Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
EP-AR 6


__ADS_3

Setiap kenangan itu selalu punya tempat di hati kita. Tahukah bahwa hati kita memiliki 6 lobus dengan ukuran yang berbeda? Di sanalah kemudian kenangan-kenangan itu tersimpan. Sesuai porsinya.


Hari pertama Azka dalam perantauan membuatnya banyak melamun. Menerbangkan angannya pada beberapa cuplikan kisah yang terasa lebih manis ketika diingat. Sepertinya Azka memang sedang terbawa perasaan, atau mungkin dirinya kembali menemukan kenyaman rumah dalam diri Rasya yang sempat tak teraba olehnya.


---


Azka tergesa, berkali-kali dirinya meminta Papa untuk mempercepat laju motor yang sedang dikendarai. pasalnya, menurut jadwal, dirinya hanya tinggal memiliki sepuluh menit sebelum kereta menuju Kota Balam berangkat.


Sesampainya di stasiun, Azka segera berpamitan dengan Papa dan berjalan dengan gerakan cepat menuju loket. Di sana sudah berdiri Rasya dengan dua tiket di tangan. Berdiri dengan posisi yang tidak santai, gerakan tiket di tangannya memberi isyarat bahwa Ia sedang menunggu dengan kekhawatiran.


"Kak Rasya!" Rasya menoleh pada sumber suara. mendapati Azka yang sudah terlihat sedikit berantakan berjalan cepat menghampirinya.


"Ayo, lima menit lagi" ucap Rasya menarik lengan Azka menuju petugas peron yang ada. Rasya menyerahkan dua karcis yang diterima dan disobek oleh petugas. Sebelah potongan karcis dikembalikan kepada Rasya. Dan pintu di depan mereka terbuka. Rasya dan Azka berjalan terburu. Tidak bisa berlari karena kondisi kaki Rasya memang tidak memungkinkan untuk itu.


Mereka saat ini berjarak beberapa langkah menuju kereta yang terrnyata cerobongnya sudah berbunyi menandakan kereta akan segera berangkat. Azka panik, dirinya menggeret Rasya agar berjalan lebih lebih cepat. Mereka hampir sampai, saat roda kereta itu mulai berderek, bersiap bergelinding mengangkat beban berat kereta bergerak menjauh.


"Kak, keretanya udah mulai jalan!" Azka baru akan menaikkan satu kakinya pada pijakan sementara Rasya sudah berada di atas gerbong yang berjalan pelan. Azka semakin panik.


"Cepetan sini naik" perintah Rasya


"Takut" ucap Azka sambil sedikit berlari menyeimbangkan laju kereta yang memang masih terbilang pelan.


"Kak Aku gimana?" Rasya yang sudah tidak sabar dengan keragu-raguan Azka akhirnya memilih cepat turun. Ia menggeret Azka sampai menyejajari pintu kereta yang masih terbuka lebar. Dengan gerakan buru-buru dan terkesan tiba-tiba Rasya segera menyelipkan tangannya pada sela lengan Azka. Mengangkat tubuh gadis itu dengan susah payah. Aksinya itu sontak membuat Azka terpekik. Azka menghela napas lega saat kakinya mendarat di lantai gerbong, sementara Rasya segera menautkan tangannya pada pegangan di sisi pintu. Ia menarik tubuhnya agar naik ke atas gerbong yang sama dengan Azka. Azka segera menahan tubuh pemuda itu saat tubuhnya limbung di ambang pintu. Lalu keduanya tertawa.


"Gila kamu Kak!" Azka terkekeh, masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan pemuda itu.


"Daripada ketinggalan kereta?" jawabnya enteng. Napas keduanya masih sama-sama memburu, detak jantungnya cepat.


"Kaki aku sakit"


Satu kalimat berjuta sensasi. Setelah itu, Azka dan Rasya harus duduk berselonjor di lantai untuk memperbaiki sanggahan kaki palsu Rasya yang bergeser. Dan tentu saja, mereka kemudian menjadi tontonan banyak orang.

__ADS_1


---


"Ampun Pak!" suara bentrokan antara kulit tangan dan kulit pipi terdengar. Azka meringis. Bukan, bukan Azka yang ditampar. Azka hanya sebagai saksi yang dipaksa bisu untuk kejadian itu. Azka yang tengah menjalani persiapan SBMPTN di kota Balam saat itu harus tinggal bersama Om Tris dan keluarganya. Om Tris adalah rekanan Papa yang sudah lama bekerja bersama, mereka sudah seperti saudara. Azka begitu terkejut ketika mengetahui Om Tris yang sangat lembut, ramah, dan humoris ternyata memiliki sisi mengerikan ketika berada di rumah.


Itu tadi adalah jeritan anak gadisnya. Anak yang selalu menjadi satu tempat pelampiasan Om Tris saat tengah dirundung masalah. Tentu mendapati kenyataan itu di saat dirinya menjadi tamu inap di sana membuat Azka menjadi tidak enak hati. Dan hari yang sudah beranjak malam tidak memungkinkan dirinya untuk mencari pelarian.


Tapi Azka takut, Ia tidak nyaman mendengar suara geplakan demi geplakan terus bergaung di telinganya sedangkan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Beruntung Rasya menghubunginya, Ia mengatakan sedang bosan dan bermaksud mengajak Azka keluar malam itu. Maka dengan sigap Azka menyetujui, hanya agar dirinya bisa mengistirahatkan telinga dari bunyi ringisan anak berusia 13 tahun setiap kali pukulan mendarat di tubuhnya.


