Azka Dan Rasya

Azka Dan Rasya
EP-AR 2


__ADS_3

Mata Rasya membola sempurna, pandangannya terpaku hanya pada Azka yang sudah berdiri cantik di hadapannya. Jika bukan karena suara Mama Azka yang menginterupsi, mungkin liur itu sudah mengurai sempurna dari mulut Rasya.


“Rasya, Azkanya udah siap nih” Rasya terkejut lalu mengumpulkan sadarnya saat itu juga. Ia nyengir ke arah Azka dan Mama Azka yang memberi tatapan heran padanya.


“Eh, Iya Tante. Maaf Tante, anaknya cantik banget soalnya” ucap Rasya sambil mengusap tengkuknya. Mama tertawa kecil, sementara Azka tersipu. Namun begitu Azka masih sadar untuk tertawa mendengar ucapan basa-basi Rasya itu.


“Ayo ah berangkat” Ucap Azka memutus percakapan itu. “Mama, Adek berangkat ya” Azka pamit lalu mencium punggung tangan wanita yang Ia panggil Mama itu. Tidak lupa juga kecupan manis di pipi sang Ibu.


“Hati-hati Dek, Sya. Mama titip Azka ya”


“Ya?” Rasya mengerjap, menyadari sapaannya bukan lagi Tante, tapi Mama. “E-Eh Iya Tante” Jawabnya gugup seraya berjalan mengiringi Azka hingga mencapai mobilnya.


“Dek?” panggil Rasya saat keduanya sudah ada di mobil.


“Kenapa Kak?” tanya Azka sambil menoleh ke arah pemuda yang sudah hampir lima tahun ini terus ada dalam hidupnya. Entah dalam porsi banyak atau datang selewat.


“Kamu cantik”


“Makasih” jawab Azka menahan senyumnya. Ia tidak ingin berdebat bahwa memang wajahnya kini menimbulkan semburat merah muda. Tapi Azka sangat berterimakasih pada kondisi yang gelap karena ini sudah terbilang malam. Maka, semburat itu tidak akan terlalu kentara.


“Kamu gak apa-apa kan bareng aku ke perpisahan?” Rasya bertanya hati-hati. Pasalnya ini adalah pertama kalinya Ia dan Azka berdua kembali seperti sepasang kekasih setelah tragedi di tahun lalu. Ia bersyukur Azka tidak menolak saat dirinya mengajak untuk pergi bersama. Rasya tahu betul bahwa di acara itu nantinya akan ada juga sosok Juan yang berhasil menang sekali darinya untuk mengambil perhatian Azka. Dan Ia sudah membalas itu kan sekarang. Satu sama!


“Gak apa-apa dong. Kalo apa-apa aku gak akan ada di sini sekarang”


“Makasih ya”


“Sama-sama Kak”


“Dek?” panggil Rasya lagi setelah hening sejenak. Meski tatapannya masih fokus pada jalanan di hadapannya, Ia bisa merasakan gerakan Azka yang kini menoleh kembali ke arahnya.


“Iya Kak?” Azka kembali menanggapi panggilan yang terdengar lembur di telinganya.


“Aku boleh gak nanya sesuatu?”


“Boleh Kak” Azka terkekeh, “Kamu kenapa sih? Kayak gugup banget?”


“Hehe, baru pertama kali jalan lagi sama kamu Dek”


“Alah!” Azka mengeplak lengan Rasya pelan. “Mau nanya apa tadi?”


“Boleh gak, kalo selama kamu belum jadi punya siapa-siapa aku yang jagain, aku yang selalu ada di sisi kamu?”  “Hah? Ribet banget sih ngomongnya?” Azka tertawa kecil.


“Eh gimana ya?” Rasya ikut tertawa. “Aku mau tetep ada buat kamu, aku mau jadi Rasya yang dulu lagi. Boleh?”


Azka tertegun, rupanya hati itu belum berubah. Masih mengharap yang sama pada dirinya. “Boleh aja, tapi ini bukan janji aku untuk gimana-gimana sama kamu ya Kak. Aku takut ngecewain kamu”


“Kamu gak akan pernah ngecewain aku Dek”


Plak!


Sekali lagi geplakan mendarat di lengan Rasya. “Gausah gombal!” sembur Azka .


