Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
EP-AR 18


__ADS_3

"Ka, Rasya masuk rumah sakit. Kamu bisa kesini?"


Ucapan Mama Rasya terngiang di telinganya. Selama perjalanan itu dilakukan, sedetikpun tidak pernah lewat dari rasa khawatir berlebihan. Mereka baru saja sama-sama melepaskan. Tapi kenapa ini justru terjadi dan mengharuskan ada pertemuan?


Azka masuk ke ruang rawat yang di sana sudah ada Mama dan Mbak dari Rasya.


"Assalamu'alaikum" ucap Azka pelan, namun dapat terdengar. Kedua orang yang terjaga di dalam ruangan itu menoleh.


"Wa'alaikumsalam" jawab keduanya.


"Lho? Azka ke sini?" Mbak Eva seketika bertanya saat mendapati Azka berada di sana.


"Mama yang minta. Rasya dua hari ini setiap malam selalu mengigau" Mama memotong rentetan pertanyaan yang sudah akan keluar dari mulut Mba Eva.


"Ooh" ada sirat kekhawatiran dari wajah itu. Entah karena apa, tapi itu berhasil membuat Azka merasa tidak nyaman.


"Masuk Ka, duduk di sini" ucap Mama Rasya.


"Makasih Tante" ucap Azka yang kemudian mendudukkan dirinya di kursi di samping ranjang Rasya.


"Azka baru sampe?" tanya Mama Rasya sedikit khawatir. Pasalnya Azka meng-iyakan keinginannya untuk terbang dari Bandung menuju Kota Balam. Perjalanan yang lama jika ditempuh dengan jalur darat menggunakan mobil atau bis.


"Iya Tante, tapi cepet soalnya Azka jadinya naik penerbangan yang siang dari Bandung" Mama Rasya mengangguk. Ia jadi merasa tidak enak hati menyuruh Azka untuk datang kesana.


"Maafin Tante ya" ucapnya lagi.


"Gak apa-apa Tante" Azka tersenyum.


Gerakan dari Rasya membuat ketiganya menoleh. Mama Rasya segera mendekat ke anak bungsunya itu. Sementara Mba Eva menekan bel memanggil suster. Azka masih diam di tempatnya. Ia masih merasa tidak punya hak apa-apa. Bahkan beberapa hari yang lalu mereka baru saja melakukan kontak terakhir. Dan isinya? sebuah perpisahan.


"Ka.." Lirih Rasya memanggil namanya, Azka jadi terenyuh. bahkan dalam keadaan seperti itu dirinya yang di sebut.


"Rasya bangun. Ada Azka di sini" ucap Mama Rasya mengelus kepala anaknya pelan. Rasya masih bergerak gelisah. Matanya yang terpejam hanya terbuka secelah.


"Ka, sini" ajak Mama Rasya. Tangannya terulur mengajak Azka mendekat. Azka akhirnya bangun dari duduknya, mendekat secara perlahan dengan rasa ragu yang membuncang.


"Hai Kak" sapanya pelan. Meskipun tidak ada respon, Azka tetap melanjutkan ucapannya.


"Maaf aku dateng lagi kesini" Azka berdehem pelan, "Maaf aku masih gagal untuk gak muncul di depan kamu"


Mama dan Mbak Eva keluar. Memberikan ruang untuk keduanya. Rasya membuka matanya lebih lebar, dan sedikit terkejut mendapati Azka ada di sana.

__ADS_1


"Ngapain kamu di sini?" pertanyaan dengan nada ketus itu keluar begitu saja.


"Aku dikabarin Mama kamu. Aku diminta kesini"


"Kenapa kamu mau? bukannya kamu yang bilang kita pisah dan selesai?"


"Tapi aku gak pernah bilang bahwa aku gak akan menemui kamu lagi" ucap Azka memyerobot.


"Kenapa?"


"Kamu tau jawabannya Kak. Karena aku sayang sama kamu. Selamanya akan begitu"


"Bulls**t?" Mata Rasya memicik.


Maafkan aku belahan hati


"Maafin aku Kak"


Tak inginku khianati, kasihku padamu


"Aku bukan mau ngehianatin perasaan aku ke kamu"


Namunku tak kuasa


Dia hadir tanpa aku minta


"Maaf, tapi Saga dan Nadin hadir bukan kita yang mau kan?" Azka mengatakan kenyataan yang Ia tahu.


Namun dirimu pun tahu, yang namanya cinta tak bisa disalahkan


"Rasa nyaman kamu sama Nadin, rasa nyaman aku sama Saga. Bukan itu yang bisa kita salahin. Ini salah kita. Atau mungkin aku"


Perlahan hangat pun menghilang, tak mampu lagi ku pertahankan cinta


"Kita mungkin memang jenuh Kak. Aku sayang sama kamu, tapi ada hal yang udah hilang diantara kita"


"Kamu dateng untuk ngomong ini semua?"


Maaf bila ku harus memilih dia, bukan aku tak setia


Namun cinta tak bisa terpaksa

__ADS_1


"Maaf Kak. Pilihan kita bukan lagi salah satu diantara kita. Aku gak bisa memaksa kamu untuk berhenti dengan Nadin. Nadin lebih nyata adanya untuk kamu"


"Dan sayangnya, aku juga gak bisa menahan kamu untuk gak jatuh cinta sama orang lain" balas Rasya.


Ijinkan aku tuk melangkah bersamanya


Maaf ku mencintainya


melebihi cintaku padamu


"Kamu bisa pulang sekarang. Aku gak butuh kamu di sini. Ada yang udah dateng untuk nemenin aku"


Maafkan aku, kau bukan yang kupilih


Azka menoleh ke arah pintu masuk. Di sana sudah ada seorang gadis dengan sebongkah parsel buah di pelukannya. Azka paham maksud Rasya. Dirinya sudah tidak dibutuhkan di sana. Azka menunduk, melangkah keluar meninggalkan mereka berdua.


Dan tanpa diminta, air mata itu kembali jatuh.


---


"Mbak!" panggil seseorang saat Azka hendak keluar dari pintu utama rumah sakit. Azka menoleh, mendapati gadis yang tadi mengunjungi Rasya berjalan cepat ke arahnya. Dirinya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat.


"Ya?"


"Bisa kita bicara sebentar?"


"Bisa. Waktu aku masih banyak kok" Azka tersenyum, "Apa Kak Rasya tau kamu ke sini?" tambah Azka.


Gadis itu menggeleng.


"Sebaiknya kamu ke kamar Rasya dulu. Nanti kalo kamu sudah selesai, temui aku" ucap Azka.


"Tapi.."


"Mana handphone kamu?" Tanya Azka sambil menyodorkan tangannya, meminta ponsel gadis itu.


"Ah, Ini" Ia menyodorkan ponsel ke tangan Azka. Azka segera mengetikkan deretan nomor di sana. Menyimpannya dengan nama dirinya: Azka.


"Hubungi aku kalo kamu mau ketemu. Aku pulang besok pagi jam sembilan" ucap Azka lagi, Ia berbalik setelah memberikan ponsel milik gadis itu. Detik selanjutnya Azka melangkah menjauh, meninggalkan gadis itu di sana.


"Oh iya, saya Nadin" ucapnya lantang hingga menjeda langkah Azka.

__ADS_1


"Aku Azka. Aku tau kamu itu Nadin" balas Azka tersenyum.


__ADS_2