
Liburan telah usai. Kini Azka akan menempati kelas baru dengan teman-teman yang baru. Penjurusan dilakukan di tingkat dua. Pembagian kelas akan dilakukan hari ini, setelah sebelumnya mereka mengisi form penjurusan sesuai minat dengan melampirkan nilai-nilai yang diperoleh saat kelas X. Sudah tiga hari, masa orientasi siswa dilakukan. Sekolah kini mendapatkan penghuni-penghuni baru setelah penghuni lama tingkat akhir telah lulus. Sebagian besar siswa baru adalah adik-adik kelas yang dulu satu sekolah saat Azka SMP. Sambil menunggu waktu pembagian kelas, mereka; Azka, Ocha, Risa, Iren, Nadia, dan Ita, duduk-duduk di pinggir lapangan basket yang juga dekat dengan lapangan tempat dikumpulkannya siswa-siswa baru. Beberapa siswa mendekati mereka mengajak berkenalan dan meminta tanda tangan. Setelah selesai mereka berpamitan dan segera beredar mencari target kenalan selanjutnya.
“Kalo inget dulu lucu ya, pertama-pertama kita kenal kakak kelas. Ahahaa” Ucap Nadia mengenang.
“Iya, Lo sama si Dara ngeceng sama Kak Yasa kan?” Azka mengingatkan
“Iya, Lo sama kak Erfian!” balas Nadia tak mau kalah.
“Gue dong, kecengannya anak IPS. Kak Doni!” ucap Risa malah mengakui
“Gue, ngeceng sih ngeceng, tapi gak ngebet kayak Lo pada” ucap Iren merasa menang
“Ya iyalah, Lo mah udah punya cowok!” ucap Azka sambil menyenggol lengannya.
“Hehehehe, ya maaf” katanya lagi.
“Kok kalian pada ngeceng kakak kelas sih? Gue mah enggak!” ucap Ita.
“Yaaah gak seru Lo mah Ta” kali ini Ocha yang menimpali.
“Emang Lo ngeceng siapa Cha?” tanya nadia
“Dia mah banyak kecengan Nad” ucap Azka sambil terkekeh geli
“Sial lo Ka! Kecengan Gue mah tetep yang dulu. Setia Gue” ucap Ocha sambil menepuk-nepuk dada bangga
“Setia setia, setiap tikungan ada!” ucap mereka bersamaan.
Tawa kembali pecah disela-sela obrolan mereka yang tak berfaedah. Tak lama kemudian, panggilan apel untuk kelas XI dan XII bergema. Siswa-siswa kelas X mulai memasuki kelas bersamaan dengan siswa kelas XI dan XII yang bergerak ke arah lapangan upacara.
Mereka berbaris menurut kelas asal. Mendengarkan beberapa amanat dan petuah dari guru yang menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Setelah itu, kini bagian wakil kepala sekolah bidang akademik/kurikulum yang maju ke depan. Beliau membawa beberapa kertas daftar nama siswa sesuai pembagian kelas yang sudah disetujui oleh kepala sekolah. Pak Dwi mulai membacakan pembagian kelas untuk kelas XII. Selang berapa lama, kini giliran kelas XI yang dibagi memasuki kelas penjurusan.
“Yes! Kita sekelas!!!” ucap Azka, Iren, Risa, Ocha, dan Ita. Tak lama kemudian Alfan dan Fabel ikut bergabung. Mereka menunggu lagi, tapi ternyata siswa yang menghuni kelas XI IPA 1, yang menjadi kelas mereka, telah selesai dibacakan. Kini beralih ke kelas XI IPA 2, dan seterusnya hingga kelas XI IPS 3.
“Yaah, Gue misah. Tapi untung Gue sekelas sama Dara, Achin, Ipit. Eh Ka! Gue sekelas sama Rasya loh” ucap Nadia sambil cengar cengir gak jelas.
“Ya terus?? Gausah banyak berantem kayak jaman kelas 8 ya. Entar suka loh!” ucap Azka sambil tertawa
“Kalo Gue jadi suka emang kenapa? Cemburu Lo Ka?”
“Enggak, Gue enggak cemburu!” Azka memeletkan lidahnya pada Nadia.
“Udah-udah, yok ke kelas. Bye Nad, sampai jumpa lagi nanti” Ucap Risa sembari menggeret Azka memasuki kelas.
Saat memasuki kelas, Azka mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi kelas.
“Gila, ini sih kelas pembantaian! Penuh kompetisi!!” gumamnya yang masih terdengar oleh Ocha, Risa, Ita, dan Iren.
