Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
Episode 23


__ADS_3

Mendapatkan vs Kehilangan


Sejak kedatangan Rasya di sekolah pertama kali, gosip dan kasak kusuk tentang kedekatan Azka dan Rasya terus bergaung. Semua mata selalu menuju mereka saat mereka berjalan. Dan seolah-olah mulut mereka tak pernah puas membahas kedekatan Azka dan Rasya yang saat ini sudah menjadi rahasia umum. Hal ini sedikit mengganggu Azka. Sesekali ia menatap sinis pada orang-orang yang mulai kasak kusuk saat dia berjalan. Tapi itu semua tidak berlangsung lama. Setelah beberapa minggu Rasya masuk sekolah, bisik-bisik tetangga yang dilakukan anak-anak SMA Negeri 45 sudah mulai mereda.


Beberapa hari lalu Rasya mulai masuk ke sekolah dengan menggunakan tongkat. Kaki palsu tertutup celana panjang semata kaki membuat Ia seperti anak-anak SMA pada umumnya. Hanya saja jalannya masih terlihat pincang. Kaki kanan yang merupakan kaki palsu masih sering Ia geser alih-alih diangkat melangkah.


---


Azka melihat Rasya berjalan sendiri saat Ia mulai memasuki gerbang sekolah. Ia mencoba melupakan kejadian-kejadian kemarin yang sering membuatnya sedih dan kecewa. Bagaimana tidak? Sejak kecelakaan itu, Rasya sering merasa minder. Rasa minder itu kemudian diekspresikannya dengan meragukan ketulusan Azka, bahkan Rasya jadi lebih sering marah dan tidak mau dibantu oleh Azka. Azka sedikit berlari, mencoba mensejajarkan langkah sambil menemani Rasya berjalan.


“Gimana rasanya pake kaki baru?” tanya Azka antusias ketika berhasil menyusul langkah Rasya.


“Aneh, aku lupa caranya jalan” ucap Rasya setelah melihat Azka yang sudah berada di sampingnya


“Iya yah? Baru berapa hari sih kakak pake kaki palsu?” tanya Azka lagi


“Tiga, tapi di rumah kan ga sering pake kaki palsu. Enak naik kursi roda di rumah mah” jawabnya sambil berusaha jalan dengan normal, tapi tetap saja gerakannya terlihat kaku.


“Oooo, gak apa-apa Kak kan baru, nanti juga terbiasa lagi. Sering-sering aja jalan” ucap Azka


“Iya, nanti sering jalan-jalan pas istirahat”


“Kak, kalo shalat itu dilepas?” tanya Azka menunjuk kaki palsu di kaki kanan Rasya


“Iya, aku shalat sambil duduk. Belum seimbang aku berdiri pake satu kaki” jawabnya


Azka manggut-manggut. Mereka terus berjalan tanpa menghiraukan pandangan mata yang masih menatap ke arah keduanya. Tanpa Azka sadari diantara mata itu, ada satu pasang mata yang menatap dengan tatapan berbeda.


Sesampainya Azka di kelas XI IPA 2, Azka mengantar Rasya hingga duduk di kursi nya. Membantunya duduk dan memegangi tongkatnya. Azka meletakkan tongkat Rasya di samping meja, menyandarkan pada dinding di sebelahnya.  “Aku ke kelas dulu ya” ucap Azka


“Iya. oh iya.. kamu ada waktu kosong kapan?”


“Waktu kosong buat?”


“Ke rumah” jawabnya singkat


“Ke rumah kamu? Ngapain?”


“Mau ngajak ke makam” Azka terkejut, tapi cepat-cepat Ia alihkan keterkejutannya dengan menyunggingkan senyum.


“Kapan aja bisa kok, kabarin aja nanti aku ke rumah kamu”


“Tapi jangan ajak siapa-siapa”


“Eh?—iya, aku sendiri kesana”


“Yaudah,nanti aku kasih tau kapan aku mau ke makam” ucapnya.


