
Pukul 6 Azka sudah ada di ruang tunggu bis. Disampingnya duduk Agil, sedang yang lain masih belum datang. Ruang tunggu juga masih sepi. Tidak banyak yang menggunakan bis sepagi ini dihari minggu. Azka duduk terdiam sambil menunduk. Sampai hari ini Ia masih terus mengirimkan pesan ke nomor Rasya. Meski tidak pernah terkirim apalagi mendapat balasan. Ia hanya merasa punya ruang tersendiri untuk berbicara, mencoba mengembalikan akal dan pikirannya saat Ia mulai menggila karena merasa kehilangan. Azka mencoba mengirimkan pesan-pesan yang berisi apa saja yang terlintas di pikirannya. Kali ini Ia mengetik sesuatu untuk memberitahu Rasya bahwa dirinya akan segera berangkat menemui Rasya.
-Azka-
Hari ini kita ketemu ya --gagal
Aku udah di ruang tunggu bis sama agil --gagal
Kita kesana rame-rame --gagal
Tenang aja Kak, kamu gak sendirian --gagal
Tanpa Ia sadari, Agil memperhatikannya sejak tadi, melirik ke arah ponsel yang digunakan Azka dan membaca isi pesan yang Azka kirimkan ke nomor kontak Rasya yang saat ini bukan lagi menjadi milik Rasya.
“Ka” panggil Agil tiba-tiba
“Eh, iya? Kenapa?” Azka terkejut lalu mematikan ponselnya
“Kamu ngapain sih ngirim-ngirim pesan ke Rasya? emm- hape dia kan rusak, dan nomor itu udah ga dipake karena gak ketemu” ucap Agil sedikit terbata karena melihat ekspresi terkejut di wajah Azka.
“Sorry Ka” ucapnya lagi. Ada perasaan bersalah telah mengucapkan hal-hal yang tidak perlu
“Ooh, ini. Hehe. Gak apa-apa. Ini cuma karena aku belum bisa ngehubungin Kak Rasya aja Gil” Azka mencoba menutupi rasa terkejut yang muncul sejak Agil memanggilnya tadi. Belum lagi Agil jadi lebih sering menggunakan sapaan aku-kamu ketika berbicara dengannya.
“Sorry bro, telat dateng ya” ucap Anda tiba-tiba sambil terengah, dibelakangnya muncul Andri dan Kak Rizal.
“Hei, dek. Mau ketemu dia jangan cemberut” ucap Kak Rizal menyapa Azka. Kak Rizal adalah kakaknya Andri, mereka kenal saat Azka kelas X dan sekelas dengan Andri. Kak Rizal sempat menjaga warnet yang biasa Azka datangi di dekat rumahnya. Sejak itulah Azka mengenalnya dan tau bahwa dia adalah kakak dari temannya itu.
Azka hanya tersenyum mendengar sapaannya.
“Di luar Ocha, Risa sama Ipit nungguin. Mereka udah dateng daritadi katanya, tapi gatau kalo kalian disini” ucap Andri memberitahu
“Ya ampun, aku keluar dulu kalo gitu” ucap Azka meninggalkan mereka
“Kenapa dia tadi?” tanya Anda pada Agil
“Gak kenapa-kenapa”
“Jadi tambah aneh itu anak” ucap Anda lagi. Agil hanya mengedikkan bahunya. Lalu mengajak Anda, Andri, dan kak Rizal keluar menyusul Azka.
Bis mulai melaju meninggalkan tempat mereka tadi berkumpul. Azka duduk di sebelah Ocha. Di seberang mereka ada Risa dan Ipit. Di depannya ada Agil dan Anda, sedang Andri dan kak Rizal ada di belakang. Mobil melaju dengan sangat lambat, itu yang Azka pikirkan. Padahal speedometer nya menunjukkan angka 100km/jam. Jalanan lengang, membuat bis bisa melaju tanpa hambatan.
“Lo sarapan dulu gak tadi?” tanya Ocha disela-sela lamunan Azka
“Gak sempet” jawabnya
“Roti mau?” tawar Ocha
“Enggak deh Cha, makasih” Azka menoleh ke arahnya dan tersenyum
“Mau sampe kapan lo kayak gini Ka?”
