajar dia ngerasa begitu. Apalgi tadi kamu malah bilang apa salahnya orang-orang merasa kasian? Mungkin dia jadi berpikir bahwa kamu masih ada di sisinya karena rasa kasihan aja, itu bisa jadi buat dia sedih” lanjut Alfan


“Hmmmh, itu sebabnya kamu gak ikut nyambut dia bareng anak-anak tadi pagi?”


“Iya enggak juga, aku pikir dia udah cukup seneng disambut begitu, dan harus dijaga perasaannya dengan memperlakukan dia seperti sebelum dia kehilangan kakinya. Aku tadi udah sapa dia kok. Dan udah ngobrol sebentar pas ketemu”


“Oooh, hmmh. Makasih ya Mas, aku jadi tau harus apa sekarang”


“Emang harus apa?” tanya Alfan


“Aku harus pulang. Hehehe” Azka terkekeh


“Yaudah, yok bareng. Aku gak lagi bawa vespa kok” ucap Alfan


“Serius?” tanya Azka kegirangan


“Heemh,  tapi kita ke mushola dulu pamitan sama anak-anak” ucap Alfan menggendong tas ranselnya dipunggung, meraih tas Azka dan membawanya

__ADS_1


“Ayo” ajaknya lagi


“Ih Mas, sini tasnya biar aku aja yang bawa” Azka meraih tas dari tangan kanan Alfan, lalu mensejajari langkahnya menuju mushola.


__ADS_2