Azka beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kelas. Kelas sudah mulai ramai, anak-anak sudah berkumpul bersama geng masing-masing. Azka mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Di sudut kanan ada Ncy, Pita, Melisa, Wede, Ana, dan Wira. Di sisi kelas dekat jendela ada geng jenius Tika, Gita, Sulis, Ira, Ekka, dan Wati.  Dibagian tengah ada geng religius yang isinya ukhti-ukhti jilbaber: Berta, Eka, dan Ega. Azka memandangi mereka, melewatkan pandangannya sekilas pada kumpulan cowok-cowok berisikan Rahmat, Salim, Doni, dan Adit. Lalu Ia menemukan kumpulan orang-orang yang paling Ia sayangi.


“Hei” sapanya ikut duduk diantara teman-temannya


“Yang lagi ngurus suamik mah beda. Kelas dilewat gitu aja” ucap Iren cekikikan


“Enak aja. Bantuin doang” jawab Azka sambil nyengir. Azka menggaruk pelipisnya meskipun tak gatal.


“Gak sekalian ditemenin duduk dan belajar di kelasnya?” ledek Fabel


“Kok kalian jadi sensi gitu sih?” tanya Azka sambil tertawa. 'Lucu sekali tingkah mereka ini'


“Entah nih Ka. Padahal mereka semua udah punya pasangan. Harusnya yang sirik aku!” ucap Ocha kesal. Ia melipat tagannya di depan dada.


“Eh, bentar-bentar. Udah punya pasangan semua?” Azka bertanya sambil mengingat ingat.


“Risa sama Miko udah official nih??” tanya Azka


Mereka mengangguk. Azka tersenyum senang lalu memeluk Risa “Selamat yaa” ucapnya. Dari ujung mata Azka, Fabel juga tertawa sambil meletakkan lengannya di belakang Ita yang duduk bersandar.


“Bel, Ta?" Azka menatap mereka sinis, "Apa-apaan nih?" Kali ini Azka sudah tersenyum jahil


“Makanya jangan sibuk sendiri” ucap Ocha. “Mereka otw jadian” bisik Ocha yang hanya terdengar oleh mereka bertujuh


“Whaaattttt???? Serius?” jeritan Azka membuat anak satu kelas menoleh, “Eh, sorry. Lanjutin-lanjutin. Maaf ngeganggu yaaak” ucapnya pada seisi kelas


“Beneran? Kalian? Iiiiih” Fabel dan Ita hanya senyum malu-malu. Azka jadi geli sendiri melihat perubahan sikap mereka.


“Tenang Cha, kan masih ada Mas Alfan. Jadi gak jomblo sendiri” ucap Azka terkikik


“Jangan salah Lo Nur! Alfan lagi deket sama cewek” Fabel berbisik diantara mereka

__ADS_1


“Saya deket sama semua orang elaaah” jawab Alfan acuh


“Serius? Mas Alfan deket sama siapa? Kok aku gak tau?” tanya Azka sambil cemberut


“Kita juga gak tau Ka, tuh si Fabel yang ngegosip” ucap Iren lagi


“Alfan mah incerannya dede dede emesh” Fabel tergelak mengucapkan sebutan untuk cewek yang sedang didekati oleh Alfan.


“Dede emesh mana sih? Anak kelas sepuluh? Kasih taulaaah” ucap Risa semakin penasaran. Azka yang baru datang saja penasaran. Apalagi mereka yang daritadi hanya mendengar gosip dari ocehan Fabel yang seolah meyakinkan.


“Hmmmh” Alfan mendengus pelan “Yaudah nanti aku kenalin kalo udah waktunya” ucapnya cuek


“Cie cie.. Mas, jadi gak sama Harisa?” tanya Azka sedikit berbisik sambil cekikikan


“Dia masih punya pacar, gak mau lah” ucap Alfan


Mereka pun tertawa. Sepanjang hari itu mereka terus menggoda Alfan yang katanya sedang dekat dengan cewek dari kelas sepuluh. ‘bisa juga tuh orang ngedeketin cewek’ batin Azka. Tapi mengetahui ini, ada rasa sedih yang tiba-tiba menjalar.


