Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 24


__ADS_3

Hari itu seperti biasa, Azka menunggu Rasya datang di depan kelasnya. Segera menghampiri Rasya ketika mobil yang biasa mengantarnya melewati gerbang sekolah. Azka akan berlari kecil atau berjalan cepat untuk menemui Rasya, karena sekarang Rasya hanya diantar sampai batas lapangan saja. Seperti hari ini, Azka tengah berjalan menuju mobil pengantar Rasya, dengan senyum terbingkai seperti biasanya. Ia tidak lagi menghiraukan pandangan-pandangan anak kelas sepuluh yang selalu memperhatikan dari balik jendela kelas, atau mungkin memang sudah tidak ada lagi yang capek-capek memperhatikan rutinitas yang sudah dilakukan dalam beberapa waktu terakhir itu.


---


“Dateng lebih pagi hari ini?” tanya Azka pada Rasya yang sudah turun dari mobil. Ia melambai pada om sopir yang beranjak pergi. Ia membenahi tas di punggungnya, merapihkan baju yang sedikit kusut karena duduk di kursi mobil. Lalu Ia mulai menggerakkan kakinya maju.


“Heem” jawaban singkat terlontar dengan senyuman yang manis.


“Ada angin apa jadi pagi-pagi?”


“Biar gak terlalu lama buat kamu nunggu” jawab Rasya sambil menggerakkan kakinya masih dengan cara yang kaku


“Ceeh, so sweet amat pagi-pagi. Bisa-bisa diabetes ini”


“Kalo kamu diabetes, itu salah kamu sendiri”


“Kok gitu?”


“Iya, kamu nya aja yang udah terlalu manis dari lahir” Rasya terkekeh sambil melirik Azka jail.


“Belajar darimana gombal-gombalan kayak gitu?” Rasya hanya mengedikkan bahu. Melewati dua ruang kelas sepuluh, sudah tiga kali Azka membalas senyuman dari Adik-Adik kelas yang mereka lewati.


“Pagi Mbak Azka”


“Pagi” jawabnya riang, Azka melanjutkan berjalan sambil sesekali menatap Rasya disampingnya.


“Aku punya kabar, gatau ini kabar baik atau kabar biasa aja” Azka menoleh penasaran, “Apa?” tanyanya


“Aku lagi belajar naik motor lagi” jawabnya masih sambil memandang lurus kedepan.


“Waw, bagus dong” Azka mencoba antusias mendengar kabar itu, meskipun hatinya masih ngilu mendengar Rasya akan menggunakan motor lagi setelah kecelakaan itu.


“Mama beliin motor matic” ucapnya dengan nada yang sangat biasa aja.


“Ooh, bagus lah. Jadi kamu nanti bisa ke sekolah sendiri lagi” jawab Azka masih dengan nada antusias yang sama.


“Iya, tapi belum bener belajarnya. Masih gak seimbang” Pemuda itu memberitahu,


“Ya namanya baru pake motor lagi setelah sekian lama. Wajar dong” jawab Azka. Azka tersenyum sekilas pada Aldo, anak kelas sepuluh yang dikeceng Ocha, saat Ia melewati Azka.


“Kamu masih mau dibonceng aku kalo nanti aku udah bisa naik motor lagi?” kali ini Rasya menoleh ke arah Azka


“Mau” jawabnya sambil ikut memandang ke arah Rasya. “Emm—Kenapa?” tanya Azka ketika ekspresi Rasya berubah senang.


“Gak apa-apa” Mereka meneruskan langkah, berpisah saat Azka sampai di depan kelas.


“Si Wede kenapa?” tanya Azka pada Ocha dan Risa yang duduk di bangku milik Azka


“Si Adam ketauan selingkuh” ucap Risa menoleh padanya


“Oh, pantes kusut gitu wajahnya” jawab Azka


“Sama siapa sih?” tanya Azka lagi


“Sama anak kelas sepuluh. Padahal menurut Gue cantik Wede kemana-mana” ucap Ocha


“Dapet Adek dong si Wede” ucap Azka


Mereka berdua mengangguk.


