
Rasanya, ketika bersama orang yang dicinta hal sederhana pun menjadi istimewa. Bersama orang yang di cinta, seberat apapun beban yang kita bawa akan terasa lebih ringan karena kita tak memikulnya sendirian. Bersama orang yang dicinta, sesuatu yang tak berarti bagi orang lain mungkin bisa jadi hal yang sangat berharga bagi kita. Jangan lupakan bahwa lelucon sederhana darinya, bisa membuat kita tertawa bak menonton lawakan komedian ternama.
Akhir tahun di penghujung semester ganjil tahun kedua, Azka kembali pulang. Kali ini tidaklah lama. Karena kepulangan Azka adalah untuk mengatur lomba yang diselenggarakan jurusannya. Tentu, Azka akan menyempatkan diri mampir ke persinggahan Rasya. Terlebih lomba yang diadakan memang berada di kotanya.
"Hai Kak" Teriak Azka saat menginjakkan kaki di terminal itu. Terminal yang selalu menjadi awal pertemuannya dengan Rasya dalam dua tahun terakhir ini.
"Gimana? cape?" tanya Rasya yang sudah mendekat.
"Lumayan" jawab Azka mengangguk. Seperti biasa, ranselnya segera berpindah tempat menjadi di punggung Rasya. Beserta tas jinjing yang juga beralih ke tangan kanan pemuda itu. Kini Azka terbebas dari berat beban yang terus menggondolnya sepanjang perjalanan.
“Kak, kalo aku bisa dapet IP 4 Kak Rasya mau kasih apa?” tanya gadis itu sumringah mulai membuka percakapan.
“Apa aja yang kamu mau bisa aku kasih” jawab Rasya enteng sambil membawa tas ransel si gadis yang tidak terlalu berat.
“Serius? Apapun?” tanyanya lagi.
“Aku aja aku kasih kalo kamu minta Dek” jawab Rasya terkekeh.
“Dih, ngeselin” gadis itu memukul lengan Rasya pelan
“Ya apa lagi yang lebih besar dari pada ngasih diri sendiri sebagai hadiah?”
“Seberharga ituuu ya Kak, hahahhaa”
“Dasar kamu”
“Tapi kalo kamu gak dapet IP 4 berarti aku dong yang boleh minta sesuatu?” senyum jail tersungging dari bibir Rasya.
“Gak ah, gak boleh minta. Tapi aku mau kasih kamu tiket perjalanan ke Bandung. Biar kamu kesana aja nemuin aku"
“Serius???” tanya Rasya membolakan matanya
“Serius”
“Deal?”
“Deal!!”
Keduanya berjalan beriringan menuju motor matic berwarna merah yang terparkir di antara banyak motor lainnya. Azka melirik pada motor matic merah yang sangat Ia kenali.
"Wah, pake motor lagi" Seru Azka riang.
"Maaf ya mobilnya lagi dipake" ucapnya.
"Aku seneng lho malah. Jadi bisa menghirup udara segar hihi" Azka berdiri di samping motor itu. Sementara Rasya sibuk meletakkan barang bawaan Azka agar tidak jatuh.
"Ayo naik" ucap Rasya setelah selesai meletakkan barang bawaan dengan posisi yang baik.
"Ayooo" Azka segera naik, mendudukkan dirinya menghadap Rasya yang memegang kemudi. Ia memasang helm di kepalanya.
"Hari ini mau kemana?" tanya Rasya diantara deru suara mesin kendaraan di jalanan.
"Mau ke SMP sepuluh. Nyiapin ruangan" ucap Azka sedikit berteriak.
"Kamu yang bantuin berapa orang?" teriak Rasya lagi.
"Dua kak, sama Kakak jadi tiga" Azka terkekeh kecil, namun nampaknya masih bisa terdengar oleh Rasya.
"Lho? aku bantuin juga toh? gak cuma jadi sopir aja?" tanya Rasya serius, eh bercanda mungkin. Entahlah.
"Bantuin doong, hehehe" Azka melirik pemuda di depannya melalui spion kiri motor. Pandangan mereka bertemu, keduanya tersenyum. "Kak, nanti ada Pak Edo lho" ucap Azka memberi tahu bahwa guru Biologi mereka saat SMA akan mengantar siswanya mengikuti lomba yang diselenggarakan jurusan Azka.
"Ya trus? Aku mah biasa aja" jawab Rasya cuek
"Hehehe, Aku yang takut"
"Udah biasa aja. Senyumin aja Pak Edonya" Rasya masih fokus ke jalanan. Ia mulai membelokkan arah laju motornya menuju kosannya.
__ADS_1
"Ih tapi pasti Pak Edo bakal cerewet deh. Bilangin aku pacaran"
"Ya trus maunya gimana?" Rasya melirik ke arah gadis di belakangnya. Gadis itu nampak berpikir sejenak.
"Gak gimana-gimana" Azka tertawa. Sementara Rasya geleng-geleng kepala mendengarnya. Rasanya Ia ingin menjitak kepala gadis itu jika mereka tidak sedang berada di atas motor.