“Aslinya Ka” jawab Risa menyetujui
“Ini sih, buat tanding 17an gak akan menang kita” gumam Azka setelah menghitung jumlah laki-laki dikelasnya yang mendapat anggukan kepala oleh Ocha.
“Boro-boro menang Ka, jumlah orang aja gak cukup!” bisiknya
“Ini mah kelas bakal kosong kalo ajang olimpiade kali ya, dilibas habis ini mah. Gak akan juara apa-apa disini”
“Whahahaa, Lo mah masih ada harapan Ka. Lah gue?” ucap Ocha sambil menepuk bahu sahabatnya
“Gue gak mau terlalu berharap Cha. Lama-lama berharap jadi juara harapan Gue Cha!”
merekapun tertawa bersama.
Hari itu seperti tiga hari belakangan ini mereka isi dengan acara-acara gak jelas karena masih masa orientasi. Masa dimana mereka sebagai kakak kelas merasa sangat bahagia gak perlu ada pelajaran di kelas. Meskipun sebagian mereka adalah pengurus osis, tetap saja yang banyak mengurus adalah pengurus osis dari kelas XII. Dan, berakhirlah cewek-cewek itu disini, dipinggir kelas yang menghadap ke lapangan sepak bola dan jejeran ruang kelas X di sebrang mereka.
“Liat-liat, Adek itu ganteng” tunjuk Ocha pada seorang laki-laki putih tinggi dengan mata bulat dan potongan rambut yang rapih.
“Cha, katanya setia?” ucap Azka mengusik tatapan Ocha pada si Adik kelas
“Gantengan juga itu tuh” tunjuknya pada seseorang berbadan tegap, kulit hitam manis, dengan potongan rambut rapi bak polisi. Matanya bulat dengan senyum yang cukup manis.
“Deuh, udah ada Rasy—“
“Sssstttt!” ucap Azka sambil membekap mulut Risa. “Gak bisa diem ah, ntar ke geeran dia kita omongin”
__ADS_1
“Bilang aja lo takut ketauan lagi ngelirik Adek kelas” ucap Ocha terkekeh
“Syaaaa, nih si Azka ngeliatin Adek kelas ganteeeng” teriak Iren tiba-tiba
“Sialan Lo Ren! Ga seneng amat dah Gue cuci mata bentar” ucapnya sambil menjitak kepala Iren pelan.
Sekilas Azka melihat Rasya yang meliriknya dari balik tubuh Agil. Mereka juga sedang berdiri di depan kelas menghadap ke arah yang sama. Rasya tersenyum, kemudian Azka membalasnya sekilas. Azka kembali memfokuskan pandangannya ke arah sebelumnya. Lama keheningan menyelimuti mereka yang masih sama-sama memandangi arah yang tak jelas
“Tuh, kan kalo jalan tegap gitu dia. Liat-liat! dia senyum” ucap Azka kegirangan masih fokus pada seseorang yang tadi Ia tunjuk
“Bukan senyum sama Lo Ka!! Bagusan juga itu noh, tinggi, putih, kayak orang jepang-jepang gitu” ucap Risa menunjuk salah satu Adik kelas yang juga sedang ada di pinggir lapangan.
“Sa, mirip Kak Doni ya? Pantes Lo nunjuk yang itu. Selera Lo banget Sa!” ucap Azka.
“Woy, Lu pada ngapain sih, nunjuk-nunjuk gak jelas. berani mah samperiiin” ucap Fabel yang tiba-tiba entah datang dari mana sudah berada di belakang lima gadis itu.
“Yeee, mana ada sejarahnya sel telur ngejer-ngejer ******!” ucap Azka asal
“Hooh, dimana-mana juga ****** yang ngejer-ngejer sel telur” ucap Iren menambahkan
“Idih, bahasanya Biologi amat si Nur sama Iren!” ucap Fabel kemudian.
“Eh tapi bener juga” lanjutnya. Merekapun tertawa.
“Ngomong-ngomong soal sel telur sama ****** nih ya. Gue mau tanya. Kan ****** yang ngejer sel telur. Trus kalo di rahim tuh sel telurnya mau aja loh di deketin. Gak ada yang ngehindar. Kenapa cewek kalo dideketin tuh susah, repot, banyak alasannya?” tanya Fabel sambil mengedarkan pandangannya pada mereka berlima.