Perseteruan Wede dan pacarnya menjadi pusat perhatian teman sekelasnya pagi ini, sampai akhirnya bel istirahat berbunyi. Wede bergegas keluar kelas ketika Adam terlihat menunggunya di luar. Teman-temannya segera mengikuti gerakan Wede. Mereka pindah ke belakang kelas. Tak lama setelah itu, seorang cewek yang katanya merupakan selingkuhan Adam lewat mengikuti kemana Wede dan Adam bergerak. Teman-teman sekelas Azka semua semakin heboh. Terdengar beberapa bentakan dari Wede di belakang kelas. Berta dan Eka kemudian memilih untuk ke mushola, shalat Dhuha. Sedangkan Ncy dan keempat kawannya terus saja ngedumel. Tak lama kemudian Alfan masuk dan menghampiri Azka.


“Ka, ke lab yuk. Dipanggil Pak Alex” ucap Alfan


“Duh Mas, lagi seru ini. Liat tuh di belakang kelas lagi ada perang” ucap Azka tanpa menoleh ke arahnya.


“Perang apaan sih?” tanya Alfan ikut melihat ke arah tatapan sahabatnya itu.


“Wede lagi labrak-labrakan di belakang” ucap Azka lagi


“Orang berantem kok diliatin. Harusnya dilerai” ucapnya malas


“Kita lagi ngasih dukungan Mas, buat Wede”


“Udah lah, yok ke lab. Nanti Pak Alex marah loh” Ajaknya sambil menarik-narik ujung jaket Azka


“Dih, si Mas Alfan mah gabisa banget diem dah. Yaudah ayok” akhirnya Azka menyerah, mengikutinya ke lab setelah berpamitan pada sahabat-sahabatnya yang lain


“Aku ke lab dulu. Nanti ceritain gimana kelanjutannya oke” ucap Azka pada Ocha, Iren, dan Risa


Azka berjalan berdampingan dengan Alfan sejak keluar dari kelas. Mereka terus melangkah tanpa berbicara. Azka masih kesal karena tidak bisa ikut menyemangati Wede yang sedang perang panas dengan Adam dan si anak kecil.


“Huft” akhirnya Azka bersuara setelah melewati mushola


“Kenapa?”


“Gak apa-apa. Emang ada apa sih Mas, kok Pak Alex manggil?” tanyanya


“Gak tau, buat persiapan OKI nanti kali” jawab Alfan sambil mengedikkan bahu


“Kenapa kita yang dipanggil? Kan ada –“


“Kak Ajo sama Kak Adis udah ga akan ikut”

__ADS_1


“Trus kenapa aku sama kamu?”


“Karena OKI sebelumnya, kamu urutan 4” “Mungkin” cepat-cepat Alfan menambahkan


Mereka terus berjalan, Azka menyadari ada dua pasang mata yang terus memperhatikan mereka dari tempat yang berbeda. Salah satunya milik Rasya, satu lagi, milik Adik kelas yang dulu pernah menabraknya. Tapi tatapan mereka tak Azka indahkan, toh memang Azka sedekat ini dengan Alfan sejak lama, pikirnya.


Mereka masuk ke lab, menuju ruangan Pak Alex. Tidak lama mereka disana. Pak Alex hanya meminta mereka berdua berlatih kembali seperti saat OKI sebelumnya. (OKI\=Olimpiade Komputer Indonesia). Tidak lupa pula Pak Alex meminta mereka merekrut siswa baru untuk bisa masuk ke tim ini. Setelah Pak Alex selesai Azka dan Alfan berpamitan dan menuju ke kelas. Sebab tidak lama lagi waktu istirahat akan usai.


Azka setengah berlari menuju kelas, karena tidak sabar ingin tahu kelanjutan Wede dan Adam. Alfan yang melihat itu segera berjalan lebar-lebar untuk mengimbangi kecepatan Azka.