“Besok?” tanya Azka asal, kali ini tetap sambil memandang ke arah luar jendela. Ocha hanya mendengus lembut. Pandangan diluar jendela membuat Azka tertarik, setidaknya lebih menarik dari ajakan Ocha makan roti. Azka menikmati memandangi mobil-mobil dan motor yang melintas berlawanan arah dengan bis yang mereka naiki. Melihat orang-orang yang sedang beraktivitas di pinggiran jalan. Ada yang sedang menunggu angkutan, ada yang akan menyeberang, bahkan ada yang sedang duduk nyaman di halaman rumahnya. Tak terasa dua setengah jam sudah terlewati, bis mulai memasuki kawasan ibu kota Propinsi. Gerbang selamat datang yang terlihat megah sudah terlihat. Dalam beberapa kilometer, bis bergerak berbelok ke arah kiri memasuki kawasan terminal. Mereka turun lalu menaiki mobil lagi dengan jurusan yang searah dengan rumah sakit tempat Rasya dirawat. Waktu menunjukkan pukul sembilan lebih lima menit. Perjalanan menuju ke rumah sakit memakan waktu sekitar 20 menit dari terminal. Saat turun, kak Rizal mengambil inisiatif untuk membayar ongkos mereka semua. Setelah semuanya berterima kasih, Anda kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu.
“Nyari apaan Lo Nda?” tanya Agil
“Tukang buah. Ya iya kali kita jenguk gak bawa apa-apa”
“Nda, kamu mau cari buah?” tanya Azka
“Iya Ka”
“Ini, uang ini aja yang dipake” Azka menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan
“Kebanyakan kali Ka” ucapnya
“Gak apa-apa, pegang dulu, siapa tau kurang” kata Azka.
“Kita makan dulu ya” ucap Agil
“Kita langsung masuk aja Gil” jawab Azka tak sabar
“Enggak, kasian anak-anak pasti belum makan karena tadi kita berangkat pagi-pagi” Agil menolak keinginannya
“Yaudah kalian makan dulu” kata Azka pasrah
“Kita” ucap Agil tegas sambil memegang tangannya
“Wooy wooy woooy, masih ada kita disini woooy” ucap Ipit yang sudah jengah melihat Azka dan Agil yang hanya berbicara berdua. Dengan cepat Azka melepaskan tangannya dari genggaman Agil.
“Kita makan dulu ayok” ucap Agil mengajak yang lain ke arah sebuah warung makan.
Mereka pun mengikuti langkah Agil memasuki warung makan. Semuanya memesan makanan selain Azka, karena memang mereka semua belum makan tadi pagi.
“Ka, makan ayok” ucap Risa yang sudah menghadap piring berisi makanan yang tadi Ia pesan
“Makan dulu, jam besuknya juga jam setengah 11. Gak bisa masuk kalo ke sana sekarang” kata Kak Rizal yang entah tadi pergi kemana, mungkin ke bagian resepsionis.
__ADS_1
Mereka makan, tanpa ada lagi yang berusaha mengajak Azka makan. Setelah selesai, Agil mendekatinya.
“Ka, makan yuk”
“Enggak Gil, aku gak laper”
“Mau disuapin emangnya?” tanya Agil menggoda Azka
“Enggak! Enak aja”
“Kalo mau juga gak apa-apa, sini aku suapin” Agil terkekeh
“Dih, apaan sih Gil”
“Kalo gak mau, aku telpon Mama kamu nih” ancamnya
“Coba aja kalo berani, lagian emang kamu punya nomor Mama aku?” Agil merogoh sakunya, mengambil ponsel. Lalu membuka kontak dan menekan salah satu kontak disana
“Ini kan?” Agil menunjukkan nomor Mama dengan nama kontak ‘Mama Azka’
“Hah??? Dari mana –“
“Dari mana aja. Aku telpon dulu” Agil sedikit menjauh, terdengar ada suara di seberang telpon setelah Agil menunggu beberapa saat. Dan Azka mengenali itu benar suara Mama. Risa dan Ocha mendekat
“Sejak kapan Lo sama Agil pake aku-kamu?”