“Yaaah, nanti aku gaboleh dibonceng Mas Alfan lagi dong” ucap Azka memelas ditengah-tengah obrolan mereka


“Kata siapa? Kalian harus tetep deket lah sama saya. Kan kalian yang deket lebih dulu. Kalo saya gak jadi sama dia, saya baliknya kan ke kalian lagi” ucap Alfan serius. Mereka tersenyum.


---


Sesuai janji, Rasya menghubungi Azka di akhir minggu. Memintanya untuk datang kerumah pagi-pagi sebelum matahari terlalu naik.


"Dek, besok bisa kerumah?” tanyanya saat Azka menemaninya menunggu jemputan sepulang sekolah.


“Bisa. Besok jam berapa?”


“Jam 9 yah, biar gak terlalu panas. Aku belum bisa pake motor. Jadi kita harus jalan” jelasnya


“Oke” jawab Azka singkat


Dan, di sinilah Azka. Di depan pintu rumah Rasya. Azka mengetuk pintu dengan tiga kali ketukan. Menunggu pintu dibuka, Ia melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sudah jam sembilan lebih sepuluh menit” gumamnya. Tak berapa lama, pintu terbuka. Mba Eva yang berada di balik pintu tersenyum, lalu mempersilahkan Azka masuk.


“Masuk Ka” ucapnya sambil terus tersenyum ramah.


“Makasih mbak” ucap Azka seraya masuk ke dalam. Azka meraih tangan Mba Eva dan mencium punggung tangannya sebelum Mba Eva melesat masuk ke dalam memanggil Rasya. Tak lama setelah itu Rasya muncul, dengan kaus oblong warna putih melekat di tubuhnya dan celana jeans panjang menutupi kaki jenjangnya. Aroma sabun menguar, kentara sekali Rasya baru selesai mandi.


“Kok gak duduk?” tanya Rasya menyadarkan Azka yang dari tadi hanya bengong memandang Rasya yang baru datang


“Ya  ampun, Mba Eva nih emang” katanya sambil berdecak.


“Yaudah duduk dulu. Mau minum apa?” tanya Rasya lagi.


“Gausah deh Kak, aku bawa minum. Nih” Azka menunjukkan botol minumnya yang berwarna tosca


“Segitu takutnya gak dikasih minum sampe bawa minum sendiri Dek”


“Eh?—bukan gitu Kak. Hehe, tadi dibekelin Mama” jawabnya sambil tersenyum menunjukkan deretan gigi putih di balik bibirnya.


“Kak, mau ke makam sekarang?” tanya Azka


“Bentar, mau ambil bunga dulu” jawabnya santai


Rasya sudah lebih biasa berjalan menggunakan tongkat meskipun masih terlihat kaku. Sesekali Ia harus berhenti karena belum bisa berjalan terlalu jauh. Mereka akhirnya memetik beberapa jenis bunga dari halaman rumah Rasya, memasukkannya ke dalam plastik yang sudah disiapkan oleh pemuda berkaus putih itu. Mereka memetik bunga sambil berjalan dari satu sisi ke sisi halaman yang lain. Berjalan sedekat ini saja Rasya sudah terlihat lelah.


“Kak, apa gak kita minta anter aja?” tanya Azka ragu


“Gak, aku mau jalan aja sama kamu ke makamnya”


“Tapi ini udah mulai panas. Dari situ ke sini aja kamu keliatan kesusahan” jawab Azka dengan wajah khawatir yang tidak dibuat-buat.


“Apa kamu yang gak mau panas-panasan ke makamnya?” tanyanya sambil melirik ke arah Azka


“Enggak gitu, aku mah biasa jalan jauh, lari aja dijabanin. Kamu lupa dulu SMP aku pernah hampir jadi atlet lari?”