“Pelan-pelan Ka” ucap Alfan disela-sela perjalanan mereka menuju kelas


“Heem” jawab Azka singkat


Sesampainya di kelas, Azka segera mengambil tempat diantara kerumunan teman-temannya. ‘Pasti Wede’ batinnya. Benar saja, ditengah kerumunan sudah ada Wede dengan muka merah karena marah. Matanya berair, sepertinya dengan susah payah Ia menahan tangis. Dari raut wajahnya terlihat bahwa Ia sangat kecewa dan Marah. Untuk alasan itu sepertinya Ia tak membiarkan air matanya jatuh. Sesakit apapun hatinya.


“Sa, Wede kenapa?”


“Belum kelar Ka” ucap Risa


“Gak jadi putus?” tanya Azka, yang seketika mendapatkan tatapan tajam dari Ncy dan Ana


“Eh, hehe sorry” ucapnya


“Belum waktunya putus dan ngalah sama Adam dan si Adek. Mau balas dendam dulu” ucap Risa tak mengindahkan tatapan Ncy dan Ana.


“Oooh, makin seru nih kayaknya” bisik Azka pada Risa.


---


Sepulang sekolah, Azka dan teman-temannya masih berdiam diri di sekolah. Mereka masih asik mengobrol dan menunggu bagaimana kelanjutan kisah Wede dan Adam yang sudah memanas sejak tadi pagi. Mereka semua berkumpul tanpa terkecuali. Pertemanan yang kompak bukan?


Bukan!


Karena sebenarnya mereka berkumpul bukan hanya untuk urusan hati seorang Wede. Mereka berkumpul karena akan latihan bersama untuk mata pelajaran seni. Hehe, sekalian lah, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Di sela-sela obrolan mereka, Azka melihat Rasya sedang berdiri sendirian menunggu jemputannya datang. Azka akhirnya memutuskan untuk mendekatinya.


“Hei”


“Eh, hai”


“Nunggu jemputan Kak?” Azka bertanya basa-basi


“Iya. Kenapa anak-anak kelas kamu masih disini?” tanyanya sambil sekilas menatap ke arah kelas Azka yang masih ribut


“Kita mau latihan seni” jawabnya sambil tersenyum


“Ooh”


“Emang mau apa?” Rasya balik bertanya


Brakk


Tiba-tiba pintu kelas IPA 1 digrebrak oleh Wede dan teman-temannya. Mereka berhamburan keluar kelas menuju kelas sepuluh enam yang letaknya di belakang ruang guru. Wede terlihat sangat marah. Begitu juga teman-temannya. Anak-anak yang berada di kelas ikut berhamburan. Kasak kusuk mulai terdengar,


“Gila tuh anak. Cari masalah amat sih!” ucap salah satu teman sekelas Azka


“Kok gak tau malu yah. Udah ketauan juga masih PD abis” ucap temannya yang lain


“Ka, mau ikut gak?” tanya Risa, Ocha dan Iren sudah lebih dulu bergerak ke kelas sepuluh enam. Mengikuti Wede dan teman-temannya yang sudah terbakar api kemarahan.


“Bentar, Gue nyusul aja kesana Sa” Risa pun melesat meninggalkan Azka


“Kak, mau ikut kesana?”


“Ogah. Ngapain?”


“Ck, yaudah aku kesana dulu yah. Bye!”  Azka melesat, mendekati pintu kelas sepuluh enam yang sudah dipenuh sesakkan oleh banyak orang, diantaranya ya teman-teman sekelas Azka.


“Lo bisa gak gausah sok kecantikan!” teriak Wede pada anak kelas sepuluh yang tadi pagi mereka lihat bersama Wede dan Adam.  “Kenapa Mbaknya? Saya udah minta maaf tadi pagi” ucap si Adik tanpa ada rasa takut


“Minta maaf Lo bullsh*t!. ngapain Lo masih deket-deket sama Adam!!” teriak Wede lagi tanpa ampun.