“Eh, emm—kapan ya? Gatau Gue juga” jawab Azka gelagapan
“Heeeuuuu, nih anak ya” Ocha menoyor kepala sahabatnya gemas
“Hati-hati loh Ka, jaga hati” ucap Risa sambil cekikikan
Mereka mendekati Agil yang sedang berbicara dengan Mama. Azka hanya mengernyitkan dahi menerka apa yang Mama sampaikan setelah mendengar kabar bahwa dirinya masih tidak ingin makan.
“Oh, iya Tante, nanti Agil coba bujuk lagi Azka buat makan”
“Iya Tante, makasih. Assalamu’alaikum” Agil mengakhiri sambungan telepon dan nyengir ke arah Azka
“Tuh kan, Mama aja biasa aja aku gak makan”
“Itu karena Mama lagi ngomong sama Agil Ka. Bukan sama Lo. Gue yakin Mama masih sangat khawatir karena Lo masih gak mau makan padahal udah sampe kesini”
“Iya, tapi belum ketemu” jawab Azka asal kemudian bangkit.
Sudah jam 10.25, Azka memutuskan untuk mulai memasuki area rumah sakit saat Anda dan Andri terlihat membawa bingkisan buah yang sedari tadi mereka cari.
Jantung Azka mulai berdetak tak karuan, ada perasaan tak sabar, tapi juga ketakutan ikut mendominasi. Tiba-tiba pintu terbuka. Tante Raya, adik dari Mama Rasya keluar. Seketika terkejut melihat segerombol anak muda berdiri di depan ruangan. “Loh, kok gak masuk?”
“Baru mau Tante” jawab Anda
“Oh iya, ayo masuk. Sudah jam besuk kok. Di dalam ada Mba Eva” ajak Tante Raya kepada mereka.
Mereka mulai memasuki ruangan dengan menyapa Rasya dengan riang, mencoba membawa aura bahagia dan persahabatan. Azka masih terdiam, Ocha berjalan lebih dulu, tapi kemudian menoleh ke arah Azka
“Ayo Ka” ucap Ocha
Azka masih bergeming. Masih ada kekhawatiran bahwa Ia tak akan kuat melihat keadaan Rasya saat ini. Celotehan demi celotehan terdengar, sepertinya mereka disambut baik untuk beberapa saat ini. Agil keluar, menghampirinya dan Ocha yang masih mematung di depan pintu.
“Ayo masuk. Udah jauh-jauh kesini, malah matung disini!” ucap Agil menyadarkan Azka dari pikirannya yang melayang jauh. Agil menggenggam tangan Azka yang membuat Ocha membelalakkan matanya. Agil menggiring gadis itu masuk, lalu sebelum melewati pintu kamar Agil melepas tangan Azka sambil berkata,
“Rasya nungguin kamu”
Azka pun melangkah masuk, yang pertama kali Ia lihat adalah Mba Eva, Ia lalu bersalaman dan mencium punggung tangan Mba Eva untuk menghilangkan kecanggungannya. Ipit menggeser duduknya, memberi ruang pada Azka untuk duduk diantara mereka. Takut-takut Azka menghadap ke arah Rasya, hanya saja pemuda itu sedang menghadap ke arah barisan cowok-cowok yang duduk di sebrang sisi lain ranjang. Azka melihat bagian kaki yang tak lagi sama di bawah selimut. Ada rasa sakit dan terluka di ujung hatinya mengetahui bahwa kaki kanan Rasya benar-benar sudah hilang.
Mereka mengobrol sekenanya, menceritakan cerita lucu agar suasana tidak terlalu tegang, Azka melihat tubuh Rasya berguncang sebentar, sepertinya ia sedang ikut tertawa mendengar lelucon Agil dan Anda. Sesaat kemudian Ipit juga ikut bersuara, diikuti Risa. Mereka mendekatkan duduknya hingga berada di sisi ranjang. Mereka menanyakan apa saja yang bisa mereka tanyakan. Sesekali Rasya hanya menjawab dengan sunggingan senyum, atau kedipan mata dan anggukan kepala.
“Rasya belum makan itu Gil, coba diajak makan sama kamu. Siapa tau maunya sekarang karena temen-temennya udah pada dateng” suara Mama Rasya terdenger dari arah pintu. Mereka bangkit, meraih tangan dan mencium punggung telapak tangan Mama Rasya bergantian. “Eh, Azka ya?” tanya Mama ketika Azka mendekat.
