Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 16


__ADS_3

“Salah satu dari mereka meninggal Ka” Ocha menunduk. Bagai tersambar petir, Azka terpaku pada kata terakhir yang dikatakan Ocha.


“Cha” ucap Azka lirih masih tak percaya dengan apa yang Ia dengar, tetesan demi tetesan telah terjun bersama kesedihan kabar itu. Ocha memeluk Azka, diikuti Risa dan Iren. Azka terisak, bahunya berguncang karena sudah tidak dapat menahan tangisan. Satu persatu pelukan Iren, Risa dan Ocha terlepas. Azka terduduk di kursinya. Ocha terus membelai punggung Azka mencoba menenangkan.


“Yang lain ke lapangan. Biar Ocha yang temenin Azka di kelas” terdengar Alfan menginstruksikan teman-teman sekelasnya untuk segera ke lapangan.


Tubuh Azka melemas, tapi kemudian Ia seperti menggila, Ia merogoh ponselnya di dalam saku baju yang terasa amat dalam akibat sweater dan lapisan jaket yang Ia pakai. Ia mencoba menelpon nomor Rasya. Beberapa detik kemudian muncul suara wanita operator. Ia mencoba sekali lagi, berkali-kali. Akhirnya Ia frustasi dan membanting ponselnya ke atas meja.


“Ka! hape Rasya pasti mati, gak akan bisa dihubungin” Ocha mencoba mengembalikan akal sehat sahabatnya yang mulai bertindak tak biasa.


“Trus Gue harus gimana Cha? Gue harus gimana?”


“Tenang Ka, tenang, coba hubungi keluarganya”


Azka mengusap wajahnya kasar. Ia mengambil kembali ponselnya, mencari kontak Mama Rasya. lalu Ia dial dan meletakkan ponsel itu di telinga. Hasilnya sama, nomornya tidak aktif. Ia dial lagi, lagi, dan lagi. Azka mencoba mencari kontak Papa Rasya. Ia menarik nafas beberapa kali, membuat dirinya sedikit tenang sebelum Ia berbicara dengan beliau.


Tut..


Tut..


“Halo” 


“Halo Pa, ini Azka. Temen Kak Rasya” terdengar hembusan nafas dari seberang telpon.


“Iya Azka, ada yang bisa Papa bantu?”


“Kak Rasya kabarnya kecelakaan?” suara Azka sedikit tercekat ketika mengatakan kalimat ini


“Iya Azka. Mohon doa nya”


“Kak Rasya gimana kabarnya Pa?” kali ini suaranya serak, Ia tak bisa menahan isakannya.


“Rasya baik-baik saja, siang ini jika tidak ada halangan akan dilakukan operasi amputasi di kaki kanannya. Sekali lagi, mohon doanya”


Azka terisak keras, jejak air mata yang sudah terhapus berkali-kali kini akhirnya mengular kembali di sepanjang pipinya. Azka menggigit bibirnya untuk menyamarkan isakannya yang semakin kuat. Ocha masih berdiri di samping Azka, mengelus punggungnya berkali-kali. Azka tak kuasa menahan ponselnya. Tangannya seketika lemas dan terjatuh. Ocha mengambil ponsel dan melanjutkan pembicaraan.


“Om, maaf ini Ocha teman Azka Om. Kalo boleh tau Rasya di rumah sakit mana ya Om?”


“Di Urip Sumoharjo, sekarang masih di ruang ICU”


“Makasih Om, nanti kami akan cari waktu untuk menjenguk Rasya” Ocha mengakhiri sambungan telepon. Ocha mendekati sahabatnya, lalu mengelus kembali punggung yang membungkuk itu.


“Ka, sabar ya”


“Cha, Gue mau kesana sekarang”


“Gak bisa Ka. Kita masih di sekolah. Lo juga masih sakit. Rasya juga mungkin belum bisa dijenguk saat ini”  Azka hanya menunduk membiarkan buliran air mata membasahi roknya.


“Papanya bilang apa?”


Azka mendongak, seketika ucapan papa Rasya bergaung di telinganya. Azka semakin terisak.


“Kak Rasya bakal diamputasi Cha” Ia memeluk Ocha dengan kuat. Azka menghabiskan entah berapa lama untuk meratapi kenyataan yang bagai belati tengah menyayat hatinya.

