
Sepasang Boneka
Sepasang boneka kubawa
Sepasang kisah hendak menjadi cerita
Akankah mereka akan selalu bersama?
Hanya jawab oleh waktu yang kuasa
Pagi itu Azka bersiap ke sekolah dengan sangat terburu-buru. Pasalnya ia terlambat bangun karena sedang haid. Setelah meminta maaf kepada Mama karena tidak sempat membantu pekerjaan pagi ia pun pamit untuk segera ke sekolah. Azka berlari-lari kecil sampai ujung gang dan menunggu angkot dengan cara yang sangat jauh dari kata santai. Akhirnya ia memilih untuk naik angkot yang mana saja, penuh pun tak apa. Tak ada pilihan lain, dari pada telat?
Ketika sudah sampai di sekolah ia masih terus berlari-lari kecil hingga di pintu kelas meskipun belum terlambat. Dengan beberapa bulir keringat turun dari dahi menuju pipinya. Azka memperlambat gerakannya. Ia dudukkan bokongnya pada kursi di belakang meja yang tertulis nama ‘Azka cantik’ yang ditulis Nadia beberapa hari lalu. Ocha sudah melongo memperhatikan kedatangannya.
“Lo kenapa Ka? Dikejer soang?"
“Soang apaan sih?”
“Itu, sampe keringetan.”
“Duh Cha, Gue hampir telat tadi. Bangun kesiangan. Bukan dikejer soang,” jawabnya sambil mengusap keringat di wajah.
“Oh, kirain..”
“Eh, Cha.. hari ini temenin yuk!”
“Kemana?”
“Makan sama kak Rasya,” jawab Azka santai.
“Oyong!!!” Ocha menoyor kepalanya gemas.
“Ih, kebiasaan!!” ucap Azka kesal. “Mau gak? Ajak Risa juga deh, gimana?”
“Kok Lo oyong sih Ka, Rasya pasti maunya makan berdua kali sama Lo.”
“Enggak kok, Gue udah bilang mau ajak kalian.”
“Dasar oneng!” ocha menoyor kembali kepala Azka karena kebodohan temannya itu.
“Iiih, kebiasaan!!!”. “Entar gue jadi beg*k gimana coba?"
“Ya derita, hehe.” kata Ocha sambil tersenyum.
“Emang makan dimana?” lanjutnya,
“Tau!”
“Lah, kok gitu?”
“Emang gak tau, gimana dong?”
Azka mengeluarkan ponselnya, menunjukkan pesan dari Rasya semalam,
-Rasya-
Besok katanya pulang cepet, makan yuk?
-Azka-
Makan dimana?
Boleh ajak Ocha ya?
-Kak Rasya-
Kenapa harus ajak Ocha? Kasian nanti dia jadi obat nyamuk
-Azka-
Obat nyamuk apaan? Ba*gon apa H*t?
Yaudah ajak Risa juga kalo gitu
-Kak Rasya-
Boleh
“Tuh kan Lo mah Oneng si Ka,”
“Itu dia ngebolehin Cha, ayo lah.. Gue gak akan nyaman pergi cuma berdua doang.”
“Dia terpaksa. Huh, tapi Risa oke gak nih?”
“Oke aja dia mah, cari tempat makan deket rumah dia, pasti dia mau.”
---
Sekolah memulangkan siswa-siswi tepat pukul 11.00. alasannya karena ada rapat guru. Alasan klasik yang bisa bikin siswa sorak sorai bergembira bergembira semua (gausah nyanyi!). Azka dan Ocha keluar kelas sedikit belakangan, menunggu semua orang di kelas keluar dan pulang. Risa kemudian menyusul bersama Rasya.
“Hei!”
__ADS_1
“Halo kak,” Azka menjawab sapaannya.
“Jadi berempat nih? Yuk berangkat.”
“Heem, kita naik angkot aja Kak, nanti ketemu di sana oke? Kita ke warung pelangi di deket bundaran pahlawan, tau?” katanya menjelaskan rencana keberangkatan.