“Iya Tante” jawabnya singkat
Tante Atik hanya tersenyum sambil mengelus lengan Azka dengan lembut. Azka terkesiap, seketika ada perasaan hangat dalam hatinya. Namun perlakuan ini semakin membuat Ia merasa sedih. Genangan air mata tak lagi tertahan hingga menganak sungai di pipinya. Azka segera menghapusnya. Kemudian ketika Tante Atik melesat ke bagian belakang kamar tempat keluarga pasien, Azka kembali duduk. Tapi kali ini Ia duduk di sisi ranjang Rasya. Rasya sedang disuapi makan oleh Ipit. Sesekali Ipit meledek atau memberikan ejekan untuk Rasya yang dianggap sangat manja.
“Sekali ini aja Sya Gue suapin lo. Sedih Gue liat o kurus gini” Rasya hanya terkekeh pelan tanpa suara
“Entar-entar mah noh, si Azka yang disuruh nyuapin ya” ucap ipit lagi. Rasya hanya membuang muka ke arah duduknya para cowok-cowok.
Selama berada di ruangan itu, tak sekalipun Rasya menoleh atau melirik ke arah Azka. Dia seperti menghindar dari memandang gadis itu. Ada sesak yang dirasa oleh Azka ketika menyadari itu. Setelah Rasya selesai makan, Ipit kembali ke kursinya. Meninggalkan Azka dan Agil di sisi ranjang yang bersebrangan.
“Sya, Azka kesini mau ketemu Lo” Agil membuka percakapan yang terasa lebih serius daripada percakapan mereka sebelumnya
“Sya, percaya sama Gue, Lo gak sendirian” ucap Agil lagi ditengah keheningan yang tercipta sejak kalimat Agil yang pertama.
“Lo gak kasian liat Azka udah gak makan 7 hari gara-gara khawatir dan kangen sama Lo?” kali ini Rasya menoleh sedikit untuk melihat Azka yang duduk disamping ranjangnya, namun tak lama ia kembali menghadap ke arah berlawanan. Azka hanya terdiam. Kali ini Ia tak mampu menggerakkan apapun, menoleh pun pasti akan membuat butir air mata itu lepas begitu saja. Sesekali Azka mengusap air mata yang hampir jatuh. Ia menarik nafas dalam dan mendekatkan diri ke posisi kepala Rasya. Azka melihat lebih jelas luka-luka di sebagian pipi kiri dan kanannya, juga luka di sekitar bahunya yang sedari tadi tertutup oleh jarak pandang mereka.
“Kak” Azka berbisik di dekat telinganya, “Maaf baru bisa dateng kesini hari ini” Ia melanjutkan
“Kak Rasya yang kuat ya. Kamu gak akan ngadepin ini sendirian” suaranya bergetar saat menyelesaikan kalimat kedua.
__ADS_1
“Kak” panggilnya lagi, kini lebih lirih
“Liat aku sih Kak” ucap Azka memohon, satu air mata lepas begitu saja mengenai tangan Rasya yang Ia genggam. Azka hanya bisa menggigit bibir bawahnya yang merah untuk menyamarkan isakan. Beberapa detik tak ada yang Ia ucapkan lagi. Terlihat Mba Eva beranjak dari kursinya menyusul sang Mama di ruangan belakang. Begitu juga teman-teman Azka yang lain. Mereka beranjak dari kursinya menuju keluar ruangan. Risa, Ocha dan Ipit memegang pundak Azka sekilas tanda pamit. Agil bangkit paling terakhir, memegang pundak Rasya dan menepuknya pelan. Kemudian memandangi Gadis di hadapannya, Ia ingin mengucapkan sesuatu tapi kemudian Ia urungkan dan malah beranjak menyusul teman-temannya yang lain.
“Kak” kali ini suara Azka beradu dengan isakannya. “Kenapa gak mau liat aku?” Azka melanjutkan, menahan isak yang menyesakkan.
