
Sepulang sekolah siang itu, Azka menggamit lengan Risa dan Ocha menuju pohon cinta di depan mushola. Pasalnya Azka telah mengirimi pesan pada Juan bahwa Ia akan memberikan jawaban tentang ajakannya untuk saling memahami perasaan. Ketiga gadis itu duduk dengan santai. Saling bercerita sambil sesekali melirik dan mengamati arah kedatangan Juan.
“Ka, Lo gak pake cincinnya?” tanya Ocha
Azka hanya menggeleng, lalu tersenyum.
“Lo gak akan nerima nih? Serius?” Timpal Risa.
Azka masih tersenyum dan mengangkat bahu.
“Oke oke, Gue setuju-setuju aja deh. Apapun buat kebahagiaan Lo” ucap Ocha sambil merangkul sahabatnya itu.
Dari kejauhan terlihat Juan dengan rombongan teman-temannya menghambur pulang bersama-sama. Mereka berjalan ke sekitar mushola. Sebagian ada yang lebih dulu beranjak menuju parkiran. Sesekali Juan mencuri pandang ke arah Azka. Ia mengamati tangan Azka yang tak satupun ada cincin terlingkar disana. Juan menghela nafas panjang, namun tetap menyunggingkan senyum ke arah Azka yang dibalas juga dengan senyuman oleh Azka. Juan berbalik, namun langkahnya terhenti ketika ponselnya bergetar.
-Azka-
Gak mau tau jawabannya?
Azka bertanya melalui pesan singkat. Bagaimanapun Azka tidak berani secara frontal berbicara dengan Juan secara langsung perihal masalah ini. terlebih disana sedang banyak sekali teman-temannya.
-Juan-
Udah tau kok jawabannya
Atau kamu belum jawab? Tambahnya cepat pada pesan teks yang Ia kirim ke Azka.
-Azka-
Belum, baru mau jawab
Juan berbalik takut-takut, memandang dari kejauhan seorang gadis yang perlahan merogoh saku kanan baju seragamnya. Memperlihatkan kotak kecil berwarna silver yang sangat Ia kenali. Gadis itu membuka penutupnya, lalu mengambil benda kecil berbahan perak berbentuk lingkaran dengan satu titik manik yang menyembul di tengahnya.
Azka menimbang-nimbang cincin kecil itu. Dengan gerakan pelan namun yakin, Ia memakainya di jari manis. Ia mengangkat tangannya seolah sedang menerawang bagaimana indahnya cincin itu ketika melingkar di jari lentiknya. Ocha dan Risa yang ada di sebelahnya ikut terpukau.
“Cantik Ka” gumam Ocha dan Risa pun mengangguk.
Dari jarak yang jauh, Juan sudah tersenyum lebar. Tangannya terkepal seolah Ia ingin teriak ‘YESSSS!!!’ dengan keras.
“Lo mau pulang bareng Juan Ka?” tanya Risa lagi.
“Maybe, gatau deh” saut Azka.
“Ju! anter Gue pulang dong, ambil baju bentar. Deket kok disitu” terdengar suara perempuan yang ternyata teman sekelas Juan yang memintanya untuk mengantar pulang.
“Lo bisa bawa motor kan?” Perempuan itu mengangguk
“Nih, pake aja motor Gue. Pulang sendiri. Gue tungguin disini” jawab Juan
“Beneran Ju? Boleh bawa motor Lo? Makasih” Perempuan itu dengan senang hati mengambil kunci motor yang di serahkan Juan kepadanya. Juan akhirnya duduk di bawah pohon lain yang juga terdapat di depan mushola. Ia menatap ponselnya lalu mengetikkan sesuatu pada Azka.
-Juan-
Pulang bareng ya, tunggu sebentar motor lagi dipake
Sent.
Azka melirik ponselnya yang bergetar, lalu mengangguk.
“Sa, Cha, Gue pulang bareng Juan gak apa-apa?” tanya Azka pada kedua sahabatnya.
“Ya gak apa-apa lah, ntar Risa Gue anter pulang biar gak sendirian naik angkot” jawab Ocha seraya tersenyum.
__ADS_1
“Selow ae Ka” Risa pun menyahut.
Setelah beberapa menit terlewat, Juan memberi tanda dengan kedikan di kepalanya. Mengajak Azka berjalan ke parkiran motor dimana motor Juan yang tadi dipinjam oleh temannya diparkirkan. Azka, Ocha, dan Risa berjalan beriringan. Ocha dan Risa bergerak mendekati motor Ocha setelah sampai di parkiran, sedangkan Azka mendekati Juan yang sudah duduk di atas motor menunggunya.
