
Ujian Akhir Semester, ujian agak serius telah dimulai hari ini. Azka sudah mulai menetralkan perasaannya. Tapi memang melepaskan itu sulit. Selalu saja Azka kalah ketika pikirannya dengan liar bermain-main pada kenangannya bersama Rasya. bahkan persiapan UAS kali ini sungguh kacau karena berkali-kali Azka tidak bisa fokus belajar. Belum lagi, hubungan persahabatan mereka masih terasa hambar karena Alfan dan Azka masih seperti gencatan senjata. Tidak bermusuhan, tapi saling diam dan tak secair dulu. Setiap kali mereka bertemu, sapaan saja terasa kaku seperti kanebo kering. Ujian kali ini, rasanya dua kali atau bahkan tiga kali lebih berat. Karena ujian sekolah bercampur dengan ujian hidup yang tak kunjung reda.
Hari pertama,
“Gimana soalnya?”
“Seperti biasa, bikin mikir tapi ujungnya capcipcup juga”
Percakapan itu mereka hadiahi senyum kecil, seraya tetap melaju ke arah Mushala.
“Bener juga kata tuh anak” ucap Ocha sambil menunjuk dua orang anak kelas sepuluh yang tadi bercakap-cakap.
“Capcipcup, atau kalo makin mentok itung kancing” ucap Risa menambahkan.
“Padahal ujian bahasa sendiri yah, tapi kenapa serumit itu” ucap Iren “Ini nih, yang bikin anak Indonesia semakin banyak bikin bahasa lebay. Bahasa negara sendiri aja sesulit itu kalo udah masuk ujian” tambahnya
“Makanya kudu belajar guys” Azka menimpali dengan malas.
“Iya, maestro” Ketiganya lalu tertawa setelah mengatai Azka. Mereka menuju mushala, memang sudah menjadi rutinitas mereka. Keberadaan Berta, Ega, dan Eka yang senantiasa mengingatkan mereka untuk selalu shalat Dhuha, dan shalat Dzuhur berjamaah membuat Azka dan teman-teman sekelasnya menjadi sangat rajin melaksanakan ibadah wajib dan sunnah itu.
“Bentar lagi masuk, belum jajan ih” keluh Iren pada ketiga temannya.
“Jajan bentar ke Pak De masih sempet kali Ren” Ocha yang baru selesai membereskan mukena nya duduk mendekat.
“Iya, jajannya mah sempet, tapi entar baru dimakan setengah eeeh bel bunyi” ucap Iren sambil melihat jam dinding yang bertengger di atas mimbar
“Yaudah yok ke kelas aja, tahan Ren tahan” Azka menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.
“Sa, kenapa?” tanya Azka yang memperhatikan Risa
“Tuh, ada Adek Lo” ucap Risa
“Hah? Adek Gue?”
“Noh” tunjuk Risa menggunakan dagunya.
“Oooh, biarin aja udah. Yuk kita ke kelas aja. Males Gue ketemu tuh anak” ucap Azka menarik Risa dan Ocha yang sudah selesai memakai sepatunya
“Woy tunggu” jerit Iren sambil membenarkan sebelah sepatunya yang baru setengah terpasang.
Mereka berempat keluar dari area mushola sekolah. Tria yang mau masuk jadi mengurungkan niatnya dan menunggu sampai keempat gadis itu lewat. Keempatnya lewat begitu saja setelah menoleh sekilas ke arah Tria dan satu orang temannya.
Bel berbunyi tanda ujian selesai. Seluruh siswa mengumpulkan lembar jawaban kepada guru yang bertugas mengawas di kelas mereka masing-masing. Ocha, Risa dan Azka segera keluar dari kelas dan menunggu Iren keluar dari kelasnya bersama Fabel dan Alfan. Tidak lama mereka berdiri disana, tiba-tiba Tria menghampiri ketiga gadis itu.
“Mbak, saya mau ngomong sama Mbak” Azka melongo, bukan! Bukan dirinya yang diajak bicara tetapi Risa.