“Kak” Ia goncang tubuh Rasya sesaat, dan itu akhirnya membuat Rasya sedikit meluluh hingga membalikkan wajahnya menghadap gadis yang sudah berurai air mata itu. Azka melihat jejak air mata di pipi dan ujung mata Rasya. Ternyata pemuda itu ikut menangis.
“Kenapa gak mau makan?” pertanyaan pertama yang lolos dari bibir Rasya membuat Azka terdiam sejenak
“Aku gabisa makan sedangkan aku belum tau kamu bisa makan apa gak” jawabnya
“Makasih ya Dek, kamu mau dateng ngeliat aku” kini air matanya kembali jatuh, tatapannya sendu. Sesaat kemudian Rasya memalingkan wajahnya lagi
“Maafin aku gak akan bisa jaga kamu lagi kayak dulu” kalimat terakhir yang diucapkan oleh Rasya pada Azka membuat gadis itu semakin terisak. Ia menggenggam tangan Rasya lebih kuat, mengalirkan perasaannya agar pemuda itu tau bahwa dirinya ingin terus menjaganya. Sesekali Ia letakkan genggaman tangan itu ke dada, mendekapnya erat seakan tak ingin melepasnya.
Setelah itu Rasya hanya diam, seperti menikmati setiap air mata yang jatuh tak tertahan. Perlahan Azka menggeser genggaman tangannya, membawa genggaman itu kedalam kecupan bibirnya. Ia usap lembut telapak tangan pemuda itu yang kini ada dalam dekapannya, Ia hanya bisa terisak. Azka membayangkan bahwa saat ini Rasya tengah menghadapi hal yang paling sulit. Satu kakinya hilang. Temannya, Agil (nama nya sama dengan Agil sahabatnya di sekolah), meninggal dunia dalam tabrakan itu dan bukan tidak mungkin bahwa ia berpikir Ia akan menghadapinya seorang diri. Dari tatapan yang Azka lihat saat ini, tersimpan kekhawatiran dan keraguan. Mungkin ia berpikir bahwa Azka dan semua temannya tak akan lagi berada di sisinya. Mungkin juga rasa bersalah yang amat besar tersimpan dalam tatapan itu. Agil kecil yang selalu menjadi temannya sejak dulu harus meninggal dalam kecelakaan yang juga merenggut sebelah kakinya. Mungkin, Ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri untuk kejadian ini.
Akhirnya Agil masuk, mengucapkan sesuatu pada Rasya yang tak bisa ditangkap oleh indera pendengaran Azka. Agil mendekati Azka lalu mengajaknya berpamitan dengan Mama dan Mbak Eva. Azka pun melepaskan genggaman tangannya setelah sebelumnya meremat kuat telapak tangan itu. Agil membawa Azka menjauh dari ranjang. Ia sisipkan jemarinya pada deretan jemari Azka yang kecil. Sesaat Azka tersentak, namun Ia memilih diam saja dengan perlakuan Agil padanya.
“Kami pulang dulu Tante, Mbak. Kalo Rasya udah pulang tolong kabari Agil” ucap Agil sambil menggenggam tangan Azka. Agil bersikap seolah jika Ia melepaskannya maka Azka akan terhuyung tak mampu menahan beban tubuhnya sendiri, atau memang begitu keadaannya. Setelah berpamitan, Agil membawa Azka keluar kamar. Teman-teman yang lain bergantian masuk untuk pamitan.
“Gue bawa Azka keluar duluan. Ketemu di lobi” ucap Agil pada Anda, dan mendapat anggukan dari teman-temannya yang lain.
“Kamu gak papa nangis sekarang, kalo itu buat kamu jadi lega” akhirnya Agil bisa mengucapkan sepenggal kalimat setelah keheningan yang menerpa mereka selama menuruni tangga dari kamar rawat menuju lobi. Azka menggigit bibirnya kuat, menarik napas dalam untuk mencegah isakannya semakin kuat. Namun nyatanya itu semua sia-sia.
Azka terisak begitu pilu sambil mendudukkan diri di ujung lorong setelah tangga terakhir berhasil Ia tapaki. Tubuhnya berguncang, air mata sudah tak mampu Ia tahan. Agil mengusap punggungnya lembut, mencoba mengalirkan kehangatan dan kekuatan agar gadis itu tetap bertahan.