“Maaf jadi lama, tadi motornya dipinjem dulu” Juan membuka percakapan.
“Iya gak apa-apa. Ini gak apa-apa pulang bareng?” tanya Azka ragu.
“Gak apa-apa lah Nyil, ayo naik” Ajaknya menepuk jok yang ada di belakangnya.
Azka melambai ke arah Ocha dan Risa yang sudah lebih dulu keluar dari area parkiran. Tak lama setelah itu, Juan pun melajukan motornya.
“Kenapa gak dianter aja temennya tadi?” tanya Azka di tengah-tengah deru motor yang membawa mereka.
“Aku gak pernah bonceng cewek Nyil” … “Kecuali kamu” tambahnya.
“Serius?” Azka terkejut mendengar penuturan Juan.
“Iya, pas nganter kamu waktu pertama kali itu, itu pertama kali aku ngebonceng cewek. Hehe” Ia terkekeh.
“Kenapa?”
“Gak mau aja, jok ini khusus untuk perempuan spesial” ucapnya, “Syukur-syukur perempuan spesialnya cuma kamu aja sampe akhir” ucapnya sambil tersenyum.
Azka tersenyum. Tak tau harus berkata apa. Ia memilih diam hingga sampai di tujuan.
---
“Hari ini les?” tanya Juan
“Iyah, hari ini les” jawab Azka
“Aku jemput ya”
“Kan aku juga les di Alfabeth. Jadi pulangnya aku jemput kamu ke Kaisar” jelas Juan
“Oke”
“Mulai hari ini, setiap les kamu gausah pulang bareng Mbak Ocha lagi. Nanti aku jemput”
“Eh, gausah Ju. Aku kan kalo gak bareng Ocha suka naik angkot bareng yang lain” Azka mencoba menolak. Tidak enak rasanya jika juan harus menjemputnya setiap hari di tempat les. Memangnya dia tukang ojek?
“Yaudah, kalo gitu kalo kamu mau dijemput, bilang ya. Aku gak pernah keberatan apalagi ngerasa direpotin kalo diminta ngejemput kamu” Juan memberikan opsi yang lebih baik.
Azka sebenarnya sedikit canggung di depan teman-temannya jika itu perkara hubungannya dengan Juan. Pasalnya Ia les di tempat yang sama dengan Rasya. bahkan mereka satu ruangan. Dan sebagian temannya masih berharap Azka dan Rasya baik-baik saja seperti dulu. Berkali-kali Rasya mengajak pulang bersama dan berujung dengan berbagai alasan penolakan Azka. Azka jadi tidak enak hati, apalagi jika harus dijemput juan tiap hari. Ada yang mengganjal di hatinya untuk tetap menjaga perasaan siapa saja disana, termasuk menjaga perasaan Rasya. Selain itu, selama berpacaran dengan Juan, beberapa kali Azka harus menahan rasa tidak enaknya dalam-dalam kepada teman-temannya atas perlakuan Juan yang ternyata sedikit posesif.
Pernah suatu kali, Rasya dan Azka sama-sama berada di suatu acara sekolah dan akhirnya mereka berdua terlibat percakapan seru yang tanpa sengaja dilihat Juan. Juan dengan sikap dinginnya menghampiri Azka, lalu mengajaknya pergi saat itu juga meninggalkan Rasya. Padahal di tempat itu banyak teman Azka yang lain yang juga berada di satu tempat.
“Ikut aku” ucap Juan saat itu dengan wajah yang begitu serius.
Azka yang terkejut hanya memandangnya dengan penuh tanya. Lalu kemudian Azka sadar Ia tengah duduk di samping Rasya yang tadi menghampirinya. Azka menoleh ke arah Rasya sesaat lalu tersenyum dengan terpaksa. Azka mengikuti kemana Juan melangkah. Ketika sudah sampai di tempat yang sedikit jauh dari keramaian Juan menghentikan langkahnya.