“Kan cuma hampir, belum jadi” ucapnya seraya tertawa.


“Ya tapi kan tetep aja, aku lebih terbiasa jalan jauh dari pada anak maminya Tante Atik ini” Azka meledeknya.


“Enak aja! Udah ah, itu ambil botol air itu buat dibawa ke makam” tunjuk Rasya pada sebotol bening air yang ada di sisi teras.


Azka mengambilnya, memasukkan ke dalam jinjingan yang juga berisi bunga yang tadi mereka petik. Keduanya mulai berjalan, keluar dari pagar di samping rumah Rasya lalu berjalan lurus. Sampai pada persimpangan pertama Rasya bergerak ke arah kanan. Mereka berjalan cukup jauh dari sana.


“Ini rumah Ustadz Efendi, pasti kamu kenal Dek” ucapnya menunjuk salah satu rumah ber cat putih di pinggir jalan.


“Wah? Gawat dong kalo keliatan Pak Ustadz” jawab Azka

__ADS_1


“Hehehe, kenapa? Takut ya?”


“Enggak kok, orang rumahnya aja tutupan gitu. Pasti lagi keluar keluarganya” jawab Azka sedikit berjalan lebih cepat meninggalkan rumah yang tadi ditunjuk sebagai rumah Ustadz Efendi, guru ngajinya saat kecil.


“Dek, pelan-pelan. Aku belum bisa jalan cepet kayak kamu tau” Rasya sedikit meringis karena mencoba berjalan lebih cepat menyeimbangkan kecepatan jalan Azka.  Azka menoleh ke arah Rasya, tersenyum lalu mulai berjalan mundur dihadapan Rasya.


“Jalannya pelan-pelan aja kak, aku gak akan lari” ucapnya.


Rasya hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu. Azka masih berjalan mundur dengan perlahan. Kedua tangannya yang membawa jinjingan bunga dan air Ia letakkan di balik punggung. Kerikil kecil yang ada di jalanan itu kemudian membuat keseimbangannya sedikit goyah hingga akhirnya Ia terjatuh dengan pantat yang terlebih dahulu menyentuh tanah.


“Aduh”


“Kamu tu jalan yang bener kenapa?” alih-alih menolong Rasya hanya melirik dan berjalan melewati Azka.


“Bantuin ngapa Kak?” ucapnya yang masih terduduk di jalanan. Azka bangkit dan membersihkan roknya yang kotor.


“Lagian ngapain jalan mundur coba. Udah tau jalanannya gak diaspal” ucap Rasya masih memapah tubuhnya dengan tongkat. Azka mensejajarinya, berjalan disamping Rasya sambil memegang ujung kaus pemuda itu.


“Aku pengen liatin kamu lagi jalan, jadi jalannya mundur” Azka memberi alasan sambil terkikik, geli sendiri mendengar alasan yang Ia buat.


“Emang kalo dari samping gak bisa? Kan sama-sama keliatan” ucapnya sambil memandang gadis di sebelahnya


“Enggak ah, enakan dari depan ngeliatinnya. Dari samping mah gak puas” jawab Azka sambil tersenyum


“Coba dong Kak Rasya jalan mundur disitu kayak aku tadi, sambil latihan jalan” pinta Azka


Rasya  menggeleng, “Ogah ah, jalan ke depan aja belum bener. Mau jalan mundur. Ntar bukannya bisa jalan normal, aku malah jadi kayak undur-undur” ucap Rasya yang membuat Azka jadi tertawa.


Setelah beberapa lama berjalan beriringan, mereka sampai pada sebuah gerbang. Di sisi kanan kiri jalan dibalik gerbang itu penuh dengan pohon-pohon besar. Rumput-rumput liar juga tumbuh subur hingga menghalangi tumbuhan lain untuk ikut hidup di tanah itu. Mereka memasukinya. Sepi. Itulah gambaran untuk tempat ini. Azka bergidik, lalu menoleh ke arah Rasya. Lahan ini cukup mengerikan untuk ukuran pemakaman di siang hari.