__ADS_1


---


Tak berapa lama teman sekelas mereka mulai berdatangan. Teman-temannya segera duduk di bangku mereka masing-masing, tapi tidak dengan Iren, Risa, Fabel, dan Alfan. Alih-alih duduk di kursi masing-masing, meraka justru berkumpul menghampiri Azka


“Jadi, Rasya gimana Ka?” tanya Risa takut-takut mengambil tempat di sebelah sahabatnya yang terlihat sedikit kacau. Azka menarik nafas mengambil jeda sebelum Ia menjawab


“Kak Rasya baik-baik aja. Cuma –“


“Rasya bakal diamputasi Sa” ucap Ocha memotong jawaban Azka


“Serius?” kali ini semua mata dan telinga menjadi fokus kepada mereka berenam dan apa yang sedang mereka bicarakan.


“Ya, Mbak Gue siang ini ke rumah sakit” ucap Azka menambahkan


“Tau dari mana Nur?” tanya Fabel yang sudah sangat penasaran


“Tadi Gue nelpon papa nya” – “dan Papanya bilang kaki kanannya harus diamputasi” Azka menghela nafas.


Azka tiba-tiba bangkit karena seperti ingat sesuatu


“Gue keluar dulu”


“Ka…--“ Mereka memanggilnya. Tapi tak Ia hiraukan. Azka melangkah menuju kelas Rasya. Tujuannya satu, bertemu dengan Agil. Azka rasa Agil harus tau apa yang terjadi. Ternyata apa yang Ia pikirkan serupa dengan yang ada di pikiran Agil. Dari jauh Azka melihat Agil berjalan cepat ke arahnya bersama teman-temannya. Azka menambah kecepatan dan mereka berdua sama-sama berhenti ketika jarak mereka sudah dekat.


“Gil, Kak Rasya” ucap Azka lirih


“Gue tau, Gue mau kasih kabar ke Lo. Gue rasa Lo harus tau” Agil menyampaikan apa yang sebelumnya ingin Azka sampaikan.


“Dia bakal baik-baik aja Ka” kentara sekali Agil mengucapkannya hanya untuk membuat Azka tenang.


“Kita kesana ya?” ajak Azka


“iya, tapi gak sekarang Ka” ucap Agil dengan suara lembut yang tidak seperti biasanya. Azka hanya terdiam. Menunggu Agil bicara kembali. Agil membuang nafas kasar. Dia terlihat seperti berpikir. Lalu Agil mendekat, memegang pundak Azka. Azka bisa merasakan tatapan Agil kepadanya, hanya saja posisi mereka membuatnya tak berani untuk mendongak ke arah Agil.


“Kita kesana kalo kamu udah sehat dan Rasya udah di ruang rawat”  Azka mendongak, memperhatikan manik mata Agil. Ia mencari kejujuran untuk setiap kata-kata yang diucapkan Agil. Dilihatnya tatapan Agil yang begitu yakin. Azka sampai tak tahu harus menjawab apa.


“Kita kesana minggu ini. Aku janji” ucap Agil lagi.


Agil meninggalkan Azka setelah mengusap puncak kepalanya. Dia bergabung bersama Anda, Rizky dan lainnya yang sudah menunggu di depan kelas mereka. Azka masih terdiam, mencoba menyadari apa yang baru saja terjadi. Akhirnya Azka dijemput Ocha dan Risa untuk kembali ke kelas.


---


Sejak kabar berita itu, setiap hari Azka lalui dengan tidak bergairah. Hari berjalan seolah sangat lambat. Berkali-kali mereka mencoba membujuk Azka, tapi ketika bayangan mimpi dan ucapan Papa Rasya kembali berputar dikepalanya, Azka akan kembali menjadi pemurung. Sudah hampir seminggu ini nafsu makannya juga merosot drastis. Sakitnya sudah tak lagi Ia rasakan. Namun keadaan ini menjadikan Mama dan Papa lebih khawatir dari biasanya.


“Adek gak apa-apa Ma” suatu kali Azka mencoba menjelaskan bahwa Ia hanya tak nafsu makan.


“Gak apa-apa gimana? Adek udah berapa hari gak makan?”