‘Mau apa lagi ini anak’ batinnya
Tria mengacungkan jari telunjuk memberi tanda untuk mengikutinya masuk ke kelas ujian Azka, Ocha, dan Risa yang memang sudah sepi. Semua Anak ada di luar ruangan, bersama mereka bertiga. Tatapan-tatapan aneh mulai dilayangkan oleh teman-teman mereka melihat aksi Tria yang mereka anggap tidak ada sopan santun terhadap kakak kelas. Alih-alih mengikutinya, Risa justru berjalan ke arah sebaliknya dengan menarik tangan Ocha dan Azka sekaligus.
“Woy woy, sabar Sa” ucap Azka yang tertarik begitu saja ke belakang.
“Ngapain tuh anak nyuruh-nyuruh Gue ngikutin dia? Dih” ucap Risa penuh dengan kebencian.
“Nyari masalah nih anak” ucap Ocha yang melihat Tria dan satu temannya menyusul mereka bertiga.
Tria berjalan lurus ke arah mereka, tatapannya menyiratkan kekesalan yang memuncak, matanya menajam. Setelah semakin dekat, dia menghentakkan lengan Risa dengan sekali gerakan. Risa terputar menghadapnya.
“Apaan sih?” Bentak Risa yang tak suka diperlakukan seperti itu.
“Mbak kenapa sih, dari tadi selalu mandang saya gak suka?”
“Kapan yah? Cape amat mata Gue harus ngeliatin Lo?” hardik Risa yang sudah tak sabar
“Tadi ketika istirahat, lalu barusan? Mbak ada masalah sama saya? Atau karena Mbak temennya Mbak Azka?” tanyanya sengit.
“Helloooow, Gue kasih tau ya sama Lo. Dari lahir Gue udah kayak gini ekspresinya. Mata Gue emang belok dari orok!. Jadi gak usah kepedean ngerasa Gue harus cape-cape ngeliatin Lo” Risa membalasnya tak kalah sengit.
“Lagian Lo ngerasa bermasalah sama Gue?” tanya Azka ikut bersuara.
“Oh, Mbak nggak ngerasa punya masalah dengan saya?” tanyanya dengan suara bergetar
__ADS_1
“Enggak. Sorry aja ya Dek! Gue bukan tipe orang yang suka cari masalah. Apalagi masalah yang gak penting sama orang yang juga gak penting!” Tatapan tajam Azka serasa membunuh gadis berambut gelombang itu. Tangannya terkepal, menahan segala gejolak kemarahan yang sudah mendidih di kepalanya.
“Inget ya, Gue ngerasa gak perlu berurusan sama Lo. Begitu juga temen-temen Gue. Jadi berenti ganggu kita” Ucap Azka mengakhiri.
Tria segera berjalan menjauh. Ia dengan sengaja menyenggol lengan Risa dengan kasar hingga Risa mengaduh.
“Lo gak papa Sa?” Ocha bergerak cepat menyentuh lengan Risa yang lain, menahannya agar tidak terhuyung.
“Sial tuh Anak” Ringis Risa mengelus lengan yang tadi ditabrak dengan sengaja oleh Tria
“Bukan tipe Gue nih berantem kayak gini. Bisu gue!” ucap Ocha merutuki diri sendiri karena tak bisa ikut berbicara saat tadi mereka berdebat
“Udah Cha, Lo gak usah ikut ngomong. Lo harus tetep jadi penenang kita aja. Biar Gue aja yang dikenal garang” Azka menyempatkan tertawa sekilas mendengar ucapannya sendiri.
“Kalian gak apa-apa?”tanya Iren yang segera menyeruak ke arah ketiga temannya.
“Selow Ren, kita nyantai” Azka menyunggingkan senyum ke arah Iren, lalu ke Fabel yang juga baru muncul mendekati mereka.
“Baru juga hari pertama ini UAS. Ya elaah, udah begini aja kelakuan” Fabel nyerocos sambil menepuk kepala Azka dan Risa bergantian.
“Bukan kita Bel yang mulai. Noh ceweknya si Alfan” Risa yang sudah kesal hanya mencebikkan bibirnya menunjuk Alfan yang akhirnya muncul, sedangkan Azka hanya mengelus kepalanya sambil diam. Kedatangan Alfan membuatnya enggan berbicara. Masih ada rasa kesal yang tidak terucap karena sampai saat ini Alfan masih tidak melakukan apa-apa.