"Kamu cek in jam berapa?" tanya Rasya saat keduanya turun dari motor di depan bangunan rumah kosan yang sangat Azka kenali.
"Jam 1" jawab Azka membantu membawa tas jinjingnya di tangan. Namun belum dua langkah tas itu sudah direbut oleh Rasya untuk Ia bawakan.
"Oke" jawabnya.
"Mau istirahat dulu? Aku beli dulu makan" Rasya meletakkan ransel Azka di sofa. Kemudian Ia beralih ke dapur dan kembali dengan dua buah gelas dan satu teko air dingin.
"Minum dulu" tambahnya.
"Temen-temen kamu mana Kak?" tanya Azka penasaran.
"Masih pada molor!" Azka manggut-manggut. Ia mengambil gelas, menuangkan air ke dalamnya dan membawanya duduk ke sofa.
"Aku minum ya Kak"
"Iya" Rasya memperhatikan Azka yang tengah minum. Tanpa Ia sadari ujung bibirnya tertarik ke atas, membentuk lengkung sabit di wajahnya.
"Aku istirahat di sini gak apa-apa?"
"Di kamar aja. Nanti kunci pintunya. Aku keluar sebentar" Rasya meraih kunci motor yang tergeletak di atas meja. Lalu menuju pintu dan menghilang.
Azka membawa barang-barangnya ke dalam kamar Rasya. Ia merebahkan dirinya di atas kasur empuk di sana. Tidak ingin berlama-lama, dirinya segera bangkit. membawa sehelai pakaian dan handuk untuk Ia bawa ke kamar mandi.
"Uuuuh Seger!!" ucap Azka yang sedang mematut diri di depan cermin di kamar Rasya. Pintu terketuk, membuat Azka menyudahi ritualnya untuk membuka pintu.
"Astaghfirullah! Rasya kenapa jadi cantik!!!" Pekik seseorang yang sepertinya adalah penghuni kosan yang lain.
"Hehe, maaf Kak. Kak Rasyanya lagi keluar beli makan. Saya Azka, baru sampe setengah jam yang lalu. Mau cari Kak Rasya?" Pemuda di depannya melongo, mencoba mencermati ucapan gadis di depannya. Namun matanya tak berkedip, terpaku pada garis senyum Azka di wajah mungil itu.
"Kak?"
"**** sakit Sya!"
"Rasain!" ucap Rasya yang sudah berbalik menuju meja di tengah sofa. Tangannya terulur untuk melambai, mengisyaratkan agar Azka mendekat.
"Makan dulu" ucapnya saat Azka sudah duduk di sofa di sebelahnya.
"Beuuuh, istri Lo Sya? Gue kira Lo berubah jadi cewek" ucap pemuda yang tadi mengetuk pintu kamar.
"Whahaha, kalo Gue berubah jadi begini Gue takut Lo pada khilaf!" Sembur Rasya yang membuat Azka terkikik.
"Lo beliin kita gak?" tanya si teman.
"Bodo amat sama Lo pada mah. Beli sendiri, jangan kayak orang susah" Rasya membuka bungkusan makanan di depannya. Meletakkannya di hadapan Azka. "Makasih" ucap gadis itu.
"Sat emang Lo Sya" umpat si teman.
"Elaaah sensi Lo kayak emak-emak" Rasya tertawa, lalu mengambil bungkusan di atas meja yang isinya masih ada beberapa bungkus. "Noh. Makan sono bagi-bagi" Rasya menyorongkan bungkusan ke ujung meja dekat pemuda itu.
"Kalo ceweknya boleh bagi-bagi gak Sya?"
"Kambing!!!" Sendok sudah terlempar ke arah pemuda kocak itu. Beruntung dirinya sempat mengelak, kalau tidak sepertinya kepalanya akan benjol terkena leparan Rasya.
"HAHAHAHAHA" sesaat kemudian, sudah muncul tiga teman Rasya yang lain sambil membawa piring dan sendok masing-masing. Mereka membuka bungkusan masing-masing di lantai. Tidak jauh dari sofa yang di duduki Azka dan Rasya.
---
"Udah beres" Azka menepuk-nepuk kedua tangannya menghalau debu. Dirinya baru saja selesai men-setting empat ruang kelas untuk digunakan dalam lomba esok hari. Di sana ada Rasya, Dina, dan Laura. orang-orang yang membantu Azka di acara kali ini.
"Udah sekarang kita pulang, besok kita kesini jam enam ya. Oh iya Ra, jangan lupa konsumsi"
__ADS_1
"Oke mbak" jawab Laura yang merupakan adik tingkat Azka.
---
Motor melaju dari pelataran hotel tempat Azka menginap. Saat ini waktu masih menunjukkan pukul 05.45. Terlalu pagi untuk jalanan menemui keramaian. Azka dan Rasya berhenti di penjual nasi uduk di dekat sekolah lokasi lomba. Memberi cacing-cacing pada perut mereka makanan agar kuat sampai acara selesai.
