Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
EP-AR 8


__ADS_3

Katakanlah bahwa semua keinginan itu pasti butuh pengorbanan untuk mencapainya. ada kalanya mudah, ada kalanya sulit. Tapi percayalah bahwa semua itu tidak akan terlampau sulit untuk dilewati. Bukankah Tuhan saja berjanji bahwa tidak akan memberi kesulitan yang melampaui batas kemampuan hambaNya?


Katakan saja bahwa Azka dan Rasya masih terlalu naif untuk mengatakan bagaimana sesungguhnya perasaan mereka. Tapi siapapun yang melihat dan menyaksikan bagaimana kesiap siagaan Rasya untuk Azka, pun sebaliknya Kesediaan Azka untuk Rasya akan sepakat bahwa mereka memiliki rasa yang sama. Sama-sama cinta. sama-sama memilii rasa yang terlalu besar untuk hanya disebut sebagai teman.


"Kak" panggil Azka dengan ceria. Ia baru sampai di Kota Balam setelah menempuh 12 jam perjalanan dari kota kembang bertajuk 'Bandung'. Hari ini bukan masa liburan, tapi Azka menyempatkan dirinya untuk bertandang ke kota itu sebelum kembali ke rumah. Ia ada urusan kampus yang mengharuskannya mengedarkan beberapa survey ke sekolah-sekolah di tempat asalnya.


"Dek, sampai juga. Aku kangen"


Bugh!


"Gombal. Baru juga sampe Kak" Azka terkekeh. Ia tidak membawa banyak bawaan, hanya jinjingan yg Ia bawa berisi beragam kertas terlihat sangat banyak untuk ukuran tangannya yang kecil.


"Hari ini mau kemana dulu?"


"Mau ke kosan kamu, aku mau mandi dulu. Trus mau sarapan dulu. Nanti kita makan di deket kosan kamu aja Kak" Rasya mengangguk. Mengambil alih tas jinjing dan ransel yang ada di belakang punggung Azka.


"Eh, sini salah satu sama aku aja" tolak Azka saat kedua barang bawaannya itu sudah berpindah tangan.


"Gausah. Aku mau bawain. Gak boleh?" Azka memanyunkan bibirnya. Terselip senyum yang tertahan dari bibirnya.


"Boleh.. boleh.. Apa yang gak buat kamu Kak?" ucapnya kemudian.


"Alaah, kamu seneng kan ga berat lagi?"


"Seneng dong. Hehe. Makasih Kak" Azka nyengir, memperlihatkan deretan gigi putih yang rapih di balik bibirnya.


"Kamu gak ada kuliah hari ini Kak?" tanya Azka saat keduanya sudah berdiri berhadapan dengan badan mobil sebagai halangan.


"Ada. Jam 1 sampe jam 3. Nanti mau nunggu di kosan apa ikut ke kampus? abis kuliah kita langsung pulang" Rasya melesakkan tubuhnya ke dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan pelan. Azka melakukan hal yang sama.


"Hmmm lihat nanti deh. Semoga selesai ya Kak.. sampe sebelum jam 1. Heummmh" Azka mendengus perlahan. Kini mereka sudah duduk bersisian di dalam mobil, dengan Rasya sebagai pengendali kemudi.


"Kalo gak selesai, tinggalin aja kertasnya. Nanti sama aku disebarin. Gampang"


"Serius?" Azka memekik senang. "Baik banget deeh Kakakku" ucapnya dengan nada-nada manja yang dipanjang-panjangkan.


"Hmm.. Berangkat nih ya" Ijin Rasya setelah berdehem memberi tanggapan pada Azka.


"Ayoo"

__ADS_1


Azka berdiri dengan satu tangan menjinjing bawaannya. Di hadapannya sudah berdiri sebuah bangunan rumah minimalis yang cantik. Jika dilihat dari pilihan warnanya, Azka tahu bahwa itu adalah selera Rasya sekali. Dinding putih, dengan taburan batu membentuk mozaik di salah satu dinding. Pagarnya berwarna hitam dengan tinggi yang sedang. Jalan setapak yang terlihat dari jalan masuk menuju pintu rumah membuat Azka terkesan. di sisi kanan ada halaman dengan lantai ubin berwarna gelap tempat Rasya menyimpan mobilnya.


"Kak, ini kosan Kamu?"


"Iya, aku gak sendiri. Berlima di sini. Tapi mereka lagi pada pulang. Gak ada kuliah" ucap Rasya. Ia melirik ke arah Azka yang masih melongo takjub.


"Beuh.. mahal ya Kak ngontrak di sini?"


"Gak, itu hapus dulu liurnya. Ngeliatnya gitu amat sampe ngeces" Rasya tertawa sambil melangkah meninggalkan Azka di tempat.


"Sialan! Aku gak ngeces ya!!" Azka menghentak kakinya ke lantai sebeljm mengikuti Rasya masuk ke dalam rumah.


"Yuk ke kamar aku aja. Mau mandi dulu kan? Sekalian kalau kamu mau tidur dulu. Ini masih jam setengah 7 kok. Nanti jam 7 kita berangkat" Rasya meletakkan ransel Azka di kursi sebelum menutup pintu rumah dengan gerakan lambat.


Rasya mengambil ransel lagi dan berjalan menuju satu pintu di dekat ruang tamu. Nama Rasya terpampang di sana di bawah tanda kamar nomor 1. Pemuda itu membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Tanpa diajak, Azka sudh mengikutinya masuk.


"Wah, luas juga kamarnya Kak" Azka mendudukkan diri di pinggir kasur ukuran nomor 1 itu. "Padahal sendirian. Tapi kasurnya segede ini" Oceh Azka mengelus selimut di kasur sebelah kanan dan kirinya itu dengan dua tangan.