“Hehehe, kan biar so sweet” ucap  Rasya sambil nyengir.


Beberapa menit kemudian, mobil Rasya telah memasuki halaman sekolah. Ya, perpisahan itu di laksanakan di gedung serba guna sekolah. Gedung itu memang sangat besar dan setelah di beri dekorasi jadi terlihat mewah.


“Sampe” Rasya menghentikan mobilnya.

__ADS_1


“Ayo”


Mereka berdua berjalan bersama. Azka yang anggun berpadu dengan Rasya yang terkesan cool. Mereka sukses menjadi pusat perhatian. Banyak yang berdecak kagum melihat keduanya. Bukan, Azka bukan cewek tercantik di sekolahnya, Rasya juga bukan cowok cool pujaan setiap wanita. Mereka tidak seperti pasangan di novel-novel fiksi remaja. Kebanyakan dari mereka memuji, karena diakhir tahun ini, mereka berdua yang pernah dijadikan couple goals saat kelas sebelas dulu bisa kembali bersama.


“Akhirnya Rasya sama si Azka lagi”


“Gila ya, Azka cantik amat! Padahal dandanannya biasa aja”


“Gue yakin si Rasya gigih banget ngejer si Azka”


“Dih, si Azka udah gak sama si adek kelas kita? Hahaha, karma tuh Dia. Udah ngebuang, eh di ambil lagi”


Banyak lagi desas desus yang terembus. Banyak yang mengutarakan hal positif, tapi bukan pula tidak ada yang berkomentar negatif.


“Jiiaaah Rasya bareng Azka!” teriak Fabel dari ujung ruangan. Teriakannya membuat seisi ruangan berdecak. Tapi begitulah Fabel, dia tidak merasa risih dengan tatapan jengah orang-orang di sana. “Hoi Bro, jadi ini alasan kagak mau bareng sama kite?” tanya Fabel yang sudah mendekat ke arah keduanya.


“Hehe, kesempatan kagak dateng dua kali Bro” ucap Rasya terkekeh. Ia bersalaman dengan Fabel, Doni, Salim, dan terakhir Rahmat.


“Ka, kok Lo cantik sih! mau-mauan sama Rasya!” tembak Rahmat yang segera mendapat toyoran di kepala oleh Rasya.


“Hahaha, mumpung di tawarin dijemput pake mobil baru, kenapa enggak” seloroh Azka tertawa.


“Sial, jadi Lo milih mobilnya aja ya Ka?” tanya Fabel lagi.


“Iya lah” Ucap Azka dengan nada bercanda.


“Mampus Lo sya!” ledek Fabel dan Rahmat bersamaan.


“Ka!” panggil Ocha yang datang  bersama Alfan.


“Cha! Hei. Jadi berangkat sama Mas Alfan?” tanya Azka yang sudah mendekati sahabatnya itu.


“Gue gak gila ya!”


“Eiiit! No toyor-toyor!” cegah Ocha. Padahal baru saja Azka mau melayangkan tangannya ke arah kepala Ocha.


“Yaudah duduk yuk” ajak Alfan mendahului langkah mereka menuju deretan kursi yang disediakan untuk para siswa kelas 12.


Drrt


Drrt


Ponsel di tas kecil Azka bergetar, Ia merogoh tasnya untuk meraih ponsel yang sudah meronta di dalam sana. Mendapati telepon atas nama Juan, Azka mengedarkan pandangannya terlebih dahulu. Mencari dimana pemuda itu berada. Tapi Ia tidak menemukannya. Ia menggeser tombol hijau di ponselnya, membiarkan sapaan lembut bergema dari benda pipih yang saat ini menempel di telinga Azka.


“Nyil” 


“Ya Bang? Kenapa? Kamu dateng?” Azka sudah lebih dulu memberondong pertanyaan pada Juan yang sering dipanggil Bang oleh mereka di grup Nasyid.


“Dateng dong Nyil, kan mau ketemu kamu” 


“Gombal! Kamu dimana?” tanya Azka antusias.


“Di belakang nih, sama Tama”


“Aku kesana ya?” pinta Azka, “Aku mau take foto sama kalian. Buat kenang-kenangan nanti aku pergi ke Bandung”


“Boleh, ditunggu” Azka meminta mereka menunggunya di sana, karena Azka akan segera meluncur ke sana. Mungkin bersama Ocha atau Alfan. Sambungan telepon yang terputus membuat Azka mengembalikan ponselnya ke dalam tas yang Ia bawa.

