Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 36


__ADS_3

Sebuah jendela terbuka, membiarkan angin semilir menyeruak masuk


Tirai tersibak, Terdapat tinta dan selembar kertas yang saling bercengkrama


Menentukan untuk tetap pada tulisan lama atau membuka lembaran baru


Kedekatan Azka dan Juan membawa mereka pada kondisi hati yang sudah tak sama dengan waktu lalu. Namun perasaan itu membuat Azka bimbang. Benarkah Ia akan mulai membuka lembaran baru dengan orang lain?


“Nyil, aku tunggu di kedai lama ya”


Begitulah ucapan Juan dua hari lalu. Ia meminta Azka bertemu dengannya hari ini. di sebuah kedai mie yang sedang ramai dikunjungi oleh orang-orang di kotanya. Entah untuk maksud apa, karena tak seperti biasanya Juan meminta Azka datang sendiri menyusulnya, bukan malah menjemputnya untuk pergi bersama. Dan disinilah Azka, berdiri seorang diri di depan sebuah kedai yang menjadi tempat janjinya dengan Juan.


Azka mengedarkan pandangannya, pada ruangan yang tidak terlalu ramai hari itu. Azka kemudian menangkap gerakan tangan yang terangkat memanggilnya. Juan sudah duduk di sebuah meja yang berada di sisi kanan sedikit jauh dari pelanggan lain. Azka segera menghampiri Juan yang sudah berdiri menyambut Azka.


“Udah lama?” tanya Azka basa basi


“Enggak kok, baru sampe. Ayo duduk” ajak Juan sambil menarik sebuah kursi di hadapan kursinya


“Ada apaan sih Ju? Tumben amat ngajak makan. Berdua aja nih?” tanya Azka beruntun sambil menengok ke kiri dan kanan mencari tanda adakah teman-temannya yang lain.


“Ada yang mau aku omongin sama kamu Nyil, makanya aku ngajak makan berdua aja disini” jawabnya sambil tersenyum, lalu duduk di kursinya.


“Wah serius banget nih kayaknya” Azka menebak-nebak.


“Duduk dulu” ucap Juan mengetuk meja di hadapan kursi di depannya.


“Oh, iya hehe” Azka duduk, lalu diam.


“Mau pesen apa?” tanya Juan menambah deretan panjang basa basi yang Ia lakukan.


“Apa aja deh, tapi kayaknya mau minum aja” jawab Azka. Juan memesan makanan dan minuman untuk mereka. Kemudian Ia kembali ke meja tempat Ia dan Azka duduk.


“Jadi apa yang mau diomongin?” tanya Azka penasaran. Ia tidak memiliki perasaan aneh apapun. Ia seolah santai saja dengan apa yang akan Juan katakan, karena memang Ia tidak tahu.


“Buru-buru banget” Juan mencoba mengajaknya bercanda, tapi Azka tidak merasa ada yang lucu.


“Jadi?” ucap Azka memaksa.


“Sebentar, aku mau nyiapin sesuatu dulu”


“Apa?”


“Hati” jawab Juan singkat.


Azka melebarkan bola matanya, mulai memahami kemungkinan apa yang akan terjadi setelah ini. Azka meremat ujung sweater yang Ia gunakan untuk menghilangkan gugup yang tiba-tiba menyerang tubuhnya.


“Ehm,” juan berdehem saat pelayan mengantarkan makanan dan minuman ke atas meja mereka. Tapi tak hanya itu, ada sesuatu yang lain di meja itu. Sebuah kotak kecil berwarna silver dengan tutup transparan tergeletak di depan tangan Juan. Azka dapat melihat benda apa yang ada di dalamnya. Mengetahui kenyataan itu, Azka meremat ujung sweaternya lebih kuat. Detak jantungnya mulai tidak teratur. Otaknya seketika pusing memikirkan kemungkinan lain tentang maksud Juan dan cincin di depannya. Azka tidak mau terbawa perasaan. Bisa saja cincin itu adalah cincin untuk pacarnya. Dan Juan ingin meminta pendapatnya tentang cincin itu. Iya, itu lah yang coba Azka masukkan ke dalam pikirannya dalam-dalam.


