Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 18


__ADS_3

Sejak pulang dari rumah sakit, Azka mulai kembali seperti semula. Senyuman sudah mulai terbingkai di wajahnya. Azka pun sudah mulai makan seperti biasa. Kunjungan ke rumah sakit waktu itu benar-benar menjadi obat bagi suatu kehampaan yang tanpa ijin memenuhi ruang rindu diantara keduanya. Rasya sudah pulang, dan mulai menjalani rawat jalan di rumah. Hanya saja Ia belum bisa kembali ke sekolah hingga dua bulan ke depan. Sekolah dan pihak keluarga sepakat untuk memberikan dispensasi bagi Rasya dan akan tetap mengikuti ujian tengah semester di rumah.


---


“Mel” panggil Azka suatu hari kepada Meli, temannya dikelas X dan saat ini sekelas dengan Rasya


“Eh, Azka. Kenapa?”


“Emmm, gini Mel aku boleh minta tolong?” tanyanya


“Boleh, apaan?” Azka tersenyum mendengarnya


“Jangan yang aneh-aneh ya Ka” Meli menambahkan buru-buru


“Ahahahaha, yaelaah Mel. Padahal mau aneh-aneh niiih” jawabnya bercanda


“Ah, gak jadi deeeh bolehnya…” ucap Meli meralat ucapannya


“Iiih, enggak kok Mel. Dengerin Gue dulu” kata Azka mencoba meraih tangan Meli


“Yaudah apaan?”


“Boleh gak, kalo Gue pinjem catetan semua mata pelajaran Lo setiap minggu?”


“Hah? Semua?? Gila! Buat apaan?” Meli terkejut dengan permintaan Azka


“Ssssst, jangan ribut. Dengerin ya” Azka menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang fokus mendengarkan obrolannya dengan Meli


“Jadi, Gue mau nyatetin semua pelajaran buat Kak Rasya selama dia gak bisa masuk sekolah.” Jelasnya


“Ooooh, Lo serius Ka mau ngelakuin itu?”


“Iya, kan gak kebayang kalo dia nanti UTS tapi gak pernah tau apa yang dipelajarin. Meskipun dibebas tugaskan dari nilai harian, kata Bu Maria Kak Rasya akan tetep dikasih soal buat UTS nanti ke rumah. Nah, kita aja yang belajar masih oleng kapten ye gak? Apalagi dia?” Azka menjelaskan panjang kali lebar tanpa jeda


“Mmmmh,,, segitu perhatiannya Azkaaaa. Sosweet amat siiiih” ucap Meli sambil mencubiti pipi chubby temannya itu  “Iissh, sakit Mel” Azka menghalau tangan Meli yang sedang menggapai-gapai pipinya untuk di comot ‘Dia kira pipi Gue bapau kali yak?’


“Tapi Mel, Gue gabisa kalo semua pelajaran Gue pinjem di akhir minggu. Gue mau pinjem tiap hari setelah mapelnya beres. Kalo untuk mapel yang beruntun hari nya Gue pinjem di hari terakhir tiap minggu. Boleh gak?” Azka mengakhiri kalimatnya dengan bergelayut manja di lengan Meli


“Lepasin dulu Ka tangan Gue” Meli membenarkan lengan bajunya yang tertarik karena gelayutan manja Azka tadi. “Oke deh, nanti Gue kasih buku Gue. Tapi sorry kalo gak terlalu rapih” ucapnya lagi


“Yess. Gak apa-apa Mel, yang penting lengkap” ucap Azka sambil mengepal-kepalkan tangan dan bergerak naik turun.


“Nah, itu juga Gue gak janji. Hehehehe”


“Gue percaya ama Lo Mel. Gak mungkin gak lengkap. Bahkan mungkin yang gak penting juga Lo mah di catet, hehe”


“Sialan nih anak”


“Hehehe, sorry Mel. Oke deh deal yah. Nanti Gue ambil tiap pulang sekolah.” Ucap Azka sambil menjabat tangan Meli.


Azka keluar dari kelas Meli, sampai di depan pintu kelas Ia keluar bertepatan dengan Agil yang akan masuk.


“Astaghfirullah!!” pekik mereka bersamaan


“Kaget gilaaak! Jalan liat-liat kali” ucap Azka sambil memegang dadanya yang naik turun. Di dalamnya ada jantung yang sudah berdetak bak gong yang ditabuh.


“Lo yang gak liat-liat Azkaaa, Gue mau masuk juga. Lagian ini kelas Gue. Ngapain Lo kesini?”


“KEPO!!!” ucapnya lalu melengos pergi begitu saja.