“Kalian kenapa lagi sih?” tanya Alfan berusaha tenang.
“Harusnya Mas nanya sama dia. Bukan kita” ucap Azka menarik lengan Risa dan Ocha mengajak mereka untuk pergi, lalu Azka berbalik lagi untuk menarik iren ikut bersama mereka.
Mereka berempat pun pergi, meninggalkan Fabel yang mendengus kasar lalu menepuk bahu Alfan tiga kali.
“Lo sabar aja punya sobat kayak mereka. Udah Gue bilang kan? Ini harus segera selesai” Fabel ikut melangkah pergi, bersamaan dengan bubarnya teman-teman sekelas mereka yang tadi merubungi mereka seperti semut merubungi tetesan air gula.
---
“Tadi ribut apaan?” tanya Achin kepada Ncy
“Itu, si ceweknya Alfan ngelabrak Risa” ucap Ncy bersemangat. “Gila tau Chin anak kelas sepuluh sekarang, kemarin kita juga masalah tuh sama anak kelas sepuluh. Eh sekarang ada yang ikut cari masalah sama Azka sama Risa” sambung Ncy
“Itu anak kelas mana sih? Yang mana coba orangnya?” tanya Ipit bersemangat “Berani amat main labrak kakak kelas”
“Itu tuh, yang agak bergelombang gitu rambutnya” ucap Ncy lagi. Mereka yang sedang berada di bawah pohon cinta menjadi penasaran, siapa yang disebut-sebut sebagai pacar Alfan dan berani cari masalah dengan Azka dan Risa.
“Noh, itu anaknya” tunjuk Ncy yang diikuti mata Achin, Ipit, dan yang lainnya.
“Yang kecil?” tanya Achin ragu.
“Bukan, sebelahnya, itu. Yang agak berisi gitu badannya” ucap Ncy lagi.
“Yang itu? Gue ngeliat muka nya aja jadi kesel. Besok datengin aja. Enak aja dia sok berani ngelawan anak kelas sebelas” ucap Achin pada semua teman-temannya.
“Lo mau ngapain Chin?” tanya Ncy penasaran.
“Mau Gue labrak balik. Gue gak suka liat anak kecil sok jagoan sama temen Gue” ucap Achin yang disetujui oleh gengnya.
“Mampus gak lo” bisik Ncy
---
Hari kedua,
Berharap hari kedua akan dilalui dengan sempurna.
“Dek”
“Eh? Kak Rasya?” Azka terkejut melihat Rasya yang ternyata juga berada di mushola.
“Kenapa kaget gitu? Kayak ketauan maling aja”
“Ehehe, Iya nih, abis maling. Maling hati orang” jawab Azka asal sambil mengelap tangannya yang basah dengan tisu.
“Gombalan sejuta umat ya?” ejek Rasya
“Lagi gak ngegombalin siapa-siapa kok. Abis ngapain di mushola?” tanya Azka basa basi
__ADS_1
“Enggak ke mushola, cuma numpang basahin rambut aja” Rasya tersenyum, “tuh, sambil nganter Agil ke toilet” tambahnya ketika Agil terlihat keluar dari lorong toilet pria.
“Oooh, yaudah aku ke kelas ya. Bye Gil” Azka pamit dan justru mengucapkan selamat tinggal pada Agil, bukan Rasya. Rasya mencebik, memukul lengan Agil yang sudah ada di hadapannya
“Gila sakit!” ringis Agil
“Kesel Gue” ucap Rasya
“Masih pagi Sya, tahaaaan” ucap Agil sok santai.
“Lo sama Azka gimana?” tanya Agil ketika mereka sudah meninggalkan mushola menuju kelas ujian.
“Gak gimana-gimana. Udah gak gimana-gimana juga sekarang” jawab Rasya lesu.
“Lo sih, sok sok an”
“Bukan sok-sok-an Gil! Gue gak ngerti juga kemarin kenapa” Rasya mengacak rambut bagian depannya yang sudah Ia rapihkan tadi.