"Om, Adek pergi dulu ya. Nanti Adek nginep di rumah Ita aja" pamit Azka saat Rasya sudah berada di sana menjemputnya. Sebelumnya Azka sudah mengirim pesan pada Ita bahwa Ia akan menginap di sana. Ia juga memberikan alasannya, sehingga Ita kemudian meng-iyakan permintaan Azka itu.


Waktu menunjukkan angka 20.00. Jalanan masih ramai meski saat itu bukan malam minggu. Itu malam sabtu. Azka duduk dengan nyaman di kotor Rasya selama perjalanan itu. Sesekali Ia membenarkan posisi helm yang terpasang kebesaran di kepalanya.


"Kenapa Kak Rasya bosen?" Azka mencoba mengurai hening di antara keduanya.


"Anak-anak pada main game, Aku lg males main game. udah terlalu Pro" jawabnya sombong.


"Dih sombong. Eh tapi makasih ya udah mau jemput aku. Sumpah aku takut diem di sana kalo Anggi lagi dipukulin" ungkap Azka.


"Aku punya cita-cita pengen keliling Balam tapi belum kesampean"


"Oke berangkat!!" Rasya membelokkan motornya menuju ke arah kiri.


"Eh? serius Kak?"


"Malem gak akan macet. Hayu kita keliling. Kita ke Daerah teluk dulu ya" jawab Rasya mulai melajukan motornya lebih cepat.


" Kak serius?"


"Sejak kapan aku gak serius sama kamu Dek? Kamunya aja yang suka gak percaya sama aku"


"Tapi--"

__ADS_1


"Apapun buat kamu Dek. Selamat menikmati perjalanan keliling Balam sama aku Dek" Teriam Rasya memutar gas di stir motornya.


Motor melaju mengitari kota. lurus, berbelok ke kanan, berbelok ke kiri, menurun tajam, menanjak curam, motor itu terus berlalu mengelilingi kota. Tidak lupa Rasya mengenalkan nama-nama jalan yang mereka lalui khas seperti tour guide sebuah agen travel. Dalam waktu satu jam empat puluh lkma menit, mereka berdua sudah hampir melewati setiap jalan di kota itu.


Azka mengirim pesan bahwa dirinya sudah akan pulang ke rumah Ita. Ia takut kalau sahabatnya itu sudah terlalu mengantuk akrena ini sudah terlampau malam. Namun balasa dari Ita justru membuatnya tercengang. Gadis itu bersama Meli dan Winda sedang menonton drama korea, dan justru meminta Azka membeli banyak camilan untuk menemani mereka nonton bareng.


Rasya menepikan motornya di sebuah minimarket. Ia masuk ke dalam sana bersama Azka. Azka memilih beberapa camilan untuk dimasukkan ke dalam keranjang. Sesuai permintaan Ita, Ia akan membawakan camilan kesukaan mereka untuk teman nonton drama korea. Hitung-hitung sebagai wujud terima kasih karena sudah boleh menginap.


"Duduk di situ dulu" Ajak Rasya saat satu kantong besar sudah di bayar. Tebak yang membayar belanjaan itu. Sudah bisa dipastikan BUKAN Azka. Raysa bersikeras dirinya yang membayar. Meskipun harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit, namjn pemuda itu terlihat senang sekali saat akhirnya Azka menyerah mempersilahkan Rasya membayar.


"Nih" sodor Rasya. Mata Azka membola sempurna. di hadapannya Rasya menyodorkan sebuah eskrim Magnum. Ah, Azka sudah lama sekali tidak memakan eskrim itu. Azka memakan eskrimnya, sementara Rasya memilih mengambil sebotol kopi untuk dirinya.


Mereka menikmati suasana malam itu. Angin tidak terlalu dingin berhembus. Bintang bertebaran memberi cahaya di sisi-sisi langit. Bulan mengedip manja dibalik sabitnya. Sementara dua insan di kursi itu, duduk nyaman seperti sedang merenda kisah kehidupan keduanya.


"Makasih ya Kak" ucap Azka.


"Buat?-- Hahahaha" Belum Azka menjawab, Rasya sudah terbahak di tempatnya. Azka bingung sendiri, entah karena apa pemuda di depannya ini sampai terpingkal-pingkal.


"Kenapa ih?" tanya Azka penasaran.


Bukan menjawab Rasya yang duduk di sebelahnya justru menyampingkan badannya. Ia menarik dagu Azka membuat wajah mereka menjadi berhadapan. Ia mengusap ujung bibir Azka yang terdapat sisa eskrim berwarna putih. Tentu gerakan pada bagian paling sensitif bagi wanita itu membuat Azka beku. Gadis itu menahan napasnya berharap dirinya pingsan saja ditempat. Gerakan itu selesai di ujung bibir yang lain. Azka masih setia dengan napasnya yang tertahan, hingga sebuah suara mengesalkan terdengar merusak suasana.


"Jangan tahan napas *****! Mati ntar kamu"


---


Azka terkekeh di tempatnya. Bayangan itu sukses meraup atensinya secara total. Bahkan Ia sangat menjiwai bayangan itu, ditandai dengan dirinya yang merasa geli dan baper di satu waktu yang sama.


Ah, kenangan itu selalu manis untuk di ingat.


Terlebih jika itu tentang kamu.

__ADS_1


Rumahku .


__ADS_2