“Dih, bisa yaa sekarang gitu. Kemarin-kemarin ajaaa”


"Kemarin-kemarin apa?” tanyanya berbalik ke hadapan Agil


“Ya, kemarin-kemarin.. gak inget emangnya?”


“Apaan?”


“Dih kampr*t! jangan-jangan Gue jalan sama anak genderuwo!”


“Enak aja!!! Sialan Lo! Inget Gue…”


“Apa?” kini giliran Agil yang bertanya dengan senyum jailnya


“Taaauuu aaah” Azka kabur pergi dari hadapan Agil


“Heh, anak genderuwo, kabur aja bisanya”


‘Dih, cuma jalan sekali aja diungkit-ungkit mulu’ batin Azka kesal.


“Wah, buku apaan inih Nur?” tanya Fabel yang baru masuk ke dalam kelas bersama Doni dan Alfan


“Buku tulis”


“Yaelah Gue juga tau Nuuur”


“Lah, Elo nanya apa? Ini buku apa kan? Ya buku tulis” jawab Azka


“Buat apaan?” kali ini Alfan yang bertanya karena Fabel sudah malas melanjutkan pertanyaannya.


“Buat nulis Mas”


“Astaghfirullah ini anak lama-lama ngeselin sih” ucap Fabel menepuk kepala Azka pelan


“Ya bener, yaelaah. Sensi amat sih kalian tuh hari ini”


“Lo yang bikin emosi Azka!!!” ucap Iren dan Risa bersamaan yang sudah ikut kesal dengan percakapan kedua temannya


“Hehehehe, iya iya. Sekarang mah duarius. Yang tadi mah serius”


“Udah gak nafsu Gue Ka, nanya sama Lo” ucap Fabel kesal lalu menuju kursi nya


“Buat apaan?” ulang Alfan

__ADS_1


“Buat nyatet materi pelajaran buat Kak Rasya Mas. Lumayan untuk persiapan dia UTS kan, selama gak sekolah. Trus aku jd bisa belajar ulang selama aku nyatet ulang” jelasnya dengan nada serius


“Oooh, itu nanti mau dibawa pake apa kerumah? Tas kamu gak akan cukup Ka. Jinjingan aja udah banyak” tanya Alfan melirik tas dan tas jinjing Azka yang sudah penuh dengan barang-barang.


“Mau minta plastik nanti di kantin” ucap Azka asal. ‘Biarlah dijawab dulu sekarang, nanti bisa dipikirkan bagaimana membawanya’ pikirnya.


“Gausah, masukin tasku aja. Nanti sekalian tak anter pulang” ucap Alfan sembari berjalan ke mejanya membawa buku-buku yang tadi Azka beli


“Makasih Mas, dirimu terbaiiiiik” ucap Azka mengacungkan dua jempolnya


---


Sejak hari itu, Azka selalu mencatat ulang pelajaran yang diajarkan di kelas XI IPA 2. Kenapa tidak menggunakan buku catatannya? Sebab Azka berfikir bahwa setiap kelas mungkin mendapat cara belajar, dan ilmu yang berbeda. Tidak adil rasanya jika Rasya mendapat ilmu tidak sesuai dengan yang diajarkan di kelasnya. Hampir setiap malam ia bergelut dengan catatannya. Setelah selesai mencatat, esoknya ia kembalikan buku Meli dan membawa kembali buku pelajaran Meli yang lain. Hingga di akhir minggu, Azka menyempatkan datang kerumah Rasya membawa setumpuk buku yang sudah berisi catatan semua pelajaran dalam seminggu ini. Alfan yang bersedia mengantar Azka ke rumah Rasya. Ditengah perjalanan, Azka mampir ke sebuah konter untuk membeli kartu perdana dengan nomor kembar yang hanya berbeda satu angka di belakang.  Azka melihat apa yang dibelinya dengan wajah berbinar. Ditentengnya belanjaannya kembali ke atas motor Alfan. Lalu motor kembali melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Rasya.


---


“Assalamu’alaikum”


‘Wa’alaikumsalam”  Pintu terbuka beberapa saat setelah salam dua orang di depan pintu terjawab. Tante Atik muncul dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


“Eh, Azka sama Alfan. Masuk-masuk” Pintanya sambil membuka pintu agar lebih lebar.


“Sya, ini ada Azka sama Alfan” ucap tante Atik ketika sudah masuk ke ruang keluarga.