“Nyil, dari pertama ketemu kamu, aku udah punya firasat kuat kalo aku bakal ngerasain perasaan ini meskipun kita belum kenal dulu. Ketika tau kamu ada hubungan dengan Rasya, aku cuma bisa nahan. Bukan tentang kalah atau menang sih, tapi ini tentang aku yang mengalah sampai akhirnya aku akan menang. Aku nunggu saat kamu merasa membutuhkan orang lain selain dia. Karena aku tau, dia mungkin gak cukup baik ngejaga kamu. Yang gak dijaga dengan baik, yang gak digenggam dengan erat, bisa diambil orang begitu aja. Dan ketika kamu terlepas dari genggaman Rasya, aku yang akan ambil kamu sekarang. Aku ingin kita saling rindu, aku juga ingin kita saling tau perasaan kita. Dulu memang susah. Tapi mungkin sekarang jauh lebih mudah. Jadi, apa kamu mau coba untuk saling memahami perasaan sama aku?”


Juan mengatakan itu tanpa jeda, dengan tatapan yang sungguh membuat jantung Azka seakan berhenti berdetak. Azka benar-benar melongo dibuatnya.


“Aku kepanjangan ya ngomongnya?” tanya Juan sambil tertawa ketika melihat Azka masih terpaku membisu di hadapannya. Azka jadi ikut tersenyum lalu tertawa kecil. Ia membenarkan posisi duduknya, lalu menarik nafas dalam.


“Emm, Ju sebenernya aku gatau sih perasaan aku gimana. Aku masih berpikir aku masih harus sendiri dan fokus belajar. Aku udah kelas duabelas Ju. Tapi..”


“Tapi?” tanya Juan penasaran


“Aku mau minta waktu berpikir boleh? Aku gak bisa jawab itu sekarang” Azka menunduk bingung harus menatap ke arah mana. Yang pasti Ia tak sanggup untuk menatap Juan yang sedang menatapnya begitu dalam.


“Hmmmh”  Juan hanya menghembuskan nafas. lemah, “Kamu masih sayang sama Rasya nyil?” tanyanya lagi.


“Emmm, aku – ya. Jujur aku masih sayang sama Kak Rasya, karena meninggalkan dia bukan berarti aku langsung berhenti sayang sama dia. Lagipula aku masih peduli, hanya mungkin salah aja jika aku masih berhubungan dengan dia seperti dulu” Jawab Azka


“Apa dengan rasa sayang kamu, kamu masih butuh berpikir? Apa dengan berpikir masih ada kemungkinan kamu mau nerima perasaan aku?”


“Sekali lagi, aku gak tau Ju. Aku nyaman sama kamu. Tapi sepertinya otak aku belum sepenuhnya sadar tentang semua ini”

__ADS_1


“Oke, aku tunggu hasil berpikir kamu” Ucap Juan tersenyum. Ia menyerahkan kotak berisi cincin itu


“Ini?” tanya Azka bingung


“Pegang sama kamu, kalo kamu memang nerima, pake cincinnya. Tanpa kamu bicara pun aku akan tau bahwa jawabannya Iya”


Azka menganggukkan kepalanya, lalu terselip pertanyaan di pikirannya “Ju, emang ini pas sama tangan aku?” pertanyaan itu terlepas begitu saja.


“Aku yakin itu pas” jawabnya percaya diri.


“Oke, kita lihat aja nanti. Kalo gak pas berarti batal ya”


“Eh? Kok gitu?” Juan jadi gelagapan.