“Kok naik angkot? Naik motor aja yuk!” ajak Rasya masih berusaha membujuk.
“Ocha gak bawa motor Kak, masa Ocha sama Risa naik angkot berdua aja?” Azka terus memberi alasan.
Rasya menghembuskan nafas kasar, “Yaudah, ketemu di sana.” Rasya pun keluar ke arah parkiran untuk mengambil motornya.
“Ka, Lo beneran mau bawa-bawa kita?”
“Iya lah serius Gue.”
“Gak kasian sama Rasya?”
“Emm, Gue belum siap makan-makan berdua gitu. Ayok, ntar dia tambah bete kalo dia duluan yang sampe,” ajaknya sambil menarik tangan Ocha dan Risa. Mereka pun menaiki angkot jurusan bundaran pahlawan.
Di dalam angkot hanya ada mereka bertiga dengan satu orang bapak-bapak di bagian depan. Sekolah memang sudah lebih sepi dari sebelumnya. Jadi wajar jika angkot tidak lagi penuh sesak dengan banyak manusia. Mereka menepi di depan warung pelangi.
“Kiri..” teriak Azka, mereka turun dan menyerahkan ongkos pada si mang sopir angkot.
Mereka lalu duduk pada sebuah meja bundar yang dilengkapi dengan 5 buah kursi. Cukup untuk mereka yang hanya berempat. Tak lama kemudian suara motor megapro Rasya terdengar. Ia memasuki warung dan duduk diantara Azka, Ocha, dan Risa. Mereka memesan makanan dan minuman lalu menunggu dalam diam.
“Eh, ini dibayarin siapa Ka?” bisik Ocha di telinga kiri Azka.
“Selow Cha, biar gue yang urus. Yang penting temenin!” balasnya sama lirihnya.
“Oke!”
Pesanan pun datang, mereka makan sambil mengobrol kecil. Saling tertawa karena sesuatu yang lucu, atau saling mengejek satu sama lain. Rasya terlihat santai meskipun mereka tidak hanya berdua.
“Gue pulang duluan ya, Cha mau ikut cari angkot rumah Lo gak?” Ucap Risa setelah makanan di depan mereka tandas tak bersisa.
“Ayok, cus!” jawab Ocha sambil membersihkan mulutnya lalu beranjak berdiri.
“Bayar dulu guys,” kata-kata Azka membuat mereka berdua terkejut dan menoleh ke arahnya.
“Hehe, becanda guys, sama gue nanti.” sambung Azka sambil tertawa kecil melihat wajah sahabat-sahabatnya yang seketika berubah ekspresi.
“Sial Lo Ka! Gue kira udah jadi obat nyamuk, disuruh bayar ndiri!” kata Risa sambil melempar tisu bekas pakai ke arah Azka.
Azka menangkisnya menggunakan tangan sambil memeletkan lidahnya mengejek. Risa dan Ocha pamit dan keluar dari warung.
“Kita pulang juga yuk, takut keburu terlalu sore.” ajak Azka pada Rasya.
“Boleh, bentar aku bayar dulu.”
“Gak usah, sama aku aja dibayarnya.”
“Dih, gak bisa gitu dong. Kita masih sama-sama sekolah. Uang jajan juga masih dari Mama Papa.” Azka menolak.
“Justru itu, ini mah bukan uang jajan dari Mama Papa, jadi dibayar pake ini aja.” Rasya kekeuh untuk membayarkan semua pesanan mereka.
“Kalo bukan dari Mama Papa, dari mana? Kak Rasya nyolong?” tanya Azka sambil menunjukkan ekspresi terkejut.
“Sembarangan! Ini hasil jual alat.”
“Alat apa? Alat hisap? Ih, kak Rasya bahaya juga ternyata!”
“Kamu tuh ya, ngomongnya ngaco. Alat perang, di game. Bukan alat hisap.” katanya sambil mengacak puncak kepala Azka. Penjaga kasir hanya tersenyum kecil melihat tingkah dan mendengar obrolan mereka berdua.