"Biar kalo kamu nginep kasurnya cukup" jawab Rasya asal sambil membuka lemari di salah satu sudut ruangan.


"Ngaco kamu! Aku gak akan nginep lah. Lagian kalo aku nginep ya gak boleh tidur di sini. Kecuali kamu di luar" masih mengelus selimut yang lembut itu.


"Ini handuk sama sikat gigi. Kamu mandi dulu sana. Itu kamar mandinya" Rasya menunjuk pintu di bagian belakang kamar.


"Makasih. Kamu baik banget sampe nyiapin handuk sama sikat gigi segala"


"Buat kamu apa yang gak aku siapin? masa depan aja udah disiapin" Rasya terkekeh, "Udah mandi dulu. aku keluar ya" Ia mengakhiri kalimatnya dengan usakan di puncak kepala Azka. Lalu menghilang dari balik pintu yang tertutup.


---


Azka sudah selesai dengan mandinya. Meski tadi Rasya bilang Ia boleh istirahat dahulu, tapi Azka memilih segera melanjutkan kegiatannya. Rancananya banyak, mungkin Ia akan istirahat nanti ketika Rasya kuliah. Ia membuka pintu dan mendapati ruangan di sana kosong.


Azka keluar setelah menutup pintu kamar Rasya. Kemudian mengendap-endap mengitari ruangan itu. Suara klotakan dari arah dapur membuat Azka tertarik melangkahkan kakinya kesana. Setelah melewati empat pintu kamar lain yang adalah kamar rekan-rekan Rasya, Ia sampai diambang pintu dapur. Dari posisinya Ia bisa melihat Rasya yang sedang berdiri membelakanginya.


Azka tertegun, melihat seseorang yang seniat itu menyambut kedatangannya.


"Astaghfirullah!!" pekikan Rasya membuat Azka mengerjap. "Ngapain disitu diem aja sih Dek? bikin kaget" Ucap Rasya yang sudah berbalik menghadap Azka. Di tangannya sudah tersaji satu mangkuk bubur ayam dan satu piring nasi uduk lengkap dengan lauk pauknya.


"Hehe, maaf" Azka nyengir.

__ADS_1


Matanya terus mengikuti gerakan Rasya yang melangkah melewatinya mengarah ke ruang tamu dengan dua menu di tangannya. Dirinya mengikuti langkah itu dari belakang.


"Makan dulu" ucap Rasya menepuk kursi di sebelahnya. Mengisyaratkan agar gadis yang wajahnya segar karena habis mandi itu untuk duduk di sana.


Azka duduk, menerima piring berisi nasi uduk dan meletakkannya di atas pangkuan. Ia melirik ke arah mangkuk yang ada di tangan Rasya.


"Kenapa gak di samain menunya?" Tanya Azka menjeda suapan pertama Rasya.


"Aku lagi pengen makan bubur. Tapi kan kamu gak suka bubur. Jadi aku beliin nasi uduk"


"Oooh. Kak, kita makan di deket Central lagi yuk. Yang di belakang itu" Lagi, Ia menjeda suapan itu. Padahal tangan Rasya sudah berada di depan mulut yang juga sudah menganga.


"Kamu mau makan di sana? Nanti kalo sempet sebelum kuliah kita makan di sana ya" Rasya tersenyum setelah menurunkan kembali tangannya.


"Kamu mau nanya minta apa lagi?" Tanya Rasya pada Azka. Azka terkesiap, mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar baru menoleh ke arah Rasya di sisi kanannya.


"Enggak. Aku gak mau minta apa-apa" ucap Azka.


"Ada yang mau diomongin lagi gak?" tanya Rasya membalas tatapan gadis di sebelahnya itu. Bola mata Azka membola, memyadari netra mereka bersibobrok di udara.


"Eh- Mm.. kenapa?" Tanya Azka gugup.


"Kalo gak ada yang mau diomongin lagi, aku mau makan Dek" Azka melihat ke arah sendok yang penuh di atas mangkok dan Rasya bergantian. Ia mengerti bahwa sejak tadi pemuda itu berkali-kali tidak jadi menyuap bubur ke dalam mulutnya karena Azka mengajaknya bicara. Dan detik selanjutnya, Azka sudah tergelak di tempatnya.


"Ketawa terooos. Seneng banget ya ngerjain aku Dek"


"Hahahahaha. Maaf lho Kak, beneran aku gak niat begituuuu. Hahahaha" Azka tergelak, melupakan nasi uduknya yang baru di makan dua suap.


"Hhh!!!" Rasya mendengus.


Azka terus tertawa sampai perutnya terasa sakit. Rasya melirik dan mendapat ide agar tawa itu mereda. Ia segera menahan dagu Azka, menghadapkan wajah gadis yang tengah tertawa itu ke arahnya. Benar dugaan Rasya, tawa itu reda seketika berganti raut bingung yang bercampur takut. Sungguh menggemaskan. Rasya angkat tangan kanannya yang memegang sendok terisi penuh nasi uduk. Lalu dengan gerakan lembut Ia menyuapkan sesendok nasi itu ke dalam mulut Azka. Azka yang terkejut menurut tanpa perlawanan. Wajahnya memanas, semburat kemerahan melingkupi pipinya


"Hahahahahahaha" Rasya gantian tertawa. "Kamu merah amat Dek!"


Azka reflek memegang kedua pipinya. Ia sungguh malu dan kesal. Ia pukul lengan Rasya berkali-kali. Tapi pemuda itu tetap tergelak di tempatnya. Puas sekali rasanya mengerjain Azka.


"HAHAHAHAHAHAHA"


"Kak Rasyaaaaa!!!"

__ADS_1


Dan begitulah, hal-hal sederhana yang terjadi diantara mereka.


__ADS_2