“Kak Adam nya aja yang emang masih deketin saya Mbak” ucapnya sambil sedikit bergidik akibat teriakan Wede.


“Kalo Lo gak kecentilan! Adam juga gak akan mau deketin Lo!!!” kali ini jari telunjuk Wede sudah menunjuk-nunjuk ke arah wajah si Adik.


“Mba bisa gak gausah tunjuk-tunjuk wajah saya?”


“Apa hak Lo ngelarang-ngelarang Gue???” tanya Wede masih dengan kemarahan yang luar biasa


“Ini wajah saya, saya berhak untuk milih siapa yang bisa tunjuk-tunjuk wajah saya” ucap si Adik, kini dengan amarah yang sama. “Mbak denger ya, kalo bukan karena Mbak yang gak becus jadi cewe!! Kak Adam gak akan deketin say—“


Plakkk


“Ngomong sama tangan!!!” ucap Wede setelah berhasil menampar wajah si Adik yang kini terdiam membisu.


Azka yang melihatnya ikut bergidik ngeri. Azka mendekat ke arah Ocha, lalu merangkul tangannya agar Ocha tau keberadaan Azka


“Sssh, kaget Gue Ka. Lagi seru gini, main rangkul aja Lo” ucap Ocha saat kulit tangan mereka bersentuhan


“Gila si Wede ngeri amat ya”


“Lagian, kakak kelas dilawan” ucap Ocha

__ADS_1


Percakapan mereka terhenti ketika Adam menyeruak menengahi pertikaian Wede dan si Adik. Berkali-kali Adam menahan tangan Wede yang terus menunjuk-nunjuk si Adik sambil terus membentak.


“Udah cukup! Kamu kenapa sih Wed????” teriak Adam


“Oh,  kamu bela dia?” ucap Wede berteriak. “Aku kira kamu tau kalo aku lagi berusaha pertahanin hubungan kita! Ck” lanjut Wede sambil membuang muka.


“Wed” panggil Adam


“Oke kalo gini sikap kamu, Kita PUTUS!!!” teriak Wede, lalu Ia menyeruak membelah kerumunan pergi bersama teman-temannya kembali ke kelas.


Terlihat Adam mengejar Wede, tanpa menghiraukan si Adik yang sudah terisak di temani oleh sekumpulan anak kelas sepuluh lainnya. mereka pun bubar.


“Gila gilaaa” Azka menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya


“Siapa yang gila?” tanya Iren


“Ntu, si Wede, ngeeriii” ucapnya sedikit bergidik


“Lagian, kalo emang mau sama tuh anak kelas sepuluh, putusin dulu kek si Wede, enak aja main embat dua-duanya” ucap Risa kesal


“Emang dasarnya gak punya otak aja kali” ucap Iren lagi


“Ngeri nih anak IPA 1, bisa-bisa kita gak cuma dinobatkan sebagai kelas unggulan lagi nih” ucap Azka terkekeh


“Tapi?”


“Kelas terngeriii” ucap Azka. Mereka tertawa melihat ekspresi Azka


“Tapi bener sih, kita makin kompak aja ini. satu kena masalah, satu RT dibawa” ucap Ocha


“Gak papa, biar gak ada yang berani cari masalah sama kita. Cari masalah, dianterin ke kuburan ntar sama anak kelas” jawab Azka


“Eh, itu Rasya belum dijemput?” Ocha menunjuk Rasya yang masih menunggu di depan kelas, tapi kali ini Ia duduk.


“Eh, iya. Tumben belum dijemput” ucap Azka. “Aku kesana dulu ya”


Azka berlari-lari kecil menghampiri Rasya.  Azka melirik sekilas ketika melewati kelasnya yang auranya mencekam.