“Iya dong, hehe. Udah ah, aku minum ini boleh? Aku haus, emang kamu gak?” melihat Juan yang mengangguk Azka menarik satu gelas jus melon di depannya, menyesapnya sedikit. “Kamu gak cape ngomong segitu panjang tanpa jeda?” lanjut Azka yang menyadari Juan masih saja memperhatikannya tanpa menyentuh pesanannya. Juan segera mengalihkan pandangannya dari Azka dan meminum minuman di hadapannya. Sepanjang waktu setelahnya tak ada lagi bahasan tentang perasaan mereka masing-masing. Keduanya memang pintar bersandiwara, seolah-olah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Mereka berbicara seperti hari-hari sebelumnya.


---


“Ka, Lo dicariin Rasya”


“Hah???”


Ini masih sangat pagi untuk Rasya mengajak Azka bicara. ‘Oh Tuhan, apa yang akan terjadi hari ini? bisakah hari ini berjalan normal-normal saja?’ batin Azka mengaduh.


Azka segera keluar kelas menemui Rasya yang katanya mencari dirinya. Ia menemui sosok pemuda itu tengah bersandar di tiang penyangga di depan kelasnya.


“Kak” Rasya berbalik,  tersenyum lalu mendekat. Gerakan jalannya sudah lebih halus, mendekati bagaimana orang berjalan secara normal. Azka memperhatikan Rasya dengan seksama.


“Dek, boleh aku tanya sesuatu?” Rasya terlihat sangat serius. Azka mengangguk.


“Gimana kamu sama --?”


Rasya menggantung kalimatnya, menimbang apakah Ia benar-benar akan menanyakan hal ini atau tidak.


“Doain aja kak” Azka yang tau arah pertanyaan itu justru dengan sigap memberi jawabannya. Jawaban diplomatis seperti biasanya, tapi kali ini Azka bertekad tidak lagi ingin memberi harapan palsu. Biarlah mereka tetap berteman, tanpa ada yang mengharap lain diantara mereka.


“Gimana kalo ternyata aku gak bisa tanpa kamu Dek?” Rasya mengiba, suara nya melemah.


“Tapi, bukannya kita belum pernah secara langsung bicara tentang putus?”


“Eh—putus? Memang gak pernah ada kata itu di kamus hubungan kita Kak. Ingat?” Azka menjeda, memberi waktu pada Rasya untuk mengingat percakapan mereka dahulu.


“Kak, boleh gak sih, kalo kita tetep kayak gini aja. Gausah ada pacar-pacaran gitu deeh” usul Azka takut-takut


“Aku takut kalo pacar-pacaran disebutnya. Pacaran kan bisa putus.” Ucapnya lagi


“Yaudah, gini aja deh. Kita kayak biasa aja, nggak usah ada yang berubah”


“Heemh, trus?”


“Tapi kita harus saling jaga ya. Aku gak akan deketin cewek lain selain kamu”


“Beneran?”


“Tapi kamu juga jangan mau dideketin cowok lain”


Azka menyeringai senang, meski tau bahwa Rasya tak bisa melihat itu.


“Kamu boleh pergi dari aku, kalo nanti ternyata aku gak bisa jagain kamu. Kamu juga boleh pergi dari aku, kalo ternyata aku gak bisa bikin kamu seneng. Tapi bilang dulu kalo emang kamu mau pergi, supaya aku gak pusing mencari” Azka hanya terdiam mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Rasya.


“Janji ya?” tanyanya lagi.


“Janji”


“Kak, mungkin kamu harus sedikit mengingat apa saja yang pernah kamu bilang tentang kapan aku boleh pergi dari kamu. Aku pikir, dulu kamu yang selalu menggertak aku dengan rasa minder kamu. Aku juga berpikir itu semua memang supaya aku pergi ninggalin kamu” Azka mengatur emosinya, ‘Tenang Ka, tidak perlu terbawa perasaan. Katakan saja’


“Apa setelah aku sekarang mulai menjauh kamu mau bilang itu semua main-main? Dan yang terjadi sekarang nggak lucu?” tambah Azka. Ia mengatur nafasnya, lalu tersenyum sekilas.