"Kak, gak apa-apa Kak Rasya bantuin aku?"
"Apapun buat kamu Dek" Azka tersenyum. Mereka melanjutkan sarapannya hingga nasi uduk itu tandas.
Hari itu menjadi hari yang sibuk. Total 8 jam nonstop mereka menyelesaikan agenda lomba itu. Azka menghampiri Rasya yang sedang terduduk lesu.
"Kak? Kamu kenapa?"
"Gak apa-apa"
"Kamu tadi makan siang gak?" Tanya Azka khawatir. Pasalnya wajah Rasya sangat pucat.
"Enggak" jawabnya sambil tersenyum.
"Ih kan aku bilang tadi.. kamu makan dulu" Azka kesal, "Kenapa gak makan tadi?"
"Karena kamu juga gak makan Dek, masa iya aku makan kamu enggak"
"Ya Tuhan Kak!!!" Azka gemas sekali.
"Ka, bawa Rasya makan dulu. Isi perutnya. Di sini biar Pak Edo yang jaga. Nanti Bapak tunggu sampe kalian kembali" Azka mengangguk, menerima usulan serta bantuan dari gurunya saat SMA dulu.
"Makasih Pak.
---
"Udah makannya?" tanya Pak Edo saat Azka dan Rasya kembali.
"Udah Pak. Tapi makannya gak banyak" Azka memaksakan tersenyum, tatapan Pak Edo membuatnya takut. Tatapan itu dalam, tapi tak terbaca apa-apa. Sepertinya Pak Edo menuntut penjelasan tentang hubungan mereka. ****** Lo Ka.
Ya, Pak Edo adalah teman Papa yang agamis. Pak Edo selalu berharap bahwa Azka bersih dari yang namanya Pacaran. Dan selama ini beliau selalu memperhatikan pergaulan Azka. Bukan beliau tidak tahu tentang hubungan Azka saat SMA, Beliau hanya merasa mungkin dulu hanya sebagai rasa Iba dari Azka pada Rasya. Ia tidak tahu kalau hubungan keduanya berlanjut hingga kini meski tanpa status yang jelas.
"Kita pulang aja. Supaya bisa istirahat. Rasya masih terlihat pucat dan lemas" Mereka menyetujui.
"Makasih Pak udah mau bantu" ucap Azka melepas kepergian Pak Edo dan rombongan siswanya.
Mereka pun pamit pada kepala sekolah dan penjaga sekolah tempat mereka mengadakan lomba. Tidak lupa mengucapkan terimakasih dan menyerahkan bingkisan cinderamata dari jurusan kepada sekolah. Mereka pun pergi.
"Ra, bawa sama kamu berkasnya gak apa-apa?" Entah mengapa Azka merasa tidak enak. Sepertinya Ia merasa akan terjadi sesuatu yang tidak beres.
"Gak apa-apa Mbak"
"Dibantu juga sama Dina Mbak"
"Makasih ya, nanti langsung bawa ke kampus. Kalo-kalo Aku harus disini dulu" ucap Azka melirik Rasya yang terlihat semakin lemah. Keduanya mengangguk.
"Ayo kita pulang" ajak Azka.
Motor berjalan sangat lambat. Rasya terlihat beberapa kali tidak mampu menahan limbung dirinya. Melihat ada sebuah klinik, Azka memilih untuk mengajak Rasya menepi.
"Kita periksa ya" Rasya pasrah. Menurut saja saat Azka menggiringnya masuk ke dalam klinik. Azka mendaftarkan Rasya, dan karena klinik sedikit sepi, Rasya diperiksa segera.
"Tuan Rasya harus di rawat, berdasarkan hasil pemeriksaan Tuan Rasya mengalami gejala typus" Jelas Dokter yang memeriksa. Azka terkejut sekaligus merasa bersalah.
"Rawat aja Dok. Saya yang urus administrasinya"
"Dek" Sela Rasya yang tidak ditanggapi oleh Azka.
Ia sibuk mengurus administrasi dan menghubungi Mama Rasya untuk memberi tahu.
"Kamu tenang aja. Aku udh telpon Mama. Aku ga pulang hari ini. Aku jagain kamu dulu"
__ADS_1
Selama tiga hari kedepan, Azka menunda kepulangannya. Beruntung Ia sudah menitipkan berkas lomba yang harus segera dibawa ke kampusnya. Ternyata firasat itu tentang ini. Azka merasa bodoh tidak memastikan keadaan Rasya sebelum meminta bantuannya. Azka terisak kecil di pinggir ranjang rawat Rasya, menyesali tingkahnya yang sudah hampir membuat celaka.
"Dek, aku gak apa-apa" selalu seperti itu yang Rasya katakan jika Ia berhadapan dengan seorang Azka. Namun kali ini, Azka akan memilih egois untuk tetap menganggap bahwa Rasya sedang tidak baik-baik saja.