“Ade lupa Ma” Azka menjawab dengan lesu sambil mengedikkan bahu


“Dek, gimana Rasya bisa kuat kalo kamu aja terlihat lesu?” Mama selalu mengatakan hal serupa setiap kali membujuknya untuk makan. Tapi tetap saja, makanan apapun seperti tersangkut ditenggorokannya tak tertelan.


---

__ADS_1


Sesuai kesepakatan, Azka bersama Risa, Ocha, Agil, Anda, Andri, Kak Rijal (Kakaknya Andri), dan juga Ipit akan menjenguk Rasya di rumah sakit hari minggu ini. Hari ini adalah hari ke enam setelah kabar itu Azka dengar, tapi rasanya seperti sudah 600 hari Ia menanti hari ini. hari ini hari terakhir di sekolah, besok Azka akan segera menemui Rasya.


“Ka, Lo makan dulu ya” ajak Ocha ketika bel istirahat berbunyi


“Gue gak laper Cha”


“Tapi Lo harus makan” Ucap Ocha sedikit memohon


“Ka, kalo Lo gak makan, trus Lo malah sakit? Lo jadi gak bisa jenguk Rasya” Risa sudah tidak sabar melihat kelakuan sahabatnya  yang sampai hari ini masih terlihat seperti orang depresi


“Gue gak apa-apa Sa”


“Gak apa-apa gimana sih Ka. Lo udah gak makan 5 hari!” kali ini Risa sudah meninggikan suaranya


“Sorry Sa, Gue bener-bener gak nafsu mau makan” Azka berbicara dengan nada yang sangat memelas, sebagai wujud permohonan maafnya karena untuk saat ini tak bisa mengikuti keinginan sahabatnya


“Gue tau Lo khawatir Ka. Tapi di sana Rasya pasti dijaga, dikasih pelayanan terbaik. Tugas Lo adalah bikin dia bangkit dan gak ngerasa ditinggal sama kita-kita. Dan untuk itu Lo harus punya energi” Risa mencoba memasukan doktrinnya kembali.


“Azka masih gak mau makan?” Alfan bertanya tepat saat Azka akan kembali menjawab Risa dengan berbagai alasan yang sudah Ia pikirkan. Iren menggeleng, Risa hanya membuang muka karena sudah tidak tau harus berkata apa, sedangkan Ocha hanya terdiam sambil mendengus kesal.


“Kamu makan Ka. Rasya gak akan seneng ngeliat kamu menyiksa diri sendiri” ucapan Alfan membuat Azka terkesiap.


“Aku gak nyiksa diri Mas!” Azka membela diri.


“Kamu kira dia disana akan sembuh dengan kamu gak makan? Kamu jadi pemurung, gak makan 5 hari. Mata sembab, kantung mata menghitam, apalagi kamu baru selesai dari sakit. Apa itu namanya kalo bukan menyiksa diri Ka?”  Azka hanya terdiam. Risa menatapnya tajam seperti mengatakan ‘dengerin tuh! ****** deh lo di omelin’. Namun saat Azka ingin merangkai seribu alasan lain, Ia menangkap sosok Agil yang sedang berjalan sendirian. Azka bangkit,


“Mau kemana?” tanya Ocha


.


.


 .


“Agil” panggilnya


Agil menoleh, lalu menggelengkan kepalanya. Namun demikian Ia tetap berjalan ke arah Azka


“Kenapa lagi Ka?”


“Aku cuma mau nanya bes—“


“Iya, besok kita ke sana. Ketemu di pol bus, jam 6” Agil memotong pertanyaan Azka yang sudah berulang kali dilontarkan kepadanya


“Makasih Gil”


“Iya, gak perlu bilang makasih. Rasya sahabat Gue”


“Ya, emm—ak-Gue balik kelas dulu”  Azka berbalik, melangkah menuju kelas yang saat ini sedang move ke ruangan yang berada di bagian atas sekolah. Baru berapa langkah Azka kembali menoleh karena mendengar ucapan Agil.


“Kamu harusnya makan, biar Rasya tau kalo kamu kuat dan bisa diandalkan”


Azka terpaku. Ini kali kedua Agil menggunakan sapaan Aku-Kamu. Azka mengerti bahwa ini adalah ucapannya yang sangat serius dan tulus.

__ADS_1


__ADS_2