“Dih, berantakan ini.”
“Ya rapihin lagi.” ucap Rasya sambil keluar dari warung setelah selesai membayar di kasir.
“Makasih ya mbak.” Azka tersenyum kepada mbak kasir sebelum menyusul Rasya keluar.
---
Sesampainya di depan rumah, Azka turun dari atas motor Rasya dan menyerahkan helm yang tadi Ia pakai. Lalu Ia bergerak ke sisi kanan motor menghadap Rasya.
“Makasih ya Kak. Sering-sering aja, hehehe.”
“Semoga juga sekolah sering-sering pulang lebih cepet, hehehe.”
“Itu sih maunya Kakak!”
“Nggak masuk dulu Rasya?” Tiba-tiba Mama muncul dari balik pintu. Mama memasang wajah senang dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Enggak usah tante, udah sore.” jawab Rasya sambil melirik jam tangan sport di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30.
“Oh, yaudah. Salam buat Mamanya ya!” Mama pun masuk kembali ke dalam rumah, sebelumnya mengedikkan kepala sambil memicingkan mata kepada Azka tanda ‘jangan lama-lama. Gak enak sama tetangga!’. Azka pun mengerti.
“Eh iya kak, sebentar aku mau ambil sesuatu dulu. Oleh-oleh kemarin jalan-jalan”.
Azka langsung melesat ke dalam rumah meninggalkan Rasya dengan motornya. Tak berapa lama ia keluar membawa bungkusan berwarna putih dengan corak bunga-bunga kecil berwarna merah.
“Ini.”
__ADS_1
“Apa ini?”
“Buka aja di rumah. Nanti kabarin suka apa enggak.” kata Azka sambil tersenyum.
“Aku masuk dulu ya Kak, gak enak sama Mama. Tadi pagi udah gak bantuin kerjaan. Kakak juga biar gak kesorean sampe rumah.”
“Oke, aku pulang dulu ya.”
Rasya pun menghidupkan motornya dan melaju meninggalkan halaman rumah Azka.
“Udah pulang?” tanya mama ketika Azka mendekatinya di dapur, masih dengan seragam lengkap yang melekat. Hanya tas saja yang sudah ia letakkan di kamar ketika mengambil bingkisan untuk Rasya.
“Udah Ma.”
“Jangan suka sering-sering pulang sore dianter laki-laki. Malu sama tetangga. Masa anak gadis pak ustadz kok di bonceng terus sama laki-laki.” kata mama sambil memberikan baskom berisi beberapa bahan untuk membuat perkedel tahu kepada Azka.
“Iya Ma, enggak lagi. Tapi kok Mama biasa aja kalo ade bareng sama Mas Alfan pergi atau pulang sekolah?” tanyanya lagi sambil mengaduk semua bahan agar tercampur. Sesekali Azka menekan-nekan tahu yang masih berukuran besar agar hancur.
“Ya Alfan itu beda.” Mama kini beralih menyiapkan loyang-loyang cetakan yang diambil dari lemari di bagian bawah kitchen set.
“Beda gimana? Kan Mas Alfan juga laki-laki. Sodara juga bukan.”
“Iya, karena keluarganya udah tau kita dan kita udah tau keluarganya.” mama menjawab sekenanya sambil membersihkan loyang cetakan.
“Emang mama gak tau keluarga kak Rasya?” Azka menghentikan aktivitas mengaduk.
“Ah, sudahlah. Pokoknya Mama gak mau kamu sering-sering pulang sore sama laki-laki.”
“Iya ma, eh tapi berarti sama Mas Alfan boleh ya?” Azka menyerahkan adonan yang sudah tercampur rata kepada Mama.
“Ya enggak juga.”
“Ih Mama aneh!”
“Aneh gimana?” tanya Mama sambil mencetak adonan perkedel tahu di cetakan.
“Iya aneh, tadi bilang sama Mas Alfan boleh, sekarang jadi gak boleh?”
“Kapan Mama bilang gitu?”