__ADS_1


Azka bangkit dari kursinya, hendak menarik Ocha untuk ikut serta. Tapi orang yang Ia cari tidak ada di sana. Begitu juga dengan Alfan. “Eh pada kemana ini?”


“Mau kemana Dek?” tanya Rasya yang masih setia di sana.


Duh, ajak Kak Rasya enak gak ya? Mau ketemu Juan lagi.


“Emm, mau ketemu anak-anak di belakang. Tadinya mau ajak Ocha sama Alfan” Azka memilih mengatakan saja yang sejujurnya. Memang alasan apa yang mengharuskannya berkata bohong?


“Sama aku aja, Ocha sama Alfan lagi ambil minum” ucap Rasya santai.


“Aku mau ketemu Juan sama Tama” Rasya mengernyit, sementara Azka menunggu reaksi dari pemuda itu.


“Emang kenapa kalo ketemu mereka? Kamu takut aku cemburu ya Dek?” tanya Rasya sambil terkekeh.


“Eh? Emm.. Ya aku gak enak aja Kak. Takut kamu gak nyaman”


“Gak apa-apa. Ayo”


“Bang!” teriak Azka saat sudah mendekat ke arah dua cowok berkemeja yang sedang duduk di antara serakan kursi tak berpenghuni.


“Eh?” bukan menjawab sapaan, keduanya justru terdiam. Azka ternyata tidak sendiri. Ia bersama seseorang, dan dia adalah Rasya.


“Kalian ngapain di sini?” Azka tersenyum, membuat Juan melepas fokusnya menuju Azka seorang. “Mojok kalian berdua di sini?” Azka terkekeh. Membuat suasana menjadi lebih cair dari sebelumnya.


“Nih anak gak mau di tempat rame katanya Mbak! Jijik gak?” ucap Tama membalas Azka.


“Hati-hati Tam!” bisik Azka pada Tama, mereka berdua pun tertawa.


“Sialan!” ucap Juan sambil mendaratkan kepalan tangannya di bahu pemuda gempal itu.


“Kita foto yuk. Aku udah dandan cantik nih, masa kalian gak mau foto sama aku?” ajak Azka pada dua pemuda di hadapannya.


“Iya, Mbak Azka cantik bener! Gak pernah salah emang muka Mbak Gue mah” ucap Tama sok bangga.


“Kak, boleh potoin kan?” Azka beralih pada Rasya yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia di antara mereka. Ia menyerahkan ponselnya. Rasya yang mengangguk segera meraih ponsel itu.


“Boleh sini. Poto bertiga kan?” tanya Rasya mengarahkan kamera ke tiga orang beda angkatan itu.


“Iya” // “Berdua dulu dong Kak” ucap mereka tidak kompak. Coba tebak siapa yang meminta foto berdua? Jawabannya adalah Juan. Azka melirik ke arah Juan, lalu terkikik geli. Ia kemudian menepuk bahu Tama.


“Tam, Aku poto berdua dulu sama Abang ya?” pinta Azka lembut. Tama mengangguk, sementara Juan tersenyum menang. Rasya memasang ekspresi senormal mungkin, meski dalam hatinya sudah kesal setengah mati dengan bocah di hadapannya.


“Nyil, sini deketan” ucap Juan sudah memposisikan dirinya. Rasya memutar bola matanya jengah.


Ckrk!


Ckrk!


Ckrk!




Ckrk!


Banyak gambar telah diambil, dari pose sok manis antara Azka dan Juan, pose mereka yang terlihat sedang tertawa, sampai pose aneh saat mereka bertiga berfoto bersama. Rasya menyerahkan ponsel Azka, lalu memasukkan tangannya ke saku celan. Ia setia menunggui Azka yang heboh dengan dua orang di depannya melihat hasil jepretan Rasya tadi.  Sampai netranya menangkap adegan dimana Juan dan Azka saling berhadapan. Azka terlihat mendengarkan, entah apa yang disampaikan oleh Juan pada gadis itu. Hanya saja, bola matanya membulat sempurna saat tangan pemuda itu mengusap sekilas pipi merona Azka.

__ADS_1


 


Bangke!


__ADS_2