“Soalnya yang ngedeketin Lo!” Jawab Ocha sambil menahan tawa, diikuti tawa yang menggema dari keempat lainnya
“Sompret Lu pada”
---
Sebagian siswa laki-laki memilih bermain basket di lapangan yang berada di sebelah kelas XI IPA 1 sejak istirahat. Mereka saling bertanding antar kelas, juga dengan Kakak kelas untuk mengisi kegiatan saat kelas X masih melakukan orientasi. Agil, Rasya, dan beberapa siswa kelas XI IPA 3 bergabung membentuk satu tim. Saat ini mereka sedang bertanding melawan siswa dari kelas XI IPS. Diantaranya ada Wahyu dan Ivan dari kelas Azka dulu di kelas X.3. pertandingan cukup seru, hanya karena tidak ada perwakilan kelas IPA 1, Azka tidak berniat menonton. Mana ada siswa kelas IPA 1 yang main begituan. Mereka ahli mushola dan perpustakaan. Hehehe
“Ka, liat ayook” rengek Iren karena Ocha dan Risa sedang ke WC
“Ngapain sih Ren, males ah”
“Nggak seru Lo mah Ka. Ayok sih, seru itu pertandingannya” ucap Iren sambil menggoyang-goyangkan tangan sahabatnya. Azka memutar bola matanya jengah.
Mereka memutuskan duduk di pinggiran kelas yang masih tersisa. Banyak siswa yang sudah ikut menyaksikan pertandingan meskipun harus duduk di lantai pinggiran kelas.
“Udah berapa berapa skornya?” Iren bertanya pada salah seorang disampingnya.
“Udah 2-1 Ren” jawabnya yang ternyata adalah Winda dari kelas XI IPA 2
“Siapa yang menang Win?” Azka nimbrung
“IPS Ka” jawabnya. Azka dan Iren ber Oh ria mendengar informasi itu. “Udah lah, gak akan menang itu anak IPA mah. IPS deh yang paling jago ginian biasanya” ucap Azka malas.
“Huuss gak boleh gitu Ka. Meskipun ga ada IPA 1, dukung kek itu ada Rasya loh” ucap Iren sambil menepuk pundaknya
“Iya, Gue tau Ren. Gue dateng kesini juga udah lebih dari ngasih dukungan tau” kata nya menaikkan alis ke atas dan kebawah 2 kali.
“Kalo gak dipaksa juga gak bakal mau Lo mah. Udah mulai ketularan tuh, anak-anak IPA 1 yang kerjaannya buka buku mulu”
“Lah, Elo juga IPA 1 Ren”
“Eh iya, hehe”
Dari kejauhan Azka melihat Ocha dan Risa sudah kembali.
“Kemana aja sih, lama amat! Ke WC doang padahal” Tanyanya pada Ocha dan Risa ketika mereka duduk disampingnya dan Iren.
“Tadi di mushola ketemu si Alfan, jadi ngobrol dulu deh” ucap Ocha yang mendapat anggukan dari Risa sebagai tanda persetujuan.
“Ini siapa yang menang?” tanya Risa
“Masih anak IPS, 2-1” kini Iren yang menjawab tanpa memalingkan wajahnya dari lapangan.
Tatapan Iren tidak bergerak mengikuti pergerakan para pemain basket di lapangan, sesekali dia berseru, berteriak marah, atau mengeluh kecewa. Azka, Ocha, dan Risa menikmati saja pandangan yang ada di depan mereka dengan suara para penonton sebagai backsoundnya. Tiba-tiba,
Bruk!!!
__ADS_1
“Aaaaggh!”
Kepala Azka terhantam bola basket yang entah dilempar oleh siapa. Seketika kepalanya pusing, dan merasakan denyut tak karuan dibagian yang terkena bola tadi. Azka masih memejamkan mata sambil memegang bagian kepala yang terkena bola. Terdengar Ocha, Iren dan Risa bertanya panik karena Azka tak menjawab mereka. Azka masih mencoba untuk merasakan denyut dan perih yang bercampur. Akhirnya ketika Ia bisa mulai membuka matanya, Ia mendongak. Dan tebak saja, sudah banyak sekali manusia disekitarnya.
“Sakit” rintih Azka telat.
“Telaaat Ka! daritadi ngapain sih Lo diem aja. Bikin khawatir” ucap Ocha gemas melihat kelakuan sahabatnya itu.
“Hooh, bikin takut. Kirain Lo bakal pingsan” ucap Risa ikut kesal.
“Emang boleh? Nanti yang bawa ke UKS siapa?” alih-alih menangis Azka malah bertanya hal yang membuat semua orang jengah.
“Dasar Oneng. Bener-bener deh. Kebanyakan nonton drama gini nih” ucap Iren
“Tapi beneran sakiiit” Azka mulai merengek
Semua orang yang tadi mengerubunginya satu persatu kembali ke tempat semula. Tapi nampaknya pertandingan belum dilanjutkan. Di sebrang lapangan terlihat beberapa orang sedang menunjuk-nunjuk Ivan dengan kasar.