“Kak, makamnya dimana?” tanya Azka mulai gusar, karena tidak terlihat ada areal pemakaman disana


“Nanti di persimpangan itu sebelah kiri” jawab Rasya


“Kamu takut?” tanya Rasya lagi.


“Takut. Aku takut tiba-tiba ada anjing liar. Aku gabisa kabur, soalnya gakuat gendong Kak Rasya” Azka memberi alasan.


“Hahahaha, gak ada anjing liar kok disini. Jadi tenang aja, gausah tegang gitu” ledek Rasya yang melihat wajah Azka mulai menegang. Keduanya berbelok di persimpangan, masuk ke areal pemakaman yang cukup sepi. Hanya ada beberapa makam disana.


“Ini pemakaman keluarga Kak?”


“Bukan, tapi ini emang pemakaman baru. Jadi baru sedikit makamnya” Rasya terus berjalan dan berhenti di satu makam.


Rasya menekuk kaki kirinya, sedangkan kaki kanan dibiarkannya berselonjor di atas tanah. Membuat tubuhnya berada dalam posisi seperti orang sedang berjongkok. Dia menoleh, lalu melambaikan tangan menyuruh Azka mendekat. Azka berjalan mendekati nya dan berhenti di sisi lain makam. Azka termenung, melihat gundukan tanah dengan batu nisan dikedua ujungnya. Pada kepala nisan tertulis sebuah nama “Naraya Adi Saputra”.


Rasya menunduk dalam, sepertinya Ia sedang berdoa. Azka ikut berdoa, memohonkan ampunan untuk almarhum dan juga meminta agar Rasya selalu diberi kekuatan sepeninggal Kakaknya itu. Setidaknya Azka berpikir bahwa ini adalah makam Kakaknya, yang meninggal tiga tahun lalu, saat mereka kelas delapan di Sekolah menengah.


“Ini Kakak kamu Kak?” Azka bertanya saat Rasya selesai berdoa dan menyentuh kepala nisan.


Alih-alih menjawab pertanyaannya, Rasya justru berbicara sendiri, seolah Kak Naraya ada disana.


“Kak, ini Azka. Yang dulu pernah Rasya ceritain. Akhirnya bisa Rasya ajak ketemu Kakak. Maaf agak lama, susah juga ternyata ngedeketinnya” Rasya terkekeh pada kalimat terakhirnya “Sekarang dia di sini, nemenin Rasya. Gatau deh kalo ga ada dia gimana sekolah Rasya kemarin. Maafin Rasya udah bikin Kakak kecewa dengan kecelakaan ini. Karena Rasya juga, motor peninggalan Kakak akhirnya dilelang sama Mama. Kakak yang tenang disana. Rasya udah ada yang jagain, meskipun Rasya gatau sampe kapan bisa dijaga dan ngejaga dia. Setidaknya sampai Rasya kuat ngadepin hidup ini sendiri” satu butir air mata meluncur mengenai telapak tangannya yang memegang nisan.


Azka hanya terdiam, mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Rasya. Satu hal yang Azka pikirkan adalah ternyata gosip itu benar, Rasya telah menyimpan perasaan padanya bahkan sebelum Ia kenal baik dengan Rasya. Karena pertemanan Azka dengan Rasya bisa menjadi sedekat ini dimulai saat momen meninggalnya Kak Naraya tiga tahun silam.


***


Beberapa anak dengan seragam putih biru berbondong-bondong datang hendak melayat. Jenazah baru saja dikebumikan. Masih terpasang tenda dan bendera kuning di halaman rumah Rasya. Rasya hanya terdiam di sudut rumah. Melihat kedatangan anak-anak berbaju seragam putih biru itu, pihak keluarga yang menyambut mempersilahkan mereka masuk dan berkumpul bersama Rasya yang hanya duduk seorang diri. Dirinya tampak begitu sedih, kacau, dan merasa sangat kehilangan. Tidak ada yang mengajaknya berbicara selain sapaan basa basi di awal kedatangan mereka. Akhirnya Azka berinisiatif, mengajaknya berbicara meskipun tak mendapat tanggapan yang baik. Tapi setidaknya, Ia berusaha mengalirkan rasa nyaman dan menghilangkan rasa sepi bagi Rasya.