Suasana lobi sudah mulai ramai, Azka dengan dibantu Agil melangkah keluar lobi rumah sakit. Ocha yang melihat mereka berdua muncul segera berlari mengambil alih tangan Azka yang digenggam oleh Agil.
“Biar Gue aja Gil” ucap Ocha dan kemudian Ocha merangkul sahabatnya itu.
Perjalanan pulang dari rumah sakit menuju rumah mereka lewati dengan diam. Mereka semua terlarut dalam pikiran mereka masing-masing. Tidak ada yang berani mengungkit apapun yang berhubungan dengan Rasya. Tidak ada pula yang berani untuk memulai pembicaraan. Hingga menjelang sore mereka sampai. Semua orang hanya berpamitan sekilas lalu pulang kembali ke rumah masing-masing.
“Ka? Lo beneran dijemput Papa?” Risa bertanya untuk meyakinkan diri bahwa Azka akan baik-baik saja jika ditinggal
“Iya Sa, Gue dijemput” ucapnya basa basi, padahal Ia tau benar bahwa dirinya tidak meminta dijemput oleh Papa atau anggota keluarga yang lain.
“Oke deh, hati-hati ya Ka. Kalo ada apa-apa kabarin Gue” ucap Risa sambil menaiki motor adiknya.
“Gue juga pulang gak apa-apa Ka?” kini Ocha yang ragu untuk meninggalkan sahabatnya itu sendirian
“Lo cape Cha, sana pulang. Besok senin, banyak tugas lho" ucap Azka sambil mendorong Ocha menuju motor Ayahnya yang sudah siap melaju.
“Oke deh, Gue ada buat Lo kalo Lo butuh apa-apa ya. Jangan kabur!” ucap Ocha memperingatinya. Akhirnya Ia pun pergi meninggalkan Azka sendiri. Azka masih saja duduk terdiam. Tak ada niatan untuk segera pulang. Selain karena mukanya yang pasti terlihat sembab, Ia juga enggan untuk sampai dirumah cepat-cepat. Mama dan papa pasti akan menghujani pertanyaan seputar kabar Rasya yang Ia takut akan membuatnya kembali terisak. Agil yang tadi sudah berpamitan pulang ternyata masih memperhatikan Azka dari atas motornya. Ia memutuskan untuk turun dan kembali menghampiri Azka di ruang tunggu.
“Ayo pulang”
“Eh—Agil?” Azka terkejut Agil masih ada di sana
“Ngapain masih disini? Bukannya tadi Lo –“
“Lo gak dijemput kan?” Agil memotong ucapan Azka yang segera terdiam, kali ini dengan mode normal gue-lo.
“Emmm-dijemput kok” Azka berbohong
“Jangan bohong”
“Enggak, Gue gak bohong. Paling sebentar lagi Papa dateng”
“Yaudah, Gue tungguin sampe Papa lo dateng”
“Eh gak usah – soalnya..” Agil menaikkan sebelah alisnya menunggu lanjutan kalimat Azka. Azka menipiskan bibirnya bingung, harus mengatakan apa.
“Lo gak bisa boong sama Gue Azka. Udah ayo ikut pulang”
“Gue gak mau pulang, Gil” jawabnya, seketika Agil menoleh
“Jangan gila deh Azka! Lo harus pulang!”
“Gues gak bisa pulang dengan wajah kayak gini Gil” Azka menunjuk wajah sembabnya sambil cemberut.
“Suruh siapa nangis lama bener!”
“Ish,” Azka memicingkan matanya kesal
“Ayo, ikut. Kalo gak Gue paksa nih!” Agil melangkah terlebih dahulu, menghampiri motornya yang terparkir, dan menyodorkan helmnya kepada Azka yang sudah tak mampu berdebat lagi. Mau tak mau akhirnya Ia pun mengikuti Agil naik ke atas motor. Motor melaju meninggalkan pol bis.
“Kita mau kemana?” tanya Agil tiba-tiba
“Eh, maksudnya?”
“Katanya gak mau pulang dulu gara-gara wajahnya sembab?”
“Oh, itu—emmm”
“Yaudah terserah Gue ya” Agil pun melajukan motornya lebih kencang dan menuju ke tempat yang hanya dia dan Azka yang tau.
__ADS_1