“Yang lempar bola siapa sih? Sakit gila” Azka bertanya mengalihkan pandangan sembari masih terus mengelus bagian kepala yang terasa sedikit perih dan puyeng.
“Si Ivan Ka. Itu kayaknya Agil sama anak-anak masih ngamuk disono”
Tak lama kemudian Ivan berjalan mendekati mereka.
“Ka, sorry ya. Asli gak sengaja Gue”
“Iyah, gak papa. Sakit sih, cuma yaudah lah. Asal gue gak geger otak aja” jawab Azka asal, hanya agar Ivan tak terlalu merasa bersalah
“Beneran Ka?”
“Iyaaa. Tapi kalo Gue tiba-tiba Beg*k, Lo ya yang pertama Gue mintain tanggung jawab”
“Trus, Gue harus nikahin Lo, Ka?”
“Ya nggak beg*k! Lo kira si Azka bunting!” Iren kesal mendengar pertanyaan Ivan yang terdengar ngaco.
“Ehehehe” Ivan terkekeh sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
“Udah buruan main. Kelamaan lo mah” Rasya yang sudah ikut berada disampingnya menyeret Ivan agar kembali ke lapangan.
“Dek? Gak apa-apa?” tanya Rasya sebelum kembali bermain.
“Apa-apa lah Kak! Ini kepala sampe cenut-cenut, untung gak benjol” jawab Azka kesal.
“Yaudah, Aku main dulu nanti kesini lagi” ucap Rasya saat Agil mulai memanggil-manggil namanya dari tengah lapangan. Azka mengajak Ocha, Risa dan Iren untuk pergi ke mushola untuk menenangkan kepala yang masih merasa sakit. Merekapun bergerak hati-hati di pinggir lapangan. Rasa was-was masih menyelimuti, takut kalau-kalau ada bola lagi yang terbang nyasar ke kepala mereka. Sesampainya di mushola Azka langsung merebahkan tubuhnya di salah satu pojokan. Setelah dirasa baikan, Ocha mengajak ketiga temannya untuk keluar.
Merekapun bergerak ke bawah pohon yang dimaksud Ocha. Pohon ini biasa disebut pohon cinta. Entah bagaimana asal-usulnya. Padahal pohon ini letaknya berada di depan mushola. Jadi sepertinya tidak mungkin kalo pohon ini sering digunakan untuk berdua-duaan. Entahlah, mungkin hanya nama-namaan saja.
“Jadi kenapa kepalamu Ka?” tanya Alfan yang menghampiri mereka bertiga
“Kena bola” kata Azka singkat
“Kamu main bola?” tanya Alfan lagi
“Enggak, kelempar sama Ivan disono”
“Sakit?”
“Lo masih nanya lagi Fan. Itu jelas-jelas dia ngumpat terus tuh. Untung aja kepala nya gak benjol” Iren memeragakan benjolan dengan meletakkan kepalan tangannya di atas kepala
“Ehehehe, siapa tau si Azka kuat. Jadi gak ngerasa apa-apa” kekeh Alfan
“Kalian ngapain sih disini terus? Shalat gak selama itu kali. Gabung kek itu pada main” Risa mengomel ketika rombongan cowok IPA 1 keluar dari pintu mushola secara bersamaan menuju undakan di bawah pohon cinta.
“Dzikir Sa. Elaah masa kita ibadah malah dimarahin” ucap Salim tanpa ekspresi
Mereka menahan tawa melihat ekspresi yang dibuat oleh Salim. Ekspresinya selalu begitu, tak pernah berubah mengikuti suasana hatinya. Mau sedih, gundah, bahagia, tertawa, menangis, sepertinya ekspresinya itu-itu saja. Kecurigaan mereka sampai saat ini adalah Si Salim dulu waktu dibagi-bagi ekspresi sama Allah dia bolos. Jadi gak kebagian. Hehehe
“Eh, Gue mau ke wc dulu ya” ucap Azka pada Ocha, Iren, dan Risa tanpa terdengar oleh para cowok-cowok disana. Azka berjalan menunduk sambil meraba kepalanya yang tadi terbentur bola. Saat mendongak,
“Astaghfirullah” ucap Azka kaget, namun cukup lirih untuk tak terdengar teman-temannya
“Maaf Kak, maaf buat Kakak kaget” Ucapnya lalu berlalu pergi.
__ADS_1
‘Anak kelas X deh ini’ gumam Azka melihat nametag dan atribut yang digunakannya.