“Jangan lama-lama bersedih, aku tau rasanya kehilangan” Azka mengucapkannya begitu saja. Rasya menoleh, lalu menunduk kembali.


“Kalo kamu mau cerita, boleh kok sms aku” Azka menawarinya ruang untuk bercerita sekedar untuk menghilangkan rasa sepinya sepeninggal kak Naraya


“Makasih” akhirnya Rasya membuka suara.


Mereka pulang setelah berpamitan. Sampai akhir perjumpaan mereka dirumah Rasya, Ia tidak berbicara kepada siapapun diantara mereka, kecuali satu kata terimakasih kepada Azka. Bahkan Agil, sobatnya pun tak Ia ajak bicara. Entah mengapa, semenjak hari itu Rasya menjadi sedikit terbuka pada Azka. Ia memulainya dengan menceritakan kenangannya bersama Kak Naraya. Mereka berdua juga jadi sering berkirim pesan singkat ngobrol ngalor ngidul tidak jelas, namun demikian itu tidak mereka tunjukkan di hadapan teman-teman mereka. Tidak ada yang tahu soal kedekatan mereka berdua, kecuali Ocha dan Suci, sahabat Azka. Selama mereka dekat saat itu, lebih banyak Azka yang diminta bercerita. Sampai akhirnya Azka memberanikan diri untuk bercerita tentang seseorang yang menjadi cinta pertamanya, Agil, meskipun tak Ia sebut namanya.


***


Rasya meraih jinjingan bunga dan air disamping Azka, membuatnya sadar dari lamunannya tiga tahun silam.


“Sini, biar aku bantu Kak” tawarnya sambil mengambil botol air dan membukanya  Rasya menabur bunga, menyiram air pada permukaan tanah yang mulai mengering terpapar sinar matahari. Tanpa bicara, Rasya bangkit dengan susah payah. Azka bergerak mendekati Rasya, dan membantunya berdiri. Rasya bergerak ke arah gundukan tanah bernisan yang lain. Azka menautkan ujung-ujung  alisnya. Memperhatikan Rasya yang kembali duduk bersimpuh di hadapan gundukan tanah merah yang terlihat lebih baru dari makan Kak Naraya.


‘Siapa lagi itu?’ batin Azka.


Azka mendekat, ikut duduk disamping makam. Saat itulah Ia tau, siapa yang ada disana. “Ragil Putra” gumamnya membaca nama di nisan itu. Ternyata itu adalah makam Agil, sahabat kecil Rasya yang menjadi korban meninggal dunia pada kecelakaan yang juga merenggut kaki kanan Rasya. Azka memperhatikan ekspresi Rasya yang sungguh berbeda dengan ketika berada di hadapan makam Kak Naraya. Kali ini ekspresinya begitu kecewa, sedih, dan merasa bersalah. Suara isakan menyadarkan Azka. Ternyata isakan itu adalah isakan tangis Rasya, Ia tak bisa menyembunyikan rasa bersalah dan kehilangan yang menjadi satu. Azka mendekat, menepuk-nepuk bahu Rasya pelan, mengalirkan kehangatan dan energi positif padanya. Perlahan isakannya mereda. Rasya melakukan hal yang sama seperti di makam Kak Naraya. Menabur bunga dan memberi siraman air pada permukaan tanahnya. Lalu berdoa.


“Jangan larut sama rasa bersalah kamu Kak. Ini semua takdir Allah” ucap Azka ketika mereka sudah bangkit untuk pulang

__ADS_1


Rasya mengangguk, menggenggam tangan Azka dan mengajaknya keluar dari area pemakaman.


__ADS_2