“Kak, kok belum dijemput?” tanyanya terengah-engah


“Mobilnya mogok. Masih di jalan”


“Loh, kok bisa?” Azka mengambil kursi yang tak jauh dari pintu kelas. Menggeserkannya ke dekat Rasya, lalu duduk.


“Ya mana aku tau Dek” jawab Rasya menoleh ke arah Azka


“Kelas kamu heboh amat”


“Itu tuh, si Adam, selingkuh. Trus Wede nya mau mempertahankan hubungan, eh si Adamnya malah belain si Adik selingkuhan. Kan kesel. Tau gak? Akhirnya Wede minta putus! Kalo kak Rasya tadi liat, hiii serem deh. Aku gak nyangka Wede bakal berbuat begitu. Sempet ditampar loh si anak kelas sepuluh itu. Aku jadi ngeri sama anak-anak kelas aku. Apalagi kalo Achin Ipit dkk pada tau, pasti mereka mau ikutan ngebela si Wede. Gimana coba jadinya tuh anak?” Azka mengambil nafas panjang setelah selesai bercerita.


“Kamu tuh, ngomong panjang lebar gak ada jeda. Gak takut kehabisan nafas apa?”


“Kan tadi ngambil ancang-ancang nafasnya panjang. Hehe”


Rasya mengangkat tangannya ke arah kepala Azka, tapi kemudian Ia menjatuhkannya di senderan kursi tempat Azka duduk.


“Dek, kalo nanti kamu punya rasa sama seseorang, jangan lupa bilang dulu sama aku ya. Biar gak berantem beranteman kayak si Wede sama Adam”


“Eh –-?”


“Atau kalo kamu udah ga nyaman sama aku, atau kamu udah mulai ngerasa hubungan kita datar-datar aja”


“Kak, kok ngomongnya gitu sih?” Azka cemberut “Kak, aku tuh terus berusaha supaya kita selalu baik-baik aja. Aku gak ngerasa ada masalah kok diantara kita. Kita baik-baik aja” Azka membenarkan posisi duduknya


“Mungkin masalahnya ada di aku” ucap Rasya menunduk


“Kak, ayo kita berjuang sama-sama” rengek Azka, “Aku gamau ya berjuang sendiri sedangkan Kak Rasya masih larut sama perasaan kayak gitu. Cumi-cumi aja kalo berjuang sendiri namanya berubah jadi cuma-cuma”


Rasya mendadak tertawa mendengar ocehan Azka. Tangannya terangkat mengusak puncak kepala gadisnya itu.


“Dih, berantakan! Ampun dah”


“Kamu tuh bisa serius gak sih?” Rasya menahan tawanya


“Siapa yang bercanda elaaah” ucap Azka kesal


“Itu, bawa-bawa si cumi?”


“Ya bener kak. Kalo kak Rasya masih terus minder, nganggap aku ini gak serius, merasa kalo aku cuma kasian ke kak Rasya, terus-terusan ngebahas ‘kalo aku mau sama yang lain, bla bla bla’, ya berarti aku berjuang sendiri disini. Cuma-Cuma kak kalo kayak gitu”


“Kayak si cumi-cumi?” tanyanya masih dalam mode bercanda


“Iya!” Azka mencebik bibirnya kesal


“Kasian kamu”


“Serah dah ah, dibilangin serius kamunya malah bercanda!”


“Loh, yang mulai bercanda siapa?” tanya Rasya, kini sudah dalam mode yang dipaksa serius


“Kamu!” Azka bangkit, menggeser kursi dan meletakkannya ke tempat semula. Lalu kembali ke tempat Rasya, “Tuh jemputan udah dateng. Sana pulang!!” usir Azka lalu Ia meninggalkan Rasya menuju kelas


“Kok jadi kamu yang marah sekarang? Hahaha” Rasya akhirnya pulang setelah melambaikan tangan  meminta mobil jemputannya masuk mendekati kelasnya agar Ia tidak jalan terlalu jauh.

__ADS_1


__ADS_2