“Sini, kesini aja. Rasya belum bisa kemana-mana kalo gak diangkat dinaikin ke kursi roda” Tante Atik menjelaskan sembari mendorong bahu Azka pelan ke arah ruangan di tengah rumahnya. Terlihat Rasya sedang dalam posisi setengah tiduran di sebuah ambal yang bulu-bulunya terasa  lembut. Ia bersandar pada setumpuk bantal. Di sampingnya ada meja dengan berbagai persediaan makanan, juga ada beberapa botol air putih dan gelas. Tak jauh dari meja terdapat laptop yang terbuka dengan mouse dan stik PS berserakan.


“Hei” sapa Azka


“Sini, duduk di sini aja.” Ajak Rasya sambil menepuk-nepuk ambal kosong di sebelahnya


“Gimana kabarmu Sya?” kali ini Alfan bersuara


“Baik Fan. Makasih ya udah kesini”


“Maaf lho waktu itu gak ikut jenguk ke rumah sakit” ucap Alfan dengan nada menyesal


“Gak apa-apa. Mereka udah ngewakilin kok” ucap Rasya santai.


“Jadi ngapain nih, kesini pagi-pagi amat?” tanyanya lagi


“Nih, nganterin ini anak” tunjuk Alfan kepada Azka yang sedari tadi masih berdiri, bingung mau duduk dimana.


“Dek, sini. Duduk sini” ajak Rasya menunjuk tempat diantara dirinya dan Alfan.


“Eh, iya. Hehe” Azka duduk di tempat itu dan memangku tas jinjing yang terasa berat.


“Apaan tuh?” tanya Rasya menunjuk pada tas jinjing yang terlihat menyembul di pangkuan Azka


“Hehe, ini bukti kebaikan aku kak” Azka terkekeh


“Hah?  Kebaikan apaan?”


“Ini nomor baru buat kamu, nanti kalo udah diaktifin hubungin aku ya” Rasya menerimanya seraya mengangguk,


“Gilaa, niat amat Dek?”


“Niat dong. Kak Rasya harus berterimakasih sama aku” ucapnya bangga.


“Ini mau ditinggal disini?” tanya Rasya lagi


“Iya, nanti setiap selasa aku bawa lagi. Biar aku bisa nyatet lagi materi seminggu itu. Nanti kalo ada ulangan aku juga bakal minta soal-soalnya ke guru, trus itu buat latihan kakak di rumah”


“Duh, mending sekolah deh kalo gitu” Azka melotot mendengar keluhan Rasya


“Hahahhaa, ****** lo Sya. Dapet guru lebih killer dari yang ada di sekolah”


“Enak aja! Aku tuh baik hati ramah tamah murah senyum dan rajin menabung tau!” Ucap Azka tak terima dengan sebutan guru killer dari Alfan. Mereka berdua hanya tertawa mendengar ucapan Azka.


“Bentar-bentar, jadi nanti tiap selasa kamu kesini?” tanya Rasya memastikan


“Selasa dan sabtu!” Azka mengoreksi


“Wah, harus ada biaya transportasi nih ke si Alfan kalo gitu caranya” Rasya terkekeh lagi


“Enak aja, siapa bilang dia dianterin terus sama saya?” tolak Alfan


“Ih, Mas. Jahat amat sih” Azka menepuk lengan Alfan


“Lah, emang beneran mau dianter terus?”


“Enggak juga siih” Azka nyengir


“Trus nanti sama siapa dong?” Rasya membenarkan posisi sandarannya


“Nanti, kalo aku gak sempet atau gak bisa kesini, aku titip Fabel atau Doni. Kan mereka ke arah sini pulangnya. Nanti mampirin buku-buku, atau ngambil buku-buku” jelasnya. Rasya hanya ber ooh ria sambil manggut-manggut


“Ini minumnya. Maaf ya tante gak punya apa-apa” Tante Atik membawa nampan berisi air sirup berwarna orange dan setoples makanan kering


“Gak usah repot-repot Tante” jawab Alfan bangkit dan mengambil alih nampan yang dibawa Tante Atik.


“Azka sama Alfan sampe jam berapa disini?” tanya Tante Atik mengambil tempat disisi Rasya yang lain


“Ma, baru juga dateng. Udah ditanyain sampe jam berapa. Ngusir Mama nya?” tanya Rasya sedikit sewot


“Kamu ini suudzon aja. Mama cuma nanya sampe jam berapa karena Mama mau ke rumah Emak. Biar Azka sama Alfan yang temenin kamu. Gitu”


“Oooh”


“Sampe dzuhur kayaknya Tante” jawab Azka


“Gak apa-apa Tante titip Rasya sebentar?”


“Gak apa-apa Tante, Kak Rasya gak akan diapa-apain kok” ucapnya sambil tersenyum jail

__ADS_1


“Iya deh, yaudah Tante ke rumah Emak dulu ya. Kalo mau apa-apa, ke dapur aja. Anggap rumah sendiri”


Tante Atik beranjak, berjalan menjauh dan keluar dari pintu di bagian samping rumah.