“Aku gak suka kamu terlalu deket sama Rasya”
“Aku cuma ngobrol. Tadi Kak Rasya cuma ngajak ngobrol aku doang. Aku gak mau punya musuh Ju, ya aku—“
“Yaudah, mulai sekarang jangan gitu lagi. Setidaknya kamu cari temen lain buat ngobrol juga. Jangan berdua”
“Ju, tadi itu disana banyak temen ak—“
“Iya, tapi yang ngobrol cuma kalian berdua” potong Juan
__ADS_1
Shit! Azka mengumpat dalam hati. Kenapa dia bisa jadi se-posesif ini sih? Pikir Azka
Pernah juga suatu kali, Azka yang tengah berkumpul dengan teman-temannya dijemput paksa oleh Juan di rumah Ocha. Alasannya adalah karena disana ada Rasya. Padahal mereka hanya berkumpul bersama untuk membahas persiapan ujian nasional.
“Kamu sama siapa aja disana?”Ucap Juan dari sebrang telpon.
“Banyakan campuran sih, dari IPA 1 sampe IPA 4 ada. Ya temen-temen lah. Masa mau aku sebutin satu-satu?” tanya Azka sambil tertawa.
“Coba sebutin yang disekitar kamu?”
“Emm ada Ocha, Risa, Fabel, Alfan, Uni, Rahmat, Salim, Kak Rasy—“
“Ada Rasya juga?”
“Eh??” Azka terkejut dengan pertanyaan Juan yang disampaikan dengan nada yang tiba-tiba meninggi. ‘Mati gue! Salah nih ngomong ada kak Rasya. Tuhan .. tolong aku’ rintih Azka dalam hati
“Aku jemput sekarang ya, pulang aja udah sore juga. Aku jemput kesana” sambungan telpon terputus.
Suara Juan memang tetap terdengar tenang saat Ia mengatakannya, entah Ia sudah berusaha sekuat apa sehingga nada tingginya menguap begitu saja. tapi Azka yakin, pemuda itu tidak akan suka, bahkan mungkin sangat tidak suka dengan kenyataan Azka berada di tempat yang sama dengan Rasya.
Beberapa menit kemudian Juan sudah menelpon dan mengatakan Ia sudah ada di depan rumah Ocha. Dan untuk menghindari pertengkaran Azka akhirnya berpamitan pada semua temannya yang ada disana.
“Nyil?” panggil Juan membuyarkan lamunan Azka tentang beberapa potong episode ke posesifan Juan terhadap dirinya.
“Eh, iya”
“Yaudah aku ke kelas. Sore nanti aku jemput. Kamu hati-hati berangkatnya” ucap Juan dan meninggalkan Azka menyusul teman-temannya yang terlihat sudah beranjak ke kelas mereka.
---
Rasya mendekati Azka yang sedang terlihat menunggu di depan kantor Kaisar. Kaisar adalah nama tempat mereka les untuk persiapan ujian akhir tahun ajaran ini.
“Dek”
“Eh, hai Kak” Azka mendongak mengalihkan pandangannya dari ponsel yang Ia pegang.
“Mau pulang?” tanya nya sambil duduk di sebelah Azka.
“I-Iya kak. Nunggu di jemput” Rasya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Gak mau bareng aku aja? Ntar bareng mereka juga tuh” tunjuk Rasya pada Doni, Salim, Rahmat dan Fabel yang terlihat masih asik mengobrol di ruang kelas mereka tadi.
“Enggak usah Kak. Hehe. Aku dijemput sama—“
“Ka, Gue pulang duluan ya, Adek Gue udah nunggu” Risa memotong ucapan Azka. Sambil menunjuk ke arah Abi, Adik semata wayangnya.
“Oke Sa, hati-hati. Salam buat Ayah sama Ibu” jawab Azka sambil tersenyum.
“Ocha masih di dalem sama Ana. Gatau lagi ngobrol apa. Lo buru pulang jangan berduaan disini. Entar ada setannya” Risa terkekeh lalu berlari menghampiri Adiknya yang sudah menunggu.
“Cih” Azka hanya berdecak kesal mendengar ucapan terakhir Risa. Namun Ia tetap tersenyum melepas sahabatnya melaju meninggalkan Kaisar.
Ponsel Azka bergetar, Azka lantas memandang layar ponsel yang sudah menyala menampilkan tulisan ‘Juan’.
“Halo”
“Aku udah di depan Nyil”
“Oh, dimana?” tanya Azka sambil berdiri lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Azka menemukan sosok Juan yang tengah melambai sekilas. Azka menutup ponselnya. Kembali ke kursi yang Ia duduki tadi dan menggamit tasnya.
“Udah dijemput?” Rasya melihat ke arah Juan dan Azka bergantian.
__ADS_1
“Iya, aku duluan ya Kak” Azka pun melangkah menuju Juan dan kemudian ikut menjauh bersama deru motor yang kian menghilang.