__ADS_1


“Ayolah Kak, kita bisa hidup dalam kehidupan kita masing-masing setelah ini”


“Tapi aku bener-bener sadar kalo aku gabisa” Azka hanya menghembuskan nafas lemah mendengar kalimat itu.


“Lalu, kemana kamu kemarin-kemarin?” tanya Azka yang sudah ingin pergi dari tempat itu saat itu juga untuk kembali ke kelasnya.


“Kak, kita udah kelas dua belas, sebaiknya kita lebih fokus sama ujian kita. Dan gak perlu terlalu pusing dengan masa lalu kita” Azka menghembuskan nafas pelan, menepuk bahu pemuda di hadapannya lalu berbalik dan masuk ke dalam kelas.


“Rasa seperti ini bukan sesuatu yang bisa di atur, maaf kalo aku akan tetap sama seperti dulu”


-Rasya-


“Kamu jangan terlalu mengharap sesuatu kalo kamu nggak cukup berusaha kak” 


-Azka-


---


“Jadi gimana Ka?”


“Justru Gue mau nanya sama Lo berdua” jawab Azka setelah menceritakan tentang cincin sekaligus perasaan yang diberikan Juan.


“Gue sih terserah Lo” ucap Ocha.


“Kalo Gue sih bagus buat move Ka. Setidaknya Lo gak akan muter di lingkaran itu-itu lagi.” Ucap Risa mantap.


“Kapan dia minta jawabannya?” tanya Ocha.


“Dia gak nentuin kapan, tapi Gue juga gak mau lama-lama kayak begini. Gue harus menentukan sikap dong yes” Azka menimbang-nimbang kotak cincin dihadapannya.


“Rasya tau?” pertanyaan Risa membuat Azka kembali berpikir tentang apa yang dikatakan Rasya kemarin.


“Tau”


“Trus?”


“Yaudah, gitu aja”


“Ya bagus kalo gitu, sekarang tinggal Lo nentuin gimana Lo sama Juan”


Azka tersenyum pada kedua sahabatnya. Ia sungguh berterimakasih pada keduanya yang masih setia bersama nya apapun yang terjadi. Azka merangkul keduanya seraya mengatakan,


“Nanti temenin Gue ngasih jawaban sama Juan ya” Kedua temannya itu saling tatap dan mengangguk.


---


“Lo kenapa lagi Sya?” Agil mendekati sahabatnya yang duduk bersandar di kursinya.


“Gak kenapa-napa bro”


“Azka beneran udah jadian sama tuh anak?” tanya Agil tanpa tedeng aling-aling.


“Nyaris” Rasya mengusap wajahnya kasar.


“Trus?”


“Yaudah, gitu aja. Selama dia bahagia, ya Gue juga bahagia. Tapi Gue gak bisa bohong kalo perasaan Gue masih sama Gil"


“Itu yang Gue maksud Lo gak boleh bikin dia merasa diragukan. Karena lama-lama justru dia yang akan ragu. Perempuan itu mudah berubah Sya. Dan Laki-laki gak boleh buat orang yang dia sayangi jadi ragu”


“Gaya Lo Gil!” Rasya menepuk bahu Agil sambil terkekeh mendengar ucapan Agil.


“Gak usah sok seneng Lo Sya” Agil mengejek Rasya


“Hal paling sakit itu ya kayak Lo ini, pura-pura bahagia ketika orang yang Lo sayang harus sayang sama orang lain” Agil menambahkan.


“Kampr*t Lo Gil!” Rasya menepis tangan Agil yang sudah merangkul dirinya.

__ADS_1


“Gue bener kan? Tenang Sya. Gue masih dukung Lo untuk terus berjuang. Gue gak akan nikung. Hehehehe”


“Kampr*t!!!” Agil tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Rasya yang semakin kesal dengan ucapannya.


__ADS_2