“Kak, itu gimana rasanya sekarang?” Azka menunjuk kaki Rasya yang masih diperban


“Gak ada rasa apa-apa” jawabnya santai


“Enteng” tambahnya lagi


“Udah gak sakit?” tanya Azka lagi


“Dikit, kalo pas lagi berdiri, suka kerasa”


“Ooooh, kamu tiap hari begini aja Kak?” tanya gadis itu polos masih penasaran


"Ya begitulah. Kadang di kamar, kadang disini, kadang pake kursi roda ke ruang komputer di belakang. Mau ngapain lagi?”


“Nah, sekarang jadi nambah kegiatannya Kak. Belajar, hehe” Azka tersenyum


“Iya, kalo gak males”


“Kak Rasya!! gak boleh males” Azka memukul lengannya pelan


“Aduuuh, masih sakit loh ini lukanya” jerit Rasya saat pukulan Azka mendarat


“Eh, emang ada luka juga disana?” Azka terkejut karena saat di rumah sakit, Ia tidak memperhatikan luka lain selain kaki, di bagian wajah, dan bahu.


“Ada. Lumayan lah”


“Liat dong Kak” pintanya


“Harus buka baju dong?”


“Eh, kok harus? Gak bisa dibuka lengannya aja gitu?”


“Hehehe, bisa..” Rasya terkekeh geli melihat ekspresi kaget Azka


“Dih, itu mah maunya kamu buka-buka baju didepan cewek”  Alfan yang sedari tadi sudah mengambil tempat di kursi belakang dua sejoli itu hanya tertawa melihat kelakuan mereka. Rasya kemudian menyingkap lengan bajunya perlahan. Setelah sekitar 5 cm, terlihat luka yang cukup besar dan masih sedikit basah di bagian lengan atas kirinya.


“Iiiiih, ngilu liatnya” ucap Azka bergidik


“Apalagi kalo liat bekas operasinya” Rasya menutup kembali lengan bajunya yang tadi disingkap


“Boleh gak?” Azka jadi penasaran


“Boleh, tapi kamu harus disini sampe sore. Tunggu waktu buka perban sama bersihin luka”


“Yaaaaah” Azka berseru kecewa


“Hehehehe”


“Modus kamu Sya, bilang aja mau Azka disini lama-lama” ucap Alfan dari kursi di belakang. Lalu Ia melanjutkan aktivitas nyemil keripik yang tadi dibawakan oleh Tante Atik.


“Mau nya mah dia disini terus Fan, jadi suster Gue aja”


“Sembarangan! Emangnya aku pengangguran?” Azka mendelik ke arah mereka berdua.


“Oh iya, Agil udah pernah jenguk ke rumah kak?”


“Udah, kenapa nanyain Agil?” Rasya balik bertanya


“Eh? Em—gak apa-apa, nanya aja”


“Kamu cocok lho sama Agil” ucap Rasya yang membuat Azka menoleh seketika


“Cocok  apaan? Enggak ah”


“Apalagi selama aku di rumah sakit kayaknya dia jagain kamu terus”


“Kata siapa?” wajah Azka bersemu mendengar kalimat yang dilontarkan Rasya


“Kata aku”


“Jagain apanya. Aku sama temen-temen aku kok selama kamu dirumah sakit. Berarti yang jagain aku mereka” ucap Azka tak mau kalah


“Oh gitu"


“Iyalaah, tanya aja sama Mas Alfan”


“Eh, kenapa jadi aku?” tanya Alfan tak mau dibawa-bawa dalam urusan ini


“Dek, abis dari rumah sakit, kamu kemana?” mata Azka melebar mendengar pertanyaan Rasya


“P-pulang” jawabnya sedikit gugup


“Gak kemana-mana dulu?”


“Kok kamu nanya gitu sih Kak?”


“Ya gak apa-apa, Agil cerita—“


“Agil bilang apa?” Azka memotong ceritanya


“Sabar Dek sabaaar. Elaah takut amat kayak abis ketauan maling” Rasya cukup terkejut dengan suara Azka yang tiba-tiba memotong pembicaraannya


“Agil bilang kamu sempet gak mau pulang karena abis nangis” lanjutnya


“Ooooh, trus Agil bilang apa lagi?”


“Udah itu aja”  Huuuft


“Kenapa?” tanya Rasya lagi

__ADS_1


“Enggak, gak kenapa-napa, aku pulang dianter Agil waktu itu” Rasya manggut-manggut.


__ADS_2