“Ya Lo masih gagal move on sama si Nadia, itu apa-apa Sya!”
“Trus Gue jadi keilangan dua-duanya!” rutuk Rasya. “Harusnya Gue tau Nadia gak akan balik kesini, ke Gue sih tepatnya. Dia juga pasti udah ketemu sama orang lebih hebat dari Gue” tambahnya.
“Gak usah banyak ngeluh. Lo tinggal usaha lagi aja. Azka masih punya rasa kok sama Lo. Yakin Gue” Agil merangkul sahabatnya itu, mengalirkan semangat agar sahabatnya tidak putus asa.
---
Azka berlari-lari kecil, pikirannya jadi tidak menentu. Niat hati mencari ketenangan, malah dibuat kayak abis lari pagi enam putaran. Deg deg an! Ini mungkin yang disebut gagal move on.
“Lo kenapa Ka? Olahraga pagi Lo?”
“Enggak Cha, Gue abis ketemu .. ketemu..” Azka masih terengah-engah menjawab pertanyaan Ocha
“Hantu???”
“Beg*k! mana ada hantu pagi-pagi” timpal Iren
“Eh iya, ini masih pagi” Ocha cengengesan
“Jantung Gue, kayak mau perang! Sial” umpat Azka
“Lo ketemu siapa sih?” Ocha makin penasaran
“Kak Rasya” jawabnya asal.
“Elaah kirain siapa” Risa dan Ocha meninggalkan Azka menuju kelasnya, sedang Iren ikut berlalu menuju kelas yang berbeda.
“Woy tungguin!” Azka menyusul kedua temannya memasuki kelas.
Pelajaran pertama sudah usai. Matematika, pelajaran yang biasanya akan membuat siswa jadi pinter ngarang. Ditanya apa, jawabnya ngasal. Dan ujian kali ini sukses membuat kepala Azka dan teman-temannya berdenyut nyeri. Sepertinya otak mereka terlalu dipaksa berpikir keras hingga meronta.
“Ke mushola ayok, gak tenang Gue kalo masih di kelas” Ajak Risa pada kedua temannya.
“Susul Iren dulu” ajak Azka
Ocha dan Risa mengangguk, mereka berjalan menuju kelas ujian Iren, Fabel, dan Alfan. Risa dan Ocha lebih dulu menghampiri Iren, sedang Azka justru malah tertahan mengobrol dengan Juan dan Tama di depan pintu.
“Tuh orang, tadi pagi bilangnya gagal move on. Ini sekarang udah ketawa tiwi sama gebetan” Ocha memperhatikan Azka yang terlihat akrab dengan Tama dan Juan.
“Gak usah cemburu gitu Cha, biar dia cepet move on. Ngerepotin kalo tuh anak galau” ucap Risa sambil terkikik.
“Iya, bener juga” Ocha ikut terkikik geli.
“Jadi ke mushola gak? Malah ngegosipin temen sendiri” Iren bangkit lalu mendekati Azka di depan pintu. Ia merangkul sahabatnya itu.
“Ayok ke mushola. Jangan kelamaan ngobrol” Azka tersenyum, pamit pada kedua pemuda yang diajaknya bicara tadi.
Setelah shalat Duha, seperti biasa keempat gadis itu duduk-duduk di depan mushola sambil melihat mading yang terpampang. Mading yang tertempel disana masih mading yang sama dengan dua minggu lalu. Tapi karena tujuan mereka bukan melihat mading, mereka tak menghiraukan keberadaan mading yang sebenarnya isinya sudah ‘basi’ itu.
“Mbak Azka! Huh huh. Mbak, Mbak dipanggil Mbak Achin di IPS 3” ucap seorang anak kelas sepuluh yang sudah terengah-engah. Sepertinya Ia berlari dari sana menuju mushola. Beberapa pasang mata jadi ikut memperhatikan.
“Kenapa? Ngapain kesana?” Azka bingung
__ADS_1
“Tria Mbak, disana” tunjuk anak kelas sepuluh itu. Anak kelas sepuluh itu kemudian menceritakan kalo Tria sedang dikeroyok oleh Achin dan teman-temannya. –serangan balasan?-
“Hah???”