“Iya udah deh Ma, hehe. Ade mau mandi dulu ya.” katanya lalu mengecup pipi Mama dan berlalu menuju kamar.
“Hmmh, ada-ada saja anak jaman sekarang.”
---
Di tempat lain, Rasya baru saja memarkirkan motornya di garasi rumahnya. Ia secepat kilat melesat melewati dapur dan ruang keluarga menuju kamar dengan menenteng bingkisan yang diberikan oleh Azka.
“Udah makan belum Rasya?” teriak Mamanya dari ruang makan. Rupanya keberadaan sang Mama luput dari pandangan Rasya karena ia buru-buru masuk ke dalam kamar.
“Udaah!” jawabnya sambil berteriak dari dalam kamar.
Mama nya menggeleng dan berjalan mendekati kamar anak bungsunya. Dilihatnya bahwa Anak bungsunya sedang sibuk membuka bingkisan yang terbungkus cantik di atas kasur.
“Baru pulang, masuk kerumah itu ucapin salam. Bukan langsung ngeluyur masuk kamar.” ucap mamanya ketika sudah berada di depan pintu kamar Rasya.
“Assalamu’alaikum Mama cantik.”
“Wa’alaikumsalam anak Mama. Bingkisan apa tuh Sya? Bukanya sambil senyum-senyum gitu.”
“Hehe,” Rasya hanya menjawab dengan cengiran sekilas.
“Ditanya orang tua kok jawabnya cuma hehe. Seinget Mama ulang tahun kamu masih 5 bulan lagi. Masih tahun depan.” ucap Mama sambil mendekat ke sisi ranjang dan duduk di hadapan anaknya yang masih sibuk membuka bingkisan dengan hati-hati. Seolah tak mau bingkisan itu robek atau rusak.
“Emang masih lama Ma, ini bukan kado ulang tahun. Ini bingkisan cinta.” jawab Rasya asal.
“Kamu ini, masih SMA ngomong-ngomong cinta!” kata-kata mama terucap sambil disela oleh tawa. “memangnya dari siapa?” tanya Mama lagi.
“Ada deh Ma, nanti Mama tau kalo udah waktunya.” jawab Rasya sambil mengeluarkan sebuah boneka perempuan pasangan tokoh Popeye dalam film kartun anak-anak.
“Laki-laki kok dikasih boneka? Bonekanya perempuan lagi!” ucap Mama sambil mengambil boneka Olive dari tangan Rasya.
“Ini boneka pasangan Ma. Yang satunya di orangnya.” ucap Rasya sambil sedikit berpikir alasan yang ternyata justru membuat perutnya geli hingga ia tertawa sendiri. ‘Memangnya iya begitu ya?’ tanyanya dalam hati.
“Jadi belum mau kasih tau Mama, itu dari siapa?” tanya Mama lagi mencoba meyakinkan Rasya.
“Yaudah, Mama tunggu loh Sya. Mama mau masak dulu buat nanti makan malam.” Mama kemudian keluar menuju ke dapur setelah sebelumnya mencium puncak kepala anaknya.
Rasya mengambil ponsel dari saku kanan celana sekolahnya, mengetikkan sesuatu dan tersenyum. Ia merebahkan diri di atas kasur sambil memegang ponsel dan boneka di masing-masing tangannya.
-Rasya-
Makasih ya, semoga nanti Popeye dan Olive gak pernah pisah kayak sekarang
Beberapa menit kemudian terdapat notifikasi pesan masuk tanda bahwa pesan Rasya kepada Azka telah terbalas.
-Azka-
Aku gak pernah tau apa memang Popeye sama Olive selalu bisa sama-sama, soalnya kan pasti ada Brutus. hehehe
- Rasya-
__ADS_1
Biar nanti Brutus nya aku pentung, jadi Popeye bisa terus sama Olive.
Tidak ada lagi balasan. Rasya kemudian bergegas mengambil handuk dan menuju kamar mandi yang tak jauh dari kamarnya. ‘cape juga hari ini’ batinnya.